
16 Juni 1990.
07:48.
Alexa meloncat dari atas tempat pembaringannya, ketika melihat Roy yang sudah tidak di sebelahnya lagi.
Lembaran kertas di atas meja belajar, juga sudah tidak terlihat lagi di sana.
Benar-benar memalukan, sudah hanya menumpang tempat tinggal, Alexa malah bangun kesiangan.
Dengan terburu-buru, Alexa keluar dari kamar dan menuju ke kamar mandi, lalu mencuci wajahnya di situ.
Setelah merasa jauh lebih segar, Alexa kemudian menuruni tangga, dan melayangkan pandangannya ke sana kemari mencari-cari keberadaan penghuni rumah itu.
Hingga akhirnya Alexa tiba di bagian dapur rumah, namun hanya seorang wanita paruh baya yang ada di sana.
Menilai dari ciri-cirinya yang mirip dengan Roy, Alexa menduga kalau wanita itu adalah ibunya Roy.
"Selamat pagi! Maaf, Madam, saya kesiangan!" ucap Alexa.
"Selamat pagi!" Wanita itu membalas ucapan Alexa. "Alexa ... Benar itu namamu?"
"Iya, Madam," jawab Alexa.
"Saya ibunya Roy ... Silahkan duduk dulu!" kata ibu dari Roy itu.
Alexa kemudian mengangguk pelan, lalu duduk di salah satu kursi di dekat meja makan.
"Di mana Roy, Madam? Apa dia sudah pergi mengantar artikelnya?" tanya Alexa.
"Iya. Dia baru saja pergi bersama ayahnya tadi," jawab Ibu Roy, sambil menyajikan dua potong roti panggang dan segelas susu ke atas meja.
"Sarapan saja dulu!" kata Ibu Roy menawarkan.
"Roy berpesan tadi, kalau dia tidak akan lama. Jadi, Alexa bisa beristirahat saja dulu sambil menunggu dia pulang, sebelum Alexa pergi ke mana-mana," lanjut wanita itu.
"Ugh ...? Terima kasih, Madam!" ucap Alexa yang tidak menyangka, kalau sarapan itu di sajikan untuknya. "Maafkan saya yang hanya merepotkan saja."
"Tidak perlu merasa gugup! Roy sudah sering membicarakan tentang Alexa kepada saya dan ayahnya. Menyenangkan rasanya, saat kita akhirnya bisa bertemu," kata ibu Roy pelan.
"Kata Roy, Alexa sedang mencari pekerjaan?"
"Iya, Madam."
"Ayahnya tadi berpesan, kalau nanti dia akan mencari informasi di tempat kerjanya. Kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa Alexa lakukan di sana."
Ibu Roy yang tampak sangat ramah, membuatnya terlihat semakin mirip dengan gerak-gerik Roy.
Ditambah lagi, saat mendengar kalau ayah Roy yang juga berniat membantu Alexa, membuat Alexa menjadi tidak heran lagi, kenapa Roy bisa tumbuh menjadi anak yang sangat baik, dan pengasih.
Sembari memakan roti yang dioleskan sedikit selai, Alexa membayangkan bagaimana rasanya tinggal dalam keluarga seperti keluarga Roy ini.
Tanpa Alexa sadari, airmatanya sudah menetes dan mengalir di wajahnya.
"Kenapa Alexa menangis?" tanya ibu Roy, dengan menampakkan raut wajah cemas.
Alexa buru-buru menyambar airmatanya, menggunakan bagian punggung tangannya.
"Maaf, saya. Saya tidak berniat membuat anda menjadi cemas," kata Alexa pelan.
"Tidak apa-apa," sahut ibu Roy. "Alexa pasti masih lelah karena perjalanan jauh, kan? Selesai sarapan, Alexa bisa istirahat di kamar Roy."
Perkataan ibu Roy itu terdengar seolah-olah ingin mengalihkan pikiran Alexa dari sesuatu yang mengganggunya, namun bagi Alexa perkataan itu, hanya membuatnya semakin ingin menangis.
Alexa menarik nafas panjang, agar dia bisa menenangkan dirinya lagi.
"Saya tidak terlalu lelah. Apa ada sesuatu yang bisa saya kerjakan?" tanya Alexa.
Ibu dari Roy itu tampak tersenyum, lalu berkata,
"Saya akan membuat kukis sebentar lagi," kata ibu Roy. "Alexa mau membantu?"
"Iya."
"Baiklah kalau begitu. Saya persiapkan bahannya dulu, sambil menunggu Alexa selesai sarapan. Dihabiskan, ya?!" ujar ibu Roy.
