Puzzles

Puzzles
Episode 51 - Karena Nasehat



Zean yang sedang ada di rumahnya itu berfikir mengapa Sasa tak membalas pesan yang ia kirim. "Apa gua telfon aja kali ya," sahut Zean.


Zean kemudian memberanikan diri untuk menelfon. Selang beberapa menit, telfon yang ada di sebelah Bara itu berdering.


(Dering telfon)


Bara yang tengah menonton tv itu melirik lagi ke ponsel milik Sasa. "SAAAA, ADA TELFON MASUK!!!" sorak Bara dari tempat duduknya.


Sasa yang berada di dalam kamar, keluar saat mendengar suara Bara. "Huh, awas aja dia mesum sama gua?!!" bentak Sasa sembari merapikan kaos yang ia kenakan.


"SAAAA?!!" panggil Bara.


Sasa berjalan ke ruang nonton dengan sedikit canggung. Ia kemudian mendekat ke ponselnya tanpa melirik Bara.


"Halo?" sapa Sasa.


"Halo, Sa... gua cuma mau nanya, lo mau pergi sendiri atau sama gua?" tanya Zean.


"Pergi ke mana? Lo udah dapet lokasi KUA nya?" tanya Sasa. Bara yang ada di sebelah Sasa sontak kaget. KUA? Apa Sasa mau menikah tanpa memberitahunya?


"Lo ga baca pesan gua sih, udah tau!" tegas Zean.


"Sorry, gua baru selesai mandi." Sasa lalu mencoba berjalan menjauh dari Bara.


Baru saja akan melangkah, Bara langsung memegang tangan Sasa. Sasa yang sedang menelfon itu langsung merasa cemas dengan tingkah Bara.


"Lo baca pesan gua aja, terus kasih tau besok mau pergi sendiri atau bareng?" tanya Zean.


"Jangan besok dulu sih, soalnya gua mau urus masalah Larisa dulu," jawab Sasa.


"Soal meet up biar gua yang urus, lo mau ga kita bagi tugas?" tanya Zean.


"Mau karena gua ga bisa jalanin dua-duanya dalam satu waktu." Sasa sesekali melirik Bara yang masih memegang tangannya.


"Kalau gitu, gua minta lo besok pergi ke KUA, biar gua yang urus soal Larisa." Sasa mencoba memikirkan kembali ucapan Zean.


Sepertinya memang tidak ada titik jeda dari masalah ini. "Sepakat, besok gua akan ke KUA." Sasa lalu mengakhiri panggilan itu.


Sasa melirik ke Bara yang ada duduk di sofa. Ia lalu menepis tangan Bara. Bara yang tahu kalau Sasa masih canggung itu lalu mempererat pegangannya.


"Gua ga akan mesum ke lo, kok!" ujar Bara sembari menatap Sasa.


"Gua ga percaya! Lepasin!" tegas Sasa lagi.


"Gua udah bilang, gua ga akan apa-apain lo!" tegas Bara.


Sasa melihat Bara dengan mata tajam. Ia dapat melihat jelas ketiadaan nafsu di sana. Sasa lalu duduk di sebelah Bara.


"Awas aja!" ketus Sasa sembari duduk.


Bara melepas pegangan tangannya, ia lalu tersenyum dengan ulah Sasa. "Lo mau nikah sama siapa?" tanya Bara.


Sasa menatap lurus ke depan tv. "Gua belom mau nikah, lagian ga ada calon juga!" ketus Sasa.


"Terus ngapain bahas soal KUA?"


"Lo selain mesum juga kepo ya?" sindir Sasa.


Bara yang mendengar itu lalu merubah raut wajahnya untuk menakuti Sasa. Bara seketika mendekatkan wajahnya ke Sasa. Jarak mereka kini hanya sehelai kertas.


Sasa menelan ludah karena posisi wajah Bara yang semakin dekat. "Bar... Gua udah bi––"


Bara terus memperdekat jarak mereka, Sasa merasa cemas dengan ulah Bara. "Hahahaha," tawa Bara seketika menggema. Ia lalu menjauh dari tubuh Sasa.


Sasa yang melihat itu menjadi bingung. "Gua itu sayang banget sama Bunda, Sa... Gua ga mungkin ngerusak wanita lain karena gua juga punya wanita di rumah ini," jawab Bara.


"Iya lagian lo ngapain nyimpen––"


"Masih mau bahas itu? Lo mau kita praktekin?" tanya Bara dengan raut menggoda.


"Nggak!" ketus Sasa sembari memainkan ponselnya.


"Lagian, lo kan preman nih ya setelahnnya. Ngapain sih, takut banget di apa-apain?!" bentak Bara.


"Cowo tuh banyak bohongnya, makanya gua ga pernah percaya sama cowo!!" bentak Sasa.


"Nanti dia paliang cuma mau enaknya aja!" ketus Sasa lagi.


