Puzzles

Puzzles
Episode 25 - Bantuan Hack dari Zean



Zean menutup jurnal yang tengah ia genggam. Ia lalu meletakkannya di atas meja. Matanya menatap Sasa dengan sangat antusias.


Sasa meletakkan ice cappucino nya di meja, ia lalu menatap Zean kembali untuk percakapan serius.


"Sebelum lo ngebantu gua, gua mau pastiin dulu kalau lo beneran paham isi jurnal itu," ujar Sasa.


"Paham, dari yang gua baca, mobil sedan item yang dipakai Ghare adalah mobil sedan item yang sama," jelas Zean.


"Dengan penguntit di rumah lo, iya kan?" ujar Zean memastikan.


Sasa mengangguk sebagai tanda membenarkan ucapan Zean.


"Sekarang lo tau, alasan gua ngajak lo cari sedan di kampus waktu itu," ujar Sasa.


"Iya, karena lo berasumsi bahwa sedan itu ada hubungannya sama kematian nyokap lo?!" tanya Zean dengan tepat.


"Nahh!! Bagus! Lo nyambung," ujar Sasa menepuk tangannya.


Zean lalu tersenyum ke arah Sasa. Ia seperti bahagia bisa masuk ke dalam misi ini.


"Gua yakin karena sedan itu pernah ada di pemakaman umum juga 4 tahun lalu," jelas Sasa menaikkan kedua alisnya.


"Lo yakin karena sedan itu punya plat yang sama? Tapi apa lo yakin plat yang lo inget itu bener?" tanya Zean lagi.


"Gua bukan meragukan ingatan lo, tapi salah satu angka aja bisa berakibat fatal loh, Sa!" tegas Zean sembari membuka laptopnya kembali.


Sasa nampak berfikir kembali, memastikan apa yang ia lihat itu benar.


"Iya, gua yakin... Itu karena platnya gampang di inget," ujar Sasa meyakinkan Zean.


"B 12 SM, kalau dibaca jadi BERSAMA," ujar Sasa lagi.


"Jadi, apa lo bisa bantu gua ngeretas pemilik sedan itu?" tanya Sasa ragu-ragu.


Zean lalu menunjuk ke arah laptopnya. Ia seolah sudah tahu bahwa Sasa akan menemuinya untuk meminta bantuan.


"Laptop ini kuncinya," ujar Zean menunjuk laptop itu.


Sasa lalu tersenyum, wajahnya nampak sangat bersemangat. Zean lalu meneguk minumannya untuk merelax keadaan.


"Kenapa bisa tiba-tiba bawa laptop?" tanya Sasa.


"Kebetulan gua lagi project ngebuat sistem keamaan akun perusahaan multiinternasional," jelas Zean yang membuat Sasa takjub.


"Banyak juga job lo!" celetuk Sasa yang membuat Zean tertawa.


"Ini mah cuma hobby, Sa!" ujar Zean yang dibalas raut malas oleh Sasa itu.


"Tapi, sebelum kita retas, lo harus tau kalau gua itu biasa kerja sebagai white hat," ujar Zean.


Sasa yang bingung nampak berfikir atas ucapan Zean.


"Apaan tuh?" celetuk Sasa.


"Gua biasa menyerang sistem dengan tujuan memberitahu pihak yang diserang kalai ada celah keamanan yang terganggu," jelas Zean.


"Tindakan yang akan kita lakuin nanti, masuk ke black hat, dimana menyerang sistem untuk keuntungan pribadi atau niat jahat," jelas Zean lagi.


"Tapi, karena ini niat baik, gua akan bantu!" tegas Zean.


"Gua ternyata banyak ga tau soal istilah dalam dunia retas," jelas Sasa.


Zean lalu mengetik sesuatu di laptopnya. Ia masuk ke sistem retas untuk mengecek data pemilik sedan itu.


"Lo ngapain?" tanya Sasa sembari mendekatkan wajahnya ke laptop.


"Ngeretas sistem yang bisa nampilin data pemilik mobil itu," ujar Zean dengan santai.


"Langsung sekarang? Butuh waktu berapa lama?" tanya Sasa penasaran.


"Kan laptopnya udah di depan mata, cuma 5 menit," ujar Zean dengan sombongnya.


"Oke, kita liat seberapa cepat lo dapet informasi," ujar Sasa.


Zean lalu terus mengoperasikan laptopnya. Ia nampak fokus dengan sistem yang ada di depannya. Wajahnya nampak tak kesulitan sama sekali.


Selang beberapa menit, Zean berhenti mengetik, ia lalu menatap Sasa dan tersenyum sombong atas hasilnya.


"Berhasil?" tanya Sasa memastikan.


Zean lalu membalik laptopnya agar Sasa yang ada di depannya dapat melihat.


