It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 18



18 Juni 1992.


14:40.


"Kelihatannya tidak ada yang aneh di sekitar sini," celetuk Louis, setelah berulang kali memastikan keadaan di jalanan sekitar bersama Alexa.


"Kelihatannya memang begitu. Sekarang sudah waktunya kita pergi menjemput Sir Ruppert," kata Alexa, kemudian berjalan kembali ke dalam rumah.


Alexa menahan diri sebentar, sebelum mengajak Madam Ruppert untuk keluar dari rumah, karena Madam Ruppert terlihat sedang berbicara di telepon.


Setelah melihat Madam Ruppert meletakkan gagang telepon kembali ke tempatnya, Alexa kemudian berkata,


"Madam. Sudah waktunya saya menjemput Sir. Apa Madam jadi ikut dengan kami?"


Madam Ruppert melihat arloji di tangannya, lalu tampak berdiri dari tempatnya duduk. "Iya. Saya ikut dengan kalian. Saya sudah membicarakannya dengan Sir barusan."


Dengan berjalan di belakangnya, Alexa menyusul Madam Ruppert yang berjalan lebih dulu keluar dari rumah.


"Bahan bakar mobil ini harus di tambah. Tidak akan cukup untuk dipakai ke distrik Utara kota," ujar Alexa, sesaat setelah menyalakan mesin, ketika Madam Ruppert dan Louis sudah masuk ke dalam mobil.


Sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, Alexa menyesali kecerobohannya yang tidak memperhatikan bahan bakar di sedan Volvo itu.


"Agar kita tidak perlu singgah di jalan, mungkin sebaiknya kita memakai SUV saja?" tanya Louis.


Alexa menganggap saran Louis itu mungkin pilihan terbaik, dan Alexa bisa menambah bahan bakar sedan Volvo, saat Sir dan Madam Ruppert sudah kembali ke rumah nanti.


"Maaf, Madam. Kita harus berganti mobil," ujar Alexa, lalu keluar dari mobil, dan membukakan pintu mobil untuk Madam Ruppert.


"Tidak masalah," sahut Madam Ruppert.


Akhirnya mereka semua berpindah ke SUV yang terparkir di dalam garasi itu, dan Alexa segera menyalakannya untuk memanaskan mesinnya sebentar.


Alexa memundurkan mobil itu keluar dari garasi, hingga mencapai jalan raya.


"Alexa! Hati-hati!" ucap Madam Ruppert berpesan.


"Iya, Madam," sahut Alexa.


"Louis! Kamu bantu aku perhatikan di bagian belakang mobil, kalau-kalau ada lagi yang mencurigakan," kata Alexa.


Meskipun masih merasa khawatir, Alexa mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang, dan sesekali mengawasi sekitarnya dengan melihat di kaca spion.


Namun, hingga mereka mencapai bagian Utara kota, kelihatannya tidak apa-apa yang mengkhawatirkan, hingga Alexa bisa bernafas cukup lega.


Alexa berharap, agar supaya mereka tetap dalam situasi aman, hingga mereka kembali ke kediaman keluarga Ruppert, setelah Sir Ruppert ikut di dalam kendaraan yang dikendarai oleh Alexa itu.


"Kenapa tidak memakai Volvo?" tanya Sir Ruppert, yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Maaf, Sir. Seharusnya tadi, saya memang menambah bahan bakarnya. Tapi, saya benar-benar tidak ingat saat kembali dari mengantar Sir pagi tadi," jawab Alexa.


"Tidak perlu kamu repot hanya dengan kendaraan apa yang kita pakai! ...


... Apa kamu lupa yang aku bicarakan di telepon tadi? Jika saja Alexa tidak lihai mengemudi, belum tentu aku bisa pulang dengan selamat," ujar Madam Ruppert menimpali dengan nada ketus.


Kalau begitu, Sir Ruppert lah yang menjadi lawan bicara Madam Ruppert tadi, saat Alexa akan mengajaknya pergi menjemput Sir Ruppert.


Tapi hal itu tidaklah penting, Alexa justru merasa sedikit terganggu, karena selama dia bekerja bersama keluarga Ruppert, baru kali ini Alexa bisa mendengar Madam Ruppert menaikkan nada suaranya saat bicara kepada Sir Ruppert.


Kelihatannya, sekarang ini Madam Ruppert benar-benar merasa kesal dengan suaminya itu.


Sepintas, saat Alexa mengintip ke arah jok penumpang di belakangnya lewat kaca spion, Alexa bisa melihat kalau Sir Ruppert tampak memasang wajah sedih.


"Semenjak kami masih di depan restoran tempat Madam melakukan pertemuan, saya merasa kalau seolah-olah ada yang sedang memperhatikan gerak-gerik kami....


