It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 28



29 Februari 2000.


Suasana hati Alexa, kelihatannya memang sedang bagus hari ini.


Alexa tampak ikut-ikutan bercanda dengan Arthur yang menggodanya lebih dulu.


"Maaf, Detektif! Jadi anda hendak menangkap saya? Atas dasar alasan apa?" ujar Alexa, tampak menahan tawa di wajahnya.


"Jangan banyak bertanya! Anda sudah tertangkap basah telah melakukan tindak kejahatan penipuan. Anda harus ikut saya ke kantor! Anda bisa menjelaskan di sana nanti!" sahut Arthur.


"Hey! Anda tidak bisa main tangkap sembarangan. Anda bahkan belum membacakan hak-hak saya! Saya bisa balik menuntut anda ... Hahaha!" Alexa akhirnya kembali tertawa lepas.


Arthur tersenyum lebar, dan tanpa dia sadari lagi, dia sedang menatap Alexa hingga seakan-akan lupa caranya untuk berkedip.


Dengan menggunakan ibu jarinya, Alexa tampak mengelap ujung-ujung matanya yang tampak sedikit basah dengan air mata, karena terlalu banyak tertawa.


"Feels great!" ujar Alexa sambil tersenyum, setelah mengatur nafasnya. "Tidak pernah merasa lebih baik dari ini!"


"Aku tahu kalau bukan karena itu—" Dengan matanya, Alexa menunjuk ke arah bahu kiri Arthur.


"... alasanmu yang sebenarnya, hingga kamu tidak pernah mengunjungiku untuk beberapa waktu belakangan ini, kan?" lanjut Alexa.


Arthur terdiam sejenak. "Iya."


Alexa tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti.


"Apa aku bisa meminta rokokmu? Aku tadi belum sempat meminta mereka—perawat yang biasa membantu Alexa—membelikan yang baru untukku," ujar Alexa.


"Tentu saja," sahut Arthur.


Arthur kemudian mengeluarkan bungkusan rokok dari saku jaketnya, lalu menyodorkannya kepada Alexa.


Alexa tampak santai menyalakan sebatang rokok, dan segera menghisap asapnya dalam-dalam.


"Mark William," celetuk Alexa tiba-tiba, sambil menatap lurus ke depannya. "Laki-laki itu lebih gila dariku."


"Aku tidak takut dengannya!" ujar Arthur mantap.


Alexa tersenyum lebar, sambil menatap Arthur lekat-lekat.


"Iya. Mungkin benar begitu. Tapi itu justru yang aku takutkan," sahut Alexa.


"Jujur saja, selama kamu tidak mengunjungiku di sini, aku banyak menghabiskan waktuku untuk berpikir. Aku bahkan membuat perjanjian dengan diriku sendiri....


...Kalau kamu memang tidak datang lagi, maka aku juga akan melupakan semuanya tentang pertemuan kita....


... Namun, kalau sampai kamu kembali menemuiku, maka aku harus membuat pengakuan padamu, kalau sebenarnya aku juga menyukaimu, sejak pertama kali kita bertemu di tempat ini," kata Alexa.


Arthur merasa kalau jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat, setelah mendengar perkataan Alexa.


Nafas Arthur juga tiba-tiba jadi sesak, karena rasa senang yang berlebihan.


"Tapi, kamu jangan salah paham. Aku membuat pengakuan, bukan berarti aku berharap agar kamu akan menjadi bagian dalam hidupku....


...Aku mengutarakan apa yang aku rasakan, justru untuk membuatmu sadar, kalau aku mendorongmu menjauh, bukan hanya sekedar menolakmu karena aku tidak menyukaimu, apalagi membencimu....


...Sebaliknya, karena aku menyukaimu, makanya aku khawatir kalau-kalau nanti terjadi sesuatu yang buruk padamu....


... Karena selama aku hidup, orang-orang yang benar-benar aku perdulikan dan aku sayangi, selalu saja bernasib naas selama masih berhubungan denganku," lanjut Alexa.


Kelanjutan dari perkataan Alexa yang memberi penjelasan pada Arthur, cukup untuk membuat Arthur merasa terganggu, dan melupakan rasa senangnya tadi.


"Jadi, kamu merasa kalau kamu adalah pembawa sial? Itu maksudmu? Aku tidak menyangka kalau kamu ternyata sebodoh itu," ujar Arthur sinis.


"Humph! ... Percaya akan takdir? ... Coba kamu pikirkan!" ujar Arthur sinis.


"Dari semua orang yang ada di dunia ini, aku bisa bertemu dan jatuh hati padamu, saat kamu pertama kali dibawa ke sini....