"Kalau gagal gua ga akan jadi hacker!" ujar Zean memutar laptopnya.


Sasa lalu menarik laptop itu dan membaca informasi yang ada di dalamnya.


"Sombong ya," sindir Sasa yang dibalas tawaan oleh Zean.


Sasa lalu memperhatikan setiap informasi yang ada. Ia lalu menatap Zean tak percaya. Bisa secepat ini ya?


Disana tertulis informasi lengkap soal pemiliknya, mulai dari nama, tanggal lahir, hingga alamat rumah terbaru.


"Fade Ghiaza? Dia WNI?" tanya Sasa memastikan.


Zean lalu mendekatkan kursinya ke samping Sasa. Ia lalu duduk dan mengambil kembali laptopnya, lalu meletakkannya dengan baik di tengah meja.


"Sesuai data, dia tinggal di Cirebon, ini alamatnya," ujar Zean menunjuk alamat yang tertera.


"Dan ini, plat mobil yang lo maksud," ujar Zean.


"Ga, ini kayaknya ga akurat deh, gua pernah baca kalau kode SM itu cuma dipake sama investor asing," jelas Sasa menatap Zean.


Zean lalu mencoba membaca baik-baik kembali apa yang ada di depannya. Ia lalu menjelaskan ke Sasa beberapa hal yang tidak Sasa paham.


"Iya, gua juga tahu, lo beneran ga tau soal dasar hack atau sistem retas ya?" tanya Zean lagi.


Sasa menggeleng, ia lalu mengakui tujuannya masuk ke jurusan IT.


"Makanya gua kuliah jurusan IT!" tegas Sasa.


Zean lalu tertawa.


"Gausah panik, ini tuh data samaran," celetuk Zean.


Sasa seketika terbelalak, apa? Dari mana Zean tahu?


"Kenapa lo bisa tahu?" tanya Sasa.


"Gua udah pernah bilang kan, gua sering buat sistem keamaan orang yang punya plat SM," ujar Zean.


Sasa mengangguk paham, ia lega kalau Zean benar bisa membantunya.


"Jadi, gimana caranya kita bisa tau? Atau kita datengin alamat yang ini aja?" tanya Sasa.


"Jangan, kita ga akan ke lokasi, kita cuma akan ngumpulin data dari jauh dulu," ujar Zean.


"Kenapa Ze?"


"Lokasi samaran ini biasanya cuma ilusi, jadi kita harus dapetin data yang beneran asli!" tegas Zean.


Sasa lalu menatap Zean dengan tatapan bertanya. Namun, seketika kotak mata mereka menjadi nyambung.


"Apa lo mikirin hal yang sama juga?" tanya Sasa.


Zean mengangguk dan tersenyum.


"Iya, kita harus selidikin Ghare untuk dapet alamatnya." Ujar Zean.


"Bener, lo coba cari tahu dulu nomer telfonnya," jelas Sasa.


"Oke, setelah tahu nomornya kita bisa retas alamatnya," ujar Zean.


Zean lalu kembali mengoperasikan laptop di depannya. Sasa melihat ke laptop itu dengan seksama. Ada banyak coding yang ia bahkan ingin muntah melihatnya, seperti sulit dicerna.


(Dering telfon)


Sasa merogoh ponselnya dan melihat nama Satpam Diki tertera di sana. Sasa lalu melirik Zean yang masih sibuk dengan coding.


Sasa mengangkat telfon itu dan mulai bicara.


"Halo?" ujar Sasa.


"Halo, Mysa... maaf ganggu," ujar Diki yang masih berada di dealer itu.


"Iya, gimana Pak?" tanya Sasa.


"Saya udah di dealer, motor yang Mysa mau juga ada, tapi warnanya banyak banget, saya jadi bingung milih yang mana," ujar Diki.


Diki nampak memperhatikan beberapa warna di dealer itu. Semuanya bagus.


"Mm sebentar ya, Pak." Ujar Sasa.


Di sebelahnya, Zean sedang asik minum, ia nampak sedang menunggu sistem bekerja. Sasa lalu melihat ke Zean dan meminta pendapatnya.


"Ze, warna motor apa yang cocok untuk gua?" tanya Sasa tiba-tiba.


Zean seketika terkejut. Apakah Sasa sudah mulai berdamai?


"Lo mau beli motor?" tanya Zean melongo.


"Buruan, warna apa?" ujar Sasa tak menjawab pertanyaan Zean.


Zean nampak tanpa fikir langsung menjawab pertanyaan Sasa.


"Pink, lucu tuh!" ujar Zean.


"Gua serius, selain Pink!" tegas Sasa.


Zean lalu berfikir sejenak dan memilih warna yang cocok dengan karakter sahabatnya itu.