Begitu juga yang dilakukan wanita itu di lemari es. Ibu Roy tampak mengeluarkan beberapa butir telur, dari dalam sana.
***
10:23.
"Aku pulang!"
Suara Roy menggema, tidak lama setelah suara pintu rumah bagian depan terdengar menutup.
"Halo, Mommy! Halo, Alexa!" sapa Roy, sambil berjalan masuk ke dalam dapur.
"Hai! Apa kamu sudah selesai mengantar tulisanmu?" sapa Alexa sekedar bertanya.
Roy duduk di salah satu kursi yang ada di dapur, lalu mengambil sepotong kukis buatan ibunya dan Alexa yang belum lama matang, dari dalam toples.
"Iya," jawab Roy. "Kamu membantu ibuku memasak?"
"Kalau hanya bisa mencetaknya saja, kamu anggap aku sudah membantu, berarti aku memang membantu Madam," jawab Alexa.
"Alexa ...!" kata Ibu Roy, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, dan tampak tersenyum lebar.
Roy tampak tertawa kecil.
"Apa kamu tidak capek?" tanya Roy. "Semalaman, kamu kelihatan kurang nyenyak tidurnya."
"Tidak. Aku baik-baik saja. Jadi, jangan menyuruhku untuk tidur lagi!" sahut Alexa.
Roy tampak memperhatikan tangan Alexa yang sedang mengupas beberapa buah kentang di situ, untuk beberapa saat.
"Mommy akan memasak apa untuk makan siang?" tanya Roy.
"Kari. Alexa ternyata suka makanan yang sarat bumbu," jawab ibunya.
"Alexa! Apa kamu memang berniat mencuri ibuku?" tanya Roy.
"Roy ...! Jangan menggoda Alexa!" ujar ibunya itu. "Kamu juga suka kari, bukan?"
"Iya. Tapi, Mommy tidak mau segera memasaknya untukku, kalau aku memintanya," jawab Roy, sambil mengunyah potongan kukisnya yang ke dua.
"Kamu ini ... Hampir tiap hari kamu memintanya, ayahmu bosan memakannya," sahut wanita yang melahirkan Roy itu.
"Cepat selesaikan mengupas kentangnya!" kata Roy. "Kita sama-sama bersihkan kamar yang satu di atas, lalu kita bisa jalan-jalan sebentar."
"Ugh ...! Nanti saja jalan-jalannya. Sebentar lagi jam makan siang!" ujar Ibu Roy. "Kalau sudah makan, baru kalian bisa jalan-jalan."
Alexa hanya tertawa kecil, mendengarkan perdebatan konyol antara ibu dan anak di depannya itu.
Sungguh jauh berbeda suasana di rumah itu, jika dibandingkan dengan rumah ayah Alexa.
'Ah! Brengsek!' Alexa memaki di dalam hati.
Alexa jadi mengingat lagi kenangan buruk selama setahun tinggal bersama ayah dan keluarga barunya, hingga membuatnya kembali meneteskan airmatanya, walau tidak mengeluarkan suara tangisnya.
Buru-buru, Alexa menyeka airmata yang sempat mengalir di pipinya.
"Apa kamu mau aku membantumu mengupas kentangnya?" tanya Roy pelan, lalu berpindah tempat duduk ke dekat Alexa.
Menurut Alexa, Roy dan ibunya mungkin sempat melihatnya menangis, karena saat Alexa melihat ke arah mereka berdua bergantian, baik Roy maupun ibunya tampak memasang wajah sedih.
Dan hal itu membuat Alexa menjadi tidak nyaman, karena Alexa hanya membuat Roy dan keluarganya jadi mengkhawatirkannya.
Alexa merasa kalau dia telah menjadi orang bodoh, karena di saat dia bisa merasakan kehangatan keluarga yang mau menerimanya, dia malah tidak bisa mengontrol airmatanya.
Padahal selama dia tinggal bersama ayahnya, Alexa hampir tidak pernah menangis, walaupun dia setiap hari mengalami perlakuan buruk.
Alexa kemudian memaksakan diri untuk tersenyum lebar, lalu mencoba mengalihkan suasana yang sempat terasa canggung itu.
"Kita akan jalan-jalan kemana nanti?" tanya Alexa.
"Sedang ada pameran tidak jauh dari sini. Banyak wahana bermain, juga stand makanan ringan di sana. Jadi, kita ke sana saja nanti," jawab Roy.
"Okay!" sahut Alexa, lalu buru-buru menyelesaikan kegiatannya mengupas kentang.