
Sasa keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke gerbang TPU. Iya, saat ini Sasa berada di TPU dimana Zean dikebumikan. Langkahnya menderap ke arah makam Zean.
Ia lalu bediri sejenak melihat nisan di makam itu, dengan melepas kacamata, Sasa lalu duduk di pinggiran tembok yang sudah dibuatkan sebagai kursi.
Ia menyentuh nisan itu seraya menarik nafas dalam. "Sekarang gua udah bisa kontrol air mata untuk gak jatuh, lo yang tenang ya di sana."
Sasa lalu berdoa untuk mendiang sahabatnya itu. Setelah itu, Sasa menabur bunga yang sudah ia bawa. "Ini biar makam lo nambah bersinar," celetuk Sasa.
"Lo ga usah khawatir, gua akan sering-sering ke sini, biar lo ga kesepian."
Sasa terus menabur bunga hingga keranjangnya kosong. "Zean.... terima kasih sudah ajak gua keluar dari zona dendam."
"Gua mungkin belum sempat bilang thank you ke lo, tapi...." Sasa kembali menyentuh nisan itu.
"Gua beneran bersyukur dan bahagia atas keputusan gua udah ngasih kepercayaan ke lo."
Sasa menahan tangisnya yang mulai ada di ujung mata. Saat sedang menyeka air mata, suara seseorang mengagetkan Sasa.
"Masih ke sini juga?" tanya seseorang di belakang Sasa.
Sasa menoleh dan melihat wajah setengah bule pria itu. "Elo...."
"Gua Abu, sahabatnya Zean dari kelas satu SD."
Abu lalu duduk di kursi beton yang berada di sisi kiri makam. Sasa melihat Abu dengan seksama. Ia lalu memperhatikan Abu yang sedang berdoa untuk Zean.
"..."
Setelah berdoa, Abu kembali menatap Sasa. "Gua kenal Zean udah lebih dari sepuluh tahun,"
"Lo mungkin ga kenal gua siapa, tapi gua..."
"Tau siapa lo," ungkap Abu.
Sasa mengernyitkan dahinya. "Tau? maksud lo?"
"Jujur, selama itu gua kenal Zean, after kematian ibunya baru di hari itu, gua liat senyumnya merekah lagi," ujar Abu menatap Sasa dengan serius.
"..." Abu menjauhkan tangannya dari nisan.
"Waktu itu...." ujar Abu mulai menceritakan apa yang ada di ingatannya.
(FlashBack)
Abu duduk di kursi panjang paling sudut di sebuah cafe. Selang beberapa menit, seseorang penuh energi hadir di hadapannya.
"Halo bro? udah lama lo?" tanya Zean penuh semangat.
"Baru 2 tahun sih di sini, nungguin temen yang katanya udah otw padahal baru sampoan!" sindir Abu kembali duduk.
"Hahaha, bisa aja lo!" ujar Zean seraya duduk.
"Eh, lo pesen dulu deh," Abu lalu memanggil waiters dan memesankan menyampaikan pesanan Zean.
"Lo butuh bantuan apa?" tanya Abu.
Zean mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Ia lalu menyerahkan sebuah buku jurnal yang bertuliskan 'Story of Sasa's Sasilia'
"Buku? lo udah suka nulis ya sekarang?" tanya Abu dengan nada bercanda.
"Bukaann..." ujar Zean.
"Pesanannya kak," ujar waiters seraya memindahkan makanan dari nampan.
"Makasi ya," ujar mereka berdua.
"Minum dulu," ujar Abu kepada Zean.
Zean meneguk minuman di hadapannya. Sementara, Abu mencoba melihat setiap coretan yang ada dalam buku itu.
"Ini, buku siapa? banyak banget coretan ga jelas."
"Itu bukan coretan ga jelas, itu Luka." Abu seketika terdiam mendengar keseriusan Zean.
"Sasa?" ujar Abu membaca tulisan di buku itu.
"Iya, dia gadis paling misterius dan susah di deketin di kampus gua," ujar Zean.
"Jadi lo mau dibantu apa?" tanya Abu.
"Ketika lo baca buku itu, lo akan tahu luka trauma masalalu yang ada di kepala Sasa cukup besar,"
"Hotel? dia punya hotel?" tanya Abu penasaran.
"Gloubel, dia anak dan pewaris tunggal Gloubel, lo harus rahasiain ini."
