Puzzles

Puzzles
Episode 78 - Kecelakaan ?



Mobil yang dikendarai Bara baru saja memasuki pekarangan rumah Sasa. Lampu mobil redup perlahan. Bara kemudian turun dan segera menuju ke dalam rumah.


Krek!


"Huh..." dengus Bara sambil berjalan ke sofa.


Bara langsung berbaring di sofa untuk melepas perasaan tidak enaknya. "Kenapa rasanya ga nyaman banget ya? Sasa? Gua ke inget dia terus," ungkap Bara dengan tatapan nanar.


"Apa dia baik-baik aja?" tanya Bara lagi.


Bara lalu mencoba mencari kontak Sasa di ponselnya. Namun, saat ia akan menelfon, dering telfon rumah membuyarkan pikirannya.


(Dering telfon).


"Siapa ya?" tanya Bara seraya berjalan ke dekat telfon.


Dengan hati-hati Bara mengangkat telfon itu. "Halo, dengan siapa?" tanya Bara.


'Halo? Ini saya orang tuanya Zean, Fergi...'


Deep!


'Fergi? Kok nama itu ga asing yah?' pikir Bara.


"Iya, ada apa ya Pak?" tanya Bara.


'Sasanya ada?' tanya Fergi.


"Sasa lagi ada urusan ke Bali, mungkin minggu besok baru balik," jelas Bara.


'Oo begitu ya, saya pikir Zean main ke rumah Sasa.'


"Zean? Zeano yang teman Sasa ya Pak?" tanya Bara memastikan.


'Iya, mereka kuliah di kampus yang sama juga,' jelas Fergi.


Pikiran Bara dibuat menerka, Gerillya Budaya? "Emang Zean kemana Pak kok belum pulang?" tanya Bara.


'Tadi pamit keluar sebentar, tapi udah mau jam 12 kok belum balik ya? Saya jadi khawatir.'


"Gini aja pak, biar saya yang coba cari Zean ke luar," ujar Bara.


'Apa ga ngerepotin kamu? Ini udah mau jam 12 loh," ungkap Fergi.


"Gapapa, saya pakai mobil kok, tadi dia pamit ke mana pak?" tanya Bara.


'Dia ga bilang mau kemana, tapi biasanya dia ke warkop temannya namanya Bima, di dekat persimpangan Hexabel wilayah Jaksel juga,'


"Oh, saya tahu tempat itu, saya pernah lewat sana, yaudah biar saya cari dulu ya Pak."


'Kamu bisa catat nomor ponsel saya,' Fergi lalu menyebutkan nomor telfonnya agar Bara bisa menghubunginya lagi.


***


Zean terus mengendarai motornya seraya melirik spion. "Mereka ngikutin kita?!," ungkap Bima ke telinga Zean.


"Pegangan yang erat Bim," jawab Zean seraya mencoba menyalip mobil truk di depannya.


Dengan sedikit getar di hati, Bima memegang baju Zean dengan erat. Ia seperti tidak tahu apa yang sedang terjadi kali ini. Bima sesekali melirik ke belakang.


Ia selayang pandang dapat melihat bahwa motor yang kini ada di belakang mereka adalah para bedebah itu.


"WOYYY!!!! BERHENTI LO!!!!" sorak mereka seraya menyeimbangkan motor agar sejajar dengan Zean.


"Ze, buruan!" ujar Bima menepuk pundak Zean.


"Gausah panik, dia ga akan bisa nangkep lo lagi, ini juga banyak orang kok!" tegas Zean.


Bima tetap melirik ke belakang. "Berhenti!!" sorak mereka lagi.


"Mau apa lagi lo?!!" ketus Bima.


"Lo ga bisa kabur gitu aja tanpa ngasih yang kita mau Bima!!" sorak mereka yang kini ada di sebelah motor Zean.


Zean yang fokusnya mulai terganggu itu memilih tak menghiraukan ucapan mereka berdua. "APAA?!!! GUA GA ADA URUSAN SAMA KALIAN!!" sorak Bima.


"Salip mereka Bro," seraya mencoba menyalip motor Zean.


Jalanan yang lumayan ramai itu, membuat Zean kesulitan meninggalkan posisi saat ini. Ia memilih untuk sedikit memainkan gas saja agar tidak tersalip.


"Zee, kita harus jauh dari mereka!"


"Lo tenang aja," ujar Zean seraya menambah kecepatan motornya.


Zean yang berada di belakang truk itu lalu berhasil menyalip dan mengambil alih posisi truk di depannya. Sebelum lawan berada di sampingnya lagi, ia bergegas pindah ke lajur kiri di depan mobil sedan hitam.


(Klakson Motor)


Orang yang ada di mobil hitam nampak risih dengan klakson motor bedebah di belakangnya. Zean yang tak peduli dengan kerisihan itu, memilih tetap berada di depan mobil sedan.


***


Mobil yang dikendarai Bara berhenti tepat di depan kedai warkop milik Bima. Ia turun bersamaan dengan tangan yang langsung menutup pintu.


"Ini bukan ya?" seraya berjalan ke arah kedai.


Kakinya semakin dekat dengan kedai itu. "Kayaknya bener, tapi kok sepi."


Bara mencoba masuk ke dekat pintu kedai itu. Ia lalu melirik sekeliling. "Kotor banget," dengan tangan yang baru saja mengelus debu.


Matanya lalu melirik ke atas platform, ada banyak jaring laba-laba di sana. "Permisi...."


Tookk.. Tokk.. Tok...


