
Sasa dan Bara akhirnya tiba di depan gerbang rumah mewah peninggalan Zena itu.
(Klakson Mobil)
Diki yang mendengar suara klakson segera membuka gerbang karena tahu bahwa mobil itu milik Bara. Ia lalu mempersilahkan mereka masuk.
Bara kembali mengklakson dan memarkir mobil tepat di halaman rumah Sasa. Ia lalu melepas rem, dan mencabut kunci mobilnya.
"Uhuk!" Sasa beberapa kali batuk dan bersin. Bara menoleh ke wanita itu sembari mengajaknya turun.
"Sa, ayo turun," ujar Bara membuka pintu mobilnya.
"Uhuk! Hacuh!!" Sasa mengusap hidungnya beberapa kali.
Bara kembali menoleh ke gadis itu. "Lo kayaknya kena flu deh karena hujan tadi," ujar Bara.
Sasa yang menggigil itu, hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri. Ia tak peduli dengan ucapan Bara kali ini. "Saa..." Bara mengusap kening Sasa.
"Gua gapapa," ujar Sasa sembari membuka pintu mobil.
"Saa, badan lo panas, sini gua obatin."
Sasa terus berjalan menuju pintu rumahnya. "Saaa... Tunggu dulu!" sorak Bara.
Ia lalu segera masuk dan naik ke kamarnya. Bara yang tahu kalau Sasa sakit, lalu berjalan ke kamarnya dulu untuk mengambil sesuatu.
Sasa berjalan gontai ke kamarnya, ia lalu segera berbaring di kasur tanpa menghiraukan apapun di sekitarnya. Bara kemudian masuk dari pintu yang terbuka itu.
"Permisi,..." Bara masuk ketika melihat Sasa sudah terbaring di kasur.
"Sa... Benerin dulu posisi lo," ujar Bara.
"Gua cuma flu biasa, lo pergi aja!" Sasa lalu memejamkan mata.
"Saaa..." lirih Bara sembari membenarkan posisi tubuh Sasa.
Bara sedikit menarik Sasa agar kepala berada tepat di atas bantal. Setelah itu, Bara meluruskan kaki wanita itu.
"Uhuk!!!"
Bara membuka kotak P3K yang ada di atas kasur. Ia lalu mengeluarkan termometer dan meletakkannya di ketiak Sasa.
"Uhuk!!! Ga usah, Bara!" ketus Sasa dengan mata terpejam.
Bara tak menghiraukan ucapan Sasa. Ia lalu mengambil termometer itu. "Suhu lo 36,5° C," ujar Bara.
"Lo cuma demam biasa karena flu, ini ada obat yang bisa lo gunain," ujar Bara merogoh obat yang ada di kotak itu.
"Uhukk!!!" ujar Sasa membuka matanya.
"Minum dulu," ujar Bara memberikan obat itu.
"Gua minum cuma biar lo cepet pergi dari kamar gua, karena gua mau tidur!" ketus Sasa menelan obat itu.
"Terserah lo, yang penting lo minum obat." Bara menyerah segelas air yang ada di atas meja ke Sasa.
Sasa meneguk air itu dan kembali berbaring. Ia lalu bermaksud menyeret selimut yang ada di bawahnya.
"Ga boleh!" tegas Bara menjauhkan selimut itu.
"Gua dingin, pengen tidur!" ketus Sasa.
"Suhu lo akan terkurung di selimut nanti," ujar Bara.
"Iyaa...iyaaa... Yaudah, lo pergi aja!" Bara menatap Sasa yang sedang mencoba tertidur itu.
Ia lalu tanpa bicara membiarkan Sasa tidur dan segera keluar kamar. Bara perlahan menutup pintu kamar Sasa.
...----------------...
Zean yang tengah ada di kamarnya mencoba menghubungi Sasa beberapa kali, namun nihil.
"Kenapa ga diangkat ya?" tanya Zean sembari meletakkan ponselnya di meja.
Sementara, Sasa yang di telfon nampak tertidur lelap setelah minum obat. Zean lalu melipat tangannya dan menatap layar laptop yang masih terbuka.
Di layar itu, nampak tulisan '85% berkas tersedia'
"Sedikit lagi, Sasa pasti seneng kalau bukti ini udah sampe ke bagian akhir," ujar Zean sembari menarik flashdisk dari laptopnya.
"Tugas gua tinggal 1 lagi, gua harus bisa cari info langsung soal Ghare dan bokapnya," ujar Zean.
"Tapi, gimana caranya ya?" tanya Zean lagi.
Zean lalu mencoba berfikir soal ini, ia kemudian nampak sumringah saat sesuatu terbesit di benaknya.
Krek!
Pemikiran Zean seketika buyar saat sosok Fergi masuk ke kamarnya. Zean langsung menutup laptopnya dan menyembunyikan flashdisk itu.
"Tegang banget, kenapa?" tanya Fergi.
"Gapapa, Pi... Papi ada perlu apa?" tanya Zean.
Fergi menatap Zean dengan tatapan curiga. "Kamu ga pake narkoba kan?" tanya Fergi.
"Ya Allah, enggaklah, Pi....."
"Papi kira kamu nyebunyiin barang haram," celetuk Fergi.
"Nggak, Pi! Papi ada apa ke sini?" tanya Zean lagi.
