It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 18



29 Januari 2000.


18:30.


Walaupun Arthur sempat menangkap basah perubahan di raut wajah Alexa, namun dia sama sekali tidak berminat untuk bertanya kepada Alexa.


Arthur memilih untuk menunggu Alexa yang membuka percakapan lebih dulu, kalau Alexa memang mau membicarakannya.


"Apa pelaku—yang membunuh anak kecil, yang kasusnya ditangani Arthur dan Josh—nya sudah tertangkap?" tanya Alexa.


"Ada seseorang yang diduga menjadi tersangka utama. Tapi, masih butuh pemeriksaan lebih lanjut," jawab Arthur. "Kenapa?"


"Umm ... Tidak apa-apa. Aku hanya teringat akan anakku," jawab Alexa terdengar sedih. "Tapi, aku yakin anakku baik-baik saja. Sebagai pewaris utama, dia pasti dirawat dengan baik."


Alexa kemudian tampak mengubah raut wajahnya lagi, seolah-olah tidak ada apa-apa yang mengganggunya.


"Bagaimana bahumu?" tanya Alexa.


Bagi Arthur, pertanyaan Alexa itu menampakkan dengan jelas, kalau dia sedang berusaha mengalihkan pembicaraan yang tidak mau dibahasnya lebih jauh.


Dan Arthur juga tidak mau, jika dia harus melihat raut wajah sedih Alexa, hanya karena rasa ingin tahunya.


Arthur menggerakkan sedikit jari-jari tangannya. "Masih perlu waktu hingga benar-benar pulih."


Di bagian kiri bahu Arthur yang cedera, Alexa tiba-tiba memegang jari-jari tangan Arthur, sambil memijatnya pelan, lalu berkata,


"Kamu harus sering-sering menggerakkan jari-jarimu, kalau kamu tidak mau ototnya makin kaku."


Alexa menatap jari-jari tangan Arthur yang sedang dipegangnya, lalu mengangkat pandangannya, melihat ke mata Arthur dengan tatapan penuh tanya. "Kamu kidal?"


Arthur mengangguk pelan. "Iya. Bagaimana kamu bisa tahu?"


Alexa tersenyum. "Mudah saja. Ini! ..." Alexa menunjukkan bagian kulit yang mengeras, di telapak tangan kiri Arthur itu.


"... Tanganmu yang sebelah kanan, waktu berpegangan tangan denganku, tidak ada bagiannya yang teraba seperti ini," lanjut Alexa.


Menurut Arthur, walaupun Alexa memegang jari-jari tangan Arthur itu, Alexa tampak memegangnya dengan rasa ragu dan berhati-hati.


Seolah-olah, Alexa hanya memaksakan dirinya agar berani untuk menyentuh Arthur, karena tangan Alexa terasa seperti sedang gemetaran.


Dan kelihatannya memang benar dugaan Arthur, Alexa akhirnya melepaskan pegangannya dari jari-jari tangan Arthur itu.


Arthur mengambil tangan Alexa, lalu mengarahkannya kembali ke tangan Arthur yang cedera.


"Apa kamu bisa tetap melakukannya? Rasanya, lebih baik saat ada yang membantu menggerakkan jari-jariku itu," kata Arthur beralasan, agar Alexa tetap menyentuhnya.


Alexa tampak menatap Arthur lekat-lekat, namun mau saja menuruti permintaan Arthur, dan kembali memijat-mijat pelan jari-jari tangan Arthur.


"Sewaktu aku masih sekolah dulu, aku pernah mengalami cedera bahu, hingga membuatku harus keluar dari tim basket sekolah," kata Alexa.


"Hanya cedera karena berolahraga saja, sakitnya tidak tertahankan. Entah bagaimana yang kamu rasakan, saat terkena luka tembak seperti itu," lanjut Alexa lagi.


"Umm ... Rasanya sakit. Tapi, sekarang sudah jauh lebih baik," sahut Arthur. "Apalagi kalau kamu memijatku seperti sekarang ini."


"Pffftt ...! Kamu pasti bercanda," ujar Alexa sambil tersenyum lebar. "Sebelumnya, apa kamu pernah tertembak?"


"Pernah dua kali. Satu kali di sini...." Arthur menunjuk paha di kaki kanannya. "... Yang satunya lagi di punggung."


Secara spontan, Arthur terpikir untuk mengajak Alexa untuk bercanda.


"Yang paling sakit, saat tertembak di sini! ..." Arthur menunjuk ke arah matanya. "... Tapi, sakitnya di sini!" lanjut Arthur sambil menunjuk bagian dadanya sebelah kiri, di mana letak jantungnya berada.


"Kamu bilang hanya pernah tertembak dua kali?!" ujar Alexa, dengan memasang raut wajah kebingungan.


"..." Arthur hanya terdiam menatap Alexa, sambil tersenyum untuk beberapa saat, hingga akhirnya Alexa tampak mengerti apa maksud Arthur.


"Pffftt ...! Bodohnya aku," ujar Alexa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tersenyum lebar. "Aku malah menganggap kalau kamu sedang bicara serius."


