
6 Maret 2000
20:05.
Ponsel Arthur yang ada di saku jaketnya terasa bergetar, tanpa mengeluarkan suara yang mengganggu, karena Arthur masih mematikan nada dering ponselnya itu.
Kontak Josh tertera di tampilan layar ponselnya, dan Arthur segera menerima panggilan itu. "Halo, Josh!"
"Halo! Arthur! Di mana kamu sekarang?" tanya Josh dari seberang.
"Ada apa?" Arthur tidak mau menjawab pertanyaan Josh tentang di mana keberadaannya sekarang ini.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Pekerjaan kita masih banyak, kenapa kamu belum kembali ke kantor?" tanya Josh.
"Urusanku di luar belum selesai," sahut Arthur.
"Arthur! Jangan bilang kamu menemui Alexa!" Josh seakan-akan adalah seorang cenayang yang bisa meramalkan di mana Arthur berada.
"Josh! Tolong bantu aku! Salahku hingga Alexa jatuh sakit, dan aku tidak bisa meninggalkannya dengan kondisinya yang sekarang ini," sahut Arthur.
"..." Untuk beberapa saat, tidak terdengar sahutan Josh di sambungan telepon itu.
"Alexa sakit apa?" tanya Josh.
"Aku tidak tahu. Yang jelas, kata perawat yang menjaganya, dia sudah beberapa hari ini tidak sadarkan diri," jawab Arthur.
"Lalu bagaimana kamu bisa bilang kalau kamu yang membuatnya sakit?" tanya Josh lagi.
"Ada sesuatu yang aku bicarakan dengannya waktu itu. Dan sejak saat itu, dia jatuh sakit sampai hari ini....
... Aku rasa, aku telah membuatnya sangat khawatir, hingga keadaannya jadi seperti ini. Karena dia mengigau dengan memanggil-manggil namaku," jawab Arthur.
Mau tidak mau, Arthur memang harus menjelaskan kepada Josh, agar Josh mau mengerti dan membantu Arthur, untuk menangani tugas mereka sementara ini, tanpa ada Arthur bersamanya.
"Dia tidak sadarkan diri, tapi mengigau dengan memanggil namamu? Apa yang kalian bicarakan hingga bisa seperti itu keadaannya?" tanya Josh.
Arthur tidak mau menjelaskan lebih jauh, dan memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Ya, sudah! Segeralah kembali ke kantor! Sampaikan salamku untuk Alexa, kalau dia sudah sadar," lanjut Josh, kemudian sambungan telepon itu terputus.
Arthur lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku jaketnya, dan kembali memperhatikan Alexa.
Walaupun, Arthur tadi berbincang-bincang dengan Josh di dekatnya, namun Alexa tetap tidak bereaksi, dan tampak tidak terganggu sama sekali.
"Alexa! Kalau kamu tidak segera bangun, aku akan menciummu!" ujar Arthur yang cemas dan mulai hilang kesabarannya.
Untuk beberapa saat Arthur menunggu, Alexa masih tetap tidak bereaksi apa-apa.
Nekat, Arthur memegang dagu Alexa dan menariknya naik, hingga Arthur bisa mengecup bibirnya.
"..." Tidak ada yang terjadi.
Arthur kemudian mengulangi tindakannya, dan kali ini, dia benar-benar mencium Alexa di bibirnya.
Dan setelah beberapa saat, Arthur tersadar kalau Alexa sepertinya tidak bernafas, mungkin karena jalur pernafasan Alexa yang terhalang, saat Arthur mencium bibirnya tanpa izin itu.
Dengan rasa panik, Arthur berhenti menciumi Alexa, dan sedikit mengguncang dagu Alexa yang masih dipegangnya, lalu seketika itu juga, Alexa terbatuk-batuk lemah.
"Uhhuuk! ... Uhhuuk!"
Setelah itu, tidak berapa lama kemudian, mata Alexa tampak terbuka secara perlahan-lahan.
"Alexa!" ujar Arthur.
Alexa memang tidak menyahut, begitu juga raut wajahnya yang tampak datar, namun dengan pandangan matanya yang sayu, dia tampak menatap Arthur lekat-lekat.
"Alexa! Ini aku Arthur!" ujar Arthur lagi.
Alexa hanya berkedip pelan.
Itu saja reaksinya? pikir Arthur yang kebingungan.
Arthur mencoba mencium Alexa lagi, namun kali ini, niat Arthur tidak terlaksana.
Karena walaupun masih terlihat sangat lemas, Alexa menghalangi tindakan Arthur, dengan menempelkan telapak tangannya di mulut Arthur.
Di balik telapak tangan Alexa yang menutup mulutnya, Arthur tersenyum lebar, karena kalau begitu, berarti Alexa memang sudah tersadar.
Arthur menjauhkan tangan Alexa dari mulutnya, kemudian mengecup kening Alexa, dan dengan niat untuk menggoda Alexa, Arthur lalu berkata,
"Apa kamu terlalu merindukanku, sampai-sampai kamu jatuh sakit?"
