
Pagi ini, untuk ketiga kalinya Sasa tidak masuk kuliah. Ia masih tidur dengan lelap di kasurnya.
Sementara, dari sisi berbeda di gerbang kanan. Larisa dan Zean tengah duduk sembari menunggu kehadiran Sasa.
Larisa meneguk minuman yang sudah ia pesan sembari melirik ke ujung jalan.
"Sasa udah beberapa hari ini ga masuk, emang ada urusan apa?" tanya Larisa yang tidak tahu persoalan itu.
"Gatau, mungkin ngurus bisnis keluarganya," celetuk Zean yang berpura-pura tidak tahu. Zean bahkan tak menjelaskan soal ibu Bara juga ke Larisa.
Larisa meletakkan gelas yang ia genggam di atas meja kecil. Ia lalu melirik ke jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.10 WIB.
"Lo kelas jam berapa?" tanya Zean melirik Larisa.
"10.30 WIB, masih lama." Ujar Larisa.
"Sasa kayaknya ga masuk lagi deh hari ini," ujar Zean.
"Gua udah coba telfon tapi ga diangkat," ujar Larisa.
".... urusannya pasti penting makanya sampe ga angkat," tambah Zean.
Larisa mengangguk dengan ragu. Ia hanya bisa menerka alasan Sasa tidak kuliah beberapa hari ini.
"Btw, lo tahu kalau Sasa itu anak dari..." ujar Larisa hendak bertanya.
"Zena Wijaya? Pemilik Hotel Gloubel yang cabangnya dimana-mana," sambung Zean.
"Oh lo juga tau?" tanya Larisa.
"Hmm, gitu deh, dia kaya banget!" ujar Zean meneguk teh es yang sudah dipesan.
Larisa menatap lurus ke depan, ada banyak kendaraan berlalu lalang. Ia hanya bisa diam dan memikirkan banyak hal yang belum bisa ia capai.
"Orang sekaya Sasa, kayaknya kuliah cuma untuk iseng ga sih, Ze?" tanya Larisa menatap Zean yang masih minum itu.
Zean seketika meletakkan minumannya dan menoleh ke Larisa. Ia melihat raut tak seceria biasanya di wajah Larisa.
"Lo ga boleh ngomong kaya gitu, setiap orang yang dateng ke kampus, pasti punya tujuan masing-masing," jelas Zean.
"Dan dibalik tujuan itu, ujungnya mereka pasti dapet ilmu baru!" tegas Zean.
Larisa hanya diam. Ia tak menjawab lagi ucapan Zean. Matanya menatap kosong ke depan. Seolah, ada hal berat yang sedang mengunci pikirannya.
"Larisa, lo gapapa?" tanya Zean.
Larisa masih diam melamun. Ia tengah memikirkan sesuatu yang Zean tidak tahu.
"Larisa?" ujar Zean lagi.
"Haa? Iya kenapa?" tanya Larisa sedikit kaget.
"Lo mikirin apa?" tanya Zean dengan cengengesan.
"Gapapa, cuman kecapekan aja karena kurang tidur," ujar Larisa.
"Kurang tidur karena?" tanya Zean.
"Belajar, hari ini ada kuis!" ujar Larisa sembari bangun dari duduknya.
"Eh, lo mau ke kelas?" tanya Zean yang melihat jam di tangannya itu.
"Iya, 5 menit lagi!" sembari membayar minuman yang tadi ia pesan.
Larisa menyerahkan sejumlah uang sebelum pergi, Zean nampak memperhatikan Larisa dari jauh.
"Kembaliannya bayarin Zean aja, Kak!" sembari berlalu.
"Eh, makasi... Ntar pulang ngumpul ya." Sorak Zean yang dibalas lambaian tangan oleh Larisa.
Zean sekarang duduk sendiri dengan sisa minuman di meja. Ia tidak bisa bohong bahwa dirinya memikirkan Sasa saat ini.
***
Di lorong rumah sakit, nampak berdiri beberapa orang. Mereka tengah sibuk menggerek koper untuk dimasukkan ke mobil bermerek Honda Jazz itu.
"Berangkat jam berapa?" tanya salah seorang dokter ke Arya.
"12.30 WIB..." ujar Arya.
Dokter yang merupakan rekan dari Arya itu mengelus pundak Arya dengan lembut.