... Hingga akhirnya kami mulai berlalu pergi dari sana, sebuah mobil dengan model dan warna yang mirip, tampak aneh menyusul di belakang, dan mengikuti ke mana saja arah mobil kami pergi," jawab Alexa menjelaskan.


"Kata Madam, Alexa mengemudi dengan kecepatan tinggi," ujar Sir Ruppert.


"Iya, Sir. Tadi saya menganggap kalau itu adalah rencana terbaik yang bisa saya pakai, untuk menghindari penguntit di jalur jalanan yang sepi. Maafkan saya, Sir!" sahut Alexa.


"Tidak perlu meminta maaf. Saya justru berterima kasih, karena Alexa bisa menghindarkan Madam dari hal yang buruk, yang kemungkinan bisa saja terjadi," ujar Sir Ruppert.


"Maafkan saya, Sir. Saya tidak berniat untuk menakut-nakuti, tapi anda tidak perlu berterima kasih sebelum kita tiba di rumah," sahut Alexa.


"Kenapa?" Sir Ruppert tampak melihat ke sana kemari dari bagian jendela di sisi tempatnya duduk, ketika Alexa melihatnya dari kaca spion.


"Tenang saja, Sir. Untuk sekarang ini tidak ada yang mencurigakan di luar. Saya hanya waspada saja, karena perjalanan kita masih cukup jauh," kata Alexa menenangkan Sir Ruppert.


Sir Ruppert lalu terlihat sedikit lebih tenang, sedangkan Madam Ruppert tampak memasang wajah cemberut, saat Alexa melihat mereka lagi dari kaca spion.


***


15:45.


Mobil yang dikendarai oleh Alexa, dengan membawa Sir dan Madam Ruppert, juga Louis, saat ini sudah masuk di wilayah barat kota Hills.


Di sepanjang perjalanan mereka tadi, tidak ada tanda-tanda kalau ada sesuatu yang mencurigakan, hingga Alexa sedikit menurunkan kewaspadaannya.


Apalagi sekarang ini, tinggal beberapa mil saja, mereka akan tiba di kediaman keluarga Ruppert.


Kurang lebih dua sampai tiga mil sebelum memasuki jalur sepi yang ditakuti oleh Alexa, barulah Alexa jadi lebih sering memperhatikan spion.


Dengan jarak beberapa ratus meter dari bagian belakang mobil yang dikendarai oleh Alexa, tampak hanya ada dua truk kontainer yang melewati jalan yang sama dengan jalur jalan yang dilewati Alexa.


Rasanya, tidak ada yang perlu terlalu di waspadai, walaupun menurut Alexa, mungkin karena lebar badan jalan yang kecil di daerah itu, menjadi hal langka jika melihat truk kontainer melewati jalur itu.


Setahu Alexa selama dia sering bolak-balik melewati jalan itu, rasanya baru kali ini Alexa bisa melihat ada truk kontainer yang berlalu di jalur yang sama.


Tapi, karena truk kontainer yang membawa peti kemas itu tampak tiba-tiba saja terlihat di belakang mereka, jadi Alexa tidak menganggap kalau truk itu sedang membuntuti mobil yang dikendarai oleh Alexa.


Kedua kendaraan besar itu kemudian tampaknya menaikkan kecepatan kendaraannya, dan menyalakan lampu tanda untuk mendahului mobil Alexa.


Dengan berkendara lebih ke bagian pinggir jalan, Alexa memberi kesempatan, hingga satu truk kontainer mendahului mobil yang dikendarai olehnya.


Akan tetapi hanya satu truk kontainer saja yang mendahului mobil yang dikendarai oleh Alexa, sedangkan yang satunya lagi masih tetap berada di bagian belakang.


Sekarang ini, posisi mobil SUV yang dikendarai oleh Alexa, berada di antara dua truk kontainer bermuatan peti kemas.


Firasat buruk Alexa kembali timbul, saat dia menyalakan lampu tanda untuk memberi isyarat agar truk di belakangnya mendahuluinya, namun truk kontainer itu tidak menambah kecepatan kendaraannya.


Begitu juga saat Alexa ingin mendahului kembali, truk kontainer di depannya.


Walaupun Alexa sudah menyalakan lampu tanda dan membunyikan klakson berkali-kali, namun truk kontainer di depannya tidak mau memberi jalan bagi Alexa, dan tampak menghalang-halangi mobil Alexa ke sisi mana saja dia pergi.


Astaga!


Alexa panik, karena kelihatannya dia telah melakukan kesalahan besar, dengan menurunkan tingkat kewaspadaannya.


"Sir! Madam! Louis! ... Maafkan saya!" seru Alexa pelan tertahan, saat dia menyadari kalau dua truk kontainer itu sedang menjepit badan SUV yang dikendarai olehnya, dari bagian depan dan belakang.