It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 43



14 Juli 2001.


Arthur yang berdiri membelakangi salah satu gedung apartemen, sibuk memperhatikan setiap bagian kiri mobil Damian.


"Damian! Kenapa kamu masih di luar?"


Suara itu....


Arthur segera berbalik, dan melihat seseorang yang berdiri di pintu di masuk gedung apartemen yang tadi sempat dibelakangi oleh Arthur.


Alexa ... Itu Alexa.


Arthur tidak bisa bergerak dan hanya menatap Alexa lekat-lekat.


Alexa pun tampak sama terkejutnya dengan Arthur, hingga dia hanya berdiri terdiam di pintu, sambil menatap Arthur.


"Arthur!" Josh yang berteriak, membuat Arthur berbalik melihat ke arah datangnya suara Josh.


Dengan cepat, Damian tampak menghalangi Arthur, lalu berkata dengan suara berbisik, namun tegas,


"Kamu nanti bisa menemuinya sendirian! Jangan sampai ada yang tahu, kalau Alexa masih hidup!"


Ketika Arthur berbalik melihat ke pintu, Alexa sudah tidak ada lagi di sana, Arthur lalu kembali melihat Damian dan mengangguk setuju.


"Arthur!"


Suara Josh yang memanggilnya, terdengar semakin dekat, dan Arthur buru-buru menghampiri Josh yang sudah di sisi jalan di mana Arthur berada.


"Tidak ada apa-apa. Mobil ini tidak ada tanda-tanda bekas tabrakan," kata Arthur.


Arthur lalu melihat ke arah Damian. "Terima kasih atas kerja samanya!"


"Sama-sama. Selamat bertugas, Detektif!" sahut Damian, lalu berjalan memasuki gedung apartemen.


"Ayo kita pergi!" ajak Arthur kepada Josh, sambil berjalan menyeberangi jalanan.


Pikiran Arthur sekarang ini sangat kacau, namun dia berusaha agar tetap terlihat tenang di depan Josh.


Sejujurnya Arthur senang karena bisa melihat Alexa lagi, namun rasa senang itu juga bercampur dengan amarah, karena jika Alexa masih hidup, berarti Alexa telah membohonginya selama ini.


Arthur hampir gila dibuatnya, karena mengira Alexa memang benar telah meninggal dunia dengan cara yang tragis, tapi ternyata dia masih hidup dan tidak mau menghubungi Arthur.


"Brengsek!"


Arthur tanpa sadar telah mengucapkan makian saking kesalnya, karena rasanya dia ingin segera mendapatkan penjelasan dari Alexa.


"Hey! Apa-apaan kamu ini?" tanya Josh.


"Ugh ...? Maafkan aku. Tapi, aku sudah lapar," sahut Arthur asal-asalan.


"Kalau hanya lapar, kamu tidak perlu memaki," kata Josh, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku juga sudah selesai mengumpulkan informasi. Jadi, kita bisa pergi makan siang sekarang," lanjut Josh lagi, lalu segera masuk ke dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan.


***


Saat Arthur makan siang bersama Josh di sebuah restoran, Arthur sama sekali tidak berselera untuk makan.


Pikiran Arthur yang melayang-layang, justru membuatnya ingin segera pergi dari tempat itu, dan kembali ke apartemen di mana Alexa berada.


"Katamu tadi kamu lapar! Lalu, kenapa makananmu tidak kamu sentuh?" ujar Josh, dengan menaikan nada suaranya.


Arthur kemudian buru-buru menghabiskan makanannya.


"Josh! Setelah ini kita kembali ke kantor dulu. Aku mau mengambil mobilku. Ada yang ingin aku lakukan," kata Arthur.


"Kita masih ada tugas!" sahut Josh.


"Josh! Please! Selama ini, aku sudah tidak pernah melalaikan pekerjaanku, kan?! Ada yang sangat penting yang ingin aku urus sebentar," ujar Arthur tegas.


"Aah! Okay, okay! Terserah kamu saja!" sahut Josh.


Josh yang sudah selesai makan, kemudian bersama dengan Arthur, beranjak pergi dari restoran itu, dan berkendara mengarah langsung ke kantor polisi.


***


12:37.


Dengan mengemudikan mobilnya sendiri, Arthur pergi kembali ke apartemen yang berada di tengah pemukiman yang padat dengan penduduk, untuk menemui Alexa.


Dari kejauhan, Arthur sudah melihat gedung apartemen tujuannya yang ada diantara beberapa gedung apartemen yang berjejer di daerah itu, dan mobil Damian sudah tidak terparkir lagi di depan gedung itu.


Setelah memarkirkan mobilnya di seberang jalan, Arthur bergegas masuk ke dalam gedung apartemen.


Namun Arthur sempat kesulitan mencari di mana Alexa tinggal, karena banyaknya lantai gedung apartemen itu, dan di setiap lantainya terdapat banyak ruang-ruang kamar dengan pintu yang tertutup.


Di gedung apartemen itu pun tidak ada petugas penjaga keamanan, sehingga Arthur kebingungan harus bertanya kepada siapa.


Tentu saja tidak mungkin bagi Arthur untuk mengetuk semua pintu kamar, hanya agar bisa mengetahui di mana kamar yang dihuni oleh Alexa.


