
Ghare yang sedang asik meminum pesanannya itu langsung beralih pandang saat mobil sedan silver masuk ke arah rumah Deina.
"Itu bukan ya?" bisik Ghare seraya terus minum.
Di dalam gang itu hanya ada ada 3 rumah, salah satunya rumah Deina. Jadi, sepertinya mobil itu adalah wanita yang ia cari.
"Kembaliannya ambil aja," ujar Ghare menyerahkan pecahan uang seratus ribu.
"Makasi, Bli."
Ghare segera berjalan menuju gang tadi. Ia dapat melihat jelas mobil sedan silver itu menghilang. Namun, semakin dekat melangkah, Ghare melihat seorang wanita berambut panjang sedang menutup gerbang.
"Permisi!!!" sorak Ghare berlari ke arah wanita itu.
Wanita itu melihat Ghare dengan mata menyipit. "Permisi, saya mau temuin pemilik rumah ini."
"Saya pemilik rumah ini, kenapa?" tanya Deina dengan nada curiga.
Ghare menatap wanita di depannya dengan sendu. Ia bahkan tak mengenali wajah ibunya sendiri. "Ardela Deina?" tanya Ghare dengan nada pelan.
Wanita itu mengangguk. Ia lalu menatap Ghare dengan tajam. "Kamu tahu alamat saya dari mana?" tanya Deina.
Ghare merogoh saku celananya. Ia mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuka pembicaraan di dalam rumah.
"Ini dia," ujar Ghare seraya memperlihatkan kartu nama ayahnya itu.
"Kam--ka-kamu?" tanya Deina dengan bibir bergetar.
"Itu Ayah saya, namanya Kim Harley." Ghare menatap Deina dengan pasti.
"Masuk." Deina segera membuka gerbang itu dan mengajak Ghare masuk tanpa banyak bicara.
Ghare yang merasa bingung itu memilih masuk ke pekarangan rumah Deina. Ia lalu menuju ruang tamu dan duduk.
"Saya akan ambilkan minum dulu," ujar Deina.
Ghare tak membalas ucapan Deina. Ia hanya terpaku dalam diam. Saya? Bukankah seharusnya dia menyebut dirinya Mama?
"Silahkan diminum." Deina duduk setelah menaruh secangkir teh hangat.
Ghare tidak meneguk air itu. "Saya ke sini atas permintaan Papi," ujar Ghare secara langsung.
Deina menatap Ghare dengan nafas tersenggal. "Kim Harley," tambah Ghare lagi.
Deina hanya diam. Ia tak membalas ucapan Ghare sedikitpun. "Kenapa cuma diam?" tanya Ghare.
"Saya datang jauh-jauh ke sini untuk diajak bicara," jelas Ghare.
Deina menatap Ghare dengan tatapan datar. "Silahkan diminum."
Ghare yang merasa diperlakukan tidak semestinya itu langsung berubah ekspresi. "Kenapa gini, Mi?" tanya Ghare.
"Saya ga pantas kamu panggil Mami." Deina memalingkan wajahnya.
"Aku ke sini untuk temuin dan tinggal bareng sama Mami," jawab Ghare.
"Ga bisa." Deina tak melihat ke arah Ghare.
Ghare menatap Deina dengan tatapan sedih. Kenapa? Apa Deina tidak rindu kepadanya sedikitpun?
"Mami ga pernah rindu sama aku?" tanya Ghare.
"Terpisah dari kamu lebih dari 20 tahun ngebuat saya merasa asing dengan kamu," jelas Deina.
Ghare seketika tersentak. Ibu mana yang merasa asing dengan anak kandungnya sendiri?
"A-apa? Kenapa?" tanya Ghare tak percaya.
"Saya bahkan ga tahu nama kamu, apa yang kamu jalani," ujar Deina.
"Tapi, aku tetap anak kandung Mami, darah daging kalian."
"Jangan panggil saya Mami, itu akan semakin membuat kamu sakit." Deina mencoba menatap Ghare.
"Aku Ghare, Ghare anak dari Kim Harley dan Ardela Deina." Ghare menatap Deina dengan tatapan berkaca.
"Untuk menyebut nama kamu saja rasanya benar-benar sulit," jawab Deina.
"Apa ini lebih sulit dari pada meninggalkan saya dan Papi?" tanya Ghare dengan datar.
"Jangan bicara melebar kemana-mana, kamu ga tahu jalan ceritanya!" ketus Deina.
