
18 November 1997.
Di hari Selasa itu, adalah waktunya bagi perjanjian kontrak Mark William untuk berakhir.
Selama delapan hari yang panjang, karena banyaknya tempat yang harus dikunjungi oleh Mark William.
Namun hari ini Alexa, Damian dan Benny, sudah dalam perjalanan mengantar Mark dan dua orang lainnya, kembali ke bagian Barat kota.
Menurut penilaian Alexa, tingkah Mark selama di dua hari belakangan ini, tampak seolah-olah ingin bermanja kepada Alexa.
Mark berkali-kali meminta Alexa agar mau berkencan dengannya, bahkan sampai menyuruh Alexa untuk berhenti bekerja sebagai kurir.
Dengan alasan, kalau Alexa masih bekerja sebagai kurir, maka Mark tidak bisa bertemu dengan Alexa setiap hari, karena Alexa bisa saja sedang berada di bagian kota lain yang berbeda dari tempat Mark berada.
Mark benar-benar meminta kesempatan baginya, untuk bisa mengajak Alexa pergi berkencan agar bisa lebih dekat dengannya.
Menurut pendapat Mark, kalau Alexa bisa mengenalnya dengan baik, maka Alexa mungkin mau menjadi kekasihnya.
Namun, Alexa sudah membulatkan pikirannya, bahwa dia tidak mau terlibat dalam hubungan romantis dengan laki-laki manapun, untuk sementara ini.
Dengan begitu, Alexa tetap menolak permintaan Mark untuk berkencan, apalagi kalau Alexa sampai harus berhenti bekerja sebagai kurir.
——————
"Apa yang membuatmu terus bersikukuh untuk menolakku? Apa karena rumor yang kamu dengar di luaran tentang aku? Atau karena pertemuan kita pertama kali? Atau mungkin wajah dan fisikku, tampak buruk rupa di matamu?"
Pertanyaan demi pertanyaan Mark yang meluncur keluar dari mulutnya, seperti rentetan tembakan senapan mesin.
Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sir! Tidak ada satupun alasan yang menjadi dugaan anda, yang benar adanya....
... Saya hanya tidak mau berhubungan romantis dengan siapa-siapa, karena saya tidak siap untuk hal itu sementara ini. Itu saja, Sir!" sahut Alexa.
"Paling tidak, kamu berikan kesempatan bagiku untuk mencobanya. Aku akan melakukan segalanya, agar kamu bisa membuka hatimu untukku."
Mark tampak tidak mau menyerah, dan tetap bersikeras dengan pendirian dan keinginannya.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus kasar.
"Alexa! Aku mencintaimu!" ujar Mark.
"Huuffft ...!" Lagi, Alexa mendengus kasar.
"Sir! Tolong hentikan pembicaraan ini. Saya masih harus berkonsentrasi untuk mengemudi. Perjalanan kita masih butuh beberapa Mil lagi, baru kita tiba di distrik Barat," ujar Alexa pelan.
"Tapi—"
"Nanti saja kita bicarakan tentang hal itu. Biarkan saya mengemudi dengan tenang, demi keselamatan kita berdua," ujar Alexa menyela perkataan Mark.
——————
19:05.
Mereka sudah wilayah Barat kota, namun dengan alasan kontraknya yang baru akan berakhir nanti di jam dua belas malam, Mark masih bisa meminta pelayanan pengantaran ke manapun dia mau pergi, selama masih ada waktu yang tersisa.
Mark tidak mau diantar kembali ke kediamannya, justru meminta Alexa untuk mengantarnya ke sebuah restoran untuk makan malam.
Sembari menikmati makan malam bersama di restoran itu, Mark juga memberitahu kalau dia masih belum mau kembali ke rumahnya, dan dia akan singgah di gudang.
Dan nantinya, akan ada orang yang akan menjemput dia di sana.
Alexa, Damian dan Benny bertatap-tatapan, saat mendengar permintaan Mark itu, namun tidak ada yang bisa menolak keinginan Mark itu.
Ketika mereka semua sudah selesai makan, seharusnya mereka langsung ke gudang, sesuai dengan permintaan Mark tadi.
Setibanya Alexa di gudang, parkiran di dalam gudang tampak lengang, tanpa ada satupun kendaraan kurir yang terparkir di sana.
Kelihatannya, semua kurir sedang melakukan pengantaran, dan hanya pegawai administrasi yang ada di area kantor saja yang terlihat berada di ruang kerjanya.
20:23.
