It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 47



31 Desember 1999.


Alexa memang bukanlah wanita biasa.


Otak yang dia miliki cukup pintar, walaupun terkadang dia bisa bertindak ceroboh.


Dan kepintarannya terbukti sekarang ini.


Mark William bisa tertipu mentah-mentah, hingga walaupun laki-laki itu sempat menggila dan mengamuk, namun dia mau saja merelakan Alexa untuk dirawat di rumah sakit jiwa.


Dokter yang bekerja sama dengan Alexa dan Sienna, berhasil meyakinkan Mark, kalau Alexa perlu dirawat intensif dalam kurun waktu minimal selama satu tahun.


Mark yang awalnya sangat keberatan, diberikan keyakinan dengan kebohongan yang fantastik dan menggiurkan.


Mark akhirnya percaya, kalau saat gangguan mental Alexa sembuh, maka Alexa yang dalam kondisi hilang ingatan, bisa menjadi kesempatan bagi Mark nantinya untuk memiliki Alexa seutuhnya.


Namun, untuk mencapai keinginan yang bisa memuaskan obsesi Mark itu, Mark harus menahan diri untuk tidak menemui Alexa, selama Alexa menjalani perawatan gangguan mentalnya di rumah sakit jiwa.


Mark yang memang berambisi untuk membuat Alexa bertekuk lutut padanya, jadi gelap mata dan menyetujui semua yang disarankan oleh dokter padanya, tanpa berpikir panjang lagi.


Bukan hanya Mark saja, semua orang yang mengenal Alexa, selain Sienna dan dokter yang membantunya, tidak ada satupun yang menyadari kalau Alexa hanya berpura-pura mengalami gangguan jiwa.


Bahkan para pekerja di rumah sakit jiwa, bisa terkecoh dengan kepura-puraan Alexa yang tampak sangat meyakinkan, seperti seorang pemain drama yang profesional.


Akan tetapi, Alexa tahu kebebasannya itu hanya bersifat sementara, dan Alexa harus mencari cara yang bisa memberikan hasil permanen, hingga Alexa benar-benar terlepas dari Mark William.


Selama lebih dari satu bulan ini, sejak Alexa dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa, Alexa kembali menyusun rencana baru yang sudah dipikirkannya matang-matang.


Dan rencananya kali ini, bukanlah sebuah rencana seperti di masa lalu, yang terburu-buru dirancangnya, hingga memiliki resiko kegagalan yang tinggi.


Alexa bahkan mempelajari bagaimana caranya agar rencananya itu akan berhasil, sambil melakukan observasi dengan membaca banyak buku, yang bisa mendukung tingkat keberhasilannya.


Namun, rencana Alexa itu membutuhkan bantuan satu orang lagi yang kompeten dan bisa dipercaya.


Sedangkan Alexa, tidak mungkin memakai orang yang sudah dikenalnya, yang kemungkinan besar orang itu juga dikenali oleh Mark.


Karena jika orang itu dikenali, maka kemungkinan besar orang itu bisa ditekan oleh Mark dan Willing Grup, sehingga bisa mengakibatkan kegagalan dalam rencana Alexa.


Bahkan, bisa-bisa orang itu akan mengalami kejadian buruk, seperti yang pernah Damian alami, dan Alexa sama sekali tidak menginginkan siapapun terluka karena tujuannya.


Dengan demikian, mau tidak mau, Alexa harus mencari orang baru yang tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalunya.


Dan tentu saja itu bukanlah hal yang mudah, mengingat situasi Alexa sekarang ini yang tidak bisa bergaul dengan bebas.


Tapi Alexa tidak mau menyerah begitu saja, dan tetap yakin kalau dalam satu tahun ke depan, dia pasti bisa menemukan orang yang tepat, yang bisa dipakai untuk membantunya.


Alexa sudah membahas rencananya itu kepada Sienna.


Jadi, Sienna sudah tahu kalau Alexa butuh seseorang yang bekerja di departemen kepolisian.


Dan Sienna juga bertekad untuk membantu Alexa, agar bisa menemukan orang yang Alexa butuhkan, untuk kelancaran rencananya.


***


11:43.


Sienna yang mengantarkan Alexa untuk melakukan kontrol ulang untuk luka-luka bekas kecelakaannya, mendorong Alexa yang duduk di kursi roda, menuju ke kafetaria rumah sakit umum untuk pergi makan siang.


"Bagaimana kabar Damian?" tanya Alexa.


"Baik-baik saja. Masih sama seperti biasanya," jawab Sienna.


"Kamu tidak berbohong tentang keadaannya, kan?!"


Alexa memang ingin memastikan keadaan Damian, karena mengingat waktu itu, Damian lah yang menjadi pengacau di pos jaga rumah Mark, hingga Alexa bisa melarikan diri dari rumah itu.