...Dan bagaimana denganku, yang secara tiba-tiba menemukan kembali pemantik bodoh itu, setelah terlupakan bertahun-tahun lamanya....


...Lalu, aku bisa dengan tanpa sengaja melihat UNE SAISON EN ENFER di susunan buku koleksi lama, dan terpikir untuk memberikan A SEASON IN HELL kepadamu, yang ternyata bisa membuatmu meloncat kegirangan....


...Tanggal lahirmu yang hanya ada di empat tahun sekali. Tapi lihatlah hari ini! ... Itu takdir apa? Apa kamu yakin kalau itu hanya takdir untuk menuju kesialan? Kenapa kamu sebodoh itu?...


... Kenapa kamu tidak bisa berpikir dan menerima, kalau mungkin ada hal yang baik yang menunggu dari semua garis takdir kita berdua yang bisa bersentuhan."


Arthur bicara dengan rasa geram, dan tidak mau memberi kesempatan bagi Alexa untuk membantahnya, melainkan ingin agar Alexa harus memikirkannya dulu baik-baik.


"Jadi apa maumu? Apa kamu kira kalau aku menerima saja, seolah-olah takdir memang sengaja mempertemukan kita, so we gonna live happily ever after?" tanya Alexa.


"Jangan konyol! Someone will get hurt!" lanjut Alexa.


"Okay! Mungkin akan ada yang terluka. Siapa? Lalu, apa? Kamu yang memaksa agar aku melupakanmu, sedangkan aku sudah tahu kalau kamu memiliki perasaan yang sama untukku...


... Apa kamu yakin kalau aku nantinya akan baik-baik saja?" ujar Arthur tidak mau kalah.


"Are you stupid? Aku sudah menikah!" kata Alexa dengan suara meninggi.


"Kamu yang bodoh! Kamu bilang kalau kamu menyukaiku, kan? Aku bukan hanya sekedar menyukaimu ... I'm in love with you....


...Bantuan apa yang kamu butuhkan dariku, agar bisa terlepas dari laki-laki brengsek yang memaksakan kehendaknya untuk menjadi suamimu?...


... Aku bukanlah laki-laki pengecut, atau laki-laki biasa yang tidak bisa berbuat apa-apa. So, use me! Aku akan melakukan apa saja untukmu!" ujar Arthur tegas.


"Apa yang kamu tahu?" tanya Alexa sinis.


"Aku tahu kalau kamu tidak mencintai laki-laki brengsek itu. Justru yang aku tidak tahu, apa kamu sedang bicara jujur tentang menyukaiku atau tidak," jawab Arthur.


"Jadi kamu mau bilang kalau aku ini adalah seorang pembohong?" tanya Alexa lagi.


"Humph! ... Lihat! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan sekarang ini? Kamu tidak perduli dengan tanggapanku tentang laki-laki itu, kamu malah terfokus padaku....


... Tapi, kamu juga tidak mau berusaha untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan bersamaku," kata Arthur, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Perdebatan antara Arthur dan Alexa seakan-akan tidak akan bisa berakhir, hingga Arthur benar-benar merasa geram.


"Arthur, please ...! I can't take it anymore ...! Apa yang kamu inginkan untuk aku lakukan?" ujar Alexa pelan, seolah-olah dia juga merasa frustrasi dengan pembahasan mereka itu.


Arthur menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan, untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Bicara. Katakan saja apa yang sebenarnya kamu inginkan, tanpa perlu mencemaskan apa-apa," jawab Arthur.


"Aku mau bercerai dengannya. Aku mau dia menghilang dari hidupku selamanya. Apa kamu bisa membantuku, agar aku bisa membunuhnya?" sahut Alexa.


"..." Arthur terdiam sejenak, sambil menatap Alexa lekat-lekat.


"Lihat! Tidak semudah itu, bukan?" ujar Alexa, lalu mendengus kasar. "Huuffft ...!"


"Sekarang, semuanya aku biarkan kamu sendiri yang menentukan apa yang kamu inginkan. Karena kita berdua adalah orang dewasa, yang mengerti dengan baik konsekuensi dari apa yang kita perbuat....


...Seandainya kamu tetap yakin untuk tetap berhubungan denganku, aku tidak akan mendorongmu untuk menjauh dariku lagi....


...Namun aku hanya ingin berpesan, agar kamu selalu waspada dalam setiap gerak-gerikmu, dan jangan sampai menarik perhatian dari Willing Grup....


... Jaga dirimu baik-baik! Sebab, kalau sampai terjadi apa-apa padamu karena aku, maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri lagi," lanjut Alexa.