It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 34



12 Maret 2000.


19:23.


Panggilan dari Josh yang membuat ponsel Arthur hampir tidak bisa berhenti berbunyi, sudah dipastikan kalau ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Josh pada Arthur.


"Halo, Josh!" sapa Arthur setelah menerima panggilan telepon itu.


"Arthur! Di mana kamu? Segera susul ke jalan xxx daerah xxx! Suspek terlihat di sana!" Suara Josh setengah berteriak di ponsel.


Setelah mendengar perkataan Josh, Arthur tidak segera menanggapinya, melainkan, Arthur menatap Sienna lekat-lekat.


"Arthur?! Apa kamu mendengarku?" Kembali Josh berteriak dari seberang telepon. "Hey, as*hole! Can you hear me?"


Sienna tampaknya mengerti apa yang sedang terjadi, hingga dia tampak menganggukkan kepalanya, seolah-olah tidak ada masalah jika Arthur harus kembali bekerja.


"Iya, aku mendengarmu! Sebentar aku menyusul!" sahut Arthur, lalu memutus sambungan telepon dari Josh.


"Sienna. Maafkan saya. Tapi, saya harus segera pergi," ujar Arthur, sambil berdiri dari tempat duduknya, memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jaketnya.


"Iya. Anda harus bekerja. Nanti, kita bisa bicara lagi," sahut Sienna.


"Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu! Terima kasih atas waktumu," ujar Arthur, lalu setengah berlari, keluar dari kafe, dan menuju ke mobilnya yang terparkir di luar.


***


Ketika Arthur tiba di lokasi yang diarahkan oleh Josh tadi, di sana sudah terjadi kekacauan.


Dari beberapa petugas polisi yang terlihat di sana, ada yang tampak sudah berhasil meringkus beberapa berandal yang menjadi tersangka pelaku tindak kriminal.


Namun ada juga yang tampak masih sedang beradu otot, termasuk Josh, yang terlihat sedang bergulat dengan dua orang anggota komplotan penjahat, yang kelihatannya tidak mau menyerah begitu saja.


Dari kejauhan, bunyi sirine beberapa mobil dinas polisi yang tampaknya sedang mendekat ke tempat itu, bisa didengar oleh Arthur.


Namun, Arthur tidak mungkin menunda untuk beraksi, hanya untuk menunggu sampai bantuan tiba di situ.


Tanpa berlama-lama lagi, Arthur ikut di dalam pertarungan, untuk membantu Josh yang kelihatannya hampir kewalahan mengatasi lawannya.


Arthur yang tidak mau repot menghabiskan tenaganya untuk bergelut, dengan cepat mengeluarkan senjata apinya, dan melumpuhkan beberapa berandal itu sekaligus.


"Click! Baam! ... Click! Baam!


"Aaarrrghh!"


Teriakan meringis kesakitan, menggema sesaat setelah tembakan Arthur mengenai beberapa orang pelaku kriminal itu.


"Di mana senjatamu?" tanya Arthur, sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk membantu Josh untuk berdiri, setelah beberapa penjahat itu terlihat sudah tidak bisa melawan lagi.


Tanpa menunggu jawaban dari Josh, Arthur kemudian segera berlari untuk membantu rekan polisi yang lain.


"Click! Baam! ... Click! Baam!"


Kembali Arthur menarik pelatuk senjata api di tangannya, menyasar ke bagian kaki para berandal.


"Aaarrrghh!"


Beberapa penjahat yang baru saja tertembak, berteriak kesakitan.


Beberapa anggota polisi yang baru saja tiba di tempat itu dengan mobil dinasnya, terlihat segera bergerak mengatasi sisa-sisa kekacauan.


Kejadian di situ berlangsung sangat cepat, dan semua tersangka pelaku tindak kriminal itu berhasil diringkus, segera diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil dinas.


"Kamu dari mana saja?" tanya Josh, sambil mengelap senjata apinya yang terlihat kotor dengan sedikit lumpur.


"Kenapa kamu tidak menggunakan senjatamu?" Arthur balik bertanya.


"Hey! Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu datang terlambat, jadi jangan coba-coba sok tahu! Aku kehabisan peluru, karena sempat beradu tembak," ujar Josh yang menaikkan nada suaranya.


"Lap mulutmu! Bibirmu berdarah!" ujar Arthur, ketika melihat sedikit darah mengalir di sudut bibir Josh.


Josh hanya menyeka darahnya itu dengan menggunakan tangannya. "Ini pasti akan bengkak besok pagi."


