Puzzles

Puzzles
Episode 43 - Konferensi Pers



Bila yang sudah ada di kantor mencoba menghubungi Sasa beberapa kali namun belum ada jawaban. Ia kemudian mengirimkan beberapa link soal berita kemarin.


"Apa Mysa masih tidur ya?" sembari terus menelfon.


Sasa yang ada di kamar Bara, nampak masih tertidur lelap. Sementar, Bara yang sakit bahkan sudah ada di bawah memasak nasi goreng.


Bara masuk ke kamarnya dengan dua piring nasi goreng. Ia lalu meletakkannya di meja. Tanpa sengaja, Bara melihat nama Bila tertera di ponsel Sasa.


Deringnya bisa di dengar dengan jelas.


Bara melirik ke Sasa yang masih tertidur lelap. Ia nampak sangat lelah. "Saa... Bangun..." Bara menepuk lembut pundak Sasa.


Sasa yang ditepuk beberapa kali akhirnya terbangun. "Huaammmm..."


Sasa membuka mata perlahan dan menggeliat. Ia kemudian menyentuh pundaknya yang sudah diselimuti. Lalu, melirik ke Bara yang ada di depannya.


"Lo udah sehat?" tanya Sasa sembari melepas selimut itu.


"Udah, makasi ya... Lo ngasih dosis yang tepat kemarin."


"Masa?" ujar Sasa tak percaya.


"Iyaa... Sekarang makan dulu," ujar Bara menyodorkan nasi goreng.


Sasa melirik ke nasi goreng itu. Nasi goreng yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Ia lalu mengambilnya dan makan bersama Bara.


"Enak ga?" tanya Bara.


"Seperti biasa... Enak!" ujar Sasa kembali menyuap.


"Bosen ga?" tanya Bara.


"Belum, tapi pasti bakal bosen!" ketus Sasa.


"Gimana lo bisa yakin? Kalau makan yang kesekian kali aja lo masih bilang enak."


Sasa memperlambat kunyahannya. "Nanti kalau gua bilang ga enak salah lagi," jawab Sasa.


Bara tersenyum mendengar jawaban Sasa. "Kemarin lo kenapa bisa demam?" tanya Sasa.


Bara meneguk air di depannya. "Cuma kecapekan, demam biasa."


"Orang kaya lo bisa capek juga?" tanya Sasa.


"Gua kan manusia biasa," celetuk Bara.


"Bukan itu maksudnya," ujar Sasa.


"Terus apa?" tanya Bara.


"Maksud gua, lo itu kan orangnya disiplin, bisa atur waktu, masa kecapekan."


Bara terdiam. Ia membenarkan ucapan Sasa itu dalam hatinya. "Lo bohong ya sama gua?" tanya Sasa menyorot Bara dengan tajam.


Bara diam. Ia seolah belum siap menceritakan soal keadaan terbaru Renita. "Kalau belum siap buat cerita gapapa, tapi jangan pernah bohong sama gua!" tegas Sasa.


"Katanya lo ga akan pernah percaya sama gua, jadi apa bedanya bohong sama enggak?!" tanya Bara.


Mendengar itu, Sasa terdiam. Ia ingat perkataannya waktu itu ke Bara. Bara yang sadar akan diam Sasa itu, lalu mengalihkan topik.


"Tadi, Bu Bila nelfon lo berkali-kali," ungkap Bara.


Sasa yang sedang makan itu langsung berhenti. Ia kemudian merogoh ponselnya. Ada 5 panggilan tak terjawab dari Bila.


Sasa lalu membuka pesan yang sudah bila kirim dari tadi. Ada link artikel dan berita di sana. Sasa membuka link itu.


'Pemecatan Sepihak Hotel Gloubel Terjadi Karena Peralihan CEO, Benarkah?'


Sasa kembali membuka link yang lain. 'Pihak Gloubel Tidak Memberikan Alasan yang Tepat Terhadap 25 Manajer yang Dipecat."


'Polemik Hotel Gloubel di Era CEO Baru'


Bara yang sudah selesai makan itu, melihat raut wajah Sasa yang sedikit terkejut. "Lo kenapa? Bu Bila bilang apa?" tanya Bara sembari meletakkan gelas yang sudah kosong.


Sasa terdiam. Ia terus membaca artikel itu. "Saa? Lo kenapa?" tanya Bara lagi.


"Hmm, gapapa," jawab Sasa yang sedari tadi fokus.


Bara menatap Sasa dengan ragu. Ia kemudian membereskan piring yang sudah kosong itu. "Lo udah?" tanya Bara seraya melirik piring Sasa yang masih ada sedikit nasi.


"Udah, kenyang gua."


Bara mengangguk. Ia lalu kembali menatap Sasa. "Gimana orang lain bisa jujur kalau lo sendiri ga pernah percaya sama orang lain!" Bara berlalu keluar kamar dengan piring di tangannya.


Mendengar itu, Sasa tertegun. Ia kembali melirik artikel yang sedang ia baca. Apa dia harus memberi tahu Bara soal ini?


