Puzzles

Puzzles
Episode 49 - Jenuh



Sasa yang sedari tadi berdiri di samping mobil, lalu melirik arah datangnya Bara. Ia dapat melihat jelas bahwa Bara berjalan bersama wanita di sebelahnya.


"Ini mobil lo, Bar?" tanya Hanum.


Sasa menyorot mereka berdua dengan tatapan datar. Bara lalu mendekat ke arah Sasa. "Lo udah nunggu dari tadi?" tanya Bara.


Sasa melirik wanita itu tanpa ekspresi. "Lumayan." Sasa berjalan ke pintu mobil dan segera masuk.


Hanum yang ada di sebelah Bara nampak menyorot Sasa dengan tatapan tajam. "Lo ngapain masih di sini?" tanya Bara menoleh ke Hanum.


"Gua mau nebeng, mobil gua bocor ban di parkiran." Bara nampak tak percaya dengan ucapan Hanum.


"Maaf, tapi kita ga searah." Bara lalu mencoba masuk ke mobil.


"Bar... Sampai halte juga gapapa," ungkap Hanum.


Bara berhenti sejenak. Ia lalu melihat Hanum dengan malas. "Masuk," jawab Bara sembari masuk ke mobil.


Mendengar itu, Hanum seperti dapat angin surga. "Hmmmm, yes!" ujar Hanum dengan sumringah.


Sasa yang ada di dalam mobil, nampak tak menghiraukan Hanum sedikitpun. Bara yang merasa tidak enak langsung melaju meninggalkan kampus.


Suasana di mobil nampak hening. Belum ada yang mau membuka obrolan. Sasa lalu memasang earphonenya, ia memilih meredam suara yang berisik di kepalanya. Ia lalu memejamkan mata seperti tertidur.


"Cuma sampe halte depan ya," sahut Bara.


Hanum nampak tak terima. "Bisa di halte kedua aja ga Bar?" tanya Hanum yang duduk di belakang itu.


"Halte yang kedua itu lumayan jauh, lo nanti jadi makin ribet," jawab Bara.


"Gapapa, gua udah ada janji jemputan di sana," jawab Hanum.


Sasa nampak tak menghiraukan ucapan mereka berdua. "Rumah lo masih jauh, Bar?" tanya Hanum.


"Ga juga, deket sini kok."


"Kalau rumah dia, jauh juga?" tanya Hanum menoleh ke Sasa.


Bara menatap lurus ke jalanan. "Gua serumah sama dia!" tegas Bara.


Mendengar itu, Hanum seperti tersentak. "Apa? Lo udah nikah?" tanya Hanum dengan suara keras.


Sasa sedikit membuka mata karena suara Hanum. Ia lalu membenarkan earphonenya. "Lo bisa diem aja ga?" tanya Bara.


"..." Hanum langsung diam mendengar ucapan Bara.


Bara terus menyetir hingga mereka sampai di halte kedua.


Mobil itu lalu berhenti tepat di dekat halte. "Turun," ujar Bara menoleh ke belakang.


Dengan raut tidak suka, Hanum terpaksa turun dari mobil itu. "Makasi ya Bar, gua balik dulu."


"Sama-sama," ujar Bara sembari menunggu Hanum keluar.


Hanum turun dan berdiri di pinggir halte, ia hanya bisa melihat mobil Bara yang semakin menjauh. Sementara, dirinya nampak baru menghubungi seseorang.


"Halo, bisa jemput gua ga?" tanya Hanum pada seseorang yang sedang ia telfon.


Dari dalam mobil nampak Sasa masih memejamkan mata seraya mendengarkan musik. Bara yang merasa ada yang berbeda itu lalu sesekali menoleh ke Sasa.


"Maaf ya, lo jadi ke ganggu sama kehadiran cewe tadi," ujar Bara.


Tidak ada respon dari Sasa. "Gimana, urusan lo udah selesai?" tanya Bara.


Sasa masih diam. Bara yang merasa bingung terus mengemudi ke arah rumah Sasa. Sasa perlahan membuka matanya dan melihat jalan yang sudah mulai dekat.


"Gua ga mau pulang ke rumah dulu," jawab Sasa secara tiba-tiba.


"Oke," jawab Bara tanpa bertanya apa sebabnya. Seketika Bara langsung memutar arah tujuan mereka.


Sasa kemudian menutup matanya lagi, ia disibukkan oleh berbagai pertanyaan. Kenapa semakin jelas malah semakin ribet?


'Apa benar Deina yang bunuh Mama?'


Sasa hanya bisa bercengkrama dengan hatinya karena Bara tidak tahu soal ini. 'Tapi, semua bukti merujuk ke Deina.'


'Apa gua harus cari tahu langsung ke KUA ya soal pernikahan Deina? Tapi, KUA kan ada banyak banget,'


Sasa yang repot dengan dirinya sendiri kemudian tanpa sadar terlelap dalam pejaman matanya. Sementara, Bara yang tahu kalau Sasa sedang jenuh itu memilih diam.


...----------------...


Ghare yang baru saja sampai di rumahnya, masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur. Ia lalu menatap langit-langit rumahnya. "Gua harus bisa dekat sama cewe itu," ungkap Ghare.


"Berteman akan jadi langkah awal mereka untuk lebih dekat sama gua," kata Ghare lagi.


