Puzzles

Puzzles
Episode 79 - RIP Zean



Dengan rasa penasaran dan tidak percaya, Bara memutuskan untuk mengikuti mobil Ambulance tersebut. Mobilnya melaju tepat di belakang Ambulance.


"Ya Tuhan, itu Zean kah?" tanya Bara lagi seraya menggigit kuku tangannya.


Bara merasa berdebar mengikuti ambulance itu, dalam hatinya, ia berharap apa yang ia lihat salah.


"Gua harus pastiin," ujar Bara lagi.


Bara terus melaju mengikuti mobil itu hingga ke rumah sakit. Sementara, di sisi lain ada Fergi yang tengah mondar mandir di depan pintu.


"Perasaan aku kenapa ga enak ya? Kenapa ya?" tanya Fergi seraya berputar ke kiri dan kanan.


"Kenapa jam segini masih di luar, Pak?" tanya satpam di rumah Fergi.


Fergi melihat satpam itu dengan tatapan nanar. "Saya khawatir sama Zean, dia belum balik, perasaan saya jadi ga enak."


"Oohh mungkin Zean nginep di rumah temennya Pak, kan udah gede, biasanya juga keluar malam buat nongkrong."


Fergi menarik nafas dalam, " Tapi kali ini perasaan saya benar-benar ngawur."


"Bapak tunggu di dalam saja, biar saya yang nunggu Zean pulang," jawab satpam itu.


"Huh, yasudah... Tapi, kalau Zean pulang langsung suruh temui saya ya," ujar Fergi.


"Siap Komandan!" tegas satpam itu dengan tangan di kepala.


Tanpa membalas gurauan, Fergi berbalik dengan tatapan datar. Ia seperti benar-benar dihantui perasaan yang buruk kali ini.


Mobil Ambulance yang diikuti Bara tiba di depan rumah sakit raharja. Perawat membuka pintu dan berlari untuk membantu korban lakalantas itu.


"Oksigen," ujar salah seorang yang sepertinya adalah dokter di sana.


Bara turun dari mobil dan segera berlari ke arah korban yang ia duga adalah Zean. Ia dapat melihat jelas korban itu memasuki IGD. Baru saja Bara hendak masuk mendekat ke IGD.


Langkahnya harus bergeser karena di belakangnya berhenti sebuah mobil Ambulance yang baru saja sampai.


"Ayo, bantu." Beberapa perawat kembali mengejar korban yang baru.


Korban yang ternyata adalah Bima itu dibawa dengan tandu tepat di depan Bara. Bara yang sedang berdiri di depan IGD itu melihat jelas wajah Bima.


"Siapkan alat untuk cek nadi pasien," ujar perawat itu seraya lewat.


Bara yang sudah tak ada hambatan lewat itu lalu melangkah lagi mencari keberadaan Zean. "Sus, korban lakalantas yang dateng pertama tadi di ruangan yang mana ya?"


"Oh, yang dateng barusan ya?" tanya suster itu.


"Iya Sus," jawab Bara tanpa ragu.


"Ada di ruang igd sebelah kanan, bilik 3." Suster itu menunjuk ke arah kanan.


Bara mengangguk dan berterima kasih. Ia lalu bergegas menuju bilik yang disebut oleh Suster tadi. Langkah Bara sedikit gemetar, ia lalu berjalan perlahan, menyingkap kerai yang nampak saja sedang bising karena mengobati korban.


"Minta kapas," sesorang menyerahkan kapas.


Beberapa orang nampak menyeka keringat dokter yang sedang membersihkan luka di kepala Bima itu. Dengan berat hati, Bara mengintip dari balik kerai itu.


"Bukan," lirih Bara.


"Mas keluarganya?" tanya seorang perawat.


"Oh, bukan... Saya lagi cari korban kecelakaan yang satunya lagi, tadi masuk ke IGD."


"Apa dia adalah orang yang disebelah sana?" tunjuk suster itu ke bilik depan yang sejajar dengan Bima.


"Saya lihat dulu," ujar Bara.


Suster itu mengangguk dan masuk ke dalam kerai tempat Bima sedang diobati. Kaki Bara melangkah dengan gontai ke kerai tempat korban yang pertama kali ia lihat.


Tepat di depan kerai, ia melihat dari celahnya seorang dokter tengah melakukan CPR. Wajah korban itu tidak terlihat karena terhalang dokter.


"No response, cek denyut nadinya dan naikkan tegangannya."


"Baik dokter," beberapa suster melakukan perintah itu.


Bara masih berdisi di depan kerai, ia memilih mendengarkan dan tidak mengganggu tindakan medis yang sedang dilakukan.


***


Sasa masuk ke dalam kamarnya yang ada di hotel Gloubel Bali, ia segera berbaring usai ikut Glamping dengan Ghare.


