It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 16



29 Januari 2000.


07:10.


Semenjak pertemuannya dengan Alexa kemarin siang, Arthur jadi terpikir akan perkataan Alexa, kalau mereka kemungkinan sudah pernah bertemu di jauh waktu sebelumnya.


Sambil menyesap kopi panasnya, Arthur yang masih mengenakan jubah mandi, duduk di kursi dapur, sambil mengingat-ingat kemungkinan tentang pertemuan mereka itu.


Namun, semakin Arthur mencoba mengingatnya, kepalanya malah terasa sakit, karena rasanya, Arthur tidak akan bisa lupa, kalau dia memang pernah bertemu wanita secantik Alexa.


Ah, sudahlah!


Alexa juga tidak bisa memastikan kalau mereka memang pernah bertemu.


Tapi, kalau memang benar mereka pernah bertemu, dan jika saja ketika pertemuan itu terjadi, lalu Alexa belum menikah, maka saat itu akan jadi saat yang akan sangat disesalkan oleh Arthur.


Karena seharusnya, Arthur tidak melewatkan kesempatan untuk bisa memiliki Alexa saat itu, tanpa harus ada kontroversi dengan siapa-siapa, seperti keadaannya sekarang ini.


Mark William ... Arthur rasanya ingin segera menghapus nama itu, dari catatan kehidupan di dunia ini.


Astaga!


Apa yang sedang Arthur pikirkan sekarang?


Arthur tampaknya benar-benar telah terjatuh ke dalam pesona Alexa, dan tidak akan bisa bangkit lagi.


Hingga di usianya yang memasuki tiga puluh tiga tahun, Arthur tidak pernah merasa tertarik kepada wanita, sampai membuatnya seakan-akan bisa menjadi gila jika tidak mendapatkannya.


Arthur berdiri dari tempat duduknya, dan pergi ke kamar mandi, karena dia ingin bersiap-siap untuk menjalani terapi, lalu menemui Alexa lagi hari ini.


***


11:40.


"Kriiing! ... Kriiing!"


Ponsel Arthur berbunyi tepat saat dia baru saja selesai memakai kemejanya.


"Halo!" sapa Arthur.


"Halo, Arthur! Kamu masih di rumah sakit?" tanya Josh dari seberang.


"Iya, aku baru saja selesai menjalani terapiku," jawab Arthur. "Ada apa?"


"Hmm ... Anu ... Aku tahu kalau kamu belum bisa bekerja. Tapi, aku benar-benar butuh bantuanmu," jawab Josh dari seberang telepon.


"Ada masalah apa? Bicara yang jelas!" ujar Arthur.


"Aku mau meminta tanggapanmu, untuk kasus yang aku tangani," jawab Josh. "Rekanku yang menggantikan kamu sekarang ini, tidak berguna sama sekali."


"Aku ada janji untuk menemui Alexa," sahut Arthur.


"..." Hening.


Untuk beberapa saat, Arthur tidak mendengar sahutan Josh dari seberang telepon, dan menurut Arthur, kasus yang ditangani Josh berarti cukup penting.


"Jemput aku di rumah sakit!" ujar Arthur, lalu memutus sambungan telepon itu, tanpa menunggu tanggapan Josh lagi.


Kelihatannya, Josh memang benar-benar disibukkan dengan kasus baru yang dia tangani.


Sampai-sampai, Josh tidak kembali ke apartemen milik Arthur sejak dia pergi kemarin sore, setelah mengantarkan Arthur pulang dari rumah sakit tempat Alexa dirawat.


Sembari berjalan pelan di koridor rumah sakit, Arthur membayangkan kemungkinan dari kasus apa yang membuat Josh menjadi panik.


Setibanya Arthur di pintu depan rumah sakit, dari kejauhan, terlihat mobil Josh yang baru saja melewati gerbang, dan memasuki pelataran parkir.


Arthur kemudian berjalan menyusul di mana mobil Josh terparkir.


"Maafkan aku!" ucap Josh, ketika Arthur membuka pintu mobil, dan masuk ke dalam situ.


"Tidak usah meminta maaf. Langsung ke pokok permasalahannya saja," ujar Arthur.


Arthur mengeluarkan bungkusan rokok dari saku jaketnya, dan menyalakannya sebatang, sambil menunggu apa yang akan dikatakan oleh Josh.


"Ada kasus pembunuhan yang dilaporkan kemarin sore. Tubuh korbannya dimutilasi. Semua potongan tubuhnya sudah ditemukan, kecuali bagian alat vitalnya," ujar Josh.


"Masih kasus biasa saja ... Bukan baru kali ini, kamu menemui kasus seperti itu," sahut Arthur, lalu menghembuskan asap tebal dari mulutnya.


