
Zean melihat wajah Sasa yang begitu datar setelah melepas earphone itu. "Lo gapapa?" tanya Zean memastikan.
Sasa hanya diam. Ia seperti bernafas dengan berat ketika tahu bahwa Deina benar-benar ada di peresmian itu.
"Saa..." lirih Zean menyentuh bahu Sasa. Dengan tatapan datar, Sasa lalu mengeluarkan suara.
"Jadi, Tante Deina sengaja dateng lebih awal di peresmian tahun 2016?" tanya Sasa menatap Zean.
"Begitulah, data ini juga singkron sama bukti yang lo kasih waktu itu," ujar Zean.
"Bukti dari Bu Bila soal siapa aja yang dateng ke peresmian?" tanya Sasa.
"Iya, ini akan jadi bukti baru buat kita." Zean lalu bangun dari duduknya.
"Sebentar," ujar Zean berlalu membeli air mineral.
Sasa nampak diam sebagai bentuk mencerna maksud dari berbagai bukti yang sudah di dapat. Zean menyerahkan sebotol air mineral yang baru saja ia ambil ke tangan Sasa.
"Ga usah terlalu syok," ujar Zean sembari duduk.
Ia dapat melihat jelas bahwa Sasa benar-benar tersentak melihat vidio itu.
"Tenangin diri dulu," ujar Zean.
Sasa meneguk air itu. "Kenapa lo ga bilang langsung soal vidio ini ke gua di hari itu?" tanya Sasa.
"Ga bisa, karena vidionya ke delay pas dikirim, lo liat kan Gb nya tinggi," jawab Zean.
Sasa menarik nafas dan menyerahkan kembali ponsel Zean. "Apa ada informasi lain yang lo dapet?" tanya Sasa.
"Ada, tapi gua gabisa kasih tau itu sekarang," jawab Zean.
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Informasinya belom lengkap, nanti lo jadi kurang paham," jawab Zean.
"Apa masih perlu banyak waktu untuk lengkapinnya?" tanya Sasa.
"Belom tau," ujar Zean.
Sasa nampak penasaran dengan hal itu, apa yang sedang Zean cari tahu di belakangnya?
"Lo ga perlu curiga sama gua, apapun info yang gua dapet pasti akan gua share ke lo," ujar Zean.
Sasa menelan ludah atas perkataan Zean. "Jadi, apa yang harus kita lakuin ke depannya?" tanya Sasa lagi.
"Gua akan coba retas lokasi buku nikah Deina," jawab Zean.
"Bisa?" tanya Sasa.
"Bisa, gua cuma butuh informasi soal kartu keluarga dia," jawab Zean.
"Gua ada, nanti gua akan minta ke Bu Bila buat kirim langsung ke e-mail lo," jawab Sasa.
"Oke, secepatnya kita akan tahu dimana mereka menikah," jawab Zean.
"Oke, lo kabarin gua aja," jawab Sasa dengan datar.
Sasa kembali meneguk air mineral itu. Sementara, Zean nampak asik dengan pikirannya. "Lo ka ke kelas?" tanya Sasa.
"Nanti siang," ujar Zean.
"Ini udah siang loh, kenapa Larisa belom dateng?" tanya Sasa.
"Gatau, gua coba telfon aja kali ya? Soalnya di chat kaga dibales," ungkap Zean.
"Yaudah, buruan telfon." Zean lalu merogoh ponselnya.
Ia mencoba menghubungi Larisa yang sudah berjam-jam tidak datang. "Ga diangkat," sahur Zean.
"Coba lagi, kali aja dia lagi ketiduran," ujar Sasa.
"Oke, gua coba lagi." Zean kembali menelfon Larisa.
'Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, ––'
"Malah ga aktif," kata Zean sembari menyimpan ponselnya.
Sasa nampak berfikir keras soal ini. Kenapa Larisa tidak ke kampus ya?
"Apa dia beneran marah banget ya soal pelantikan gua?" tanya Sasa dengan nada sendu.
"Semarah-marahnya dia, dia bukan orang yang pendendam, Sa."
Sasa menatap Zean dengan datar. "Kalau dia kecewa? bukannya itu lebih parah dari dendam?" tanya Sasa lagi.
Zean menarik nafas, ia lalu diam sembari melirik sekeliling. "Ga usah dipikirin banget, nanti lo jadi pusing, belom lagi mikirin kasus pembunuhan ibu lo."
Sasa mengangguk. Zean kali ini benar, pikiran Sasa seperti penuh dengan berbagai hal.
"Gua jadi pusing deh, Ze."
"Makanya jangan dipikirin terlalu dalam," sahut Zean.
Zean lalu melirik jam yang ada di tangannya. "Kelas gua udah mulai nih, lo mau ikut ga?" tanya Zean.
"Ga, gua ga siap." Sasa memilih tetap duduk di sana.
"Gapapa, gua juga mau balik kok," ujar Sasa.
"Oke, gua cabut dulu ya," ungkap Zean berlalu pergi.
Sasa mengangguk. "Oke, hati-hati!"