"Gurauanku berarti terlalu garing," sahut Arthur.


"Umm ... Bukan begitu," kata Alexa. "Hanya saja, seingatku, candaan seperti itu biasanya hanya dipakai anak muda."


"Jadi, apa kamu menganggapku sudah tua?" tanya Arthur, sambil membesarkan matanya.


"Bisa jadi ... Hahaha!" Alexa tertawa dengan menutup mulutnya dengan tangannya. "Tidak ... Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda."


"Kamu lelah?" tanya Arthur.


"Terlalu lama duduk. Punggungku terasa pegal," jawab Alexa.


Arthur memandangi Alexa yang masih berdiri, dan tampak melihat ke arah luar jendela dengan matanya yang berkilauan, terkena pantulan cahaya lampu ruang istirahat perawat itu.


"Matamu indah...." Tanpa dia sadari, Arthur berceletuk mengeluarkan kata-kata yang sedang dipikirkannya.


Alexa menoleh.


Kedua alis Alexa tampak terangkat, dengan matanya yang ikut melebar, Alexa tampak terkejut mendengar perkataan Arthur, lalu menatap Arthur lekat-lekat.


"Apa yang kamu bilang tadi?" tanya Alexa.


"Ugh ...?" Arthur kebingungan.


"Kamu bilang apa tadi?" Alexa mengulang pertanyaannya, sambil kembali duduk di dekat Arthur.


"Memangnya aku tadi mengatakan sesuatu?"


"Iya. Apa yang indah? Mataku, katamu?"


Arthur tersipu malu. "Apa aku mengucapkannya dengan keras?"


"Pffftt ...!" Alexa tertawa tertahan. "Iya. Hingga aku bisa mendengarnya."


"Tap! Tap! Tap!"


Suara sol sepatu yang berbenturan dengan lantai keramik, terdengar semakin mendekat ke arah ruangan di mana Arthur dan Alexa berada.


"Tuan Smith!"


Seseorang berseru memanggil Arthur, hingga Arthur dan Alexa secara bersamaan melihat ke arah datangnya suara.


"Sebentar lagi. Hanya tersisa waktu sebentar lagi," kata seorang perawat yang sudah berdiri di pintu. "Anda bisa memanfaatkannya untuk berpamitan."


"Okay!" sahut Arthur. "Terima kasih!"


Perawat itu kemudian terlihat berlalu pergi lagi dari tempat itu, tampak memberikan kesempatan kepada Arthur dan Alexa untuk mengobrol sebentar lagi, walau hanya sekedar berpamitan.


"Aku belum puas bersama denganmu. Tapi kelihatannya, mau tidak mau aku harus pergi sekarang...." ujar Arthur dengan perasaan kecewa.


Alexa tersenyum, lalu membuka kedua tangannya lebar-lebar, seolah-olah memberikan kesempatan bagi Arthur untuk memeluknya.


"Tidak apa-apa?" tanya Arthur ragu.


"Aaah! Kamu merusak suasananya saja!" ujar Alexa, lalu mendekat lebih dulu, dan memeluk Arthur.


"Kalau kamu masih ingin bertemu denganku, kamu tahu saja kan, di mana kamu bisa menemukanku?" ujar Alexa sambil tertawa kecil.


Arthur yang membalas pelukan Alexa meski hanya dengan sebelah tangannya, mendengus kasar di bahu Alexa. "Huuffft ...!"


"Alexa ...!" seru Arthur setengah berbisik di telinga Alexa. "Apa mungkin kamu bisa membuka hatimu untukku, walau hanya sedikit?"


Alexa menurunkan tangannya, hingga hampir terlepas dari pelukan Arthur. "Jangan memulainya lagi!"


Namun Arthur menahannya, agar Alexa tetap menempel di badannya. "Biarkan aku memelukmu sebentar lagi ...!"


"Arthur! Kamu tahu bagaimana situasiku sekarang, kan?" tanya Alexa.


Arthur mengangguk pelan. "Aku tahu. Tapi—"


"Lalu, bagaimana kamu masih bisa berharap sesuatu yang tidak mungkin?" tanya Alexa menyela perkataan Arthur.


Arthur membenamkan wajahnya di bahu Alexa, menghirup aroma harum dari tubuh wanita itu sebisanya.


Dan tak dinyana, Arthur merasa kalau Alexa mengusap-usap dengan lembut bagian belakang kepala Arthur, seolah-olah Alexa sedang berusaha menenangkan Arthur di situ.


"Seandainya, aku mungkin bisa memberi sedikit hatiku untukmu. Tapi tetap saja, tidak ada sesuatu yang lebih dari itu yang bisa kamu harapkan," ujar Alexa pelan.


"Sebaiknya, kamu berusaha lebih keras untuk menyingkirkan perasaan lebih dari teman padaku," lanjut Alexa.


"Huuffft ...!" Arthur kembali mendengus. "Apa yang harus aku lakukan?" Sambil Arthur mempererat pelukannya.