
15 Juni 1990.
22:17.
Alexa yang baru saja selesai mandi, meremak-remak rambutnya panjangnya yang masih basah dengan handuk kecil, di dalam kamar Roy.
Sedangkan Roy tampak sudah selesai merapikan kertas-kertas yang berhamburan di atas meja, dan menutup mesin tik miliknya dengan penutup khusus.
"Besok, kita bersihkan kamar kosong yang ada di seberang kamar ini ... Kamu bisa tidur di tempat tidurku malam ini, biar aku tidur di lantai," ujar Roy.
Roy yang tampak mempersiapkan tempat tidurnya di lantai, dengan memberi alas karpet tebal, dihentikan gerakannya oleh Alexa.
"Biar aku saja yang tidur di lantai," kata Alexa.
"Jangan! Semakin larut, akan terasa semakin dingin kalau kamu tidur di lantai," ujar Roy, tampak bersikeras.
Alexa kemudian memperhatikan tempat tidur Roy, lalu berkata,
"Kalau begitu, kita sama-sama saja, tidurnya di atas situ!"
Roy tampak terkejut mendengar perkataan Alexa. "Kamu pasti bercanda!"
"Tidak apa-apa. Kamu melarangku untuk tidur di lantai, lalu bagaimana mungkin, kamu berharap aku membiarkanmu kedinginan di situ," kata Alexa.
"Benar tidak apa-apa?" tanya Roy.
"Tentu saja!" jawab Alexa. "Memangnya apa masalahnya kalau kita hanya tidur saja?"
Wajah putih pucat Roy tampak merona merah padam, seolah-olah dia sedang merasa malu, namun dia tampak berusaha agar tetap terlihat biasa.
"Pffftt ...!"
"Hey! Kenapa kamu menertawakanku?"
"Kamu terlihat lucu, saat sedang grogi."
"Alexa ...! Siapa yang tidak akan grogi, kalau tidur seranjang dengan lawan jenis?"
"Karena kamu mengungkitnya, aku jadi teringat sesuatu," kata Alexa. "Kalau aku memotong pendek rambutku, apa aku masih bisa terlihat seperti perempuan?"
Alexa menggulung rambutnya hingga lehernya terekspos, dan kelihatannya yang dilakukan Alexa itu adalah kesalahan.
Karena, Roy tampak semakin grogi ketika alexa mengangkat rambutnya itu, dan memperlihatkan tengkuknya yang terbuka.
"Hentikan! Kamu bisa membuatku berpikiran yang aneh-aneh!" ujar Roy, lalu menarik turun rambut Alexa.
"Menurutku, kalau orang lain yang tidak mengenalmu, mungkin tidak akan terpikir kalau kamu itu perempuan," lanjut Roy memberikan pendapatnya.
"Bagus! ... Kalau begitu, apa kamu bisa membantuku memotong rambutku?"
"Kenapa?"
"Aku rasa, kalau aku terlihat seperti laki-laki, maka aku mungkin bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan."
Sambil ditarik Alexa dari tangannya, Roy kemudian ikut dengan Alexa ke kamar mandi, lalu membantu memotong rambut Alexa hingga menjadi pendek, seperti potongan rambut seorang laki-laki.
"Terus terang, sejak aku pindah ke kota ini, aku sering mengingatmu," celetuk Roy, sambil memotong rambut Alexa dengan gunting.
"Kenapa?"
"Aku memikirkan bagaimana keadaanmu. Apa kamu bisa bertahan? Apa kamu masih baik-baik saja? Karena....
...Meskipun kamu bilang, kalau semua hanya karena kamu yang kikuk, namun melihat bekas lebam dan luka, di wajah dan badanmu, aku sudah bisa mengira kalau itu karena ulah orangtuamu....
... Untung saja, sekarang aku bisa melihatmu lagi. Jadi berkurang rasa khawatirku," kata Roy.
"Pffftt ...! Kamu jangan membuatku merasa ingin menangis!" ujar Alexa.
"Kamu tidak percaya, kalau aku mengkhawatirkan kamu? Kamu pikir kenapa aku memberikan alamat dan nomor telepon rumahku padamu?" tanya Roy.
"Aku bahkan sempat membicarakan tentangmu kepada ayahku, namun dia berkata kalau dia tidak bisa berbuat banyak....
... Apalagi kalau kamu tidak melaporkan hal itu lebih dulu," lanjut Roy, sambil membersihkan sisa-sisa potongan rambut, yang menempel di bahu Alexa.
Alexa jadi ingat kalau pekerjaan ayah dari Roy adalah seorang jaksa, dan tentu saja mengerti dengan hukum, hingga terasa wajar, kalau Roy sampai berkonsultasi dengan ayahnya itu.
Tapi yang terpenting, Alexa merasa sangat tersentuh, karena Roy ternyata memikirkan tentangnya, dan mengkhawatirkan keadaannya.
"Maafkan aku kalau aku hanya membuatmu cemas. Aku tidak pernah mengira, kalau kamu sampai sejauh itu memikirkanku....
... Mengingat kita hanya berteman dalam hitungan bulan saja," ujar Alexa.
