It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 48



29 Februari 2000.


Sudah dua bulan berlalu, sejak Alexa bertemu dengan Detektif polisi Arthur Smith, dan mulai menjalin hubungan baik dengannya.


Namun kelihatannya, Alexa telah salah memilih orang.


Karena Arthur bukan hanya mau menjadi teman atau kenalan dekat saja, melainkan ingin memiliki hubungan lebih dari itu dengan Alexa.


Hal itu hanya akan membuat Alexa berada dalam kesulitan dan terbeban perasaan.


Bukannya Alexa tidak tertarik sama sekali kepada Arthur, namun Alexa tahu kalau sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk hal seperti itu.


"I'm in love with you...."


Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya, saat mengingat ulang apa yang dikatakan Arthur padanya tadi.


Alexa benar-benar tidak tahu bagaimana caranya, agar Arthur mau mengerti akan situasi Alexa saat ini.


Alexa tidak mungkin memberitahu kepada Arthur, tentang rencana yang ingin dilakukannya.


Karena menurut Alexa, jika rencana Alexa itu diketahui oleh Arthur, maka Arthur pasti tidak bisa bereaksi seperti yang Alexa inginkan, di saat rencana Alexa itu dilaksanakan.


Alexa mungkin pintar saat mengatasi hal yang lain, namun tidak sepintar itu untuk urusan hati.


Mungkin karena kurangnya pengalaman, hingga Alexa justru merasa kalau dirinya terlalu bodoh, dan banyak melakukan kesalahan.


Setahu Alexa, dia sudah berusaha sebisanya dengan membuat berbagai skenario, dan menceritakan hal-hal yang bisa membuat Arthur berpikir dua kali untuk menyukai dirinya.


Namun, semua yang dilakukan oleh Alexa, kelihatannya tidak menghasilkan apa-apa.


Dan saat berbincang-bincang dengan Arthur tadi, lagi-lagi, Alexa telah salah membuat perkiraan.


Alexa benar-benar menyesali kebodohannya, yang mengakui kalau dia juga menyukai Arthur.


Alexa mengutarakan hal itu dengan niat agar Arthur bisa mengerti akan maksudnya yang melarang Arthur memelihara perasaannya kepada Alexa.


Akan tetapi, hasil dari spekulasi Alexa itu benar-benar di luar prediksi, dan justru membuatnya melakukan kekeliruan yang tampak cukup fatal.


Karena kelihatannya, pengakuan Alexa itu justru hanya memicu Arthur, hingga Arthur tampak semakin gigih untuk bisa berhubungan lebih dari teman dengan Alexa.


Seharusnya tidak begini keadaannya, jika sesuai dengan rencana Alexa.


Arthur semestinya tidak boleh jatuh cinta kepada Alexa, dan mereka berdua hanya menjadi teman atau kenalan dekat saja.


Kesalahan demi kesalahan yang Alexa anggap telah dia lakukan, membuatnya terpikir kalau mungkin sebaiknya dia memang harus lebih banyak membaca buku tentang percintaan.


Mungkin di antara buku-buku itu, Alexa bisa menemukan solusi bagaimana caranya, untuk membuat Arthur berhenti mencintainya.


"Huuffft ...!" Alexa menghembuskan nafasnya dengan kasar.


"Ada apa?" tanya Sienna.


Sienna baru saja kembali, setelah dia tadi pergi ke luar dari rumah sakit, untuk membelikan sebungkus rokok bagi Alexa.


Alexa memperlihatkan buku pemberian Arthur, yang dijadikan Arthur sebagai hadiah ulang tahun untuk Alexa.


"Dia—Arthur—terlalu baik," ujar Alexa.


Alexa lantas segera membuka bungkusan rokok yang diberikan Sienna, lalu mengeluarkan isinya sebatang, dan menyalakannya saat itu juga, menggunakan pemantik Zippo milik Damian yang baru saja dikembalikan oleh Arthur.


"Huuffft ...!" Alexa menghembuskan asap rokoknya ke udara, lalu memutar-mutar pemantik Zippo dengan jari-jari tangannya.


"Aku ternyata pernah bertemu dengannya bertahun-tahun yang lalu," ujar Alexa.


"Dia berteman baik dengan Steven dan Igor. Dan tampaknya, dia juga memiliki hubungan yang cukup baik dengan Sir Miller," lanjut Alexa.


"Kalau begitu, bukankah dia menjadi orang yang sesuai dengan yang Sister butuhkan?" tanya Sienna.


Sienna kemudian mengambil pemantik Zippo dari tangan Alexa, dan tampak memperhatikan benda itu dari semua sisinya.


"Tapi ...?" tanya Sienna penasaran.


"Apakah aku bisa dimaafkan, kalau aku jatuh cinta kepada laki-laki, selain dari suamiku?"


Alexa tidak meneruskan kalimatnya, justru melontarkan pertanyaan asal-asalan, karena pertanyaan itu, tentu saja sudah diketahui oleh Alexa jawabannya.


"Sister ...! Kamu jatuh cinta kepada Detektif Smith?" Sienna balik bertanya.


