Puzzles

Puzzles
Episode 83 - Apakah Sasa Akan Baik Saja?



Pagi ini menjadi pagi terburuk yang Sasa lalui setelah kepergian Zena. Ia keluar dari bandara dengan Ghare yang memegang koper mereka.


Wajah Ghare menatap Sasa dengan datar. Ia tahu begitu terpukulnya Sasa akan hal ini. Mereka melangkah masuk menuju sebuah mobil yang tak lain adalah mobil Gloubel.


Tanpa bicara, usai memasukkan koper, supir melaju ke alamat yang sudah Ghare sebutkan sebelumnya.


(Flashback)


"Hikss...Hikss..Hiks.." Sasa menangis dalam dekapan Ghare di malam ini.


"Udah, biar gua temenin lo pulang ke Jakarta..." Ghare mengelus lembut kepala Sasa.


"Hikss...Hikss.." Sasa masih larut dalam tangisan.


"Udah ya, gua akan ada buat lo." Ghare mencoba menjadi penopang Sasa pada malam itu.


Sasa masuk ke dalam hotel dengan ditopang Ghare. Beberapa orang melihat mereka, namun tidak ada yang berani menegur.


Mereka melangkah ke lift dan tiba di kamar Sasa. "Lo tunggu di sini," ujar Sasa dengan air mata di pipinya.


Ghare mendadak berhenti melangkah. Ia lalu diam dan menunggu Sasa kembali. Ghare mengeluarkan ponselnya dan mulai mencari penerbangan ter awal.


"Jam 7.30, bisa kayaknya nih."


"Ayo," ujar Sasa dengan koper di tangannya.


Ghare mengambil alih koper itu dan menyimpan ponselnya. "Ayo, pakai mobil gua aja." Mereka berdua pun melangkah kembali ke luar hotel.


(Right Now)


Mobil taxi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di depan rumah Zean. Namun, ada yang mengganjal dari apa yang mereka lihat. "Kok sepi ya," ujar Ghare seraya membayar melalui qr code.


"... Kenapa kursi-kursi nya pada kosong," ujar Sasa.


"Terima kasih Pak," ujar Ghare seraya berbalik badan ke arah Sasa.


"Ayo, masuk..." ujar Ghare merangkul Sasa.


"Neng Sasa?" sapa security di rumah Fergi.


"...Pak, Zean mana?" tanya Sasa dengan datar.


"Den Zean, mmm... Den Zean sudah ga ada neng," sahutnya dengan ragu-ragu.


"Saya udah tau, tapi kenapa rumahnya sepi?" tanya Sasa.


"Den Zean baru saja dikebumikan 10 menit lalu, memangnya Neng Sasa ga dapat kabar?" tanya satpam itu.


"...Apa?! Saya mau lihat ke dalam dulu," ungkap Sasa berlari masuk ke dalam.


"Saaa?!! Sasaa?!!" Ghare mengejar Sasa seraya menitipkan koper.


"Pak, titip ya! Saaa?!!"


"Zeannnnn?!!!" sorak Sasa memasuki ruangan yang sudah kosong.


Cuma ada kasur yang terbentang tanpa pemiliknya di sana. "...Hikss...Hikss.." Sasa berdiri terdiam di depan kasur itu.


"Saa...." Ghare merangkulnya dan mencoba menenangkan.


"Zean beneran ninggalin gua," ujar Sasa.


"Saa, fokus Sa... Ayo kita ke pemakaman Zean sekarang, tadi kan kata satpamnya baru dikebumikan."


"Iya, ayo!" tegas Sasa langsung berjalan keluar.


"Pak, Zean dikebumikan dimana?" tanya Sasa.


"Di Blok R, TPU Alam Asri, Gang nomor 4 dari rumah ini."


"Ada kendaraan yang bisa kami pakai ga pak?" tanya Ghare spontan.


"Pakai motor saya aja, ini kuncinya." Satpam itu menyerahkan kunci.


"Makasi ya Pak, kami pergi dulu." Mereka naik ke motor dan berlalu menuju makam Zean.


Larisa yang ada di pemakaman itu, dapat melihat jelas wajah Zean yang dimiringkan ke tanah. "Hikss...Hikss.." Bara mengelus pundah Larisa untuk menenangkan.


"Hikss...Hiksss..." Sulit bagi Larisa untuk tidak menangis.