"Semoga ini jadi hal yang terbaik, tetap semangat demi kesembuhan istri kamu," sembari tersenyum.
Arya lalu menatap sahabat serta rekan kerjanya itu.
"Makasi, makasi udah berusaha dengan maksimal selama Renita dirawat di sini." Jelas Arya.
"Itu adalah kewajiban kita, bukan cuma saya, tapi kamu juga sudah berusaha dengan baik!" tegas dokter itu sembari melepaskan tangannya dari pundak Arya.
Arya hanya tersenyum getir. Ini akan jadi hari baru baginya, berjuang demi kesembuhan Renita di tempat berbeda.
"Jangan pernah negatife dalam menyimpulkan hasil yang mungkin tidak terlihat jelas," ujar dokter itu.
"Doain yang terbaik ya, dok!" ujar Arya.
Dokter itu lalu tersenyum dan melihat orang yang masih sibuk menyusun koper di mobil. Arya lalu teringat sesuatu, soal Bara yang akan magang dalam waktu dekat.
"Oh iya, dokter... ada yang mau saya bahas, soal anak saya..." ujarnya. Dokter itu melihat ke Arya dengan antusias.
Dari tempat Arya berdiri, nampak Bara tengah menelfon seseorang. Kakinya melangkah ke kiri dan kanan sembari menunggu yang ditelfon menjawab.
(Dering telfon)
"...." Bara masih setia menunggu telfon itu diangkat.
(Dering telfon)
Dari sisi berbeda, dering telfon Bara membangunkan Sasa dari tidurnya. Ia lalu meraba meja kecil di samping kepalanya.
(Dering telfon)
Sasa lalu mendapatkan ponselnya dan menjawab telfon itu tanpa melihat namanya. Dengan mata yang masih ngantuk, ia bahkan sesekali menguap.
"Halo? Sasa?" ujar Bara dari seberang sana.
"Hmm.." dehem Sasa yang belum sadar kalau Bara menelfonnya.
"Sa? Lo baru bangun?" tanya Bara memastikan.
"Hmm, iya." Dengan nada serak.
"Satu jam lagi Bunda berangkat ke bandara," ujar Bara.
"Lo jadi ikut kan?" tanya Bara.
Mendengar itu, Sasa langsung membuka matanya lebar-lebar. Ia baru ingat kalau hari ini Renita pergi ke Singapura.
"Jadi, 15 menit lagi gua sampe ke rumah sakit," ujar Sasa.
Sasa lalu meletakkan ponselnya di kasur, ia segera bergegas ke kamar mandi untuk dapat mengantar Renita.
Bara memasukkan ponselnya ke saku celana, ia lalu berjalan menemui Arya yang berdiri bersama rekan kerjanya.
"Dokter..." sapa Bara sembari memberi hormat.
"Bara ya?" ujar dokter bernama Kimo itu. Sebelumnya, mereka berdua memang sudah membahas Bara.
"Iya, dok." Ujar Bara.
Arya lalu menarik Bara agar lebih dekat dengannya. Ia kemudian menatap ke dokter Kimo.
"Beberapa bulan lagi, Bara akan magang di rumah sakit ini, dok." Jelas Arya.
"Oh ya, bagus itu!" sembari tersenyum.
"Bara, dokter Kimo ini yang biasa ngebimbing anak magang di rumah sakit ini," jelas Arya.
"..." Bara mengangguk.
"Dokter Kimo juga baik, pinter ngebagi ilmu," puji Arya.
"Bisa aja, lebih pinter ayah kamu Bara!" celetuk dokter Kimo.
"..." Bara tetawa kecil untuk mencairkan suasana.
"Dokter, saya titip Bara ya, kalau misalkan dia perlu bantuan soal berkas magangnya tolong dibantu," jelas Arya.
"Dengan senang hati," ujar dokter Kimo.
"Makasi, dokter." Ujar Bara sembari menunduk.
"Iya, sama-sama, Bara!"
"Oh iya, saya mau pamit ke ruangan dulu, ada janji sama pasien," ujar Dokter Kimo.
"Silahkan dokter," ujar Arya.
"Hati-hati di jalan ya, semoga akan ada kabar baik! Saya ke dalam dulu." Ujar Dokter Kimo.
