
Sasa nampak berbaring di kasur empuk miliknya. Ia belum berniat pergi keluar weekend ini. Baginya, kamar masih jadi tempat favorit.
Sasa lalu memainkan ponselnya untuk mengisi waktu yang kosong sembari membersihkan beberapa chance. Namun, saat sedang asik berbaring, suara Mbok Ira membuyarkan keasikannya.
"Mysa..." ujar Mbok Ira mengetuk pintu kamar.
Mbok Ira nampak berdiri di depan pintu dengan kertas di tangannya. Ia lalu menunggu izin masuk dari Sasa.
"Iya, Mbok... masuk." Sahut Sasa sembari bangun dari posisi berbaring.
Sasa lalu bangun dan meletakkan ponselnya di kasur.
"Permisi Mysa, maaf si Mbok ganggu." Ujar Mbok Ira sembari masuk ke dalam kamar.
"Kenapa Mbok?" tanya Sasa.
Mbok Ira mendekat ke arah Sasa, sementara Sasa hanya duduk diam di atas kasur miliknya.
"Itu, kemarin ada laki-laki ganteng dateng ke sini," ujar Mbok Ira.
"Siapa?" tanya Sasa penasaran.
Setau Sasa tidak banyak orang yang tahu alamat rumahnya selain kolega ibunya. Itu karena ibunya sangat baik mengatur privasi mereka.
"Si Mbok gatau namanya, katanya anak dari Bu Renita." Jelas Mbok Ira.
Benar saja, Renita memang sahabat ibunya. Jelas, ia tahu alamat rumah Sasa.
"Bu Renita? terus dia bilang apa aja Mbok?" ujar Sasa.
"Dia titip pesan katanya Bu Renita pengen sekali ketemu langsung sama Mysa, makanya dia dateng ke sini untuk jemput Mysa..." jelas Mbok Ira.
Sasa mengernyitkan dahinya. Berpikir ada apa dengan Renita saat ini.
"Tapi, waktu itu Mysa ga ada di rumah, jadi si Mbok bilang ke dia untuk dateng lagi besok," jelas Mbok Ira.
"Apa dia tadi dateng lagi?" tanya Sasa.
"Gak dateng lagi," ujar Mbok Ira.
"Yaudah Mbok, nanti saya coba telfon Bu Renita." Jelas Sasa lagi.
Mbok Ira lalu memperlihatkan kertas yang sedang ia pegang.
"Punten Mysa, ini dia kemarin ninggalin alamat ini, kalau Mysa berkenan katanya langsung dateng ke sini aja." Ujar Mbok Ira menyerahkan secarik kertas.
Sasa mengambil kertas kecil itu dan membaca alamat yang tertulis di sana "Jl. Arya Grahara No. 43, Jakarta Selatan."
"Mbok mau balik ke dapur ya Mysa." Sembari melangkah pergi.
"Iya, makasi ya Mbok." Sahut Sasa.
Sasa merasa ada sesuatu yang terjadi pada Renita. Ia lalu langsung mengambil ponsel dan menelfon Renita.
(Driinggg.... Dringgg)
Nihil, beberapa kali di telfon, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
"Duh, Bu Renita kenapa ya?" tanya Sasa dengan cemas.
Sementara, matanya menatap ke kertas bertuliskan alamat itu. Apa ia harus pergi ke sana?
......................
Beberapa hari berlalu sejak hari itu. Namun, Sasa masih belum mengunjungi rumah Renita karena ada beberapa tugas yang harus ia kerjakan dengan dateline yang mepet.
Bahkan ia sudah lupa dimana menaruh alamat tersebut karena sibuk pergi dan pulang dari kampus.
Sasa berjalan menuju gerbang kanan untuk menemui sahabatnya di kampus. Baru dari jauh saja, sudah ada sosok Zean dan Larisa yang siap menunggu.
"Saaaaasaaaa!!!!" sorak Larisa sembari memeluk Sasa.
"Gua ga suka dipeluk," celetuk Sasa dingin.
"Yaelah, kaku banget!" ketus Larisa.
Zean lalu menyodorkan segelas air teh ke tangan Larisa. Mereka berdua memang kadang akur kadang sleg. Tapi, tetap saling peduli.
