It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 30



6 Maret 2000.


Pertemuan Arthur dan Alexa di hari ulang tahun Alexa, ketika Alexa berkata kalau dia menyukai Arthur, dan tidak akan menolak perhatian dari Arthur lagi, saat itu, Arthur yang terlalu senang, tidak memperhatikan lagi bagaimana gelagat Alexa sesudahnya.


Ditambah lagi, Arthur yang di keesokkan harinya harus kembali bekerja, benar-benar disibukkan dengan banyak kasus yang harus dia tangani.


Oleh karena itu, Arthur yang belum sempat untuk mengunjungi Alexa lagi di rumah sakit, membuat Arthur sama sekali tidak tahu akan kondisi kesehatan Alexa.


Saat ini, setelah mengingat kembali pertemuan mereka waktu itu, barulah Arthur tersadar, kalau wajah Alexa saat itu, memang menampakkan seolah-olah dia sangat mengkhawatirkan sesuatu.


Dan Arthur sama sekali tidak menyangka, kalau Alexa akan jatuh sakit setelahnya.


Jika mempertimbangkan perkataan dari perawat yang menghubunginya tadi, Arthur bisa menarik kesimpulan, kalau Alexa mungkin jatuh sakit karena rasa cemas yang berlebihan.


Dan kemungkinan besar, rasa cemas Alexa itu karena mengkhawatirkan keadaan Arthur.


16:27.


Di pintu masuk utama rumah sakit itu, terlihat seorang wanita yang berpakaian perawat yang sedang berdiri sendirian di sana, seolah-olah memang sedang menunggu kedatangan Arthur.


Dan kelihatannya memang benar dugaan Arthur, karena perawat itu tampak berjalan menghampiri Arthur, sementara Arthur juga berjalan ke arahnya.


"Nama saya Sienna." Perawat wanita bernama Sienna itu memperkenalkan dirinya, sambil berjabat tangan dengan Arthur.


"Ayo kita segera pergi dari sini! Agar keberadaan anda tidak menjadi pusat perhatian," ajak Sienna, lalu berjalan di depan Arthur.


Mereka tidak melewati pintu masuk utama di rumah sakit itu, melainkan lewat pintu samping, yang biasanya hanya diperbolehkan untuk digunakan oleh para pegawai rumah sakit.


Arthur berjalan dengan cepat menyusuri koridor rumah sakit, menyusul langkah perawat itu yang juga berjalan dengan langkah tergesa-gesa.


"Saya tidak tahu, apa Mistress William pernah membicarakan tentang saya. Tapi, anda bisa percaya dengan saya....


...Saya yang biasanya membantu Mistress William, untuk membeli apa saja yang dia mau dari luar rumah sakit. Saya bahkan dipercayakannya untuk memegang kartu perbankan miliknya....


... Sebentar lagi, jadwal jagaku berakhir. Tapi, ada salah satu rekanku yang akan membantu anda nanti. Jadi, anda bisa menghabiskan waktu bersama Mistress William, selama yang anda inginkan," kata Sienna sambil terus berjalan.


"Terima kasih!" ucap Arthur.


"Tidak perlu berterima kasih. Saya menyayangi Mistress William seperti kakak saya sendiri....


... Beliau adalah sahabat kakak saya, dan acap kali membantu kakak saya di masa lalu. Jadi, saya akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantunya," sahut Sienna.


"Siapa nama kakak anda?" tanya Arthur.


"Damian. Nama kakak saya itu Damian," jawab Sienna.


Damian ... Arthur lalu teringat akan nama yang terukir di pemantik yang dikembalikannya kepada Alexa hari itu.


"Alexa belum pernah menceritakan tentang anda, namun dia pernah memberitahu saya tentang Damian kakak anda itu," kata Arthur.


"Saya sudah menduganya. Mistress William pasti akan merahasiakan tentang hubungan saya dengannya. Beliau pasti khawatir, kalau nama saya muncul di permukaan....


...Karena jika Willing Grup mengetahuinya, maka kemungkinan besar, saya akan disingkirkan dari rumah sakit ini....


... Bahkan kemungkinan terburuknya, saya akan kehilangan pekerjaan saya, dan tidak akan bisa menemukan pekerjaan sesuai bidang saya di tempat lain," sahut Sienna.


Mereka kemudian berhenti berjalan, di depan salah satu pintu ruangan yang tertutup rapat.


Sienna segera membuka pintu itu, lalu mempersilahkan Arthur untuk masuk.


"Aku berharap dengan kedatangan anda, kondisi Mistress William bisa segera membaik," ujar Sienna, lalu menutup pintu itu kembali ketika Arthur sudah melewatinya.


