Puzzles

Puzzles
Episode 58 - Pesan dari Mbok Ira



Bara baru sampai di rumah Sasa pukul 19.20 WIB. Sudah gelap sekali untuk pulang. Bara lalu keluar dari mobilnya dan bermaksud menuju pintu.


"Bara..." panggil Diki seraya berjalan mendekat.


Bara menoleh ke belakang. "Eh, Pak Diki... Ada apa, Pak?" tanya Bara.


"Ini, ada surat dari Mbok Ira..." ujar Diki menyerahkan amplop putih.


Bara mengambil surat itu. "Buat saya?" tanya Bara dengan bingung.


"Oh, bukan... Itu surat untuk Mysa, saya kasih ke Bara karena dari tadi Mysa ga keluar rumah," jelas Diki.


"Saya panggil-panggil juga ga ada jawaban," tambah Diki lagi.


"Oh, nanti saya kasihin ke Sasa, Pak... Makasi ya, saya masuk dulu."


"Iya Bara, silahkan..." ujar Diki.


Bara tersenyum dan segera berlalu ke dalam rumah. Ia berjalan menuju kamarnya sebelum pergi ke kamar Sasa.


Bara masuk ke kamar dan meletakkan beberapa barang yang tadi ia bawa. Ia lalu menuju kamar Sasa tanpa membuka jas labnya.


Tokk...Tokk..Tokk...


"Saaa... Gua boleh masuk ga?" tanya Bara.


Tidak ada jawaban. Bara lalu memanggil sekali lagi. "Saa...." ujar Bara.


Tetap tidak ada jawaban. Bara lalu membuka pintu perlahan. "Sasaa...."


Krek!


Suasana kamar Sasa masih sepi sekali seperti pagi tadi. Baru saja masuk, mata Bara tertuju pada jaket levis yang tergantung. Jaket miliknya yang dipinjamkan ke Sasa waktu itu.


Bara menyentuh jaket itu dan tersenyum kecil. Ia lalu berjalan ke arah Sasa yang masih tertidur pulas. "Saaa... Bangun..." Bara menepuk lengan Sasa dengan lembut.


"Saaa...." ujar Bara sembari menyentuh kening Sasa.


"Udah ga panas, dia pasti beneran bedrest." Bara lalu membangunkan Sasa hingga ia terbangun.


"Huaammmm!!!" Sasa memejamkan matanya beberapa kali untuk memperjelas pandangan.


"Bara, lo baru balik?" tanya Sasa saat melihat jas yang Bara kenakan.


Bara tersenyum dan duduk di pinggir kasur. "Iya, tadi pas survey lokasi ada korban kecelakaan, jadi kami langsung ikut bantu-bantu."


"Oohh, sekarang udah jam berapa?" tanya Sasa dengan polos.


"Mau jam 8, lo dari tadi tidur?" tanya Bara.


"Ketiduran, ogah kali beneran bedrest!" ketus Sasa.


"Iyadehh," ujar Bara seraya memperlihatkan amplop putih ke Sasa.


Sasa membenarkan posisinya. "Ini, ada amplop dari Mbok Ira." Bara menyerahkan amplop putih itu ke Sasa.


"Mbok Ira ke sini?" tanya Sasa seraya mengambil amplop itu.


"Gua juga gatau, Pak Diki yang ngasih ke gua tadi pas mau masuk rumah."


Sasa perlahan membuka amplop itu dan membaca isi pesan yang ada di dalamnya.


'Mysa... Maaf baru bisa mengabari Mysa sekarang lewat pesan ini,'


'Saya pergi di hari itu karena salah satu saudara saya meninggal dunia.'


Sasa terus membaca pesan itu sampai bawah. Sementara, Bara hanya duduk di depannya memperhatikan.


'Saya tidak pamit ke Mysa karena merasa bersalah.'


'Ada hal yang tidak bisa saya jelaskan di surat ini.'


'Mysa... intinya saya mintak maaf karena sudah berkhianat...'


Sasa seketika mengernyitkan dahi. Pengkhianatan apa? Kapan Mbok Ira datang ke sini?


'Sebagai gantinya, saya memutuskan untuk tidak bekerja lagi sama Mysa...'


'Semoga Mysa bisa cari pengganti saya.'


'Salam, Mbok Ira.....'


Sasa melepas surat itu dari tangannya. "Kenapa Mbok Ira ngirim surat ini?" tanya Sasa dengan bingung.