Satu persatu tanah pangkulan Abu masuk menutupi liang lahat. Beberapa orang yang ikut membantu juga memepercepat proses pemakaman.


"Huh..." Fergi hanya bisa mendengus dan menarik nafas dalam seraya duduk di kursi yang disediakan.


Proses pemakaman selesai saat gundukan tanah berhasil dibuat, Fergi berdiri sejenak dan menabur bunga.


Bara, Abu dan Larisa juga ikut menabur bunga di atas makam sebelum berdoa. Teman kuliah Zean dan warga Gerillya Budaya hadir dan ikut menyaksikan rektor mereka menabur bunga.


"Gua bahkan baru tahu kalau Zean anak Pak Fergi," sahut beberapa teman kuliah Zean.


"Baiklah, karena proses tabur bunga sudah selesai, mari kita sama-sama berdoa untuk alm."


Seorang pemuka agama mulai memimpin pembacaan doa untuk Zean. Mereka semua yang hadir mulai menadah tangan dan berdoa sesuai arahan.


Lantunan ayat dan doa satu per satu dibacakan hingga akhirnya selesai. Beberapa orang nampak meninggalkan tempat setelah memberi ucapan bela sungkawa ke Fergi yang masih terduduk.


"Turut berduka ya, Pak."


"Kami turun berduka, Pak."


"Semoga amal Zean diterima di sisi Allah SWT,"


Sasa dan Ghare masih perjalanan ke TPU karena ragu akan arah, "Benar belok kanan kan ya?" tanya Ghare.


"Iya, lanjut aja... Nanti juga ada tanda keramaian," sahut Sasa.


Ghare terus melajukan motor hingga mereka tiba di pemakaman itu. "Bener, kita parkir di sini aja," ujar Ghare saat meletakkan motor di sela-sela mobil.


Sasa mengangguk dan perlahan menyusuri satu per satu makam. "Zean dimakamin di sebelah mana ya?" tanya Ghare mencoba mencari tahu.


Sasa tak mengiyakan ucapan Ghare. Ia terus melangkah ke depan, "Misi," ujar beberapa orang yang nampaknya sudah berlalu pulang.


Sasa terus melangkah seraya menatap beberapa orang yang berlawanan arah dengan nya. Tak lama, ia akhirnya tiba di titik pemakaman Ghare.


Langkahnya semakin kecil, ia rasanya tak bisa bernafas lega saat melihat tenda kecil dengan kursi di sebelah makam yang masih basah.


"Zee..." lirihnya dengan air mata yang menggenang.


"..." Langkah Sasa perlahan demi perlahan menuju ke samping makam.


"Yang sabar ya, Pak... Saya pamit dulu," ujar Abu mengelus lembut pundak Fergi.


"Zean..." lirih Sasa.


Abu yang baru saja akan melangkah pergi, terhenti saat melihat Sasa yang ada di hadapannya. Ia menatap gadis itu dengan sangat lekat, kemudian berlalu.


Sasa berlari ke makam Zean dan terduduk. "SASAA?!" ujar Larisa ikut terduduk di sebelahnya.


Bara nampak syok akan kehadiran Sasa. "Sasa?" sapa Bara yang masih bingung.


Baru saja akan ikut terduduk menghampiri Sasa, sosok Ghare membuat Bara lebih tercengang lagi.


"Saaa, ikhlasin Zean!" ujar Larisa.


"Zeaannn, lo janji kan mau temuin gua pas balik dari Bali?" lirih Sasa.


Fergi hanya bisa menarik nafas sembari berjalan mendekati Sasa. "Sasaa..." ujar Fergi yang membuat Sasa menoleh.


"Ikhlasin Zean, Kamu adalah salah satu alasan dia lebih semangat menjalani hidup setelah kepergian Ibunya."


Sasa seketika tertegun. "Zeann, Hikss, hiksss..."


Fergi mengelus lembut pundak Sasa. "Udah ya, kita semua terluka... Jadi, kamu harus bisa menguatkan diri."


Fergi lalu berdiri setelah menepuk lembut pundak Sasa. "Mari, Bara..." ujar Fergi berlalu.


Mendengar nama itu, Sasa seketika berbalik ke arah pemilih nama. Mata yang berkaca-kaca itu bertemu dengan sorot hitam legam milik Bara.


Bara rasanya ingin sekali memeluk gadis manis itu, namun ia tahu kali ini pertemuan mereka akan jadi yang terumit.