"Kamu ga tau apa-apa!" bentak Deina.
"Makanya kasih tahu saya, biar saya ga cuma tahu kalau kamu ninggalin saya!" bentak Ghare mulai emosi.
"...." Deina hanya diam.
"Jelasin ke saya, buruan je-"
"Kami menikah karena insiden!" bentak Deina menatap Ghare dengan tajam.
Mobil yang ditumpangi Sasa harus berhenti sedikit jauh dari rumah Deina. Ini untuk datang secara mendadak. "Nanti kabari saya ya Nona."
"Bapak duluan ke hotel aja, nanti saya akan menyusul."
"Baik Nona, kalau ada kendala segera hubungi saya ya," jawab supir itu.
"Saya ke sana dulu," ujar Sasa.
Mobil itu melaju pergi meninggalkan Sasa. Sasa yang hanya menyandang slingbag itu lalu berjalan menyusuri gang rumah Deina.
"Maksudnya?" tanya Ghare.
"Ini akan semakin sakit jika kamu tahu lebih dalam," jawab Deina.
Sasa melangkah ke depan rumah Deina. Pintunya terbuka. Pagar tidak terkunci, Sasa lalu masuk tanpa permisi.
"Kenapa terbuka semua ya?" tanya Sasa seraya berjalan.
Ia melangkah mendekati rumah itu. Baru sampai di depan pintu, ia tersentak saat melihat Ghare ada di sana. Namun, ia tetap diam dan mendengarkan obrolan mereka.
"Dulu, Kim adalah salah satu investor yang jadi rekan Gloubel," jelas Deina.
Sasa menyimak ucapan itu dari luar. "Saya ga sengaja kenal dia karena dia tour ke Gloubel Bali."
"Saya yang tadinya sibuk bekerja, akhirnya mulai menjalin hubungan dengan Kim."
"Awalnya hanya sebatas rekan kerja, tapi karena kami nyaman, semua jadi di luar batasan."
Sasa mencoba terus fokus pada pembicaraan ini. "Kim Harley?" tanya Sasa mencoba mengingat nama itu.
Sasa lalu berinisiatif mengeluarkan ponsel untuk merekam secara diam-diam. "Kami melakukan hubungan terlarang karena Kim berbeda agama dengan saya kala itu."
"Setelah hubungan itu terjadi, Kim balik ke Korea Selatan untuk mengurus bisnisnya di sana."
"Saya yang ditinggal sendiri di sini, tanpa sadar telah hamil."
"Saat itu, saya buntu, saya tidak tahu bagaimana cara mengabari Kim karena sulit sekali komunikasi beda negara dengan dia."
Ghare masih menatap Deina dengan serius. "Kenapa ga coba datang ke korea selatan?" tanya Ghare.
"Ga bisa, beberapa bulan setelah saya tahu kehamilam itu, Kim kembali ke Indonesia," jawab Deina.
"Saya pikir itu gerbang saya untuk bisa mendapatkan pertanggung jawaban, tapi ternyata salah."
"Saya malah mendapat berita buruk soal kebangrutan Kim. Dia harus segera mendapat pasokan modal."
Mendengar itu, Sasa seperti tahu kemana alurnya akan berujung. "Saya menyembunyikan kehamilan saya karena itu, hingga setelah masalah Kim mulai selesai, saya membuka kabar ini lagi."
"Kim sedikit kaget, tapi dia mau bertanggung jawab, saya pikir itu karena dia menyayangi saya."
"Tapi, ternyata karena hal lain. Saya tahu alasan sebenarnya ini setelah beberapa bulan dia menikahi saya."
"Cuma itu yang bisa saya ceritakan."
"Alasan apa? Apa itu alasan yang buat kamu meninggalkan saya?" tanya Ghare.
"Meninggalkan? Mereka pacaran?" tanya Sasa berbisik.
"Saya ga bisa cerita semua ke kamu, ini sudah saya kubur dalam-dalam, jangan bangkitkan apa yang sudah tertanam di tanah."
"Saya butuh penjelasan, saya pengen tahu dan harus tahu!" bentak Ghare.
Sasa masih berdiri di sebelah pintu. Ia belum mau menyela obrolan ini. "Jangan pengen tahu banyak soal cerita buruk yang saya kubur!" ketus Deina.
"Tapi, aku ini anak Mami! Anak kandung Mami!!" bentak Ghare.
Deep!
"Mami?" tanya Sasa yang langsung keluar dari balik pintu.