Abu mengangguk. "Sebentar, gua tahu banget kalau Gloubel itu bukan hotel yang kecil, dan bahkan gua pernah bantu buat pengamanan akses IT di beberapa cabang hotelnya," jelas Abu.
"Gua tahu lo pernah kerja sebagai peretasnya Gloubel, makanya gua bawa masalah ini ke lo."
"Dengan sistem keamanan yang bagus, kenapa bisa kekurangan bukti? Cctv mereka juga gua liat sistemnya yang paling teraman."
"Itu masalahnya, gua udah coba nyusup ke kantor cctv yang ada di Gloubel Bogor, tepat dimana kejadian itu terjadi," ujar Zean.
"Terus? lo bisa dapet akses rekaman cctvnya?"
"Ga bisa, gua cuma dapet pengakuan soal keterlibatan tantenya Sasa di sana,"
"Alasan mereka, cctv nya udah clear akses karena kejadiannya udah lama,"
Abu mendengarkan dengan serius penjelasan Zean. "Gua udah coba masuk ke dalam masalah ini, ada banyak teka-teki yang kalau ketebak akan membuat kepingan puzzles menjadi satu bagian yang utuh."
"Waktu gua ke Bogor, gua sempat foto ini," ujar Zean melihatkan sebuah kode cpu yang ada di kantor Hotel Gloubel Bogor.
"QR?" tanya Abu.
"Lo pasti tahu apa yang gua maksud, gua tahu lo pernah selesain masalah pembunuhan di hotel Haelan, China."
"Jadi, lo mau gua ngeretas sistem QR ini untuk akses data cctv di hotel itu?"
"Abu, gua mau bantu Sasa berdamai dengan masalalu kelamnya, jadi tolong... bantu gua dapetin bukti agar masalah ini bisa close."
"Ze, gua bisa bantu retas sistem qr nya, tapi gua ga jamin rekaman di bawah sistem itu masih bisa di ambil lagi,"
"Broo, ayolah, gua yakin lo bisa, kan lo yang juara nge-hack ngalahin gua," celetuk Zean.
"Itu kan kasus kecil, ege! lagian itu juga lo yang ngalah makanya gua menang," ujar Abu seraya tertawa.
"Hahaha, bisa aja lo!"
Abu meneguk minuman yang ada di hadapannya. "Lo tenang aja, gua bakal bantu.. tapi, karena sistem gua lagi keiket sama kasus di Taiwan, gua minta waktu untuk bisa bantu close kasus ini."
"Berapa lama?" tanya Zean.
"2 mingguan, setelah kontraknya putus gua akan terjun langsung cari bukti ini," jelas Abu. Zean menerima dan tersenyum kecil ke arah Abu.
"Thank you, ya!"
"Tumben lo senyum, baru kali ini loh lo seriusin kasus orang yang baru lo kenal." Abu lalu meneguk minumannya.
"Gua udah mau satu semester kali kenal dia," jawab Zean meyakinkan.
"Ehemm... Lo suka dia ya?" tanya Abu seraya tertawa.
"Hahaha," mendengar sorakan tawa Zean, Abu tahu bahwa sahabatnya itu sedang berupaya meraih hati seseorang.
"Ze...." ujar Abu merendahkan nada suaranya.
"Udah lama gua ga liat lo ketawa lepas kayak gitu, pasti Sasa spesial banget ya?" goda Abu.
"Lebih spesial dari martabak!" jawab Zean yang langsung membuat Abu tertawa.
(RightNow)
Air mata Sasa jatuh mendengarkan cerita yang Abu sampaikan. "Ini, tisu buat lo." Abu menyerahkan tisu agar Sasa menyeka air matanya.
"Eh, btw sorry ya gua udah baca jurnal lo," ungkap Abu.
"Hikkksss Hikss Hikss."
"Lo ga perlu sedih, dengan kehadiran lo, Zean bisa merasa hidup lagi setelah kematian nyokapnya," ujar Abu seraya mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
"Ini, buat lo dari Zean." Sasa melihat ke amplop putih yang Abu berikan.
Sementara, Abu menatap ke nisan yang ada di hadapannya. "Ze, liat nih ya... amanah lo udah gua kasih ke cewe yang lo suka!" ujar Abu.
Sasa tersenyum getir dan mengambil amplop itu. "Thank's ya, Abu!"
"Lo bisa buka dirumah, setelah hati lo tenang, dan ingat..."
"Jangan ada air mata di kertas itu, Zean pasti sedih kalau lo ga bisa ikhlasin dia," ujar Abu seraya menabur bunga di atas makam Zean.