Ghare lalu tersenyum licik, ia kemudian merogoh ponsel yang bergetar di saku celananya. "Siapa nih yang telfon?" tanya Ghare sembari melihat nama yang tertera.


Melihat nama itu, ekspresi Ghare langsung berubah. Namun, ia tetap mengangkat telfon itu.


"Halo?" tanya Ghare.


"Iya, kan ak––"


"Halo?" Ghare melihat ponselnya yang sudah tak terhubung dengan orang itu.


"Dasar badj*ngan!!!" Ghare langsung membanting ponselnya ke lantai.


...----------------...


Mobil yang dikendarai Bara akhirnya berhenti di depan rumahnya sendiri. Bara turun dan kembali masuk ke mobil setelah membuka gerbang.


Sasa yang terlelap itu sampai tidak sadar kalau dibawa ke sini. Setelah terparkir, Bara langsung membangunkan Sasa. "Saa... Sasa..." sembari menepuk bahu wanita itu.


"Saaa... Bangun, udah sampe."


"Hmmm," dehem Sasa sembari membuka matanya.


Sasa yang baru bangun lalu menoleh ke Bara. "Ayo, turun." Bara langsung membuka pintu mobil dan keluar.


Tanpa bicara, Sasa turun dari mobil itu. Ia lalu mengikuti langkah Bara. Rumah yang sudah lama ditinggal ini nampak rapi dari sebelumnya.


Sasa melirik sekeliling dan masuk ke dalam rumah. "Gua mau ke kamar bentar," ujar Bara sembari meletakkan laptopnya di ruang tamu.


Sasa duduk. Ia merasa sedikit tenang di sini. Ia perlahan kembali memejamkan matanya, namun suara Bara membuatnya mengurungkan niat.


"Sa, jangan tidur lagi, ayo!" Bara melangkah menuju dapur.


Sasa yang tidak mood itu terpaksa harus ikut Bara. "Sini, masak buat makan sekarang," jawab Bara.


Bara berjalan ke kulkas. Ia lalu mengambil beberapa sayur dan bahan mentah. "Kulkas lo kenapa ada isinya?" tanya Sasa.


"Ada tukang kebun gua yang tinggal di sini, sekarang dia lagi pulang kampung, lusa baru balik lagi," jawab Bara.


Sasa mengangguk paham. Ia lalu duduk di kursi bar yang ada di depan kompor listrik. "Mau masak nasi goreng lagi?" tanya Sasa.


"Masak apa lagi?" tanya Bara.


Sasa menoleh ke Bara. Ia lalu bangun dari duduknya. "Sini, gua aja."


Bara nampak tersentak akan permintaan Sasa. "Lo bisa masak?" tanya Bara.


"Bisa, cuman males aja." Sasa lalu mengambil alih pisau yang ada di tangan Bara.


"Lo beneran bisa?" tanya Bara dengan ragu.


"Alm. Mama selalu ajak gua masak setiap pulang kantor, katanya dia gamau gua kehilangan fungsi seorang ibu hanya karena ada ART."


Sasa terus memotong beberapa daun bawang dan daging. "Lo ada marica ga?" tanya Sasa.


"Ada, di laci belakang lo," ujar Bara.


Sasa mengambilnya dan menaburkan marica itu pada daging yang sudah dipotong. "Lo mau buat apa?" tanya Bara.


"Sup daging, lo masak nasi aja sana." Bara segera mengambil beras untuk dimasak.


Ia sesekali melirik ke Sasa dengan senyuman. Sementara, yang dilihat nampak sibuk memasak air untuk membuat kaldu sup.


"Btw, lo tadi kenapa?" tanya Bara.


Sasa terus memasak karena moodnya sudah stabil. "Kesel aja."


"Kesel kan ada sebabnya, kenapa?" tanya Bara.


Sasa menuang bumbu sup dan menunggunya hingga mendidih. Ia lalu menoleh ke Bara yang mulai memasukkan nasi ke ricecooker.


"Lo pernah punya masalah ga?" tanya Sasa.


Bara menekan tombol ricecooker dan melihat ke Sasa. "Punya, bahkan gua ngerasa sebagaian dari hidup gua sejak bunda sakit adalah masalah," jawab Bara.


"Kenapa? Lo anggep Bu Renita beban?" tanya Sasa.


"Bukan, gua anggep itu masalah karena hati gua ga bisa nerima hal yang bahkan gua ga mau sama sekali itu terjadi!" tegas Bara.


Sasa mencoba mencerna perkataan Bara. "Kenapa lo nanya kaya gitu?" tanya Bara.


Sasa memasukkan daging ke dalam kaldu yang sudah mendidih. "Gua jenuh."


"Jenuh karena masalah apa?" tanya Bara.


"Bukan karena masalah, tapi karena penyelesaian masalah yang panjang."


"Kenapa harus jenuh karena masalahnya hampir selesai?" tanya Bara lagi.


"Ga tau, rasanya semakin gua tau banyak hal, semakin pusing!" ketus Sasa sembari menatap ke sup yang ada di depannya.


"Lo cuma perlu waktu untuk menjauh dari masalah lo, sebentar aja!" ungkap Bara.


Sasa menoleh dan membenarkan ucapan Bara. "Kayaknya iya, karena hampir seluruh waktu gua, gua pakai untuk nyelesain masalah."