"Nih, pegang ini aja!" sembari tertawa kecil.
Larisa nampak bete dengan cengengesan Zean. Ia lalu duduk dan kembali meminum minumannya.
"Sa, nanti pulang bareng gua aja." Ujar Zean menawarkan.
"Gua naik bus aja," ujar Sasa.
Sasa memang masih sama, orang yang tidak suka merepotkan orang lain. Baginya, diri sendiri adalah teman terbaik.
"Lebih aman bareng Zean kali Sa, kita kan juga udah beberapa bulan bareng terus." Jelas Larisa.
"Iyaa," sahut Zean.
"Atau lo mau nebeng sama gua aja?" tanya Larisa menawarkan.
"Gua biasa naik bus sendiri," tambah Sasa lagi.
"Makanya, lo harus ajar diri lo buat ngerepotin gua atau dia nih," sembari merangkul Zean.
"Iya, gua juga gapapa kok direpotin." Balas Zean.
"Ga merasa repot juga karena jadwal kita kan samaan," jelas Zean.
Sasa tak mengubris ucapan mereka berdua. Ia hanya asik dengan musik di telinganya. Menyadari hal ini, Larisa langsung meng-kode Zean.
"Sibuk ama musik lagi tuh, ga dengerin pasti!" ketus Larisa sembari mengambil tasnya dan membayar minuman.
"Lo mau kemana?" tanya Zean saat melihat Larisa berjalan menjauh.
"Ada kelas, Lima menit lagi mulai." Sembari menunjuk jam di tangannya.
"Hati-hati!" sorak Zean sembari melambaikan tangan.
"Lo bujuk aja tuh dia biar mau ngerepotin orang!!" sorak Larisa.
"Siaapppp!!!" sorak Zean.
Larisa meninggalkan Zean dan Sasa. Ia masuk ke kelas karena jurusan mereka berbeda. Sasa bahkan tak peduli dengan kepergian Larisa.
Melihat Sasa yang asik sendiri, Zean memutuskan untuk bertanya soal Ghare. Tepatnya, setelah mereka tahu pemilik mobil itu. Zean penasaran apa hubungan Ghare dengan Sasa.
"Ke kelas yuk, bosen di sini!" ujar Sasa menarik Zean ke kelas.
"Sa!!?" tanya Zean sembari mengikuti langkah Sasa.
......................
Dari luar kelas, nampak dosen tengah menerangkan pelajaran sistem perangkat lunak. Zean nampak menyimak hal itu seperti sesuatu yang sudah muak ia dengar. Sedangkan Sasa, nampak sedang menahan buang air kecil.
"Bu, saya izin sebentar." Sembari mengangkat tangan.
"Silahkan," ujar Dosen itu sembari melanjutkan pelajarannya.
Sasa berjalan ke luar kelas hendak menuju toilet. Di sela perjalanan, ia melewati kelas manajemen yang tak lain adalah kelas yang sedang diisi oleh kakak tingkatnya.
Sasa memperhatikan kelas tersebut dengan detail, hingga ia tak menyadari ada seseorang di depannya.
"Ngapain ngeliatin kelas gua!?" bentak pria tinggi bernama Ghare itu.
Sasa melihat dengan sedikit mendongak karena postur tubuh Ghare yang tinggi.
Tanpa menjawab, Sasa bermaksud ingin langsung ke toilet saja. Namun, baru saja hendak berjalan, tangan Ghare menahannya tepat saat mereka sejajar.
"Kalau orang ngomong tuh di jawab!!" bentaknya lagi.
"Gua mau ke toilet!" ujar Sasa sembari melepaskan tangan Ghare dari lengannya.
Sasa lalu berjalan menjauh dari Ghare. Ia langsung masuk ke toilet dan buang air kecil.
Usai buang air, ia berdiri di depan kaca dan membenarkan rambutnya. Lalu, melangkah ke luar toilet.
Baru saja keluar, ia sudah mendapati sosok Ghare lagi berdiri di depan toilet wanita itu.
"Gua belom selesai ya, sama lo!" ketus Ghare menarik tangan Sasa untuk mengikutinya.
"Gua mau ke kelas!" bentak Sasa mencoba memberontak.
Namun, postur tubuh yang besar membuat Sasa terpaksa harus mengikuti langkah Ghare yang menariknya secara paksa itu.