"Mm hijau metalic," ujar Zean.


Sasa lalu kembali bicara pada Diki dan memilih warna yang baru saja Zean sebut.


"Hijau metalic aja, Pak." Ujar Sasa. Zean nampak kaget dengan ucapan Sasa. Sasa menerima sarannya secara langsung?


"Baik Mysa, totalnya jadi 80 juta." Ujar Diki.


Diki lalu duduk bersama sales motor dan menandatangani beberap berkas untuk SKCK.


"80 juta? Itu udah 2, Pak?" tanya Sasa.


Zean yang mendengar itu tersentak. Kenapa beli motor semahal itu? Sasa beli motor apa?


"Udah Mysa, maaf merepotkan," ujar Diki.


"Yaudah, bapak tunggu di sana, biar saya telfon karyawan hotel dulu untuk bawain cek," ujar Sasa hendak mengakhiri telfon.


"Baik Mysa... terima kasih," Sasa lalu mematikan telfon tanpa menjawab ucapan Diki.


Zean menatap Sasa dengan heran. Ia lalu bertanya secara langsung.


"Lo beli motor 80 juta?" tanya Zean.


"Iya, 2," ujar Sasa dengan nada datar.


"Buat apaan? biar bisa gonta ganti warna?" tanya Zean.


Sasa mencari nama seseorang di ponselnya. Ia lalu menekan nama itu untuk dihubungi.


"Bukan, satunya lagi buat anak satpam di rumah gua," ujar Sasa sembari menelfon seseorang.


(Dering telfon)


"Halo Bu Bila?"


"Iya Mysa, kenapa? kamu mau nanya soal..." ujar Bila hendak menjawab.


"Bukan, saya mau minta tolong bawain cek 80 juta," ujar Sasa.


"80 juta? atas nama siapa?" tanya Bila.


"Suruh karyawan hotel bawa ke dealer, nanti alamatnya saya kirim, biar nanti tulis cek nya di dealer aja!" jelas Sasa.


"Baik Mysa." Ujar Bila.


Sasa yang sudah jadi CEO muda itu kini dengan gampang bisa memakai uang perusahaan. Walaupun, ia punya tabungan sendiri, tapi tidak masalah karena ia sudah lama tidak mengganggu uang perusahaan itu.


"Kabarin saya via chat aja kalau urusannya udah selesai," jelas Sasa sembari menutup telfon itu.


"...." Bila mengiyakan dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.


Usai menelefon, Sasa langsung menghadap Zean. Ia melihat layar laptop yang sudah menampilkan apa yang ia mau.


"Gimana?" tanya Sasa mendekatkan diri ke Zean.


"Ini data soal Ghare, dia tinggal di komplek Heleren, Jaksel." Ujar Zean lagi.


"Komplek itu, bukannya dihuni sama..." ujar Sasa.


"Sama para pendatang asing," tambah Zean.


"Iya, gua pernah baca artikel tentang komplek itu," ujar Sasa.


"Sepertinya kita udah mulai dapat celah," ujar Zean.


"Darimana lo bisa tahu data ini falid," ujar Zean.


"Ngecek, gua udah cek kodenya di sistem, dan terdeteksi, ga kaya yang tadi," ujar Zean menjelaskan.


Sasa mengangguk paham, ia lalu mengarahkan laptop agar lebih dekat dan memotret informasi itu.


"Apa kita akan coba ke rumah Ghare?" tanya Sasa menatap Zean.


Zean lalu menggeleng, ia kemudian menutup laptopnya dan melihat ke Sasa.


"Iya, tapi bukan sekarang atau besok!" tegas Zean.


"Kenapa?" tanya Sasa.


"Lo penasaran sama pemilik inisial AD kan?" tanya Zean tiba-tiba.


"Iya," ujar Sasa dengan raut datar.


"Gua akan cari tahu soal semua yang ada di dalam jurnal lo ini," ujar Zean mengangkat jurnal ini.


"Tapi, ini perlu waktu karena gua harus kumpulin beberapa link yang jadi sumber repost artikelnya dulu," jelas Zean.


"Gua akan bantu," ujar Sasa.


"Lo bantu liat aja, sama nyatet, mau?" tanya Zean.


"Okeee!!" ujar Sasa.


"Besok gua akan mulai, lo bisa ke rumah gua," ujar Zean.


"Oke, pulang kuliah?" tanya Sasa.


"Besok gua ga kuliah, pura-pura sakit aja, syaratnya lo dateng pagi-pagi," celetuk Zean.


Sasa lalu bergumam dan menolak saran dari Zean.


"Lo ke rumah gua aja, bilang aja ke kampus, pagi!" tegas Sasa.


"Oke, setuju 10000%!" Zean tertawa dan sangat senang dengan semua ini.