Sasa kemudian menelfon Bila, ia ingin memastikan soal ini lebih jauh. "Halo, Buk?"


"Sudah, apa yang harus saya lakuin di konferensi pers?" tanya Sasa.


'Sebentar lagi, supir kantor akan datang ke rumah membawakan beberapa perlengkapan,'


'Di dalamnya sudah ada berkas yang akan kamu baca di depan kamera nanti.'


"Apa ini akan berhasil?" tanya Sasa dengan ragu.


'Ini bukan apa-apa, tetap calm!'


"..." Sasa diam. Ia mulai ragu dengan apa yang akan ia lakukan.


'Jangan ragu berkali-kali, Mysa... Pokoknya setelah vidionya siap, kamu kirim ke nomor saya.'


"Baik, saya akan kirim sebentar lagi."


'Saya tunggu.' Bila lalu mematikan telfon itu.


Sasa meletakkan telfonnya di meja. Ia kemudian diam sembari menunggu Bara masuk lagi ke kamar. Tak lama, Bara masuk ke dalam kamar dengan tangan kosong.


"Bantu gua buat konferensi pers hari ini juga," ungkap Sasa yang membuat Bara kaget.


"Apa? Untuk apa?" tanya Bara sembari mendekat.


"Gloubel ada masalah di media online, gua harus tepis berita salah itu."


"Berita salah apa?" tanya Bara.


Sasa menyerahkan ponselnya ke Bara. Bara lalu melihat berita yang sudah Sasa baca sebelumnya. Dengan sekali baca, Bara yakin dia bisa membantu Sasa. "Gua tau cara yang pas untuk masalah ini," jawab Bara.


...----------------...


Sasa dan Bara nampak duduk di ruang tamu, mereka tengah menunggu supir yang akan mengantarkan barang. "Mysa, ada kiriman dari supir kantor." Diki masuk ke rumah dan menyerahkan kardus.


Sasa berjalan ke arah Diki. "Makasi, Pak." Bara lalu membantu Sasa membawa kotak itu ke kamarnya. "Ayo, kita bawa ke kamar gua aja."


Mereka berjalan bersama ke kamar Sasa. Beberapa menit saja, lalu masuk ke kamar dan meletakkan kardus itu di lantai.


"Apaan sih isinya?" tanya Bara.


"Mana gua tau, tolong gunting di sebelah lo." Sasa kemudian mengambil gunting dari tangan Bara.


Mereka membuka kardus itu, ada beberapa barang di dalamnya. "Kamera, lo beneran konferensi pers pribadi ya?" celetuk Bara.


"Bantu aja kenapa sih." Sasa mengeluarkan kamera itu. Ia lalu meminta Bara memasangnya.


Sasa lalu merogoh selembaran kertas yang ada di dalam itu. Kertas yang bertuliskan pernyataan yang harus ia sampaikan.


"Udah nih," ujar Bara.


Sasa lalu bangun dari duduknya. Ia kemudian menuju kaca dan sedikit berbenah. "Lo gamau tuker baju?" tanya Bara.


"Gausah, shoot sampai dada aja." Sasa lalu duduk di depan kamera.


Bara kemudian bersiap untuk mengambil vidio. Sasa melirik ke kertas yang ada di tangannya. Ia lalu mengode Bara untuk segera mulai.


"Action!" ujar Bara.


"Saya Sasa Sasilia...." ujar Sasa memulai konferensi nya itu.


Bara yang ada di depannya terus men-shoot gambar Sasa. Ia melakukannya dengan baik sampai akhirnya sesi ini berakhir.


"Sekian, dan terima kasih." Ujar Sasa sembari tersenyum.


Bara lalu menghentikan proses pengambilan vidio itu. Sasa lalu berdiri mendekat ke Bara. "Gimana? Bagus ga?" tanya Sasa.


"Cantik," ujar Bara melirik Sasa.


"Kan perempuan!" ujar Sasa. Ia kemudian merogoh ponselnya untuk mengirim vidio itu.


"Salin ke sini, mau gua kirim ke Bu Bila." Sasa menyerahkan ponselnya.


"Oke, 3 menit aja." Bara menyalin vidio itu.


"Lo sekarang udah beneran resmi jadi CEO ya?" tanya Bara.


"Begitulah, ada banyak masalah yang harus gua handle, ini baru salah satunya." Sasa lalu mengalihkan pandangannya.


"Ini, lo bisa kirim ke Bila sekarang." Bara menyerahkan ponsel Sasa.


Sasa kembali melihat vidio itu, lalu mengirimnya ke Bila. "Makasi ya Bar, ini penting banget buat Gloubel."


Bara tersenyum. "Gua seneng bisa gabung dalam hal yang menurut lo penting."


Untuk pertama kalinya, Sasa membalas senyuman Bara dengan tulus. Biasanya, ia lebih memilih tersenyum kecil ke arah lain. Namun, kali ini ia tersenyum tepat ke arah Bara.