Puzzles

Puzzles
Episode 70 - Penyusup?



Bara menyerahkan piring bekas mereka makan ke penjual nasi goreng itu. "Ini, berapa Pak?" tanya Bara.


"Sama teh es tadi, totalnya jadi 34 ribu..."


Bara menyerahkan uang dengan pecahan lima puluh ke bapak itu. "Kembaliannya ambil aja, Pak."


"Makasi, Mas..." ujarnya dengan senyuman.


Bara mengangguk dan segera kembali ke kursi tadi. Ia duduk dan melihat Sasa yang tengah mengambil satu paperbag. "Ini, buat lo."


Bara mengambil paperbag itu dengan sedikit rasa kaget. "Kenapa buat gua?" tanya Bara.


"Buka aja," ujar Sasa melirik ke Bara.


Bara membuka paperbag itu dan mendapati jaket puffer yang sangat bagus. "Serius buat gua?" tanya Bara.


"Iya, anggep aja ganti jaket lo yang belom sempat gua balikin sampai sekarang."


Bara menoleh ke Sasa dengan tangan yang masih menggenggam jaket. "Lo ga perlu balikin jaket yang gua kasih kok," ujar Bara.


"Gua ga balikin, makanya gua cariin lo jaket baru." Sasa menatap Bara dengan penuh arti.


Bara seketika tersenyum ke arah Sasa. "Jaketnya bagus, boleh gua coba?" tanya Bara.


Sasa mengangguk. Ia lalu melihat Bara yang kini tengah mencoba jaket itu. "Dipake pas magang ya, lo pasti ada masuk malem, biar ga kedinginan."


"Pasti," ujar Bara melepas jaket itu.


Sasa menatap lurus ke depan. Ia merasa sudah memberikan kebahagian baru bagi Bara. "Lo berapa lama di Bali?" tanya Bara.


"Rencananya cuma 2 hari, tapi gatau juga... Liat keadaan aja sih," ujar Sasa.


"Jangan terlalu lama di Bali, nanti gua kesepian."


"Bukannya lo akan ngabisin setengah waktu lo di tempat magang ya?" tanya Sasa.


"Selama-lamanya gua di tempat magang, tempat gua pulang masih ke rumah lo kok." Bara tersenyum kecil ke arah Sasa.


"Gua harap lo bisa anterin gua besok," ujar Sasa.


"Semoga," jawab Bara tanpa rasa bersalah.


Sasa menerima ucapan itu dengan berat hati. Ia kemudian menghabiskan waktu malam ini dengan Bara, sebelum paginya berpindah tempat ke Bali.


...----------------...


Zean duduk di meja belajarnya. Ia segera membuka PC dan kembali membaca kertas yang tadi ia temukan di pot kaktus.


'Penyusup. Satu lobi sama lo, Ze.'


Zean lalu membalik kertas kecil itu. '6345'


Zean yang tengah dilanda emosi itu segera melakukan pengecekan terhadap nomor itu. "Pasti ada point akses yang dipasang di ponsel Bima."


Zean mengetik beberapa kalimat di PC miliknya. "Apa Bima di sandera?"


'3 minutes again.'


"Gua yakin Bima pasti udah prepare akses biar bisa ditemuin."


...----------------...


Disisi lain, Bima nampak sedang duduk di kursi hitam dengan tangan terikat. Kepalanya tersandar tanpa penyangga.


"Bangun!!" bentak seseorang yang ada di sana.


Bima yang masih terengah itu lalu membuka matanya. Wajahnya nampak babak belur. Bahkan, darah kering masih melekat di sudut bibirnya.


"Banguunnn!!!" sorak pria bertopeng hitam itu lagi.


Bima menatap pria itu dengan mata yang masih lebam. "Lo setuju ga? Untuk kerjasama ngancurin Zean?" tanya pria itu.


(Flashback)


Bima sedang asik mengetik sesuatu di komputer miliknya. Ia lalu harus terhenti saat seseorang menggedor pintu kedainya.


TOKK... TOKK... TOKK...


"Keluar lo!!!"


Bima perlahan meletakkan mos, ia lalu mengintip sedikit dari celah kedai. "Keluarr!!!!"


Bima mengintip dan melihat sosok seseorang yang tidak asing lagi baginya. "Antek-antek Ghare?" tanya Bima dengan pelan.


"BIMAAAA!!! KELUARR!!!"


Suara gebrakannya semakin keras. Bima yang tadinya mengintip lalu segera mundur dari celah itu. Ia kemudian mengambil kertas dan menulis sesuatu di sana, Bima tahu keadaan ini sudah tidak aman.