Alexa melihat waktu di arloji di pergelangan tangannya, sebelum dia melompat turun dari mobilnya.
Mark William terlihat pergi duduk bersama Benny, dan salah satu bodyguard-nya tampak berdiri di dekatnya.
Sedangkan Alexa, pergi ke pintu gudang dan berdiri di sana, menunggu kedatangan Damian.
Kurang lebih lima sampai sepuluh menit, Alexa sudah bisa melihat kalau mobil Damian sudah berbelok masuk ke halaman gudang.
Alexa bergegas mendatangi area kantor, lalu menyerahkan lembaran berkas perjalanan kontrak bersama Mark, yang sudah selesai mereka lakukan, kepada pegawai administrasi.
Ketika Alexa keluar dari area kantor itu, terlihat Damian sudah ikut duduk bersama Benny dan Mark, sementara bodyguard Mark yang jadi penumpang Damian, tampak berdiri bersama rekannya.
Yang menarik perhatian Alexa, di atas meja di depan tempat Mark, Damian dan Benny duduk, tampak ada dua botol minuman berkadar alkohol tinggi, lengkap dengan empat buah gelas kaca.
"Alexa! Duduk di sini bersamaku!" ajak Mark.
"Maaf, Sir. Tapi, saya tidak minum alkohol, dan saya ingin segera pergi membersihkan diri," sahut Alexa.
"Kamu tidak perlu minum, kalau kamu tidak mau. Aku hanya ingin kamu duduk menemani kami di sini sebentar," ajak Mark lagi.
Akhirnya Alexa ikut duduk bersama mereka di situ.
Sembari meminum minuman beralkohol, Mark tampak santai berbincang-bincang dengan Damian dan Benny, yang juga ikut meminum minuman memabukkan itu.
Sedangkan Alexa, mengambil sekaleng minuman bersoda yang juga ada di atas meja, dan meminumnya sedikit demi sedikit, sambil mendengarkan percakapan mereka yang duduk bersamanya di situ.
Minuman bersoda milik Alexa sudah habis dia minum, dan rasa lengket karena berkeringat di sepanjang perjalanan tadi, membuat Alexa beranjak pergi dari situ, meninggalkan Mark, Damian dan Benny yang masih menikmati minuman mereka.
Setelah mengambil kopernya dari dalam mobil, Alexa pergi ke salah satu kamar karyawan, dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
***
22:48.
Arloji yang sempat dilepaskan dari pergelangan tangannya saat akan mandi tadi, dipakai kembali oleh Alexa, lalu berpakaian di dalam kamar tidur itu.
Alexa baru saja selesai memasukkan sebelah kakinya ke dalam celana panjangnya, tiba-tiba Alexa merasa kalau ada orang yang berjalan di belakangnya.
Belum sempat Alexa berbalik, mulutnya sudah dibekap dan disumpal dengan kain.
Karena kondisinya yang tidak siap, Alexa tidak bisa berbuat banyak untuk melawan, karena Mark dibantu oleh dua orang bodyguard-nya yang berbadan tinggi besar, menahan semua pergerakan perlawanan yang bisa Alexa lakukan.
Kedua tangan Alexa diikat di bagian kepala tempat tidur yang berbahan logam, begitu juga kedua kakinya yang diikat di bagian kaki tempat tidur.
Dengan begitu, Alexa benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Ketika Mark beranjak naik dan menindih tubuhnya pun, Alexa tidak bisa berteriak minta tolong karena mulutnya yang tersumbat dengan gumpalan kain.
Alexa bisa melihat dengan ujung matanya, kalau dua orang bodyguard Mark tampak berjalan keluar dari kamar itu, dan menutup pintu.
Sedangkan Mark yang sekarang berada di atas Alexa, matanya tampak kemerahan penuh nafsu, seperti binatang buas yang menatap mangsanya, sebelum dia menikmati bagian demi bagian tubuh mangsanya itu.
Aroma alkohol tercium menyengat dari nafas Mark, yang sekarang menciumi hampir semua bagian wajah Alexa.
"Alexa ... Aku mencintaimu ... Maafkan aku. Aku sebenarnya tidak ingin melakukan hal ini. Tapi, aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain ... Ugh ... Aku benar-benar mencintaimu....
... Kalau kamu tidak mau menerimaku yang memintamu untuk jadi kekasihku dengan cara baik-baik, maka aku akan memaksamu agar kamu jadi milikku," kata Mark yang berbisik di telinga Alexa, sambil memeluk Alexa dengan erat.