It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 14



28 Januari 2000.


09:00.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Ponsel Arthur berbunyi, saat Arthur masih berusaha memakai celana panjangnya sendiri.


Arthur tidak mengambil ponselnya, dan tetap memakai celananya, hingga ponsel itu berhenti berbunyi.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Kembali ponsel berbunyi, dan kali ini, Arthur baru saja selesai mengancing ritsleting celananya.


Sebelum ponsel itu berhenti berbunyi, Arthur sudah memegangnya dan menyambut panggilan telepon yang masuk.


"Halo!" sapa Arthur.


"Kamu menjalani terapi hari ini, kan?" tanya Josh dari seberang, tanpa membalas sapaan Arthur, dan terdengar buru-buru.


"Iya," jawab Arthur.


"Tunggu saja di sana. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Aku sudah di jalan pulang," kata Josh, dan tanpa menunggu jawaban Arthur, dia segera memutuskan sambungan telepon itu.


Jam 07:00 pagi tadi, Josh pergi ke kantor, dan semestinya dia masih bekerja sekarang ini.


Entah Chief akan mengomel seperti apa nanti, saat dua anak buah yang paling sering dia perhatikan, menghilang dari kantor terus menerus.


Arthur kemudian menarik jaket dari gantungan baju, lalu memakainya asal-asalan di punggungnya, sebelum dia berjalan keluar dari apartemennya.


Ketika Arthur mencapai trotoar, mobil Josh juga sudah terlihat menepi menghampirinya.


Arthur bergegas masuk ke dalam mobil, dan duduk di dalamnya.


"Apa tidak ada yang harus kamu kerjakan?" tanya Arthur.


Josh yang baru saja memacu mobilnya, sempat menoleh sebentar ke arah Arthur, sebelum dia berkata,


"Tidak ada kasus yang mendesak. Lagipula, aku sudah minta izin kepada Chief tadi."


Arthur menatap ke jalanan dari jendela di sampingnya.


Bukan cederanya yang sedang membuatnya gelisah, melainkan mimpi yang dialami Arthur semalam, yang mengganggu pikirannya hingga saat ini.


Mungkinkah Alexa memang akan menerima perasaan Arthur? Sama seperti mimpinya itu?


Mimpi yang manis, saat Alexa membiarkan Arthur memeluk dan menciumnya dengan penuh perasaan, namun mimpi itu justru hanya membuat Arthur menjadi kesal.


"F*ck!" Tanpa sadar Arthur mengeluarkan makian dari mulutnya.


"What the hell?! Kenapa kamu memaki?" tanya Josh, tampak mengerutkan alisnya dalam-dalam.


"Membosankan saat aku hanya berdiam diri, dan menghabiskan waktu di apartemen saja," jawab Arthur asal.


Tidak semua yang dikatakan oleh Arthur itu hanyalah omong kosong.


Arthur yang banyak menghabiskan waktu sendirian, tanpa pekerjaan yang biasanya bisa membuat pikirannya sibuk, menjadikannya senantiasa mengingat Alexa di setiap waktu, yang terasa berjalan sangat lambat.


Mungkin itu sebabnya, hingga Arthur bisa memimpikan Alexa dalam tidurnya.


Arthur bisa saja pergi ke rumah sakit tempat Alexa di rawat, namun Arthur tidak mau Alexa merasa kalau Arthur sedang menekannya.


Mau tidak mau, Arthur lah yang harus menahan diri, meskipun rasa rindunya seakan-akan bisa membuatnya jadi gila.


"Kita sudah sampai!" ujar Josh, membuyarkan lamunan kosong Arthur.


Tanpa berlama-lama lagi, Arthur segera keluar dari mobil dan bergegas menuju ruang terapi, untuk melakukan terapi khusus bagi bahu dan tangannya, agar bisa berfungsi normal.


Belas luka di bahunya sudah mengering, namun karena pecahan peluru yang mengenai saraf di bahunya, membuat Arthur kehilangan kemampuan untuk menggerakkan tangannya seperti biasa.


Arthur yang kidal, tentu jadi tidak bisa berbuat apa-apa yang berguna, saat tangan kirinya tidak bisa berfungsi dengan baik.


"Coba genggam ini, sekuat yang anda bisa."


Terapis meletakkan sebuah bola karet di telapak tangan kiri Arthur, setelah Arthur selesai melakukan pemeriksaan, dan menjalani perawatan dengan alat bantu khusus.


Arthur mencoba untuk meremas bola itu, namun jangankan untuk meremasnya, menutup telapak tangannya saja, Arthur masih kesulitan.


"Maaf. Mungkin saya terlalu terburu-buru ... Anda cukup membuka menutup telapak tangan anda saja dulu," ujar si terapis yang merawat Arthur itu.


