It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 35



28 Mei 1997.


'SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU! TERUNTUK PASANGAN YANG BERBAHAGIA : ROY HOOVER DAN CLAIRE WILLIAM.'


Tulisan berukuran besar itu diperhatikan Alexa baik-baik, untuk memastikan kalau dia tidak salah melihatnya.


Alexa mencubit lengannya sendiri, namun rasa sakit menyadarkannya kalau dia memang tidak sedang bermimpi.


"Alexa! Ada apa denganmu?" tanya Mark yang tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Ugh ...?" Alexa tidak tahu harus berkata apa.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Mark.


Alexa ternyata tanpa sadar telah meneteskan air matanya, dan akhirnya Alexa buru-buru menyambar dengan punggung tangannya, air mata yang sudah terlanjur mengalir di wajahnya.


Mark yang bertanya, kemudian melihat ke arah karangan bunga yang dilihat Alexa tadi, lalu kembali menatap Alexa.


"Kamu tidak terlalu lelah, kan?" tanya Mark lagi.


"Iya, Sir!" jawab Alexa. "Ada apa?"


"Aku ingin berjalan-jalan sebentar di kota ini. Kamu bisa mengantarkan aku, kan?"


Mark tampaknya sedang beralasan, untuk membawa Alexa pergi dari tempat itu untuk sementara waktu, dan walaupun Alexa sudah bisa menduganya, namun Alexa tidak bisa menolak ajakan Mark.


"Kalian bisa pergi ke kamar kalian lebih dulu! Saya akan berjalan-jalan dengan Alexa saja," kata Mark kepada pengawalnya dan Benny.


"Tapi, Sir!" kata bodyguard Mark yang tampaknya tidak setuju dengan apa yang ingin Mark lakukan.


"Tidak apa-apa. Tidak ada yang bisa serta-merta mengenali saya begitu saja," ujar Mark yang tampak masa bodoh, berbalik dan berjalan mengarah ke luar dari hotel.


Alexa segera menyusulnya, meninggalkan Benny dan pengawal Mark yang tampak kebingungan.


"Pergi ke daerah xx. Di sana ada sebuah kafe terbuka yang menjadikan aliran sungai sebagai pemandangannya," kata Mark memberi arahan kepada Alexa, ke mana dia mau pergi.


***


Dua cangkir kopi dan dua potong tart buah, disajikan pelayan kafe, di mana tempat Alexa dan Mark sekarang ini duduk.


Sambil duduk menghadap ke arah sungai, Alexa harus mengakui, kalau tempat itu memang terasa tenang dan nyaman, hingga membuatnya bisa bernafas sedikit lega.


"Kamu bukan penyuka sesama jenis, kan?" tanya Mark tiba-tiba.


"Ugh ...? Tentu saja tidak, Sir!" jawab Alexa.


"Kalau begitu, aku anggap kalau kamu mengenal calon pengantin prianya. Benar begitu?" ujar Mark, lalu menghembuskan asap rokok dari mulutnya ke udara.


"Iya. Dia teman sekolahku dulu."


Entah mengapa, mungkin karena pikirannya yang masih kacau dan tidak bisa berpikir jernih, Alexa bisa dengan mudahnya memberitahu Mark tentang hal pribadinya.


"Apa kamu mencintainya?" tanya Mark.


Alexa yang sejak tadi, memandang ke arah sungai, lantas menoleh ke arah Mark yang tampak sedang menatap Alexa lekat-lekat.


"Ternyata benar," ujar Mark, walaupun Alexa tidak menjawab pertanyaannya.


"Apa dia menolak cintamu? Atau hubungan kalian berakhir dengan kekacauan?" tanya Mark.


"Huuffft ...!" Alexa mendengus. "Dia bahkan tidak tahu kalau aku menyimpan perasaan untuknya."


"Oh, begitu ya?! Hampir saja aku mengacaukan pernikahan mereka," sahut Mark.


"Ugh ...? Kenapa anda bisa memikirkan hal itu, Sir?" tanya Alexa heran.


"Iya. Kalau laki-laki itu mempermainkanmu, maka dia tidak akan aku biarkan untuk menikah dengan sepupuku. Karena bisa saja, kan?! Kalau dia juga hanya mempermainkan sepupuku itu," jawab Mark.


"Tapi, kenapa kamu tidak memberitahunya, kalau kamu mencintainya?" lanjut Mark yang tampak penasaran.


"Hubungan kami seperti kakak dan adik. Aku terlalu takut untuk mengutarakan perasaanku. Karena aku khawatir, kalau hal itu hanya akan membuat hubungan kami menjadi renggang," jawab Alexa.


Perkataan Mark memang ada benarnya.


Kalau saja Alexa berani mengutarakan perasaannya kepada Roy, mungkin dia tidak akan terlalu kecewa, saat melihat Roy menikah dengan orang lain.


