
6 Maret 2000.
13:35.
Kepingan pecahan gelas dan botol wine, berhamburan di atas lantai.
Beberapa furniture yang ada di dalam ruangan itu, terlihat seperti terkikis oleh suatu benda yang tajam.
Kertas yang bergumpal dari buku-buku yang berserakan, sebagian tampak bernoda merah, namun kotoran berwarna merah itu bukanlah darah, melainkan akibat cipratan cairan Wine.
Noda di dinding, adalah noda darah yang mengering, lengkap dengan garis-garis vertikal bekas dari jari-jari berdarah yang terseret di situ.
Terlihat juga kuku-kuku jari korban yang patah, dan sebagian dari kuku-kuku itu tampaknya terlepas utuh dari jari-jari tangan korban, dan tergeletak di lantai tepat di bagian bawah dinding itu.
Ruangan itu tampak seperti tempat penjagalan hewan, dengan potongan dan helaian rambut berukuran panjang dan pendek yang ada di sana-sini, begitu juga pulau darah dan cecerannya yang ada di mana-mana.
Kepala dari korban hampir terlepas dari badannya, akibat luka sabetan senjata tajam yang mengenai lehernya, begitu juga lubang tusukan yang menembus dari perut hingga ke bagian belakangnya.
Bekas sabetan senjata tajam yang merobek pakaian korban, meninggalkan bekas luka menganga di hampir setiap bagian tubuh korban.
Arthur memperhatikan baik-baik, setiap area yang tampaknya baru saja dijamah oleh siapapun yang menjadi pelaku pembunuhan itu.
Dengan memakai sarung tangan karet, Arthur memegang satu persatu benda-benda yang kemungkinan tidak berada di tempat sebenarnya, lalu mempelajari setiap bentuk barang yang berserakan.
Hanya dengan menghafal semua bentuk barang-barang di situ, Arthur bisa menyusun ulang bayangan di mana letak benda-benda itu seharusnya berada.
Arthur bisa membayangkan, bagaimana tampilan ruangan itu, ketika belum terjadi kekacauan yang mengakibatkan kematian bagi si penghuni rumah.
Arthur bahkan bisa membayangkan adegan reka ulang kejadian, dengan menggunakan imajinasinya saja.
Dua korban.
Menurut Arthur, seharusnya ada dua korban pembunuhan di tempat itu, namun hanya ada satu tubuh korban yang tergeletak di sana.
"Ambil semua sampel noda darah di tempat ini! Jangan ada yang terlewatkan! Percuma kalian mencari sidik jari. Kalian hanya akan menemukan sidik jari korban saja di sini!"
Arthur memberi perintah kepada petugas identifikasi TKP, dengan rasa gemas karena para petugas itu hanya terlihat sibuk mencari sidik jari di tempat itu.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Josh penasaran.
"Pelakunya lebih dari dua orang. Dugaanku, mereka paling sedikit berjumlah empat—" Arthur menghentikan perkataannya, karena dia mengingat sesuatu.
Arthur mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, dan menghubungi nomor kontak Lucy di situ.
"Halo, Arthur! Ada yang bisa aku bantu?" sapa Lucy dari seberang.
"Halo, Lucy! ... Tolong buka file Handkerchief! Kalau tidak salah, file di tahun 1996," ujar Arthur.
"Tunggu sebentar! ..." sahut Lucy.
"Kenapa kamu menanyakan kasus itu?" tanya Josh yang tampak heran akan tindakan Arthur.
"Entah ini adalah deja vu atau hanya peniru," sahut Arthur kepada Josh, sambil menunggu kabar dari Lucy di sambungan telepon.
"Handkerchief 1996 ... Bla ... Bla ...!" Lucy kemudian menjelaskan apa saja yang tertulis di dalam berkas itu.
"Apa gerombolan itu masih di tahan?" tanya Arthur, setelah Lucy selesai bicara.
"Iya. Hukuman mereka masih lima tahun lagi," sahut Lucy.
"Okay, Lucy! Itu saja ... Terima kasih!" ujar Arthur, lalu memutus sambungan telepon itu, setelah Lucy berkata, "Sama-sama."
"Kita mungkin berhadapan dengan peniru!" Arthur berceletuk.
Arthur kemudian kembali memperhatikan ruangan itu, untuk mencari tanda-tanda akan apa yang kemungkinan terjadi pada korban yang satunya lagi.
Salah satu petugas identifikasi di situ terlihat mengelap keringatnya dengan tangannya, lalu kembali memegang lengan jenazah.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?" tanya Arthur, setengah membentak petugas identifikasi itu.
"Maaf, detektif. Dia anggota baru," kata salah satu dari petugas identifikasi, tampak berusaha membela rekannya.
"Iya," sahut Arthur.
Handkerchief adalah nama gerombolan perampok yang melakukan pencurian, dengan menggunakan tindak kekerasan.