"Bagus!" kata terapis.


"Apanya yang bagus?" tanya Arthur kesal.


"Arthur!" Josh menegur tingkah kasar yang diperlihatkan oleh Arthur, hingga Arthur mengangkat wajahnya, dan melihat ke arah Josh yang berdiri di dekatnya.


"Maaf, Pak!" ucap si terapis, yang tampak seperti sedang merasa ketakutan.


"Hufft ...! Aku yang seharusnya meminta maaf," ucap Arthur setelah mendengus pelan.


"Saraf anda masih berfungsi dengan baik, hanya ototnya saja yang masih kaku, karena cedera yang anda alami. Walaupun begitu, penyangganya belum bisa di lepas total....


... Anda hanya bisa melepasnya kurang lebih sepuluh menit setiap satu jam. Hanya untuk anda melatih gerakan perlahan-lahan saja. Dan bukan untuk dipakai melakukan aktifitas yang berat," kata terapis menjelaskan.


"Sambil tetap memakai penyangga, setiap saat, anda bisa membuka tutup telapak tangan anda, agar jari-jari tangan anda tidak kaku," lanjut terapis itu.


"Berapa lama kira-kira hingga aku bisa benar-benar pulih?" tanya Arthur. "Aku mau segera kembali bekerja."


"Kalau menurut perkiraan saya, mungkin tidak sampai satu bulan, anda sudah bisa memakai tangan anda seperti biasa....


... Namun, saya tidak bisa memastikan tentang anda kembali bekerja. Anda kidal, bukan? Untuk bisa memegang senjata yang berat, mungkin akan butuh waktu lebih lama," jawab si terapis.


"Hufftt ...!" Arthur mendengus kesal.


"Saran saya, sebelum saya memastikan kalau anda bisa beraktifitas berat, anda jangan coba-coba melakukannya....


... Karena, nanti malah memperlambat proses pemulihan. Bahkan beresiko memperparah efek cedera," kata terapis itu, pelan.


"Okay. Sekarang terapinya sudah selesai?" tanya Arthur.


"Iya. Tolong diingat pesan saya, pak!" kata terapis mengulang perkataannya. "Semoga lekas sembuh!"


Arthur yang tadinya sempat disuruh untuk melepaskan kemeja yang dia pakai, kemudian memakai kembali kemejanya itu, dengan dibantu Josh.


11:37.


Tidak terasa, ternyata membutuhkan waktu cukup lama bagi Arthur menjalani perawatannya, di rumah sakit itu.


Josh yang menemani Arthur juga tampak tersentak, saat melihat jam yang tertera di tampilan layar Nokia 6210 miliknya.


"Aku tadi bilang kepada Chief, kalau aku akan kembali sebelum jam makan siang," ujar Josh tampak cemas.


"Ayo kita buru-buru pergi dari sini, kalau begitu!" ajak Arthur.


Arthur menyambar jaketnya, dan hanya menentengnya begitu saja, sambil berjalan bersama Josh.


"Apa kamu mau singgah makan siang?" tanya Josh, ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam mobilnya.


"Bukannya, kamu sudah terlambat?" tanya Arthur.


"Tidak apa-apa. Sudah terlanjur."


"Hmm ... Singgah di Drive thru saja. Aku mau makan burger dan kentang goreng."


"Huh? Tumben! Biasanya, kamu tidak suka makan cepat saji." Josh tampak heran dengan pilihan makan siang Arthur.


"Sekali-kali berbeda, tidak masalah, kan?"


"Terserah kamu saja." Josh kemudian memacu mobilnya, dan mengarah ke salah satu restoran makanan cepat saji.


Arthur tidak memperhatikan apa saja pesanan Josh di situ, karena dia yang terlalu sibuk melamun kosong lagi.


Hingga Josh mengambil pesanannya, dan memacu mobilnya lagi pun, Arthur masih tidak memperhatikan gerak-gerik, ataupun arah yang menjadi tujuan Josh dengan mobilnya.


Ketika, memasuki pelataran parkir rumah sakit jiwa, barulah Arthur tersadar, lalu bertanya dengan rasa heran,


"Apa yang kamu lakukan di sini?"


Josh mengambil satu bungkusan makanan berukuran cukup besar, lalu menyodorkannya kepada Arthur.


"Aku tahu kalau kamu sedang memikirkannya. Temui saja dia, dan bawa ini bersamamu. Nikmati waktumu, nanti aku menjemputmu lagi," kata Josh.


"Tapi, Alexa—" Arthur tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Katakan saja padanya, kalau aku yang menyuruhmu memberikan ini," ujar Josh menyela perkataan Arthur. "Cepatlah pergi! Sebelum dia sempat memakan makanan rumah sakit."