"Aamiin, terima kasih dok.." ujar Arya, sementara Bara ikut mengaminkan dan tersenyum sebagai tanda hormat.
***
Sasa yang tengah berdiri di depan pagar itu bergegas naik ke taxi yang tadi ia pesan. Ia lalu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB. Wajahnya nampak was-was, menerka apakah akan telat atau tidak.
"Bisa lebih cepat ga, Pak?" sembari melihat ke kursi supir.
"Bisa dek, lokasi tujuannya juga ga terlalu jauh," ujar supir itu.
Sasa nampak sedikit tenang mendengar ucapan itu. Ia benar-benar tidak ingin melewatkan moment penting ini.
***
Bara berdiri di depan ruang ICU, melihat beberapa suster tengah memasangkan alat baru untuk persiapan nanti. Sementara, Arya sedang mengambil beberapa berkas di resepsionis.
Bara melirik jam di tangannya, ia lalu mencoba menelfon Sasa. Namun, tidak diangkat.
(Dering telfon)
Sasa yang masih di jalan itu, lupa mengaktifkan nada dering ponselnya. Ia lalu fokus melihat ke depan untuk mengalihkan pikirannya.
"Sasa dimana ya?" tanya Bara.
Bara yang sedikit cemas itu, lalu berjalan ke parkiran, bermaksud mencari Sasa selagi suster tengah sibuk memasang alat.
Selang beberapa menit, taxi itu tiba di depan rumah sakit. Sasa lalu menyerahkan uang dan segera turun.
Ia bergegas masuk ke rumah sakit sembari sesekali melihat jam tangannya. Saat sedang asik berlari, Sasa tidak sengaja menabrak Arya yang sedang membawa berkas di depan resepsionis itu.
Bughh!!!
(Sasa terjatuh ke lantai)
Berkas itu terjatuh ke lantai, untungnya sudah berada di dalam map bersleting. Bersamaan dengan ini, Bara yang tadi bermaksud ke parkiran, menyadari sosok Sasa yang terjatuh itu.
"Sasa..." lirih Bara berlari.
"Maaf, Pak.." sembari mengambil map itu.
Sasa lalu bangun dan menyeka lututnya yang sedikit tergores. Ia lalu menyerahkan map itu dan melihat jelas wajah pria yang ternyata adalah Arya.
"Dokter Arya?" ujar Sasa.
"Sasa? Kamu gapapa?" tanya Bara mendekat.
Sasa dan Arya sontak menatap Bara yang terengah itu. Arya lalu mengambil map itu dan menanyakan kondisi Sasa.
"Sasa, kaki kamu gapapa?" ujarnya.
"Gapapa, dok." Sembari menutupi goresan di kakinya.
"Lo beneran gapapa?" tanya Bara memastikan.
"Oke kok!" ujar Sasa.
Arya lalu menatap putranya dan Sasa yang sedang berbicara. Ia bermaksud ingin menyampaikan sesuatu.
"Saya dari kemarin nungguin kamu dateng ke sini, Sa." Ujar Arya.
Sasa lalu metapa Arya dengan bingung. Kenapa Arya menunggunya?
"Kenapa dok? Apa terjadi sesuatu sama Bu Renita?" tanya Sasa dengan raut cemas.
"Ada yang mau saya omongin ke kamu, bukan soal Renita," ujar Arya.
"Tapi, soal Bara." Sembari melirik ke Bara.
Bara yang mendengar itu juga bingung dan penasaran, apa yang akan ayahnya sampaikan?
"Apa dok?" tanya Sasa.
"Saya dan Renita akan berangkat 15 menit lagi ke bandara," ujar Arya.
"Bara tidak ikut dengan kami," jelas Arya lagi.
"..." Sasa nampak diam menyimak.
"Maksudnya Yah?" tanya Bara.
"Saya mau nitip Bara ke kamu, karena rumah kami yang sudah lama ditinggal perlu dibersihkan dulu," jelas Arya.
"Yah, ayah ga bilang loh kalau rumah dibersihin!" cela Bara.
Arya nampak menatap Bara dengan senyum kecil.
"Titip Bara untuk beberapa hari di rumah kamu, karena cuma kamu yang kami percaya, terutama Renita!" tegas Arya yang membuat Sasa tertegun.