"Sekarang kamu sudah tahu. Jadilah adik yang baik, jangan pernah bertingkah bodoh yang bisa membuatku merasa cemas," kata Roy, lalu mengacak rambut Alexa yang sudah pendek.
"Lihat! Kalau rambutmu acak-acakan, kamu justru semakin mirip dengan laki-laki," ujar Roy, sambil memegang dagu Alexa agar berhenti bergerak, dan memandangi wajahnya di pantulan cermin.
"Tapi, tentu saja tidak begitu di mataku. Kamu tetap terlihat sebagai perempuan yang cantik—"
Roy mengambil sedikit potongan rambut Alexa, lalu meletakkannya di antara hidung dan bibir Alexa.
"... Kecuali kalau kamu menumbuhkan kumis ... Hahaha!" lanjut Roy sambil tertawa, seolah-olah sedang mengejek Alexa.
Alexa menjauhkan tangan Roy yang membuat kumis palsu di wajah Alexa itu, lalu ikut tertawa karena tingkah Roy yang tampak konyol di situ.
"Ayo kita tidur!" ajak Roy. "Pagi besok, aku harus mengantar tulisanku ke kantor surat kabar kota."
Alexa kemudian menyusul Roy keluar dari kamar mandi dengan berjalan di belakangnya, lalu kembali ke kamar tidur.
"Aku tadi lupa bertanya, apa orangtuamu tidak akan keberatan dengan adanya aku di sini?" tanya Alexa. "Apalagi, aku tidur di kamarmu."
"Tenang saja. Orangtuaku mempercayaiku. Aku kan anak yang baik?!" ujar Roy, sambil tersenyum lebar, dan tampak hampir tertawa.
Mereka berdua kemudian berbaring di atas tempat tidur bersebelah-sebelahan, dan membagi satu selimut tebal untuk dipakai berdua.
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Alexa.
"Belum. Tapi, kalau berbaring seperti ini, lama-lama juga pasti tertidur," jawab Roy.
"Apa kamu masih mau mengobrol?"
"Hmm ... Apa ada yang membuatmu penasaran?"
"Iya."
"Sudah ku duga," ujar Roy. "Apa yang mau kamu tanyakan?"
"Apa kamu tidak melanjutkan sekolahmu?"
"Tentu saja aku akan melanjutkannya. Tapi, jadwal kuliahku belum dimulai. Jadi, aku menggunakan waktuku sementara ini untuk menulis," jawab Roy.
"Bagaimana bayaran kalau menulis artikel sepertimu?" tanya Alexa penasaran.
"Menjadi penulis lepas, bayarannya sangat kecil. Aku hanya mau melakukannya, karena tidak banyak yang bisa aku lakukan," jawab Roy.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kamu mau lanjut sekolah?" tanya Roy. "Mungkin kamu bisa mendapatkan beasiswa."
"Tidak. Aku akan mencari pekerjaan saja. Lagipula, aku tidak membawa ijazahku," jawab Alexa.
"Maafkan aku. Tapi, aku merasa kalau kamu menyia-nyiakan kemampuanmu. Setahu aku, kamu itu pintar," sahut Roy.
Alexa juga tahu hal itu, meskipun Roy tidak mengungkitnya, namun Alexa memang bertekad untuk tidak perlu berurusan dengan keluarga ayahnya lagi.
Menurut Alexa, kalau dia bisa mendapatkan pekerjaan, apa saja asalkan bisa menghasilkan uang, maka dia bisa hidup mandiri.
Tidak berapa lama, di kamar yang sunyi itu, terdengar suara nafas Roy yang teratur.
Kelihatannya, Roy sudah tertidur, namun Alexa sedikitpun belum ada rasa mengantuk.
Setelah beberapa kali berpindah posisi di tempat tidur, Alexa yang masih tidak bisa tertidur walaupun sudah memejamkan matanya, akhirnya memilih untuk beranjak turun dari tempat tidur.
Lembaran kertas yang ditulis menggunakan mesin tik, tersusun rapi di atas meja belajar, menarik perhatian Alexa.
Alexa kemudian menyalakan lampu meja, dan mulai membaca artikel yang dibuat Roy di kertas-kertas itu.
Hampir habis lembaran kertas dibaca Alexa, ketika dia dikejutkan dengan tepukan di punggungnya.
"Kenapa kamu belum tidur?" Roy tampak berdiri di samping Alexa.
"Aku tidak bisa tidur," jawab Alexa.
"Huuffft ...!" Roy membuang nafas pelan dan panjang.
"Ayo berbaring lagi!" ajak Roy sambil menarik lengan Alexa, dan membawanya kembali berbaring di atas tempat tidur.
"Menghadap ke sebelah sana!" kata Roy memberi perintah, agar Alexa berbaring memunggunginya.
Tiba-tiba, terasa kalau tangan Roy sedang mengusap-usap punggung Alexa.
"Apa yang ka—" Alexa tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Sssshh! Pejamkan saja matamu!" ujar Roy menyela perkataan Alexa.
Lama kelamaan, Alexa bisa merasa jauh lebih baik, saat Roy mengusap punggungnya seperti itu, hingga akhirnya Alexa tidak ingat apa-apa lagi.