"Eh, gua harus ke kelas ya! lepasin, ege!!" bentak Sasa.
Ghare hanya diam dan membawa Sasa ke parkiran belakang. Parkiran tempat ia dan Ghare mengintip mobil sedan yang ia pakai waktu itu.
"Gua bilang gua mau ke kelas!" bentak Sasa sembari berjalan pergi.
Tangan Ghare langsung menahan Sasa dan mulai menatap gadis manis itu secara dalam.
"Ngapain lo ngintip gua di sini, waktu itu?!" tanya Ghare serius.
"Gua ga pernah ngintip lo," ujar Sasa sinis.
"Guasah bohong, lo ga terima ya temen lo gua hukum di lapangan pas ospek?" tanya Ghare lagi.
"Terlalu banyak asumsi lo!" bentak Sasa.
"Makanya jawab, ngapain lo ke sini waktu itu?" tanya Ghare.
"Emang bapak lo yang punya parkiran? bebas dong, gua kan juga anak kampus ini!!!" sorak Sasa yang sudah terpancing emosi.
"Bokap gua penanam investasi saham di kampus ini, ada banyak dana yang udah dikasih ke sini, jadi untuk parkiran doang kayaknya terlalu kecil deh dana yang dikasih bokap," ketus Ghare dengan sombong.
Seketika Sasa teringat akan plat SM yang memang dipakai oleh investor asing jual beli saham.
"Gua ga nanya! dan ga peduli apapun soal keluarga lo!" ujar Sasa.
"Lo kayaknya emang harus dikasih paham ya!!! Parkiran ini khusus anak manajemen tingkat pertama di kampus ini," jelas Ghare menarik Sasa hingga posisinya harus terjatuh di bawah lutut Ghare.
Sasa lalu bangun dari jatuhnya dan membersihkan lututnya yang kena debu.
"Suruh semua anak kampus ikut aturan bodong lo itu, KECUALI GUA!!!" bentak Sasa sembari pergi dari tempat itu.
"Eh, dasar lo ya anak baru songong!!!" umpat Ghare pada Sasa yang sudah menjauh itu.
***
Sasa kembali ke kelas dan duduk di sebelah Zean. Ia melihat sudah ada banyak materi yang di sampaikan saat ia ke toilet.
"Sekian dulu, kita ketemu minggu depan."
"Baik Buk," sahut para mahasiswa di kelas itu.
Zean lalu berdiri dan menyerahkan buku catatannya ke Sasa.
"Nih, materi tadi." Ujar Zean.
"Makasi ya,"
"Lo kenapa lama banget tadi?" tanya Zean.
"Gapapa, bosen aja di kelas." Ujar Sasa sembari memasukkan buku Zean ke dalam tasnya.
"Balik yuk," ajak Sasa.
Zean mengiyakan dan langsung berjalan keluar dari kelas. Pelajaran tadi adalah jam terakhir mereka sehingga bisa langsung pulang ke rumah.
"Larisa udah pulang duluan karena mau nolong nyokapnya nganterin bunga ke hotel," jelas Zean.
Sasa mengangguk mendengar ucapan Zean. Mereka berdua berjalan menuju parkiran kampus.
"Ze, gua duluan ya." Ujar Sasa berpamitan.
"Lo serius ga mau gua anter?" tanya Zean.
"It's okay, duluan ya!" ujar Sasa menepuk bahu Zean.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin." Sorak Zean sembari menaiki motor vespa lamanya itu.
Sasa terus berjalan menuju halte bus, ia lalu menunggu bus sambil duduk. Perlahan ia melihat ke kiri dan kanan.
Mencari sosok sesorang yang tumben sekali tidak muncul. Iya, Bara.
Bara biasanya selalu menunggu bus di tempat yang sama dengan Sasa. Duduknya pun bersebelahan. Walaupun Sasa sering jengkel ke Bara, tapi ada yang kurang jika pria itu tidak ada di sini.
Bus berhenti tepat di depan halte. Sasa masuk dan segera duduk di kursi no. 6 seperti biasa.
Mata Sasa nampak melirik ke seluruh penumpang. Benar, tidak ada Bara di sini. Bahkan kursi di sebelahnya juga kosong.