
Dering panggilan membuyarkan fikiran Sasa yang sedang duduk diam di depan komputer milik Zean. "Bu Bila?" ujar Sasa melirik sekilas ke arah ponselnya.
"Ada apa ya Bu Bila nelfon gua jam segini?" tanya Sasa seraya mengklik tombol on pada layar.
Sembari menunggu loading PC, Sasa menjawab panggilan Bila tersebut. "Halo, iya Bu?" ujar Sasa dengan datar.
'Halo, Mysa? Kamu dimana? Ibu udah 30 menit di halaman rumah kamu,' jelas Bila.
"Saya masih ada urusan, Bu. Kalau berkenan menunggu Ibu bisa masuk ke dalam, bilang aja sama Pak Diki..." jawab Sasa.
'Yasudah, karena ini penting, Ibu akan tetap nunggu di sini," jawab Bila lagi.
"Oke, tapi kalau ada kerjaan lain Ibu bisa pergi dulu kok," jelas Sasa.
'Iya, kamu hati-hati ya... Ibu nunggu di ruang tamu aja," jawab Bila.
"Iya, silahkan..." Sasa lalu menutup telfon itu.
[Welcome Zeano Prince in the World]
Mata Sada tertuju kepada layar komputer yang menyala. Ia lalu mengklik ctr + alt + dlt untuk login.
[Klik your password here!]
"Yah, password nya apa ya?" tanya Sasa seraya menerka-nerka.
"Coba pake nama dia aja deh, Zeano Pratama."
[Please, try again]
"Salah lagi, coba tanggal lahir Zean, 12 Mei 2000."
[Please, try again]
"Masih salah lagi," Sasa mencoba berfikir lagi tentang kemungkinan passwordnya.
"Apa ya? Atau gua coba tanya Pak Fergi aja kali ya?" Sasa mulai merogoh kembali ponselnya.
Namun, di sela ia akan menelfon Fergi yang berada di lantai bawah, matanya menatap slip kertas kecil yang Zean tempel di meja belajarnya.
[In memories]
Sasa meletakkan kembali ponselnya dan mengambil note itu. 'Tidak ada yang lebih indah dari hari dimana kita diberi kepercayaan secara penuh oleh dia yang kita percaya.'
"Hari kepercayaan?" Sasa kembali berfikir.
Membaca kalimat itu, Sasa seketika teringat cerita bagaimana Zean bisa masuk ke dalam misi puzzles ini.
'Gua janji ga bakal ngecewain lo,'
'Please kasih gua kepercayaan satu kali aja untuk bisa bawa lo keluar dari zona dendam.'
"Hari itu, gua masih inget kalau itu satu bulan setelah ospek," ujar Sasa seraya membuka galeri ponselnya.
Sasa lalu mencoba menemukan foto saat ia bertemu dengan Zean di Cafe waktu itu. Waktu pertama kali Sasa menyerahkan jurnal itu ke Zean.
"12 Oktober," ujar Sasa setelah membuka detail foto yang ia lihat.
Tangannya lalu mulai menari di atas keyboard, ia lalu menekan angkat sesuai tanggal dan akhirnya...
[Hello, Zean... Jangan lupa istirahat, ya!]
"Akhirnya," ujar Sasa dengan nafas lega.
Sasa lalu merogoh flashdisk yang ada di kotak kado tadi. Ia kemudian mencoba mengakses flashdisk itu.
Deg...Deg...Deg...
"..." Sasa menelusuri flashdisk itu dan menemukan satu vidio di sana.
"TroubleMaker in Gloubel, bukti pembunuhan Zena Wijaya."
Deep!
Jantung Sasa seakan berhenti membaca judul vidio itu. Dengan berat hati, Sasa memutuskan mengklik vidio itu.
Zena Wijaya nampak berdiri di lobi hotel yang sudah di penuhi hiasan. 'Halo? apakah sudah ada?'
'Kok masih belum? hari ini peresmian Gloubel loh, saya perlu dana tambahan setelah ini.'
Zena masih berdiri dengan tas pink yang sedang ia jinjing. 'Saya ga mau tau! jangan bisanya cuma minjem dong,'
Dari sisi belakang Zena, nampak seorang berjubah hitam tengah berjalan pelan. Ia memperhatikan Zena dengan lekat.
