Puzzles

Puzzles
Episode 86 - Larisa dan Ghare



Jam bergerak ke pukul 10.00 WIB, mata sembab Sasa mulai terpapar sinar matahari yang sudah menembus gorden.


Ia enggan bangun meski dering telfon beberapa kali membuatnya berada di pertengahan kesadaran.


Disisi berbeda, Larisa menjinjing koper dan berhenti tepat di samping taxi yang sudah ia pesan. "Ga diangkat juga?" tanya Ghare yang berdiri di depan pagar.


Larisa menyimpan ponselnya dan menggeleng. Ia lalu mendekat ke Ghare seraya pak supir memasukkan koper ke bagasi.


"Thank you," ujar Larisa sembari memegang tangan Ghare.


Seketika Ghare terdiam. Ia kembali fokus ke tangan Larisa yang menyentuhnya. "Untuk?" tanya Ghare.


"Untuk dua hari gua di sini, gua sangka lo bakal nyebelin kayak sebelumnya," jelas Larisa.


"Ternyata... you better!" ujar Larisa seraya tersenyum.


Ghare menggeleng, ia lalu membalas genggaman tangan Larisa. "Lo juga ga semenyebalkan dulu ternyata," celetuk Ghare.


Larisa lalu melirik ke mobil taxi yang ada di belakangnya. "Gua berangkat ya, gua cuma dapat izin 3 hari soalnya," ujar Larisa.


"Kalau ke Jakarta lagi ga usah nginep di hotel," umpan Ghare.


"Mmmm iyaaa, see you!" Larisa berjalan ke taxi dan segera masuk.


Ghare nampak melambaikan tangan ke jendela yang terbuka. "Hati-hati, Larisa!" ujar Ghare yang masih berdiri di depan pagar.


Ghare enggan masuk dan masih tetap di sana. "Lo ternyata ga pernah berubah, masih aja judes kayak dulu...." ujar Ghare.


Di dalam taxi, Larisa sekilas meilirik ke belakang, ia dapat melihat dengan jelas bahwa Ghare masih setia di depan gerbang.


"Huh...." dengus Larisa seraya menoleh ke depan.


"Ternyata lo ga berubah ya Ghare, masih perhatian kayak dulu," ujar Larisa.


(FlashBack)


Mobil yang dikendarai Larisa mendadak mati di tengah jalan. "Aduhh... Kenapa lagi nih?" Larisa turun dan mencoba mengecek.


"Please, gua mau nganter bunga loh ini," celetuk Larisa.


Larisa yang sedang bergegas itu, lalu segera menelfon seseorang untuk membantunya. "Apa?" tanya Larisa tak percaya.


"Yaudah, nanti aku coba cari bantuan dekat sini aja," ujar Larisa seraya menutup ponsel.


Larisa mencoba melirik ke kiri dan kanan untuk mencari pertolongan. Nomor Zean dan Sasa sama sekali tak terhubung sekarang. "Aduhh, siapa lagi ya? Mana gua ga ada kontak bengkel lagi."


Larisa berdiri di samping mobil sambil tetap menelfon Sasa. Saat sedang asik menelfon, seseorang dengan mobil civic turbo berhenti tepat di sebelahnya.


Kaca mobil itu turun bersamaan dengan Larisa yang menoleh. "Eh, bocil!! Lo kenapa?" tanya Ghare dari dalam mobil.


"Elo!!! Ngapain lo nanya-nanya!!! Gua ga butuh bantuan lo!!" ketus Larisa.


Mendengar itu, Ghare mencoba menaikkan kaca mobilnya. "Yaudah, gua pamit!!" ketus Ghare.


"Ehhh...." ujar Larisa mencoba menahan.


"Apa lagi? Katanya gamau dibantu?" sindir Ghare.


Larisa mencoba menyembunyikan pipi merahnya karena malu. Mau gimana lagi, ia terpaksa meminta pertolongan dari lelaki menyebalkan di mobil itu.


Ghare turun dan mendekat ke mobil Larisa. "Kenapa? Abis bensin kah?" sindir Ghare.


"Bukan, tiba-tiba mati aja, mana gua mau nganter bunga lagi." Larisa tak bisa menyembunyikan wajah cemasnya.


"Santai aja kali, bunga doang!" jawab Ghare ngasal.


"Hehhh!!!" ujar Larisa seraya menyentuh bahu Ghare.


"Bunga doang kata lo? Kalau bunganya telat di antar, vendor bisa minta pengembalian dana 50% tahu!!!!"