Saat itu Alexa terlalu takut kalau dia nanti tidak akan bisa berhubungan lagi dengan Roy, namun kenyataan yang terjadi, meskipun dia tidak mengatakan apa-apa, Alexa tetap hilang kontak dengan Roy.


Sejak pertemuan mereka terakhir kali, hingga beberapa tahun belakangan ini, baru kali ini Alexa mendengar kabar tentang Roy, dan hanya menjadi kabar yang menghancurkan hati Alexa.


Alexa kemudian terpikir, bagaimana kalau waktu itu dia mengakui pada Roy kalau dia mencintainya, apa mungkin keadaannya sekarang akan berbeda?


Sebatang rokok kemudian dinyalakan oleh Alexa, dan menghirup asapnya dalam-dalam.


Sudahlah ... Semua sudah terlambat. Masa lalu biarlah berlalu. Semoga Roy berbahagia dengan wanita pilihannya, pikir Alexa.


"Kamu memang kuat, atau hanya berpura-pura agar terlihat kuat, dan seakan-akan tidak terganggu lagi akan pernikahan orang yang kamu cintai?" tanya Mark.


"Semuanya sudah terjadi, Sir! Rasanya sia-sia kalau aku masih harus terus memikirkan, dan sekedar menyesali sifat pengecutku di masa lalu," jawab Alexa datar.


"Okay, okay! Itu cara berpikir yang bagus!" ujar Mark.


Baik Mark maupun Alexa, kemudian hanya terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Mark berkata,


"Pantas saja kamu tampak tidak tergerak dengan semua yang aku lakukan untukmu."


"Apa maksud anda, Sir?" tanya Alexa pura-pura bodoh.


"Aku menyukaimu. Semua yang aku lakukan selama ini, sengaja untuk mendekatimu. Apa kamu tidak menyadarinya?" ujar Mark.


"Anda jangan berbicara omong kosong, Sir!" sahut Alexa menghindar.


"Aku menyukaimu. Sungguh-sungguh menyukaimu. Itu bukan omong kosong!" ujar Mark menekankan.


"Aku akan memberikan hadiah pernikahan yang bagus, untuk sepupuku dan calon suaminya itu. Karena dengan menikahnya mereka berdua, mau tidak mau, kamu harus melupakan cintamu untuk laki-laki itu....


... Dengan begitu, aku akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan hatimu," lanjut Mark, yang tampak tidak perduli akan apa yang akan menjadi tanggapan Alexa.


"Tolong hentikan, Sir! Saya tidak mau membahas tentang hal itu," sahut Alexa.


"Apa sekarang kita bisa kembali? Saya lelah, Sir! Saya ingin tidur sebentar," lanjut Alexa buru-buru, agar Mark berhenti membahas tentang perasaannya untuk Alexa.


"Baiklah! Ayo kita kembali ke hotel!" ajak Mark, sambil berdiri dari tempat duduknya.


***


Alexa yang baru saja memarkirkan mobilnya, di pelataran parkir hotel itu, tidak bisa melangkah lebih jauh, dan hanya terpaku di tengah-tengah parkiran.


Dari tempatnya berdiri, Alexa bisa melihat sosok yang dikenalinya tampak berdiri di luar di dekat pintu masuk hotel.


"Sir! Saya tidak ikut masuk. Saya akan pergi ke gudang," ujar Alexa, membuat Mark menghentikan langkahnya, dan berbalik melihat Alexa.


"Jangan bercanda! Apa kamu mau aku harus menghubungi kantormu, setiap kali aku membutuhkanmu?" tanya Mark.


"Maaf, Sir! Saya benar-benar tidak bisa ikut masuk ke dalam hotel itu."


Alexa berbicara, sambil memandangi Roy yang tampaknya tidak menyadari keberadaan Alexa di situ.


Mark ikut melihat kemana mata Alexa memandang, lalu tiba-tiba, Mark menghampiri Alexa dan merangkul pinggangnya, dan membawa Alexa agar ikut berjalan bersamanya.


"Sir! Apa yang anda lakukan?" tanya Alexa.


"Ikuti saja aku! Atau kamu lebih suka kalau terjadi keributan di sini?" sahut Mark memaksa.


Alexa tentu saja tidak mau menarik perhatian orang-orang yang ada di sana, terlebih lagi kalau sampai menarik perhatian Roy.


Walaupun langkah kakinya terasa berat, Alexa akhirnya mengikuti Mark, yang berjalan sambil merangkul pinggang Alexa itu.


Kurang lebih lima kaki, jarak antara Alexa dan Roy, tampak seorang wanita yang wajahnya juga dikenali oleh Alexa, memeluk Roy dari sampingnya.


Alexa tidak bisa berjalan lagi, dan benar-benar berhenti terdiam di situ, sambil menatap Roy yang sekarang ini juga ikut menatap Alexa.