Arthur mengusap air mata Alexa, sambil berkata,
"Jangan menangis ...! Apa keberadaanku di sini hanya membuatmu merasa sedih?"
Alexa tidak menjawab pertanyaan Arthur, melainkan tampak terisak tertahan, dengan air matanya yang semakin deras mengalir di wajahnya.
"Tolong, jangan menangis! Aku tidak tahan melihatmu seperti ini....
... Apa kamu mau aku membawamu pergi dari sini sekarang? Karena aku pasti akan melakukannya, asalkan kamu menyetujuinya."
Arthur berbicara, sambil memeluk Alexa dengan semakin erat untuk berusaha menenangkannya.
Namun hingga beberapa saat kemudian, usaha Arthur untuk menenangkan Alexa tampaknya tidak membuahkan hasil apa-apa, karena Alexa tetap saja menangis di dalam pelukan Arthur.
"Maafkan aku," ucap Alexa lirih.
"Kenapa kamu meminta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa," sahut Arthur.
"Alexa! Percayalah padaku, kalau aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku....
...Apalagi, kamu sampai jatuh sakit seperti ini. Karena dengan begini keadaanmu, kamu hanya membuatku merasa semakin cemas....
... Bisa-bisa, aku akan memaksa untuk membawamu pergi dari sini. Tidak perduli, apakah kamu setuju atau tidak," kata Arthur lagi.
"Maafkan aku," ucap Alexa.
"Alexa ...!" Arthur bisa merasakan kalau Alexa tampaknya sedang meremas lengan Arthur yang memeluknya, hingga membuat Arthur melihat ke arah tangan Alexa yang gemetar.
"Alexa! Apa yang sebenarnya kamu cemaskan?" tanya Arthur.
"Maafkan aku," Lagi-lagi, Alexa meminta maaf kepada Arthur.
"Huuffft ...!" Arthur mendengus kasar.
"Iya, aku maafkan kamu. Asalkan kamu berhenti menangis," kata Arthur.
Setelah beberapa saat kemudian Arthur menunggu dengan berdiam diri, walaupun matanya masih terpejam, namun nafas Alexa terdengar sudah lebih teratur.
Alexa tampak sudah jauh lebih tenang, dan air matanya juga sudah berhenti mengalir.
Ketika Arthur melihat Alexa telah membuka matanya lagi, Arthur kemudian berkata,
"Aku senang melihatmu bisa tersadar lagi. Karena kamu berhutang penjelasan padaku, sampai pegal pinggangku duduk menunggu di sini. Jadi, kamu harus membayarnya!"
Alexa tersenyum tipis.
"Apa yang kamu bicarakan?" tanya Alexa. "Aku tidak menyuruhmu datang ke sini, kan?"
"Ooh ... Jadi kamu tidak mau bertanggung jawab untuk pinggangku yang sakit?" ujar Arthur.
Alexa akhirnya tertawa kecil, lalu tampak berusaha untuk menjauh dari Arthur, namun Arthur segera menahannya dengan memeluknya semakin erat.
"Apa kamu mau melarikan diri dariku? Kamu tidak bisa ke mana-mana. Apalagi, tanganmu sedang terpasang selang infus," ujar Arthur.
"Arthur ...!" kata Alexa, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Umm ... Apa aku boleh tahu, apa yang kamu pikirkan? Hingga kamu memanggil namaku dalam tidurmu?" tanya Arthur.
"Benarkah? Kalau begitu, aku mungkin sedang bermimpi buruk," jawab Alexa.
"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri? Kepalaku rasanya sangat pusing," lanjut Alexa buru-buru.
"Bersandar saja dulu kalau begitu!" Arthur menarik kepala Alexa sampai tersandar di lehernya, namun Alexa tampak bersikeras menolaknya.
"Ckckck ... Alexa ...! Tidak apa-apa! Bersandar saja dulu! Aku tidak akan menggigit," ujar Arthur, sambil menahan kepala Alexa agar tetap bersandar padanya.
"Maafkan aku yang terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga beberapa waktu belakangan ini, aku tidak sempat menemuimu....
... Aku tidak bisa ke sini hanya karena aku sedang bekerja, dan bukan karena ada sesuatu yang buruk yang terjadi padaku," kata Arthur.
"Lihat! Sekarang aku berada di sini bersamamu, dan aku baik-baik saja, kan?! ...
...Mulai saat ini, kamu tidak perlu merasa cemas berlebihan. Karena selama aku tahu kalau kamu baik-baik saja, maka kamu juga bisa yakin kalau aku juga pasti akan baik-baik saja....
...Berjanjilah agar kamu tidak akan sakit seperti ini lagi, maka aku juga akan berjanji kalau aku akan menjaga diriku sendiri ... Untukmu...
... Agar aku masih bisa bertemu denganmu, karena aku mencintaimu. Sungguh-sungguh mencintaimu," lanjut Arthur.