"Apa kamu membawa mobilmu ke sini tadi?" tanya Arthur sambil melihat ke sana kemari, mencari di mana mobil Josh terparkir.


"Tidak. Aku tadi ikut di mobil dinas," jawab Josh.


***


"Kamu belakangan ini, jadi semakin sering menghilang. Apa yang kamu lakukan di luar?" tanya Josh, ketika mobil yang dikendarai oleh Arthur mulai melaju di jalanan.


Arthur tidak menjawab pertanyaan Josh, melainkan sibuk membelokkan mobilnya, hingga menepi di pinggir jalan.


Arthur membelikan sekaleng minuman dingin dari dalam minimarket yang disinggahinya itu, lalu memberikannya kepada Josh.


"Untuk wajahmu!" ujar Arthur, lalu kembali memacu mobilnya di jalanan.


***


23:03.


Setibanya mereka di kantor polisi, Arthur segera memasuki ruangannya lalu berbaring di sofa.


Arthur benar-benar kelelahan, ditambah lagi, Josh yang seakan-akan tidak bisa berhenti bertanya, hanya membuat Arthur semakin merasa penat.


"Setidaknya bantu aku buat laporan," celetuk Josh yang menyusul Arthur ke ruangan itu.


"Sebentar. Nanti aku kerjakan. Aku hanya ingin berbaring sebentar," ujar Arthur.


"Apa Alexa baik-baik saja?" tanya Josh tiba-tiba.


"Kenapa kamu tidak mengunjunginya saja?" sahut Arthur asal-asalan.


"Apa kamu mengacau kali ini?" tanya Josh lagi.


"Aaarrrghh! Josh! ... Aku sangat lelah. Apa kamu bisa berhenti bertanya?" sahut Arthur, sambil berbalik memunggungi Josh.


Kemungkinan, Josh yang berjalan pergi keluar dari ruangan itu, karena Arthur bisa mendengar suara langkah yang menjauh, hingga akhirnya menghilang.


Seharian ini, saking sibuknya dengan pekerjaannya, Arthur tidak sempat menemui Alexa di rumah sakit.


Berbincang-bincang dengan Sienna pun, hanya membuat Arthur semakin penasaran, karena percakapan mereka terpotong di tengah jalan.


Semua karena kota sialan ini yang tindak kejahatannya seolah-olah tidak ada habisnya, hingga membuat pekerjaannya juga semakin padat, pikir Arthur.


"Huuffft ...!" Arthur mendengus kesal.


Ketika Arthur bangkit dari sofa, Josh juga terlihat berjalan masuk kembali ke ruang kerja mereka itu.


Arthur duduk di kursi kerjanya, lalu mulai mengisi berkas laporan akan pekerjaan mereka yang baru saja selesai mereka lakukan.


"Ini!" Josh menyodorkan segelas kopi ke atas meja. "Berharap saja tidak ada aduan baru malam ini. Aku sudah sangat lelah, dan ingin tidur nyenyak sampai pagi."


Arthur menyesap sedikit kopinya, lalu lanjut mengisi berkas laporan yang sedang ada dihadapannya.


Sesekali, Arthur melirik Josh yang tampak tersandar di sofa.


Di bagian sudut bibir Josh yang sempat terluka karena perkelahian tadi, sekarang terlihat mulai membiru.


"Kenapa kamu tidak mengompres wajahmu?" tanya Arthur.


"Minuman yang tadi sudah tidak dingin lagi. Percuma saja aku menempelnya di wajahku," sahut Josh.


***


Baru saja Arthur selesai mengisi berkas laporan kerja mereka, dan berniat mengantarnya ke ruang administrasi, perangkat radio di dalam ruang kerjanya, mengeluarkan suara yang memanggil tim Arthur untuk menangani aduan tindak kejahatan baru.


"Huuffft ...! Aku rasanya akan mati kelelahan," ujar Josh sambil mendengus kesal.


Menurut Arthur, mereka berdua mungkin memang bisa mati saking lelahnya bekerja, yang sudah lebih dari dua puluh jam non-stop.


Sedangkan jam istirahatnya, hanya dengan jeda waktu beberapa menit dari setiap kasus yang mereka tangani.


"Detektif Baker! Detektif Smith!"


Panggilan dari radio yang menyebut nama Arthur dan Josh, sudah kesekian kalinya terdengar, mau tidak mau, Arthur menyeret kakinya untuk kembali bekerja.


"Ayo, Josh! Kita pakai mobilku saja!" ajak Arthur.


Tidak berapa lama, Arthur bersama Josh dan beberapa orang rekan polisi yang lain sudah berada di TKP.