
Malam ini, Sasa pulang terlambat karena bus yang biasa ia tumpangi terlewat. Ia jadi harus pulang naik grab.
Sementara, Zean dan Larisa pulang sendiri-sendiri. Sasa tetaplah si gadis misterius dan dingin. Ia adalah brandal berkostum manis.
Sasa masuk ke dalam rumah dan terus berjalan ke kamarnya. Ia sedikit lelah hari ini. Ia lalu masuk dan langsung berbaring di kasur.
Matanya memandang langit-langit kamar, memikirkan kenapa beberapa hari ini sedan hitam itu tidak ada ke rumah.
"Kenapa ya? Gua harus cepet-cepet belajar nge-hack biar bisa tahu siapa investor asing yang udah nguntit rumah ini,"
Sasa lalu teringat akan sesuatu.
"Apa pembunuhan Mama, ada hubungannya dengan orang yang punya hutang itu ya?"
Sasa lalu bangun dari tidurnya dan membuat beberapa list puzzles.
"List Puzzles yang harus dibuka!"
"1. Sedan Hitam (B 12 SM) pergi setiap jam 12.45.
Investor asing pemilik plat SM
Apakah Mama pernah meminjamkan uang ke orang dalam jumlah besar?"
Sasa meletakkan pulpennya dan berpikir keras menemukan jawaban ini.
"Apa gua harus cari hacker bayaran ya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Tapi, kasus ini..." jelas Sasa.
(Flash Back) - 22 April 2016
Satu hari setelah pemakaman
Sebelum Deina pulang ke Bali, tiga orang polisi dari forensik datang ke rumah. Ia ingin menepis berbagai berita yang beredar setelah pembunuhan di Hotel Gloubel terjadi.
Sasa dan Deina duduk berhadapan dengan polisi itu.
"Kami dari kepolisian, ingin menyampaikan bela sungkawa dan klarifikasi soal perkembangan kasus meninggalnya Ibu Zena Wiryaguna,"
Sasa hanya diam dengan tangan yang dipegang oleh Deina.
"Seperti yang beredar di berita, dugaan pembunuhan sudah meluas di masyarakat, namun belum ada cctv pasti tentang kejadian,"
"Kami sudah melakukan pengecekan disetiap sudut cctv hotel milik Ibu kamu, tapi semua sudah di retas."
"Karena kekurangan bukti, kasus ini berencana akan ditutup dengan agenda kecelakaan." Ujar polisi wanita itu.
Mendengar itu, Sasa yang kala itu berusia 15 tahun (hendak 16 tahun), berusaha mencerna perkataan tersebut.
"Jadi, ibuk bilang kalau ibu saya itu meninggal karena kelalaian sendiri?" tanya Sasa sinis.
"Itu yang bisa kami jelaskan saat ini, tapi..."
"Terus kenapa ada luka sayatan di leher Ibu saya? Padahal pihak kepolisian tidak menemukan pisau di sana?!!!!" bentak Sasa.
"Sasa, kamu masuk dulu ya... Tante akan urus semuanya," jelas Deina.
Dengan sangat kesal, Sasa terpaksa masuk ke kamar karena malas bersiteru dengan polisi itu.
"Sasa itu memang anak yang keras Buk, tapi aslinya baik sekali," jelas Deina.
"Kita semua tahu kalau Zena adalah pengusaha sukses yang kekayaannya dimana-mana,"
"Ini menjadi pukulan besar bagi Sasa, jadi saya harap maklumi." Tegas Deina.
"Kami dari kepolisian ingin mengingatkan agar sebaiknya Sasa tidak diperbolehkan melihat televisi terlebih dahulu,"
"Karena kita tahu wajah dan berita ibunya sekarang sedang ada dimana-mana," tegas Polisi.
"Baik, saya akan usahakan." Jawab Deina.
"Baik Buk Deina, kami turut berduka, dan akan berusaha sebaik mungkin untuk mengungkap hal ini." Jelas polisi itu.
"Ada atau tidaknya barang bukti, kami akan menyerahkan sepenuhnya ke kepolisian, dengan catatan saya ingin hotel tempat rekonstruksi bisa diaktifkan kembali beberapa bulan ke depan," jelas Deina.
"Baik, nanti kami akan bantu prosedurnya," Jelas Deina.