"Itu sih urusan lo ya, sini gua coba bantu!" Ghare mulai membuka dan mengecek mobil itu.


"Hiishhhh!!!!!" Larisa menahan kesalnya ke dalam karena i butuh bantuan Ghare.


Ghare mencoba mengecek, sementara Larisa nampak mondar mandir karena panik. "Lo bisa diem aja ga?" ujar Ghare melihat ke arah Larisa.


"Gimana gua bisa diem? Ini 20 menit lagi loh, lokasinya masih lumayan jauh," jelas Larisa.


Ghare menyudahi pengecekan mobil itu, "Ini Aki mobil lo bermasalah, harus diganti," jelas Ghare.


"Lo bisa gantiin sekarang?" tanya Larisa.


"Hah, ya ke bengkel lah," jawab Ghare spontan.


"Gini aja, gua minta tolong anak buah Papi gua untuk jemput mobil lo, sini bunganya biar gua bantu anter."


"Lo serius? Ini tinggal 15 menit lagi loh," jawab Larisa.


Ghare melirik ke mobilnya yang super mahal. "Lo ga liat gua bawa apa? 10 menit tembus kok ke tujuan," ujar Ghare.


Larisa mendengus dan mengambil bunga yang ada di dalam mobilnya. "Aman ga? Beneran aman?" tanya Larisa.


"Iya, Ayo!" Ghare membukakan pintu dan segera masuk.


Mereka berdua lalu berlalu menuju lokasi yang Larisa maksud.


(RightNow)


Senyum Larisa seketika merekah saat mengingat moment pertemuan ke sekian kalinya dengan Ghare, moment tadi adalah moment pertama mereka berada di satu mobil yang sama.


***


(Dering Telfon)


(Dering Telfon)


Sasa perlahan bergerak melihat siapa yang menelfonnya. Dengan samar, Sasa menolak panggilan itu. Ia bahkan tak membaca dengan jelas siapa yang ia tolak.


"Huaaammm...."


Sasa meregangkan kedua tangannya dengan tubuh masih terbaring. Matanya kemudian menatap lurus ke langit-langit kamar.


"Gua masih berharap ini mimpi, Ze."


***


Dari dalam rumah Bara nampak keheningan yang mendalam. Bara yang sudah rapi itu keluar dari rumah dan berpamitan kepada penjaga rumahnya.


"Pak, saya titip rumah ya."


"Iya, Den... Hati-hati, Bapak akan jaga rumah ini dengan baik."


Bara menepuk pundak Bapak itu seraya tersenyum kecil. "Misi, Pak." Bara masuk ke mobil dan segera melaju meninggalkan rumahnya.


***


Sasa keluar rumah dengan pakaian serba hitam. Ia juga membawa kacamata hitam yang masih tersangkut di sela-sela baju.


Ia masuk ke mobil yang sudah disediakan oleh staff hotel. Sesuai request, hari ini Sasa meminta untuk bawa mobil sendiri.


(Klakson mobil)


Sasa melaju meninggalkan istananya dengan sigap. Sudah sangat lama ia tidak menyetir seperti ini. Rasanya seperti terlahir kembali.


Dengan santai, Sasa melaju ke sebuah alamat yang sudah ia tuju sebelumnya. "Macet lagi," ujar Sasa seraya menghidupkan ac mobil.


(Dering telfon)


Sasa memakai earphone nya dan menjawab secara spontan panggilan itu. "Iya, dengan siapa?" tanya Sasa yang fokus menyetir itu.


'Mysa...." ujar Bila dari balik sana.


"Bu Bila? How are you?"


'I'm good, kamu apa kabar? Ibu dapat kabar kalau salah satu sahabat kamu meninggal,'


'Are you okey?'


"...." Sasa hanya diam.


'Mysa?'


"Aa... Oh... Iya, gapapa kok, fine."


'Mysa, kalau ada apa-apa kamu bisa cerita ke Ibu. Okay?'


"I'm fine, serius."


Sasa terus menelfon seraya mengendarai mobil. "Eh, Bu... Udah dulu ya, lagi bawa mobil."


'Oh, iya... Maaf ya ganggu, jangan lupa kabarin ibu kalau ada apa-apa.'


"Iyaa, thank you."


Sasa melepas earphonenya dan menatap lurus ke depan. "Huh..." Sasa menarik nafas sembari menunggu lampu merah berubah menjadi hijau.