Bara tidak mendapatkan jawaban apapun. Ia lalu melihat ke kunci kedai yang sudah di rusak. "Patah?" ujar Bara sambil memegang kunci itu.


Krek...


Perlahan pintunya terbuka, berantakan sekali. Bara sampai tak tahu harus berkata apa lagi. "Permisi, kenapa berantakan banget?" Bara melangkah masuk ke dalam kedai.


Ada kasur, komputer dan banyak sekali atribut hacker di sini. "Apa terjadi sesuatu sama pemilik warung ini ya? Dan Zean?" tanya Bara.


Dengan perasaan was-was, Bara langsung duduk dan mencoba menghidupkan komputer itu. Mati. Tidak ada akses ke dalam PC.


"Yah, gua harus cari petunjuk." Bara lalu bangun dari duduknya dan segera menggeledah ruangan itu.


Tangannya mengacak alas kasur, bantal dan lemari milik Bima. Nihil. Tidak ada jawaban di sini. Bara lalu memutuskan untuk keluar.


Saat akan melangkah, matanya tertuju pada kertas kecil yang tersangkut di sela-sela kayu platform. Bara mengambil dan membuka kertas itu.


(Flashback)


"Gua harus tinggalin jejak sebelum pergi nyusul Bima," ujar Zean seraya menulis sesuatu.


Zean lalu melipat kertas itu dan meletakkannya di atas platform yang kayunya sedikit renggang. "Ini akan jadi petunjuk seandainya terjadi hal buruk sama gua dan Bima."


(Back)


'Cari gua di gudang tua, alamat lengkapnya....' Bara membaca tulisan itu hingga selesai.


"Zean?" Bara langsung keluar kedai dan menutup kembali pintu itu.


Ia lalu menuju ke gedung tua yang Zean maksud. "Sabar Ze, gua akan nyusul lo."


Tanpa berfikir panjang, Bara langsung melaju menuju gedung itu.


***


Masih dalam kondisi yang sama, motor Zean berada di depan sedan itu. Tanpa disadari, motor yang dikendarai bedebah itu berhasil menyalip dan menyerobot sisi kiri mereka.


"Hati-hati, Ze!" sorak Bima.


"Lo ga akan lepas dari kita!" bentak bedebah itu.


Kondisi yang semakin terdesak, membuat Zean harus beralih ke lajur kanan. "Minggir lo!" sorak Zean yang tahu dibelakangnya ada truk.


(Klakson mobil truk)


"Awass!!!" sorak Zean seraya beralih ke lajur kiri.


Kondisi motor yang beralih lajur secara cepat membuat Zean mulai kehilangan kendali. Hingga pada saat ia pindah ke lajur kanan lagi, mobil truk yang di belakangnya ternyata menggas dengan kecepatan tinggi.


"AAAAA, AWASSS ZEEE!!!"


Brughhh!!! Bruuugghhh!!!


"Ze..." tubuh Bima terlempar ke sisi kiri, dengan sigap mobil xenia di depannya menekan rem sehingga tidak menelan tubuh Bima.


"Arrghh!!!" lirik Bima yang sudah terkapar itu.


"Bro, mereka kecelakaan!" ujar mereka berdua seraya melihat jelas bahwa mobil truk itu menelan Zean tepat di tengah mobil.


"Cabut dulu!" mereka berdua pergi bersamaan dengan berhentinya beberapa mobil di area itu.


Zean yang sama sekali tidak sadar itu hanya bisa menampakkan dirinya terkulai di belakang truk. Beberapa orang berlari membuka helm yang Zean kenakan.


Sementara, Bima yang masih sadar hanya bisa meringis karena kakinya terbentur keras ke aspal dan tersangkut di sisi kanan motor.


"Arrghhh!!! Zeaann..." lirik Bima yang hanya bisa mencari-cari keberadaan Zean.


Di depannya hanya ada mobil xenia abu-abu, dan di kanannya ada mobil truk orange yang sudah menelan Zean dari mulut hingga kaki.


"Ambulance!!" ujar beberapa orang yang sedang menelfon pihak rs.


Beberapa polisi secara tiba-tiba datang mengepung lokasi karena dapat kabar dari salah seorang warga.


Mobil yang dikendarai Bara berada di arah yang berlawanan dengan Zean. Bara yang hendak menyusul Zean lalu terjebak macet karena kejadian ini.


(Klakson Mobil)


Tokk...Tokk...Tokk


"Minggir dulu Pak, ada ambulance mau lewat," ujar pria yang baru saja mengetuk kaca mobil Bara.


"Iya Pak," ujar Bara seraya kembali menutup kaca mobilnya.


Bara memberi jalan ke ambulance bersamaan dengan beberapa mobil yang minggir juga.


(Serene Ambulance)


(Serene Polresta)


"Silahkan..." ujar polisi memberi jalan.


Bara kembali menginjak rem secara perlahan. "Ayo, hati-hati kakinya sepertinya patah," ujar supir ambulance saat mengangkat Bima. Mata Bara melewati Bima yang tak ia kenal.


Namun, saat terus melaju, mata Bara tepat melihat ke pria yang berlumuran darah, mukanya masih terlihat jelas. Bara mencoba memastikan sosok itu.


"Zean? Zeano?"


Deep!


Pintu ambulance langsung tertutup dan melaju kencang. Detak jantung Bara langsung menggebu. Ia dengan sigap langsung mengikuti ambulance yang ada di depannya itu.


"Zean? Itu beneran Zean?" tanya Bara yang masih tidak percaya.