'Pokoknya saya butuh dana itu segera!'
Stttt!
Satu sayatan pisau mendarat di leher Zena. Seketika, Zena menyentuh lehernya dengan nafas terengah. Zena masih sempat membalik badan sedikit dengan darah yang mengucur.
"No! Mamm?!!" Sasa langsung meneteskan air mata melihat itu. Ia rasanya benar-benar mual.
Sementara, pelaku berjubah itu mencoba lari, namun Zena sempat menahan jubah yang dikenakan orang itu dengan tangan sebelah kirinya sehingga pisau yang ia pegang terjatuh.
Perlu beberapa detik saja untuk jubah orang itu terbuka, dan terlihat jelas rambut pendek sebahu milik orang itu dengan tato bunga di leher belakangnya.
Vidionya terpause otomatis di situ, Sasa masih belum bisa menerka siapa pelakunya. Wanita itu memakai masker, hanya ada zoom an di tatoo lehernya.
Namun, rasanya ia tidak asing dengan wanita itu. 'Hei, Sasa?' sapa Zean yang tiba-tiba masuk ke tengah vidio itu.
Sasa seketika menatap kaku ke arah monitor. "Zean," lirih Sasa dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
'Stich an vidio tadi akan jadi bukti pertama, gua udah zoom di bagian tatoonya, dan pelakunya dipastikan perempuan,'
'Gua ga mau lo bingung dan cari pelakunya sendiri, jadi... ini bukti kedua dan terakhir yang akan lo bawa untuk close kasus ini ke kantor polisi.'
[Next, CCTV 2]
Wanita bertatoo itu nampak berlari usai mengambil pisau yang terjatuh, ia meninggalkan Zena sendiri dan setelahnya, ada beberapa orang yang berlari ke arah Zena memberi pertolongan, termasuk Deina.
"Tante Deina?" rambut panjang Deina membuat Sasa berfikir lagi siapa yang sebenarnya menyayatkan pisau ke leher Zena.
'Wanita itu berlari dan masuk ke ruang cctv dan mencoba mengancam Kylen F yang saat itu sedang bertugas,'
'Siapa kamu?' tanya Kylen dengan raut geram.
'Minggir, serahin monitornya ke saya atau pisau ini akan ada di leher kamu dalam hitungan detik!'
Kylen F yang mulai cemas itu perlahan menjauh untuk keselamatannya. Wanita itu lalu segera duduk di depan monitor dan mengakses kejadian beberapa menit lalu.
Dengan nafas terengah ia memastikan cctv nya hilang. 'Krek!'
Pintu terbuka dan mendapati sosok Deina yang masuk ke sana. Entah apa lagi percakapan mereka berdua, yang jelas sosok itu melepas maskernya dan bercengkrama dengan Deina.
Deep!
"Hah?" Nafas Sasa serasa sesak saat melihat wajah di balik masker dengan tangan memegang pisau itu.
"Jadi, dugaan gua selama ini salah? tapi, kenapa Deina ga ngelapor?" tanya Sasa dengan nafas terengah.
Masih dalam keadaan syok, Sasa kembali mendengarkan vidio Zean. 'Orang yang paling banyak ngabisin waktu bersama lo saat ini, adalah pelakunya Sa.'
'Gua harap lo dapat bertindak cepat dan hati-hati.'
'Temuin pelakunya bersama Bara, Sa. Gua yakin dia bisa jagain lo sebaik gua ngejaga lo!'
"Hiksss...Hikkss..." Sasa mulai merasa emosinya terkubur, kesedihannya bercampur dengan rasa terima kasih ke Zean.
'Gua udah tepatin janji untuk keluarin lo dari zona kelam, Sa. Tugas gua udah selesai,'
'See you, dan terima kasih udah percaya sama gua.'
Vidio itupun selesai dan menyisakan Sasa dengan isakan tangis.
"Kenapa lo habisin setengah dari waktu menjelang kepergian lo dengan bantu gua, Ze?"
Hiksss...Hiksss... Sasa menenggelamkan wajahnya dalam lipatan tangan.
"Dan, kenapa gua harus percaya sama lo waktu itu, kalau aja gua ga ngasih kepercayaan ke lo waktu itu, lo pasti ga akan se sibuk ini cari bukti, Hikss...Hikss..."