Zean lalu membalikkan badannya ke arah Sasa. "Besok gua akan kabarin lo hasil informasi soal Deina," jelas Zean.
Sasa kembali mengangguk. Ia lalu hanya bisa melihat punggung Zean yang semakin menjauh.
Kini, hanya ada Sasa di sana. Pikirannya seolah disibukkan oleh berbagai persoalan. "Kenapa rasanya jenuh banget ya?" tanya Sasa.
Sasa lalu bangun dari duduknya setelah mengambil kotak nasi di meja dan memutuskan untuk segera pergi menuju mobil Bara.
...----------------...
Bara yang sedang belajar di kelas itu nampak menyimak dengan serius ucapan dosen yang ada di depannya.
"Sekarang kita akan membahas beberapa berkas yang harus di urus untuk persiapan magang bulan depan," jelas dosen itu.
"Seperti yang sudah diketahui bahwa magang kali ini dibagi pada 8 titik akses rumah sakit,"
Bara nampak diam mendengarkan. "Soal rumah sakitnya, kalian sendiri yang akan mengajukan mau yang mana,"
"Dengan syarat, kloter per rumah sakitnya harus seimbang,"
Semua mahasiswa kedokteran itu nampak fokus pada hal yang tengah dibahas. "Kita di sini ada 40, jadi per rumah sakit ada 5 orang."
Mahasiswa itu mengangguk paham. "Ada pertanyaan soal ini?" tanya dosen itu.
Bara nampak mengacungkan tangan untuk bertanya. "Saya Pak," ujar Bara mengacungkan tangan.
"Silahkan, Bara."
"Satu rumah sakit kan akan di isi sama 5 orang, apa ada batasan jumlah laki-laki dan perempuan di setiap kloternya?"
"Saya sudah cek data kelas ini, di sini ada 16 perempuan." Dosen itu melirik ke seluruh kursi di depannya.
"Jadi, saya putuskan untuk menempatkan 2 perempuan di setiap kelompok." Semua mengangguk paham.
"Baik Pak, terima kasih..." ujar Bara.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya dosen itu.
"Saya Pak," ujar Hanum sembari melirik sekilas ke Bara.
"Iya, silahkan..."
"Bentuk laporan praktik yang akan diserahkan per kelompoknya nanti bagaimana ya, Pak?" tanya Hanum.
"Baik, saya akan menjelaskan ini bersamaan dengan dateline pengumpulan berkas," jawab dosen itu.
Semua mahasiswa nampak memperhatikan sembari memegang pulpen untuk mecatat beberapa hal penting.
...----------------...
Usai berbicara dengan Zean, Sasa memutuskan kembali ke mobil Bara karena hari sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Sementara, Larisa yang ditunggu tak kunjung datang.
Ia berjalan sembari bermain ponsel. Di sana, ia kini mencoba menghubungi Larisa via chat instagram.
'Larisa, lo kenapa ga ngampus? Gua udah nungguin lo dari tadi di gerbang kanan.'
Setelah pesan terkirim, Sasa lalu fokus ke jalanan yang ia lewati. Hanya perlu beberapa menit untuk Sasa sampai di sebelah mobil Bara.
Sasa melirik sekeliling, belum ada Bara di sini. Sementara, Bara yang ditunggu baru saja selesai kelas.
"Terima kasih, Pak... Saya akan ajukan berkasnya dalam 2 minggu lagi," ujar Bara.
"Baik, saya percaya kamu bisa handle anggota magang di kloter kamu," ujar dosen itu.
Bara seketika tersenyum dan berterima kasih atas ucapan dosen itu. "Saya duluan," ujar dosen itu sembari berlalu pergi.
Bara mengangguk dan tersenyum. Di sampingnya, sudah ada Hanum. Ia nampak sumringah ada di samping Bara.
"Gua seneng banget sih kalau satu kloter sama lo," ujar Hanum.
Bara nampak diam, ia terus berjalan menuju parkiran. "Lo mau langsung balik?" tanya Hanum.
"Iya," jawab Bara dengan singkat.
"Gua boleh bareng ga?" tanya Hanum.
Bara tak menghiraukan ucapan Hanum. Ia memilih mempercepat jalannya. "Bar, lo kenapa buru-buru banget?" tanya Hanum.
Bara seketika berhenti. Ia juga membuat langkah Hanum terhenti tepat di sebelahnya. "Lo nungguin gua?" tanya Hanum dengan senyuman.
"Lo bisa berhenti deket-deket sama gua ga?" tanya Bara dengan sinis.
"Kenapa? Lo udah punya pacar?" tanya Hanum.
"Lo tuh ganggu tau gak!" ketus Bara melanjutkan jalannya.
Hanum yang menyukai Bara itu tak masalah dengan ucapan kasar Bara. Ia malah semakin gencar mengejar Bara.
Mereka berjalan menuju parkiran. Dari kejauhan Bara dapat melihat jelas bahwa Sasa sudah berdiri di sana. Bara lalu mempercepat langkah kakinya agar dapat membuka kunci pintu.