Bima segera mengambil kaktus kecil yang ada di sebelah komputernya. Ia lalu membuka kaktus itu dan memasukkan kertas yang berisi tulisan tadi ke dalam pot.


"BIMAAA, GUA TAU LO DI DALAM!!!"


BRAAGGGG!!!!


Baru saja Bima menekan off pada komputernya, pintu itu terbuka paksa. Bima yang sudah selesai dengan datanya, lalu mendorong kaktus dibawahnya itu dengan kaki.


"Kenapa lo ga jawab?!!" bentak seseorang memaksa masuk.


Bima diam. Ia tak menjawab ucapan itu. "Ikut gua!!" bentaknya lagi.


"Gua ga ada urusan lagi ya sama kalian!!" bentak Bima.


"Hah... lo lupa? urusan kita kan ga akan pernah berakhir?!"


Bima mendengus, ia lalu mencoba berdiri untuk berkelahi. "Gausah pake cara anak-anak deh," ujar pria di hadapan Bima.


Pria itu lalu mengode temannya untuk segera mengunci Bima. "Apaan si?!!" bentak Bima.


Bima mencoba memberontak. "Lepasin anj*ng!!!"


Plakkk!!


Buggg!!


"Aaa.. Aa..." rintih Bima menahan sakit karena darah sudah mengucur dari pelipis matanya.


Bima menatap pria di hadapannya dengan kosong. Pria itu lalu tanpa kasihan memukul wajah Bima dengan kayu.


Buuggg!!!


"Masih sadar?" tanya pria itu ke rekannya.


Rekannya menggeleng. Kini, kepala Bima terkulai ke bawah, ia tidak bisa merasakan wajahnya sekarang.


"Bawa dia ke markas!"


"Oke, Bos!"


Mereka memapah Bima berjalan menuju mobil yang sudah mereka siapkan. Bima yang tak tahu apa-apa, kini masuk ke mobil itu dan merasakan sandra.


...----------------...


"Selamat Malam, Mysa... Bara..."


(Klakson Mobil)


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran rumah Sasa. Sasa lalu turun dari mobil itu. "Ini, Mysa..." ujar Diki menyerahkan dokumen.


Sasa mengambil dokumen yang ditujukan untuk Deina itu. Ia membaca judul depannya dan segera menyimpan.


"Surat buat apa?" tanya Bara berjalan mendekat.


"Buat ke Bali besok," jawab Sasa.


Bara mengangguk. Diki yang belum dipersilahkan pergi itu masih berdiri di hadapan Sasa. "Pak, ada paket lain ga yang datang hari ini?"


"Cuma itu Mysa..."


"Ada box lain atau apa gitu?" tanya Sasa memastikan.


"Ga ada, Mysa..." jawab Diki.


"Oh, yaudah... Makasi ya Pak... Silahkan jaga lagi," jawab Sasa.


Bara menatap Sasa yang nampak bingung. "Ada masalah?" tanya Bara.


"Aman kok, ada yang ketinggalan lagi?" tanya Sasa.


"Nggak, kalau lo? Ada paket yang tinggal ya?" tanya Bara.


"Ga ada, ayo masuk!" Sasa lalu berjalan duluan meninggalkan Bara.


Bara mendengus dan mengikuti langkah Sasa. "Aneh!" ketus Bara.


Krek!


Pintu rumah terbuka, suasananya amat sepi. Mereka berdua memijakkan kaki perlahan menuju ruang tamu. Sasa yang merasa harus prepare itu kemudian hendak melangkah ke lantai atas.


"Apa kita bisa nonton satu series dulu?" Bara masih berdiri di bawah tangga dengan tangan memegang paperbag.


Langkah Sasa berhenti. Ia menatap Bara dari anak tangga ke 7. "Satu jam aja, abis itu lo bisa tidur..."


Sasa diam mendengar ucapan Bara. Ia lalu turun ke lantai bawah untuk memenuhi permintaan Bara. "Makasi," ujar Bara saat Sasa berada di depannya.


Sasa tersenyum kecil. Ia lalu berjalan menuju ruang nonton. Barang bawaannya tadi diletakkan di atas kursi. Ia kemudian bersandar pada sofa.


"Bentar, gua akan pilih film terbaik untuk hari ini." Bara tersenyum ke Sasa. Sementara, Sasa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB.


"Huh..." dengus Sasa pada angka jarum jam itu.


"Ini, lo pasti akan suka film ini." Bara memasukkan cd ke dalam dvd. Ia kemudian melihat Sasa dengan tatapan sangat dalam.