
29 Desember 1997.
Kelihatannya, gerak-gerik Alexa selama ini, sedang berada di dalam pantauan Willing Grup, namun Alexa sama sekali tidak menyadarinya.
21:35.
Alexa dan Damian baru saja kembali ke gudang wilayah bagian Barat kota Hills itu, setelah Damian memaksa agar Alexa ikut menghabiskan waktu bersamanya.
Apalagi, setelah kehamilan Alexa diketahui oleh Damian, dan ditambah lagi dengan permasalahan keluarga Alexa, yang tanpa sengaja diketahui oleh Alexa dan Damian.
Kondisi kesehatan ayah Alexa yang ternyata sedang dalam keadaan buruk di rumah sakit, hingga ibu tiri dan adik laki-laki Alexa tampak benar-benar kesulitan menjalani hidup mereka.
Walaupun Alexa tidak mengeluh di depan Damian, namun justru itu mungkin yang membuat Damian tampak semakin gelisah.
Damian seolah-olah semakin menjadi-jadi rasa bersalahnya kepada Alexa, dan tampak berusaha keras agar Alexa bisa merasa senang hari itu bersamanya.
Namun Alexa juga harus mengakui, kalau waktunya seharian tadi bersama Damian memang menyenangkan, dan bisa membuatnya sedikit melupakan hal-hal yang membebani pikirannya.
Akan tetapi, ketika Alexa melihat beberapa orang yang memakai pakaian rapi yang menunggunya di gudang, semua rasa senang itu lantas menghilang begitu saja.
Orang-orang yang menjadi utusan Willing Grup, seolah-olah tidak mau memberi kesempatan bagi Alexa untuk sedikit bernafas lega.
"Miss Alexa! Senang bisa bertemu dengan anda lagi."
Salah seorang dari utusan Willing Grup itu, menyapa Alexa, sambil mengulurkan sebelah tangannya hendak berjabat tangan dengan Alexa, namun Alexa tidak mau menyambut tangannya itu.
Yang Alexa tahu, bahwa laki-laki yang tampak berusia sekitar lima puluh tahunan yang menyapanya itu, bernama Freddy Gobbler.
Karena laki-laki itulah yang pernah menemui Alexa, dan memberikan tawaran sejumlah uang yang dianggap sebagai pengganti kerugian yang dialami oleh Alexa, karena tindakan buruk Mark William.
Freddy Gobbler bekerja sebagai Penasihat di Willing Grup, dan menjadi kaki tangan kepercayaan dari keluarga William.
"Apa lagi yang kalian inginkan kali ini?" tanya Alexa sinis, sambil tetap berdiri berhadap-hadapan dengan Penasihat Willing Grup itu.
"Miss Alexa! Anda pasti lelah. Sebaiknya anda duduk dulu. Istirahatkan kaki anda, agar kandungan anda tidak terganggu," kata Freddy.
Mata Alexa terbelalak.
Bagiamana orang ini bisa tahu kalau Alexa sedang hamil, kalau mereka tidak memata-matai semua yang dilakukan oleh Alexa.
"Kalian memata-matai Alexa? Dasar brengsek!" ujar Damian tiba-tiba, dengan suara meninggi, seolah-olah sedang mengutarakan apa yang sedang dipikirkan oleh Alexa.
"Tenangkan diri anda! Kami tidak berniat buruk. Justru kami datang ke sini, untuk menawarkan sedikit bantuan."
Freddy berbicara dengan suara yang terdengar sangat tenang, seolah-olah dia tidak terpengaruh dengan kekesalan yang ditampakkan oleh Damian.
"Apa Miss Alexa tidak berniat mengaborsi kandungannya?" tanya Freddy tanpa beban.
Alexa rasanya ingin menampar laki-laki itu saat itu juga, namun dia masih menahan kemarahannya agar tidak meledak, dan mungkin hanya akan menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri nantinya.
"Tidak. Saya akan mempertahankannya," jawab Alexa datar.
"Umm ... Baik ... Saya tidak akan membuang waktu anda dengan banyak berbasa-basi. Jadi, saya langsung pada intinya saja," kata Freddy.
Alexa sebenarnya sudah bisa menduga apa yang akan dibicarakan oleh Freddy, namun Alexa masih membiarkannya berbicara di situ.
"Willing Grup akan menanggung semua biaya yang Miss Alexa butuhkan, hingga Miss Alexa melahirkan nanti....
... Bahkan, Willing Grup akan menanggung semua kebutuhan hidup dari anak Miss Alexa, hingga dia cukup umur," ujar Freddy memberi tawarannya kepada Alexa.
"Kami juga tahu, kalau ayah dari Miss Alexa sedang membutuhkan banyak biaya, untuk perawatannya di rumah sakit, dan Willing Grup juga akan menanggung semua biayanya....