Bara tertawa mendengar ucapan Sasa. "Siapa sih Sa yang gamau enak di dunia ini?" tanya Bara.


Sasa mengalihkan matanya dari layar ponsel. "Lo beneran mesum ya?" tanya Sasa lagi.


"Hahahah, enggak! Gua cuma bercanda," celetuk Bara.


Bara lalu merogoh cemilan yang ada di atas meja. Sementara, Sasa kembali sibuk dengan ponselnya. Ia kemudian memilih satu nama yang ada di daftar kontaknya.


Bara sesekali melirik ke Sasa yang sedang menelfon itu. "Halo, Bu? Gimana keadaan hotel, aman?" tanya Sasa.


'Saat ini masih dilakukan pengecekan berkala soal respon manajer yang kena PHK,'


'Kamu kapan ke sini? Ibu akan segera berangkat ke Inggris, kita perlu acc kamu untuk pengesahan lokasi Gloubel yang di Inggris,'


"Secepatnya, tapi untuk sekarang saya cuma bisa mantau via cctv dulu,"


'Baik, saya akan kabari kamu soal kelanjutan masalah kemarin,'


"Oh, baik... Saya tunggu kabarnya ya," ujar Sasa lagi.


Sasa lalu kembali meletakkan ponselnya di meja. "Sibuk banget ya CEO baru?" tanya Bara.


"Gimana lagi, ada banyak masalah yang harus gua handle," jawab Sasa sembari menyandarkan tubuhnya ke sofa.


"Mau refresh ga?" tanya Bara.


"Apa?" tanya Sasa.


"Jalan-jalan ke luar kota mungkin," ujar Bara.


Sasa tertawa kecil. "Ga bisa, gua sibuk... Belom lagi kalau Bu Bila ke Inggris, itu semua bakal gua yang handle langsung."


"Kalau nungguin senggang, kayaknya lo ga bakal bisa healing deh!" kata Bara dengan tegas.


Sasa perlahan memejamkan matanya. "Mungkin, next time. Kalau Gloubel udah benar-benar baik," jawab Sasa.


"Kira-kira kapan?" tanya Bara.


"Secepatnya, dan soal liburan nanti gua bakal tanya Zean kapan dia ada waktu kosong."


Mendengar itu, Bara seperti tersulut api. "Kenapa harus tanya Zean?" tanya Bara.


"Iyalah, gua mau pergi sama siapa coba?" tanya Sasa.


"Gua," jawab Bara.


Sasa bangun dari sandarannya. Ia lalu menatap Bara dengan canggung. "Yaudah, bertiga sama Zean." Sasa lalu mengalihkan pandangannya.


"Gua mau pergi berdua," jawab Bara.


Sasa mendengus. "Lo mau bulan madu?" tanya Sasa.


Bara menatap Sasa dengan tajam. "Lo mau?" tanya Bara lagi.


"Ga mau!" tegas Sasa.


"Lagian, lo tuh sibuk Bara, bukannya lo lagi usahain buat wisuda cepet ya?" tanya Sasa.


"Iya, tapi gua ada waktu senggang selesai magang, sekitar 2 bulan lagi."


"Masih lama ege! Lo ngapain ngajak gua sekarang," ujar Sasa lagi.


"Ya, emang kenapa?" tanya Bara.


"Terlalu ngebuang waktu karena masih lama, bagus lo mikirin proposal magang,"


"Gua pasti mikirin proposal, tapi apa salahnya mikirin healing juga?"


Sasa bangun dari duduknya, ia lalu menoleh ke Bara. "Ga ada salahnya, tapi sesuai permintaan dokter Arya, lo harus fokus kuliah dulu, biar Bu Renita cepet sembuh karena dia pengen liat lo wisuda!" tegas Sasa sembari berlalu.


"Kenapa lo harus jadi kayak bokap?" tanya Bara. Sasa seketika menghentikan langkah kakinya.


"Maksud lo?" tanya Bara.


"Bokap itu ga pernah ngasih ruang buat gua bicara sama diri gua sendiri," ungkap Bara. Sasa bingung kenapa Bara bisa bicara seperti ini.


"Dan lo, makin ke sini makin maksain apa yang lo mau, dan ga kasih ruang buat orang lain mikirin soal dirinya sendiri!" tegas Bara.


Sasa terkejut dengan ucapan dan ulah Bara. "Lah, kok jadi gu––"


"Ini hal yang buat gua ga pernah pengen jadi dokter!" ketus Bara sembari berlalu ke kamarnya.


"Barr?!! Kok lo jadi marah sih, kan gua cuma bilangin yang bener!" tegas Sasa.


"BARAAA?!!" sorak Sasa.


"Ih, melankoli banget jadi cowok!" bentak Sasa.


Sasa lalu kembali memikirkan ucapannya tadi. Ia merasa tidak ada yang salah denga apa yang dia ucapkan. Kenapa Bara bisa marah ya?


"Aneh!" ujar Sasa sembari melangkah menuju kamar tamu.