It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 19



30 Januari 2000.


08:47.


Hari ini Arthur tidak ada sesi terapi, hingga membuatnya berencana untuk berbelanja sedikit buah-buahan yang bisa menjadi bawaannya saat menemui Alexa.


"Surat kabar pagi! Sir! Madam!"


"Willing Grup memberikan sumbangan untuk museum kota!"


"Surat kabar pagi! Sir! Madam!"


"Misteri mutilasi di daerah xx sudah terungkap!"


"Surat kabar pagi, Sir!"


Seorang anak kecil yang menjajakan tulisan berita dalam lembaran kertas berwarna ke abu-abuan, menghentikan langkah Arthur yang sedang berjalan menyusuri trotoar jalanan di tengah kota.


Arthur melihat berita utama yang tercetak dengan huruf besar dan tebal, di lipatan kertas yang berlapis-lapis.


'WILLING GRUP MENDONASIKAN DANA DALAM JUMLAH BESAR UNTUK MENYELAMATKAN MUSEUM KOTA.'


"Ini!"


Arthur menyodorkan sejumlah uang, kepada anak kecil yang menawarkan beberapa koran kepadanya.


"Terima kasih, Sir!"


Arthur masih sempat mendengar ucapan anak itu, walaupun Arthur sudah cukup jauh berjalan dari tempat anak itu berdiri.


Tidak biasanya Arthur membeli koran seperti itu, karena Arthur menganggap kalau tulisan dari anggota pers, sebagian besar sering dilebih-lebihkan dari keadaan yang sesungguhnya terjadi.


Namun karena di surat kabar itu terpampang foto dari Mark William, cukup menarik perhatian Arthur, hingga membuatnya mau membeli satu cetakan di antara beberapa perusahaan penerbit surat kabar itu.


Sembari duduk di salah satu bangku kosong yang tersedia di trotoar, Arthur melihat lembaran kertas berukuran panjang dan lebar dengan kondisi setengah terlipat.


'Kiri ke kanan : Mark William, Walikota, Kepala Museum Kota.'


Begitu tulisan yang tertera di bawah foto tiga orang laki-laki yang sedang berdiri berdampingan, dalam cetakan gambar berukuran besar berwarna hitam putih.


Kemudian di paragraf awalnya tertulis, bahwa Mark William anak bungsu keluarga William's, yang juga sebagai pewaris utama—Mark William adalah anak laki-laki satu-satunya, di antara lima bersaudara dalam keluarganya—Willing Grup, menyerahkan sejumlah dana, demi menyelamatkan museum kota dari kebangkrutan.


Masih banyak tulisan di antara paragraf demi paragraf yang membanggakan sosok Mark William, namun Arthur tidak berminat untuk membaca kelanjutannya lagi.


Arthur lebih tertarik untuk melihat foto Mark William yang tercetak dengan ukuran besar, hingga hampir menghabiskan sepertiga halaman depan koran.


Menurut Arthur, jika saja Mark William tidak lahir di dalam keluarga yang kaya raya, maka Mark William tidak ada apa-apanya.


Baik wajah maupun postur tubuhnya, tidak ada yang mencolok, bahkan berada di bawah rata-rata penampilan laki-laki yang ada di kota itu, yang pernah ditemui Arthur.


Apalagi dengan track record, tentang kasus-kasus dari kelakuan buruknya, benar-benar tidak ada satu pun yang bisa membuatnya terlihat lebih baik daripada laki-laki lain.


Lalu, apa alasan yang membuat Alexa mau menerima laki-laki itu sebagai suaminya?


Apa Alexa memang mencintai—setahu Arthur memang terkadang ada wanita yang menyukai bad boy—Mark william?


Atau, apakah Alexa mau menikahinya hanya karena harta yang dimiliki laki-laki itu?


Tapi menurut penilaian Arthur, Alexa bukanlah wanita yang materialistis.


Bahkan menurut Arthur, sebagai seorang istri dari orang terkaya di kota—hingga hampir di seluruh bagian negara—itu, Alexa tampak berpenampilan terlalu sederhana.


Karena sejak Arthur melihat Alexa untuk pertama kalinya, wanita itu tampaknya memang tidak terbiasa memakai riasan wajah—alis Alexa tampak tidak dibentuk selayaknya wanita yang suka berdandan pada umumnya—ataupun melakukan perawatan tubuh selayaknya wanita ber-uang biasanya.


Jadi, rasanya Arthur bisa dengan yakin untuk menyingkirkan tentang harta, dari alasan Alexa mau menikah dengan Mark William.