Gerombolan penjahat itu, walaupun rata-rata masih berusia sangat muda, masih berusia di belasan tahunan, namun mereka tidak segan membunuh siapa saja yang menghalang-halangi niat jahat mereka untuk mencuri.
Mereka biasanya menggunakan penutup kepala, dan sarung tangan khusus, sehingga mereka tidak meninggalkan sidik jarinya di tempat kejadian perkara.
Komplotan Handkerchief tidak memakai senjata api, melainkan hanya memakai katana, pedang panjang yang menjadi senjata andalan seorang samurai.
Pola akan tindak kejahatan mereka, hanyalah cairan wine yang mereka pakai untuk menyiram tubuh korban, dan menyiram darah yang berceceran dari korban yang sudah tewas, dengan alasan konyol, agar arwah dari korban itu tidak menghantui mereka nanti.
Entah atas dasar alasan apa hingga mereka bisa memiliki ide seperti itu, Arthur juga tidak mengerti.
Bahkan saat di persidangan mereka pun, semua orang yang hadir di sana tidak bisa memikirkan sesuatu, yang bisa sesuai dengan jalan pikiran anak-anak remaja itu.
"Di mana kira-kira korban yang satunya lagi?" Arthur bertanya pada diri sendiri, walaupun dia mengeluarkan suaranya di situ.
"Ugh ...? Apa katamu? Ada korban lain?" tanya Josh kebingungan.
"Iya, dugaanku begitu ... Atau mungkin saja, kalau anggota komplotan itu yang terluka ... Aku belum bisa memastikannya," jawab Arthur, lalu menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya dengan kasar.
"Kalau anggota komplotan mereka yang terluka, maka kita tidak akan kesulitan menemukan mereka," sahut Josh.
Josh terlihat sibuk mencatat di sebuah buku kecil, tentang apa saja yang mungkin bisa menjadi petunjuk bagi mereka, untuk pencarian pelaku kejahatan.
"Kriiing! ... Kriiing!" Ponsel Arthur yang berbunyi, membuatnya buru-buru mengeluarkan benda itu dari saku jaketnya.
Panggilan yang masuk di ponsel Arthur, berasal dari nomor kontak yang tidak dikenal, walaupun sedikit merasa enggan, Arthur tetap menerima panggilan telepon itu.
"Ya, halo!" sapa Arthur.
"Halo! Maaf mengganggu. Tapi, apa benar ini nomor kontak dari Mister Smith?" tanya orang dari seberang telepon.
"Iya, benar. Ini saya Arthur Smith, yang bicara," jawab Arthur. "Siapa ini?"
"Saya perawat Mistress William. Saya mendapatkan nomor kontak anda dari Lucy teman anda....
... Maaf, Mister Smith. Seharusnya, saya tidak boleh menghubungi anda. Tapi, saya mengkhawatirkan Mistress William."
Suara orang yang berbicara dengan Arthur di seberang telepon yang mengaku sebagai perawat Alexa, terdengar seolah-olah dia merasa ragu-ragu untuk memberitahu sesuatu kepada Arthur tentang Alexa.
"Ada apa? Apa anda bisa bicara dengan jelas?" tanya Arthur mendesak orang di seberang telepon itu.
"Semenjak terakhir kali Mister Smith menjenguk Mistress William, kondisi kesehatannya menurun drastis....
...Dari yang awalnya Mistress William hanya bermimpi buruk, namun sudah dua hari ini demamnya tidak bisa turun. Dia terus menerus mengigau dengan memanggil-manggil nama anda....
... Saya khawatir, kalau-kalau ada dari anggota keluarga William yang datang menjenguknya, lalu kondisinya masih seperti itu, maka Mistress William dan anda, mungkin akan berada dalam masalah."
Orang yang berbicara di seberang telepon, terdengar berhati-hati menjelaskan tujuannya menghubungi Arthur.
"Jadi Alexa sedang sakit? Terima kasih informasinya, saya akan segera ke sana," ujar Arthur.
Tanpa menunggu tanggapan dari orang di seberang telepon itu lagi, Arthur lantas memutus sambungan telepon itu.
"Josh! Aku harus pergi sekarang. Ada yang ingin aku urus sebentar," kata Arthur.
Arthur dengan tergesa-gesa, beranjak pergi dari tempat kejadian perkara, di mana dia seharusnya menangani kasus pembunuhan bersama Josh.
"Arthur! Kamu mau ke mana?" seru Josh, sambil mengejar Arthur yang berjalan keluar dari rumah itu.
"Tolong, Josh! Aku benar-benar meminta bantuanmu kali ini," sahut Arthur. "Kamu bisa menghubungiku, kalau ada sesuatu yang benar-benar mendesak."
Arthur sempat menghentikan langkahnya sebentar, untuk berbicara sambil melihat ke arah Josh yang menyusul di belakangnya, sebelum dia lanjut berjalan menuju mobilnya yang terparkir di halaman.
Dengan kecepatan tinggi, Arthur melaju di jalanan, mengarah langsung ke rumah sakit jiwa tempat Alexa di rawat.