"Terima kasih," ujar Deina.
(Back)
"Apa pihak kepolisian udah menemukan tanda-tanda ya?" tanya Sasa.
"Gua harus baca semua berita yang beredar 4 tahun lalu," sembari mengambil laptop.
Sasa kemudian mencari nama Ibunya di internet.
"Zena Wiryaguna meninggal karena kecelakaan."
Mata Sasa seketika membaca isi artikel yang menyebut ibunya kecelakaan itu.
"Penulis: AD"
Sasa mencoba menerka nama dibalik penulis berita bodong ini. Ia merasa kasus ibunya ditutupi.
Hal ini karena kekurangan alat bukti yang tak diketahui hingga saat ini pelakunya siapa.
"AD," lirih Sasa.
Sasa lalu menulis kembali di dalam bukunya, inisial AD.
"AD pasti bagian dari plat SM." Ujarnya lagi
"Dan, apa gua harus tanya ke kepolisian aja ya, kan gua udah legal juga." Jelas Sasa sembari menutup laptop dan bukunya.
***
Sore ini, Sasa pergi ke toko buku, ia ingin membeli buku trick hack yang bisa membantunya.
Ia mampir ke Toko Buku Harapan. Lalu berjalan mengitari koridor untuk mencari buku yang ia inginkan.
"...... Mmm mana ya," sembari mencari di sekitar Buku Trick Mempelajari Sesuatu.
"Nyari buku ini?" sembari menyodorkan buku berjudul Mempelajari Sistem Retas dalam Seminggu.
Sasa melihat ke arah pemilik suara itu dan mendapati sosok Bara.
"Iya," sembari mengambil buku itu.
"Lo mau kemana?" tanya Bara mengikuti langkah Sasa.
"Bayar lah," ketus Sasa.
Sasa lalu membayar dan pergi dari toko buku itu. Ia berjalan keluar mencari tempat duduk untuk bisa mencek isi buku itu.
"Sasaa!!" sorak Bara mengejar Sasa.
Sasa hanya diam dan tak menghiraukan. Ia lalu duduk di kursi taman dan membaca.
"Kenapa ga berhenti sih?" ujar Bara terengah.
"Kenapa ngejar?" tanya Sasa sinis.
"Lo bisa ga sih kasih waktu buat orang ngomong sebentar aja sama lo," ujar Bara.
"Gua ga pernah maksa orang ngomong sama gua, jadi ga usah minta waktu gua!" ujar Sasa.
"Ini, dompet lu ketinggalan." Ujar Bara sembari duduk di sebelah Sasa.
"Makasi," ujar Sasa datar.
"...." Bara lalu mengeluarkan buku berjudul Detak Jantung.
"Lo ngapain masih di sini?" tanya Sasa.
"Baca buku." Jawab Bara singkat.
Sasa lalu berdiri dari kursi itu dan hendak pergi.
"Buku yang lo baca itu cuma nunjukin basic komputer aja, ga ada sistem retasnya!" jelas Bara.
Sasa lalu menoleh ke Bara dan melihatnya dengan tatapan datar.
"Kenapa lo bisa tau?" tanya Sasa sembari duduk kembali.
"Gua udah pernah baca," ujar Bara sembari tetap melihat buku yang ia baca.
"Bukannya lo jurusan kedokteran ya?"
"Apa yang kita jalanin, belum tentu juga harus satu itu doang yang kita pelajarin," jelas Bara.
"Lo masuk ke IT cuman ngejar hacker kan?" tanya Bara.
Sasa terdiam dan mengiyakan apa yang Bara katakan.
"Bagi gua ini bukan sekedar permainan hack aja, tapi..." Sasa membuang pandangan ke sisi lain.
"Tapi, ada sesuatu yang harus lo pecahin, seperti kepingan puzzles yang nyari kunci untuk dijawab?" ujar Bara yang membuat Sasa tertegun.
"Kenapa lo bisa tau?" tanya Sasa.
"Gua cuma nebak," ujar Bara sembari menutup buku yang ia baca.
"Lo stalker gua ya?" tanya Sasa sinis.
Sasa mencoba mencerna setiap perkataan Bara yang menurutnya benar. Namun, ia merasa ada sesuatu yang Bara ketahui tentang dirinya.