"Iya. Dia tidak terlibat masalah apa-apa. Jadi, Sister tidak perlu mengkhawatirkannya," kata Sienna, seolah-olah bisa membaca pikiran Alexa.


"Aku merindukannya," ujar Alexa.


"Iya, aku tahu bagaimana dekatnya hubungan kalian berdua. Damian juga merindukanmu, Sister. Dia ingin sekali bertemu denganmu....


... Tapi aku menyuruhnya bersabar, sampai situasi benar-benar tenang, barulah dia bisa menemui Sister," lanjut Sienna.


"Apa dia masih belum mau berkencan?" tanya Alexa.


"Kakakku itu mungkin ingin menjadi seorang biksu. Sudah beberapa kali aku memperkenalkannya pada teman-temanku, tapi dia tidak tertarik," jawab Sienna.


"Katanya, kalau uangnya sudah banyak, hingga dia bisa berhenti bekerja menjadi kurir, barulah dia akan berkencan," lanjut Sienna.


"Pffftt ...! Itu memang terdengar seperti Damian," sahut Alexa.


"Aku merasa bersalah padanya. Karena harus membiayai sekolahku, hingga dia tidak bisa menyimpan uang hasil kerja kerasnya....


... Termasuk Sister yang sering membantu biaya kuliahku, hingga aku bisa selesai bersekolah, dan bisa bekerja seperti sekarang ini. Aku benar-benar berterima kasih, Sister," ujar Sienna.


"Hey! Tidak perlu dipikirkan. Itu hanya uang. Bantuan yang kalian berdua berikan selama ini, justru jauh lebih bernilai daripada uang itu," kata Alexa.


"Justru aku yang berhutang budi kepada kalian berdua. Dan aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya," lanjut Alexa.


"Sister harus bisa bertahan, dan hidup bahagia nantinya. Sister bisa membalasnya dengan itu saja," sahut Sienna.


Walaupun sedang di jam istirahat makan siang, namun kafetaria rumah sakit umum itu terlihat lengang.


Sehingga dengan demikian, Alexa dan Sienna bisa berbincang-bincang santai, sambil menikmati makan siang mereka.


"Oh, iya! Aku baru ingat!" ujar Sienna.


"Mulai malam ini, rumah sakit akan mencari relawan untuk membantu. Jadi, aku sudah membuat undangan ke departemen kepolisian....


... Jadi, relawan yang akan datang nanti, akan berasal dari kepolisian distrik Barat ini. Sister Alexa mungkin bisa memilih salah satu di antara mereka," ujar Sienna.


"Kalau aku tidak salah dengar, salah satu relawan yang akan datang ke rumah sakit, adalah seorang detektif yang hebat, dan cukup terkenal akan kelihaiannya menangani tugas-tugasnya," lanjut Sienna.


"Siapa namanya?" tanya Alexa penasaran.


"Smith. Detektif Arthur Smith," jawab Sienna.


"Bagaimana dengan latar belakangnya?" tanya Alexa lagi.


"Menurut desas-desus, dia adalah orang yang baik dan jujur. Tapi sebaiknya, Sister Alexa saja yang menilainya," jawab Sienna.


Jika Detektif Arthur Smith memang sesuai seperti yang dikatakan oleh Sienna, maka orang itu akan jadi kandidat yang cocok, menurut Alexa.


Akan tetapi, jika Detektif Arthur Smith itu memang adalah orang yang baik, justru membuat Alexa merasa ragu untuk mencoba memanfaatkannya.


Karena, Alexa tetap khawatir kalau-kalau karena ambisinya untuk terlepas dari Mark William, lalu membuatnya kurang berhati-hati, maka akan mengakibatkan Detektif itu ikut menjadi korban dari pergesekan antara Alexa dan Mark, juga Willing Grup.


Walaupun demikian, Alexa tidak bisa mengubah rencananya lagi, dan mau tidak mau, Alexa harus terus menjalankannya.


Jika Alexa berhasil mendekatinya, Alexa tidak boleh lalai, dan harus memberi peringatan terus menerus kepada detektif itu, untuk berhati-hati agar jangan sampai dia menjadi pusat perhatian William's dan Willing Grup.


Tentu saja, Alexa akan mencoba mendekatinya, bukan dengan niat untuk membuat Detektif itu jatuh cinta kepadanya, karena itu adalah hal yang tidak mungkin, menurut Alexa.


Karena bagi Alexa, mustahil ada orang yang akan jatuh cinta kepada orang gila, ditambah lagi jika sudah berstatus menjadi istri orang.


Alexa hanya berniat menjadikannya sebagai teman dekat, hingga kredibilitas Detektif itu akan membuat Alexa terbantu, saat Alexa melaksanakan rencananya.