Baru saja akan memejamkan mata, notif pesan membuyarkan pikirannya. Sasa lalu mengambil ponsel dan segera mengecek pengirim nada pesan itu.


'Gua masih di bawah, sesuai ucapan gua tadi, lo harus pertimbangin untuk nerima lagi nyokap atau lo akan kehilangan hal yang paling berharga dari hidup lo!'


Deep!


[Flashback]


"Sesuai perjanjian, jangan bahas soal tadi kalau emang lo mau anterin gua!" tegas Sasa seraya membuka pintu mobil.


Ghare mengangguk dan segera masuk. Di perjalanan, mereka penuh dengan diam. Setiap jalan dilalui dengan hening.


"Gua mau lo terima nyokap lagi," ujar Ghare sambil menginjak rem. Mobil yang ia kendarai langsung berhenti.


"...." Sasa diam.


"Nyokap ga punya niatan buruk sama keluarga lo, lo dan nyokap juga satu keluarga kan, jadi gausah banyak pertimbangan dan terima dia lagi."


"..." Sasa masih diam mendengar itu.


"Gua tau kita udah sepakat untuk ga bahas ini, tapi... Gua tahu nyokap ga salah, lo harus kembali percaya sama dia."


"Lo makan fiksi yang nyokap lo ceritain?" sindir Sasa.


"Gua kenal nyokap lo bertahun-tahun jauh sebelum lo kenal dia!" bentak Sasa.


Ghare seketika menatap Sasa tajam. "Ini bukan fiksi, lo harus dengerin dia secara penuh untuk tahu keseluruhan faktanya, Sasa!" jelas Ghare.


Sasa menelan ludah dan melirik Ghare dengan sinis. Ia lalu tersenyum kecil sembari berkata.


"Apa yang masih bisa lo percaya dari orang yang bisa dengan mudah ninggalin lo bertahun-tahun?!" ketus Sasa.


Deep!


Ucapan Sasa barusan menohok Ghare tepat sasaran. "Apa rasa percaya lo semurah itu dibeli sama cerita sedih yang lo bahkan baru denger sekali dari orang yang seharusnya udah ga bisa lo percaya lagi?!"


"Sadar Ghare! Hidup lo bisa jauh lebih baik dari ini," jawab Sasa.


"Stop!!" ketus Ghare.


"Pokoknya lo harus terima nyokap kerja di hotel lagi," ungkap Ghare.


"Gua mau pulang, kalau lo ga jalan gua akan turun sekarang juga!" ketus Sasa.


[Now]


"Saico!" bentak Sasa seraya membuang ponselnya.


Ia lalu berjalan ke jendela kamarnya, dari atas terlihat mobil yang tadi ia tumpangi masih berdiri di depan parkiran hotel. "Shittt!!!" umpat Sasa.


Sasa menutup kerai jendela dan berjalan menuju telfon kamar. "Halo, ini Sasa."


'Halo, Nona... Ada yang bisa dibantu?'


Sasa melirik ke jendela yang sudah tertutup kerai. "Tolong usir mobil yang ada di parkiran B30," pinta Sasa.


***


"Pasien sudah tidak terselamatkan, suster tolong hubungi keluarganya dan siapkan administrasi berkas atas kematian pasien." Dokter itu berlalu keluar kerai.


"Apa anda keluarganya?" tanya dokter itu ke Bara.


Bara tercengang dan mengangguk padahal ia belum tahu siapa yang ada di dalam. "Pasien tidak selamat, kita akan menunggu selama 2 jam untuk memastikannya."


Deep!


"Zean? Boleh saya liat korban dok?" tanya Bara.


"Silahkan," jawab dokter itu.


Bara menyingkap kerai dan melihat wajah yang sangat tidak asing. Wajah itu adalah Zean. Setengah mukanya tertutup darah, namun Bara masih mengenali bahwa itu Zean.


"Permisi, kami akan bersihkan sisa darah korban dulu," ujar suster yang lewat di sebelah Bara.


"Ze.. Zean? Zean?!!!" Bara mencoba menyentuh tangan Zean. Ia tahu bahwa Zean sudah tidak lagi merespon.


"Huh... Hikss...hikss.." tanpa sadar air matanya jatuh. Ia benar-benar terkejut akan jenazah yang ada di depannya.


Tanpa hilang akal, ia langsung menghubungi Fergi dengan hati-hati. Namun, beberapa kali ia telfon, Fergi tidak mengangkat. Bara mencoba terus berharap Fergi segera tahu hal ini.


Ia sesekali melihat Zean yang sudah terkapar tak bernafas. "Zean... Kenapa lo ninggalin Sasa?" ungkap Bara secara tiba-tiba.


"Sasa? Dia harus tau soal ini, tapi... Gua harus cari time yang pas," ujar Bara.


Bara lalu kembali menelfon Fergi, nihil. "Ayolah, angkat Pak, sekali aja.... Zean butuh bapak sekarang," ungkap Bara.