"Maksud lo? Emang isi suratnya apa?" tanya Bara. Sasa lalu mengode Bara untuk segera membacanya.


"Ini maksudnya apa coba? Gua beneran ga ngerti?!" tegas Sasa.


Sasa seketika memikirkan beberapa hal ganjal yang terjadi saat Mbok Ira di sini.


'Apa, ini ada hubungannya sama yang di telfon Mbok Ira waktu di kamar.'


"Suratnya ambigu, lo punya masalah sama Mbok Ira?" tanya Bara sembari terus membaca.


'Kejadian itu sehari sebelum Mbok Ira menghilang dari rumah ini.'


"Apa kita perlu temuin Mbok Ira secara langsung?" tanya Bara lagi.


Sasa hanya diam sembari sibuk memikirkan hubungan surat ini dengan kejadian lain.


'Gua harus cari tahu sosok di balik orang yang ngobrol sama Mbok Ira.'


"Saa... Lo kenapa diam?" tanya Bara.


"Ha-a-Apa?" tanya Sasa.


"Lo mikirin surat ini ya?" tanya Bara.


"Nggak kok, soal ini gua bisa cari ART baru."


"Lo serius?" tanya Bara.


"Iya, serius, keluar yuk... Gua laper." Sasa lalu bangun dari duduknya dan segera berjalan mengambil jaket yang ia gantung.


"Lo mau kemana?" tanya Bara ikut berdiri.


"Ayo, makan..." ajak Sasa sembari berjalana lebih dulu.


Bara yang masih bingung itu, terpaksa mengikuti keinginan Sasa. Sementara, Sasa sengaja menghindar karena ia tidak mau Bara masuk lebih jauh dalam masalah ini.


Sasa berjalan keluar sembari membenarkan jaket yang ia kenakan. Bara yang berada di belakangnya lalu bersorak ke Sasa.


"SAA? Gua buka jas dulu!"


Sasa mengangguk sembari melihat Bara yang semakin menghilang dari pandangannya. Sasa lalu berjalan menjauh dari mobil Bara.


Ia merogoh ponselnya seraya menghubungi seseorang. "Halo, Zean?" ujar Sasa seraya melirik ke belakang untuk memastikan bahwa Bara tidak mendengarnya.


"Iya, kenapa bisik-bisik?" tanya Zean yang sedang berbaring di rumahnya itu.


"Gapapa, ada tugas baru buat lo," ujar Sasa.


"Apa?" tanya Zean dengan semangat.


"Gua mau lo retas data alamat Mbok Ira, ART gua yang sering ketemu lo," jelas Sasa.


"Emang Mbok Ira masih belom balik ya?" tanya Zean dengan raut penasaran.


"Belom, udah lebih dari sebulan," ujar Sasa. Mendengar ini, ada rasa tidak terima di diri Zean. Jadi, selama ini cuma ada mereka berdua di rumah?


"Jadi, lo cuma berdua sama dia di rumah?" tanya Zean dengan tidak sadar.


Mendengar itu, Sasa seketika bingung. "Maksud lo?" tanya Sasa.


Zean yang menyadari perkataannya seketika mengalihkan isu.


"Maksud gua, lo punya informasi pribadi beliau ga yang bisa dijadiin acuan?" tanya Zean.


"Gua ga sempat minta nomor telfonnya, tapi kayaknya gua ada ktpnya deh pas pendataan warga waktu itu," ungkap Sasa.


"Boleh tuh, lo bisa kirim fotonya ga?" tanya Zean.


"Bisa, gua langsung kirim ya..." Sasa lalu memutus sambungan mereka dan segera mengirim pesan ke Zean.


Bara yang baru saja keluar dari rumah itu, melihat Sasa dengan jarak yang lumayan jauh. Ia lalu mendekat ke mobilnya seraya memanggil Sasa.


"SAAA?? LO NGAPAIN DI SITU?" tanya Bara yang menbuat Sasa langsung menoleh.


"Haa-apa?" tanya Sasa.


"Ayo, katanya mau makan." Bara lalu masuk ke mobilnya.


Sasa mengangguk dan segera menuju ke mobil Bara. Sasa masuk dan duduk di sebelah Bara. Baru saja menutup pintu, Bara langsung menatap Sasa dengan curiga.


"Lo beneran ga mikirin soal Mbok Ira kan?" tanya Bara.


"Beneran, ayo jalan..." ujar Sasa seraya menutup pintu.


Bara mengangguk dan segera melajukan mobilnya menuju tempat makan yang belum mereka tentukan.