Fergi lalu duduk di pinggir kasur Zean seperti biasanya. "Ada yang kamu sembunyiin dari Papi?" tanya Fergi dengan serius.
Zean seketika mendengus. "Ini masih tentang narkoba, Pi? Kan Zean udah bilang kalau Zean itu ga pa––"
Zean seketika diam dan mendengarkan ucapan Fergi. "Dosen di kelas kamu bilang, hampir 3 minggu kamu selalu bolos terus," jelas Fergi.
Zean masih diam. "Kamu ke kampus terus loh, kenapa ga masuk kelas?" tanya Fergi.
"Zean masuk ke kelas kok, Pi."
"Gausah bohong lagi, Zean! Papi tahu soal ini bukan dari satu dosen loh," ungkap Fergi.
"Sekarang jujur sama Papi, kamu kemana?" tanya Fergi lagi.
Zean menatap Fergi dengan tatapan datar, seolah tak mau menjelaskan bolosnya di kampus.
"Aku...." ujar Zean menjelaskan maksud dari bolosnya itu.
...----------------...
Pagi ini, Sasa bangun dengan tubuh yang masih belum pulih total. Ia membuka matanya perlahan dan mendapati sosok Bara yang tengah membawakan nasi goreng untuk Sasa.
"Lo udah bangun?" tanya Bara seraya meletakkan piring itu di meja.
Bara yang sudah memakai jas lab itu nampak sangat rapi. "Lo mau kemana?" tanya Sasa sembari bersandar di bantal.
"Gua mau survey rumah sakit barenga temen satu kelompok, untuk persiapan magang."
Bara lalu meletakkan termometer yang ada di tangannya ke ketiak Sasa. "Sorry, gua mau periksa lo dulu sebelum pergi," ujar Bara.
"Gua udah sembuh," ujar Sasa menyangkal.
Bara tetap meletakkannya dan menunggu beberapa saat agar termometer itu bekerja. "Itu sarapan dan obat buat lo, jangan lupa diminum."
Bara mengambil termometer itu. "Suhu lo udah turun jadi 34,2°C."
"Kan, gua bilang juga udah sembuh!" tegas Sasa.
"Lo belum pulih total, jadi ga usah kemana-mana dulu, nanti gua yang akan kasih tahu Zean kalau lo ga bisa diajak-ajak dulu!" tegas Bara.
"Gausah, nanti Zean salah paham!" tegas Sasa.
"Makanya, lo tetap di rumah, sehari ini aja!" tegas Bara.
Bara lalu berjalan keluar kamar Sasa. "Lo pulang jam berapa?" sorak Sasa.
"Malam, gua mau urus berkas magangnya nanti," ujar Bara.
"Oh, hati-hati!" ujar Sasa lagi.
"Jangan lupa dimakan, jangan lupa bedrest!!" tegas Bara sembari berlalu pergi.
Sasa mendengus atas ucapan Bara. "Bedrest? Lemah banget dong gua!" ketus Sasa pada dirinya sendiri.
Sasa lalu melirik ke nasi goreng yang ada di sebelahnya. Ia kemudian tersenyum karena Bara selalu masak menu yang sama.
"Yaudah deh, sehari ini aja!" Sasa lalu mengambil piring nasi goreng itu dan memakannya.
Rasanya masih sama, enak sekali. "Jadi kangen sama bundanya Bara," celetuk Sasa sembari merogoh ponselnya.
"Gua coba telfon bu Renita aja kali ya," ujar Sasa.
Sasa membuka ponselnya dan mendapati 4 panggilan tak terjawab dari Zean. "Zean? Kenapa ya?" tanya Sasa.
Sasa yang berniat menelfon Renita itu, malah langsung menghubungi Zean untuk bertanya tujuannya menelfon.
(Berdering)
"Kok ga diangkat ya?" tanya Sasa.
Sasa kembali menelfon Zean dan nihil. Tidak ada jawaban dari Zean. Sasa lalu melahap lagi nasi goreng yanga ada di pangkuannya. Ia kemudian menelfon dokter Arya untuk tahu keadaan Renita.
"Halo, dokter?"
'Halo, Sasa... Gimana kabar kamu?'
"Baik, kabar Bu Renita gimana dok?" ujar Sasa.
'Sudah ada beberapa kemajuan, Renita sudah mulai bisa bicara satu atau dua kata,' jawab Arya.
"Syukurlah, semoga Bu Renita cepat sembuh dok."
'Aamiin, terima kasih, Sasa... Bara ada?'
"Sama-sama, dok... Bara baru aja pergi buat urus berkas magangnya, sekalian survey lokasi."
'Oh ya, makasi ya kamu udah mau numpangin Bara.'
"Santai aja dokter, aku juga di rumah sendirian," ungkap Sasa.
'ART kamu udah ga ada?' tanya Arya.
"Ga ada, waktu itu pulkam, tapi ga balik lagi," ungkap Sasa.
'Oh gitu, kamu coba cari dia aja,'
"Iya dok, nanti saya coba cari dia."
'Kalau dia udah ga kerja lagi, cepet kabarin ke kami ya,'
Sasa seketika bingung, kenapa Arya meminta untuk dikabari soal ART?
'... saya mau siap-siap terapi buat Renita dulu, titip salam untuk Bara.'
Sasa mengiyakan dan menutup ponselnya. Ia kemudian teringat ucapan Arya soal ART, kenapa harus mengabari mereka?