"Itu luar biasa! Tidak perlu memikirkan salah atau benarnya. Sister menikah bukan karena memang menginginkannya, dan hanya melakukannya karena terpaksa," lanjut Sienna buru-buru.


"Hey! Itu bukan jawaban yang tepat!" bantah Alexa.


"Sister ...! Semua tentang Sister, sudah diceritakan oleh Damian. Aku justru merasa kalau Sister bisa jatuh cinta, itu malah seperti sebuah keajaiban," sahut Sienna.


"Lalu bagaimana dengannya? Aku pikir dia sudah menyerah. Makanya dia tidak pernah datang menemui Sister hingga hampir sebulan penuh. Tapi, ternyata dia masih datang lagi," lanjut Sienna.


"Itu masalahnya. Aku juga sempat berpikir kalau dia sudah menyerah," ujar Alexa. "Aku tidak tahu bagaimana caranya agar dia bisa berhenti menyukaiku."


"Demi memaksakan kehendakku agar kami hanya berteman saja, aku tadi telah melakukan kesalahan bodoh," lanjut Alexa.


"Kesalahan apa?" tanya Sienna.


"Dengan berspekulasi kalau dia akan mengerti alasanku yang tidak ingin berhubungan romantis dengannya, aku malah mengaku, kalau aku juga menyukainya," jawab Alexa.


Abu dari sisa pembakaran yang berada di ujung batang rokok yang masih menyala, ditepuk-tepuk Alexa hingga abu itu jatuh ke tanah.


"Aku baru menyadari kesalahan bodohku itu, setelah melihat reaksinya. Dia tampaknya benar-benar jatuh cinta padaku, dan tidak mau menyerah begitu saja....


... Dia sampai-sampai berdebat denganku, hanya agar aku membiarkan dia mencintaiku. Bahkan, dia memintaku untuk memperjuangkan apa yang sebenarnya aku inginkan," kata Alexa.


"Sister ...! Apa kamu memang tidak mengerti sama sekali akan kinerja otak hingga membuat seorang manusia bisa merasakan cinta? ...


... Tidak ada satupun yang bisa memaksa seseorang untuk jatuh cinta. Begitu juga sebaliknya, tidak ada yang bisa memaksa agar orang itu bisa berhenti merasakan cinta," ujar Sienna.


"Huuffft ...!" Alexa mendengus kasar. "Arthur membuatku terjatuh sangat dalam kepadanya. Apa yang harus aku lakukan?"


"Sister Alexa ...! Nikmati saja! Tidak akan ada yang menyalahkanmu, hanya karena kalian saling mencintai," jawab Sienna.


"Semua orang tahu, kalau pernikahanmu dengan Mark William, tidaklah berbeda dengan perjanjian kontrak yang lebih banyak merugikanmu saja," lanjut Sienna.


"Tapi Sienna, bukan itu saja yang jadi masalahnya. Kamu tahu, kan?! Kalau aku tidak ingin melihat siapapun terluka lagi, hanya karena pergesekanku dengan Mark....


...Aku jadi benar-benar khawatir, kalau-kalau Arthur mencoba-coba menggali informasi, lalu mengusik Mark dan Willing Grup....


... Entah apa yang akan terjadi padanya. Dan membayangkannya saja, aku tidak siap. Aku tidak ingin kejadian seperti yang dialami oleh Damian, terulang lagi," kata Alexa menjelaskan.


"Iya, aku mengerti apa yang Sister pikirkan. Tapi, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan....


...Bukankah Damian juga sudah meminta agar Sister jangan mengingat kejadian itu lagi? Sister tidak boleh menjadikan hal itu sebagai beban pikiran, karena bukan Sister yang menyakitinya....


...Justru, Sister Alexa lah yang membantu Damian, hingga dia akhirnya bisa pulih, dan baik-baik saja seperti sekarang ini....


... Begitu juga dengan Detektif Smith. Sister tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya. Belum tentu dia akan mengalami hal serupa seperti Damian," kata Sienna.


Walaupun Sienna tampak berusaha untuk menenangkan Alexa, namun kenangan buruk tentang kejadian penganiayaan yang Damian alami, malah jadi semakin sering terlintas dan bayangannya juga semakin jelas di dalam pikiran Alexa.


Dan entah mengapa, wajah Damian dalam ingatan Alexa itu, terkadang terganti dengan wajah Arthur, hingga membuat Alexa semakin merasa khawatir.


Tenggelam dalam kecemasan, Alexa bahkan sampai bermimpi buruk.


Arthur yang bermandikan darah, luka yang memenuhi seluruh tubuhnya, dan nafasnya yang sudah terhenti saat Alexa memegangnya.


Semua hal itu, terlihat jelas dan seolah-olah hal itu adalah kenyataan dan bukan hanya sekedar mimpi.


Alexa benar-benar terpengaruh dengan bayangan dalam mimpinya itu, hingga membuatnya benar-benar merasa ketakutan.


Tanpa Alexa sadari, kecemasan berlebihannya itu sudah mengganggu mekanisme di dalam tubuhnya, hingga akhirnya Alexa jatuh sakit.