Namun, Alexa yang belum menceritakan tentang pernikahannya, ataupun membuka hatinya untuk Arthur, hanya membuat Arthur merasa frustrasi.


Karena nalurinya sebagai laki-laki, menjadi alasan kewajaran, jika Arthur ingin bersaing dengan Mark William, demi mendapatkan Alexa.


Bukan tanpa alasan hingga Arthur bisa berpikir seperti itu.


Arthur sudah pernah bertanya kepada beberapa orang perawat di rumah sakit jiwa, tentang Alexa yang dirawat di rumah sakit itu.


Walaupun dengan keterbatasan informasi yang bisa dibocorkan petugas medis tentang pasiennya, namun Arthur masih bisa mendapat informasi tentang pengunjung yang menemui Alexa.


Berdasarkan percakapan Arthur dan beberapa orang perawat, Arthur mengetahui kalau Alexa tidak pernah dikunjungi siapa-siapa selain Arthur.


Baik suami Alexa, Mark William, ataupun anggota keluarga William yang lain, tidak pernah sekali pun membesuk Alexa di sana.


Jangankan datang membesuk, sekedar bertanya tentang keadaan Alexa selama dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa itu saja, tidak pernah ada satu pun dari William's yang menghubungi pihak rumah sakit.


Seolah-olah, Alexa tidak pernah ada hubungannya dengan keluarga William's, padahal Alexa sudah memberikan mereka keturunan yang akan menjadi penerus utama Willing Grup.


Memikirkan bahwa wanita yang membuatnya jatuh cinta hanya disia-siakan, sangat mengesalkan hati Arthur.


Sepintas, Arthur masih sempat melihat tulisan berukuran besar di jauh bagian bawah halaman surat kabar,


'PELAKU MUTILASI DIDUGA ADALAH AYAH ...'


sebelum lipatan tebal kertas itu tenggelam di dalam tong sampah, bersama-sama dengan sampah yang lain.


Setelah membeli beberapa jenis buah-buahan, Arthur bergegas mencari taksi untuk dijadikannya tumpangan ke rumah sakit jiwa.


***


09:40.


Alexa tampak seperti sedang melamun sambil duduk bersandar di bangku taman, ketika Arthur tiba di sana.


Kepulan asap rokok, terlihat keluar dari mulut Alexa, seiring dengan hembusan nafasnya.


"Halo!" sapa Arthur.


Tanpa meminta izin dari Alexa, Arthur lantas ikut duduk di bangku, bersebelahan dengan wanita itu.


"Arty!" sapa Alexa, yang tampaknya tidak terlalu terkejut akan kedatangan Arthur di situ.


Alexa justru memperlihatkan rasa penasarannya, saat melihat kantong kertas yang baru saja diletakkan Arthur di sampingnya.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Alexa.


"Buah. Apa kamu mau memakannya?" ujar Arthur, sambil memperlihatkan isi dari kantong kertas berwarna coklat itu, kepada Alexa.


"Umm ... Nanti saja!" sahut Alexa, sambil memperlihatkan batang rokok yang menyala, yang terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya.


"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Arthur berbasa-basi.


"Sejak pagi tadi," jawab Alexa yang terdengar asal.


"Hahaha ...!" Arthur tertawa. "Maksudku kamu bisa merokok sejak kapan?"


"Ya, sejak pagi tadi!" sahut Alexa, lalu tersenyum lebar, dan hampir tertawa. "Aku hanya bercanda. Jangan sampai kamu mengira, kalau aku sebodoh itu!"


Asap rokok yang baru dihisapnya, kembali dihembuskan Alexa ke udara.


"Aku pernah bekerja sebagai kurir bagi salah seorang petinggi di kepolisian kota ini....


...Jam kerja yang tidak menentu, ditambah dengan lingkungan kerja yang keseluruhannya beranggotakan laki-laki, yang rata-rata adalah perokok, membuatku ingin mencoba merokok untuk menahan kantuk, saat harus melakukan pengantaran di malam hari....


... Dari sekedar coba-coba, hingga akhirnya jadi perokok aktif, dan tidak bisa berhenti sampai sekarang," kata Alexa.


Arthur mengerutkan alisnya dalam-dalam, sambil berpikir dengan keras, untuk mulai bertanya dari mana kepada Alexa, karena pertanyaan demi pertanyaan baru, mendadak timbul di dalam kepalanya.


Dan, daftar pertanyaan yang belum terjawab itu, kini jadi semakin panjang dan semakin banyak jumlahnya, setelah mendengar perkataan Alexa.