Wajah kurusnya tampak pucat pasi, dengan keringat sebesar butiran jagung yang membasahi keningnya yang mengerut, seperti orang yang sedang merasa sangat kesakitan.


Walaupun matanya terpejam, namun bibir Alexa tampak bergerak-gerak, seolah-olah dia sedang berkata sesuatu, tanpa mengeluarkan suaranya.


Arthur menghampiri Alexa, lalu menggenggam salah satu tangannya, sambil tangan Arthur yang sebelahnya lagi, mengelap keringat di kening Alexa dengan kain yang ada di dekatnya.


"... Arty ..."


Saat Arthur sudah berdiri sangat dekat dengan Alexa, barulah Arthur bisa mendengarkan apa yang sedang digumamkan oleh Alexa.


Wanita itu sedang menyebut nama Arthur, dengan suaranya yang benar-benar pelan, hampir tidak terdengar.


"Alexa! Bukalah matamu! Aku ada di sini untukmu!" Sambil menunduk, Arthur berbisik tepat di telinga Alexa.


"... Arty ..."


Mata Alexa tetap terpejam, dan suara igauan yang memanggil nama Arthur, sesekali tetap keluar dari mulutnya.


"Alexa! Aku baik-baik saja. Aku bersamamu di sini!" bisik Arthur lagi.


"... Arty ..." Alexa terus menerus menyebut nama Arthur, persis seperti yang diberitahukan oleh perawat kepada Arthur tadi.


Arthur tidak tahan lagi melihat kondisi Alexa yang seperti itu, hingga Arthur memeluknya dengan erat, sampai tubuh Alexa yang lemas terangkat dari tempat tidur, karenanya.


"Alexa! Apa yang kamu khawatirkan? Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku justru tidak baik-baik saja, jika melihatmu seperti ini," ujar Arthur.


Arthur kemudian ikut naik ke atas tempat tidur.


Sambil berselonjor dengan menyandarkan punggungnya di bagian kepala tempat tidur, Arthur membuat posisi Alexa juga jadi ikut berselonjor, dengan punggung Alexa yang tersandar di dada Arthur.


Kepala Alexa yang tersandar di leher Arthur, menjadi sasaran dari bibir Arthur yang mengecupnya berkali-kali, sambil memeluk Alexa dengan erat.


Di posisi terduduk seperti itu, igauan Alexa terdengar berkurang, dengan jeda waktu yang cukup lama, barulah Arthur bisa mendengar Alexa menyebut namanya lagi.


"Alexa! Maafkan aku, yang baru bisa datang hari ini untuk menemuimu lagi. Pekerjaanku membuatku benar-benar sibuk. Tapi, aku tadi meninggalkan pekerjaanku kepada Josh....


... Kamu tahu bagaimana cemasnya aku, saat mendengar kalau kamu sedang sakit?" ujar Arthur, memperlakukan seolah-olah Alexa bisa menanggapi perkataannya.


"Dari semua orang yang ada di dunia ini, tapi kamu memanggil namaku. Alexa! Apa kamu mencintaiku? Cepat beritahu aku! ...


...Karena kalau memang benar begitu, kamu tidak bisa membayangkan betapa senangnya aku. Aku rasanya ingin segera membawamu pergi, ke mana saja yang kamu mau....


... Kita pergi dan menghilang saja, dari semua hal yang bisa membuat kita saling merasa khawatir," kata Arthur lagi.


"..." Alexa tampaknya masih tidak sadarkan diri, hingga wanita itu tidak bereaksi sama sekali, bahkan tubuhnya masih tampak lemas, seperti helaian kain yang tak bertulang.


Namun, Arthur tidak menyerah.


"Alexa! Kamu belum pernah memberitahuku, apakah kamu suka mendengarkan musik. Kalau kamu memang suka, lalu genre musik apa yang kamu suka? ...


...Aku suka mendengarkan musik klasik dan lagu-lagu dari grup band Rock. Apa kamu juga menyukainya? Kita bisa pergi menonton konser dari grup band yang kamu sukai....


...Aku bahkan akan membantumu, agar kamu nanti bisa meminta tanda tangan dari anggota grup band itu. Asalkan, kamu tidak jatuh cinta kepada mereka saja, dan tetap mempertahankan cintamu untukku....


...Karena kalau kamu lebih mencintai anggota grup band itu daripada aku, maka aku akan membatalkan rencana kita untuk menonton konser mereka....


... Walaupun aku mungkin sudah mengeluarkan uang banyak, untuk membeli tiket konsernya yang mahal. Jadi, camkan ini baik-baik! Jangan coba-coba untuk jatuh cinta kepada orang lain lagi, selain aku!"


Arthur berbicara panjang lebar, dengan harapan, agar Alexa bisa segera tersadar akan keberadaan Arthur di situ bersamanya.