Arthur sempat menunggu beberapa menit, kalau-kalau ada orang yang bisa dia lihat, dan bisa jadi tempat Arthur bertanya.


Arthur akhirnya teringat akan Sienna, dan segera menghubunginya, untuk meminta nomor kontak Damian.


Walaupun terdengar bingung saat Arthur yang menghubunginya hanya untuk nomor kontak Damian, namun Sienna masih mengirimkan pesan singkat yang berisikan nomor kontak Damian kepada Arthur.


Untung saja, ketika Arthur menghubungi Damian, teman laki-laki Alexa itu, mau menerima panggilan telepon dari Arthur.


Damian bahkan mau saja memberitahu kepada Arthur, ruang kamar apartemen yang dipakai oleh Alexa.


Setengah berlari, Arthur menaiki tangga dan pergi ke lantai 8, lalu segera mengetuk pintu kamar bernomor 51, setelah dia menemukannya.


Berkali-kali Arthur mengetuk pintu, namun tidak ada yang membuka pintu itu untuknya.


"Alexa! Aku tahu kamu ada di dalam! Aku ingin bertemu denganmu. Tolong buka pintunya!" kata Arthur dengan suara memelas.


Pintu itu kemudian terbuka, dan Alexa berdiri di sana, dan menyapa Arthur sambil tersenyum. "Hai, Arty!"


Kegusaran Arthur seketika itu juga menghilang, dan segera memeluk Alexa dengan erat.


"Aku sangat merindukanmu," kata Arthur, lalu mendorong daun pintu dengan kakinya, hingga pintu kamar itu menutup.


"Arthur! Aku tidak bisa bernafas!" ujar Alexa.


Arthur mengendurkan pelukannya, lalu dengan kedua tangannya, Arthur memegang kedua sisi wajah Alexa, dan menatapnya lekat-lekat.


"Kamu berhutang penjelasan padaku," kata Arthur, dan tanpa aba-aba, mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alexa.


Alexa tidak menolak ciuman Arthur, bahkan Arthur bisa merasa kalau Alexa juga ikut menikmatinya dan membalas ciumannya.


Mereka berciuman cukup lama, hingga akhirnya Alexa mendorong Arthur sedikit, sampai Arthur berhenti menciumnya.


"Aku mencintaimu ... Alexa," ucap Arthur.


Alexa tidak berkata apa-apa, dan hanya mengembangkan senyuman di wajahnya.


***


Di dalam kamar apartemen studio berukuran kecil itu, Alexa menjelaskan semua yang terjadi.


Bagaimana Alexa merancang rencana yang dianggap Arthur adalah rencana yang luar biasa, hingga tampak benar-benar meyakinkan, kalau Alexa seolah-olah memang di serang serigala abu-abu.


Semua judul dari buku-buku yang dipakai oleh Alexa sebagai panduan untuk melancarkan rencananya, juga disebutkan Alexa satu persatu.


Setelah mendengar semua penjelasan Alexa, Arthur jadi mengerti, kalau Alexa melakukan semuanya itu, bukan berniat untuk mempermainkan Arthur.


Alexa membutuhkan kredibilitas Arthur, agar Willing Grup percaya akan hasil dari investigasi, dan menghentikan pencarian Alexa.


Alexa hanya ingin hidup tenang, terlepas dari Mark William dan Willing Grup.


Menurut penuturan Alexa, dia berniat memberitahu Arthur, namun dia masih menunggu sampai situasinya benar-benar tenang.


Bahkan, orang yang mengetahui kalau Alexa baik-baik saja, hanya Damian dan Sienna.


***


Saat Alexa sibuk membuatkan kopi untuk Arthur minum, Arthur yang melihat-lihat kamar apartemen Alexa itu, tidak sengaja menangkap bayangan sebuah buku di bawah tempat tidur Alexa.


Arthur mengambil buku itu lalu membacanya.


Isi tulisan dari buku catatan harian itu, sanggup membuat hati Arthur berbunga-bunga, dan Arthur bisa tersenyum lebar.


"Hey! Apa yang kamu lakukan? Kamu melanggar privasiku!" ujar Alexa, sambil berusaha mengambil buku dari tangan Arthur yang mencoba menghindarinya.


"Kamu mencintaiku ... Kenapa kamu tidak mau mengakuinya?" tanya Arthur, sambil menatap Alexa lekat-lekat.


Wajah putih pucat Alexa tampak berubah jadi merah padam, saat dia menundukkan kepalanya, untuk menghindar dari tatapan Arthur.


Arthur memegang dagu Alexa, dan menariknya sedikit, hingga Alexa mendongak.


"Katakan! Aku ingin mendengarnya, dan bukan hanya membaca tulisanmu saja," ujar Arthur.


Alexa terdiam, dan bahkan terlihat gugup.


"Ayolah ...! Katakan, kalau kamu mencintaiku!" kata Arthur memaksa.


..."Aku mencintaimu."...


...———TAMAT———...


Nb:


Terima kasih sudah membaca tulisan sederhana ini sampai akhir, dan semoga coretan ini bisa menghibur.


Terima kasih banyak atas semua dukungannya, author sangat menghargainya 🤗🙏


Mohon dimaklumi segala kekurangannya yang author sadari, kalau author masih butuh banyak belajar 😔👍


Salam dari author 🤗🙏


TERIMA KASIH.