Sesuai dengan dugaan Alexa, kalau Willing Grup lagi-lagi hanya akan menawarkan uang, untuk menjadi pengganti dari tuntutan hukum yang diajukan oleh Alexa.
Alexa juga sudah tidak heran kalau Willing Grup bisa mengetahui tentang ayah Alexa, jadi Alexa sama sekali tidak terkejut, setelah mendengar tawaran Willing Grup, yang ikut mencakup hingga ke perawatan ayah Alexa di rumah sakit.
"Untuk meyakinkan anda kalau Willing Grup tidak hanya bicara kosong, jika anda setuju akan tawaran dari kami, maka kita akan membuat perjanjian tertulis di depan kuasa hukum....
... Dengan begitu, Miss Alexa bisa mengklaim langsung kepada Willing Grup, atau melakukan tuntutan hukum kepada Willing Grup, jika Miss Alexa merasa kalau kami tidak menepati janji."
Tampak jelas, kalau Freddy ingin meyakinkan Alexa agar mau menerima tawaran 'berdamai' itu, dan mencabut laporan yang bisa membuat Mark William di penjara.
"Itu saja yang ingin kami sampaikan. Miss alexa bisa memikirkannya lebih dulu. Dan jika Miss Alexa setuju, maka Miss Alexa bisa menghubungi saya," kata Freddy, lalu memberikan kartu namanya kepada Alexa.
"Anda sudah pernah memberikan kontak anda," ujar Alexa yang tidak mau menerima kartu nama yang disodorkan padanya.
"Saya hanya mau memberikan ulang, karena mungkin saja kartu nama saya sudah tidak dimiliki oleh Miss Alexa lagi," kata Freddy, lalu meletakkan kartu namanya ke atas meja.
"Saya anggap pembicaraan kita sudah selesai. Kami permisi dulu! Terima kasih atas waktunya!" ujar Freddy, lalu berjalan keluar dari gudang, disusul oleh beberapa orang yang bersamanya.
"Alexa ...! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Damian.
Sudah kesekian kalinya, Alexa mendengar pertanyaan penuh kekhawatiran dari Damian itu.
Walaupun Alexa merasa bosan mendengarnya, namun dia tidak mau menyakiti perasaan Damian, yang Alexa tahu memang benar-benar mencemaskan keadaan Alexa.
"Tenang saja. Aku akan baik-baik saja," jawab Alexa, sambil memaksakan dirinya agar bisa tersenyum lebar.
***
Sepeninggalnya orang-orang dari Willing Grup itu, Alexa memilih untuk duduk bersantai di bagian depan di luar bangunan gudang.
Damian juga ikut menyusul Alexa di situ, sambil membawa dua cangkir coklat panas.
"Di minum! Selagi masih panas," kata Damian sambil menyodorkan secangkir coklat panas kepada Alexa.
"Apa kamu mau lidahku terbakar?" ujar Alexa, sambil tersenyum.
Damian yang masih berdiri, kemudian mengecup pucuk kepala Alexa. "Aku tidak tahu, apa mungkin kamu menyesal menjadi temanku. Tapi, asal kamu tahu saja, kamu teman terbaik yang pernah aku miliki."
"Pffftt ...! Jangan bercanda! Aku tidak pernah menyesal menjadi temanmu," sahut Alexa.
Damian lalu ikut duduk di bangku, bersebelahan dengan Alexa.
"Untuk libur pergantian tahun, Apa kamu mau menghabiskan waktumu bersama keluargaku? Adikku Sienna ingin sekali bisa bertemu langsung denganmu," ujar Damian.
"Aku akan pergi ke kediaman Sir Miller. Tapi, aku bisa singgah di rumahmu nanti, walau hanya sebentar. Tidak apa-apa, kan?" kata Alexa.
"Okay! Kalau begitu, kita besok hanya akan menerima orderan ke distrik Utara," sahut Damian.
Meskipun malam itu Alexa sedang berbincang-bincang santai dengan Damian, namun pikirannya sesekali teralihkan akan pembahasan yang dilakukan oleh utusan Willing Grup tadi.
Namun bukan masalah nilai uang tawaran mereka yang menjadi pikiran Alexa, melainkan karena Alexa yang tidak mau berurusan dengan orang-orang itu lagi, yang hanya akan membuat kepalanya sakit.
Menurut dugaan Alexa, pihak Willing Grup tampaknya tidak akan berhenti 'menempelkan hidungnya' kepada Alexa, jika Alexa masih tidak mau menerima tawaran mereka untuk berdamai.
Dengan begitu, Alexa akan senantiasa diganggu oleh mereka, dan itu akan sangat menjengkelkan nantinya, jika Alexa tidak bisa tenang gara-gara tingkah mereka itu.
Jadi, Alexa mulai mempertimbangkan ulang langkah selanjutnya yang akan dia ambil, apakah dia akan meneruskan tuntutan hukum kepada Mark William, atau dia akan menerima tawaran Willing Grup itu saja.