"Kalau kamu cuma mendengar sepintas, menurutmu pelakunya pasti orang terdekatnya, bukan?!" ujar Josh.


"Tapi kali ini, ada sedikit perbedaan dari kasus-kasus sebelumnya yang pernah kita tangani," lanjut Josh.


"Apa perbedaannya?" tanya Arthur yang mulai merasa terganggu, karena Arthur menganggap Josh terlalu lambat memberikan keterangannya.


Josh lalu mengambil selembar map di atas dashboard mobilnya, dan menyodorkannya kepada Arthur.


"Kita ke TKP saja, agar kamu bisa mengerti maksudku," kata Josh, lalu tampak kembali berkonsentrasi mengemudikan mobilnya di jalan raya.


Arthur melihat berkas laporan di tangannya, sambil sesekali menghisap rokoknya yang masih menyala.


Korban pembunuhan, adalah seorang anak laki-laki yang masih sangat kecil, dengan foto korban saat dia masih hidup, lalu foto-foto korban saat ditemukan sudah tidak bernyawa.


Selain daripada itu, tidak ada keterangan lain yang bisa membantu Arthur untuk membuat perkiraan.


"Kenapa laporannya hanya seperti ini saja?" tanya Arthur. "Apa kalian tidak meminta keterangan dari keluarga korban?


Josh tidak menjawab pertanyaan Arthur, dan hanya terdiam sambil tetap menatap ke arah jalanan.


Setelah kurang lebih dua puluhan menit yang berlalu kemudian, perjalanan mereka dihentikan Josh di daerah pemukiman yang berada di bagian pinggiran kota.


Daerah itu, penduduknya sangat minim, dengan rumah-rumah penduduk yang tampak berjarak cukup jauh antara satu dengan yang lain.


Sebuah gedung tua tampak seperti rumah ibadah yang terbengkalai, menjadi tempat Josh menghentikan rotasi ban dari mobilnya, dan memarkirkan kendaraannya itu.


"Kamu lihat saja sendiri. Korbannya sudah di evakuasi, tapi selain itu tidak ada yang mengubah apapun yang ada di tempat ini," kata Josh.


Arthur kemudian beranjak keluar dari mobil Josh, dan melewati garis polisi yang terpasang melintang, di depan pintu gedung.


Masih ada beberapa petugas polisi berseragam yang masih berjaga di sana, namun tampak benar-benar hanya berjaga-jaga saja, dan tidak melakukan apa-apa.


Di dalam gedung itu, di antara bangku-bangku panjang yang tidak tersusun rapi, dan tampak berantakan, terlihat beberapa mobil mainan, dan mainan masak-masakkan yang tergeletak begitu saja.


Di dalam mangkuk dan piring mainan tampak dipenuhi dengan bekas darah kering, begitu juga di bagian lantai tempat peralatan masak tiruan, yang dijadikan sebagai mainan itu berada.


Bekas darah kering tampak terkonsentrasi di area itu saja, dan di bagian lain dari gedung itu, bersih dari ceceran darah.


"Coba kamu lihat baik-baik. Di area lain tidak ada tanda-tanda kalau ada barang, atau apapun juga yang dipindahkan dari posisi semula," kata Josh.


Arthur berjalan pelan, sambil memperhatikan semua bagian yang dikatakan oleh Josh.


Kelihatannya memang benar, karena ketebalan debu yang ada di sana tampak sama, seolah-olah tidak pernah tersentuh sama sekali.


Benar-benar, hanya di tempat mainan itu berada saja yang terlihat kurang berdebu, seolah-olah area itu sering dipakai beraktifitas.


"Bagaimana anak-anak yang menjadi teman bermain korban? Apa tidak ada yang bisa dimintai keterangan?" tanya Arthur.


"Itu yang jadi masalahnya. Asal kamu tahu saja, kalau korban adalah anak yatim-piatu....


... Lalu, anak-anak yang menjadi temannya itu masih terlalu kecil. Mereka sama sekali tidak mengerti akan situasi yang terjadi....


... Bahkan potongan tubuh korban, anak-anak itu menjadikannya sebagai mainan....


... Ketika anak-anak itu pulang, dan para orangtua mereka melihat bekas darah di tangan anak-anak mereka itu, barulah para orangtua menyadari, kalau ada sesuatu yang tidak beres....


... Hingga akhirnya mereka datang memeriksa tempat ini, yang memang biasa menjadi tempat anak-anak itu berkumpul dan bermain....


... Ketika para orangtua itu menemukan korban yang tubuhnya sudah termutilasi, mereka kemudian membuat laporan ke kepolisian, tanpa bisa memberikan keterangan tambahan, yang bisa membantu penyelidikan."


Josh bicara panjang lebar, menjelaskan situasi yang ada di tempat itu, dan Arthur mendengarkannya dengan seksama.