
30 Januari 2000.
10:53.
"... Saat itu, walaupun kebersamaan kami hanya dalam hitungan hari, menurutku, aku benar-benar jatuh cinta padanya....
...Namun sangat disayangkan, aku rasa kalau orang itu tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita yang bisa dicintainya dengan cara yang berbeda. Melainkan hanya bisa menyayangiku, seperti sekedar teman atau saudaranya saja....
...Dengan rasa khawatir kalau-kalau nanti hanya akan merusak hubungan kami, aku tidak berani mengutarakan perasaanku padanya, dan memilih untuk menyimpannya sendiri....
...Hingga akhirnya kami terpisah, karena kesibukan kami masing-masing, dan aku tidak bisa melihatnya lagi, sampai aku mendengar kabar kalau dia akan segera menikah....
... Sejak saat itu hingga detik ini, aku tidak pernah merasakan perasaan yang sama kepada laki-laki lain."
Kata-kata itu menjadi akhir dari cerita Alexa, tentang apa yang terjadi, setelah dia kabur dari rumah ayah dan keluarga barunya.
Arthur menyalakan sebatang rokok miliknya, lalu menikmati kandungan nikotin dari kepulan asap yang disaring paru-parunya.
Kalau begitu, Alexa berarti tidak mencintai Mark William, dan ada alasan lain hingga Alexa mau menikahi laki-laki itu, pikir Arthur.
"Setidaknya, itu yang bisa aku ingat," ujar Alexa tiba-tiba. "Tapi menurutmu, apa semua yang aku ceritakan itu bisa dipercaya?"
"Aku mempercayaimu," jawab Arthur.
"Lalu, menurutmu kalau cerita itu memang benar adanya. Kira-kira, apa bisa membuat orang yang melaluinya menjadi gila?" tanya Alexa.
"..." Arthur menghisap asap rokoknya dalam-dalam, sambil merenung dan tidak menjawab pertanyaan dari Alexa.
"Suicide attempt ... Percobaan bunuh diri. Aku dianggap membahayakan diri sendiri, juga orang lain di sekitarku," ujar Alexa tiba-tiba.
"Ugh ...? Apa katamu?" tanya Arthur yang tidak terlalu memperhatikan apa yang baru saja dikatakan Alexa, karena sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Percobaan bunuh diri yang membuatku dirawat di tempat ini," sahut Alexa.
Alexa memperlihatkan bekas jahitan di atas bekas luka yang cukup besar, di bagian lutut dan lengannya bagian atas, kepada Arthur.
"Memakai mobil suamiku, aku menabrak dinding rumah kami, hingga mematahkan dua tulang rusukku," ujar Alexa sambil tersenyum.
Arthur kebingungan mengartikan senyuman di wajah Alexa, yang menurut Arthur, Alexa tampak puas dengan apa yang dia lakukan.
Tapi, kenapa?
"Apa kamu sengaja melakukannya?" tanya Arthur. "Maksudku, apa kamu memang sengaja menabrakkan mobil itu?"
"Menurutmu kira-kira bagaimana?" Alexa balik bertanya, tampak tidak memperdulikan rasa penasaran Arthur.
Alexa menyalakan sebatang rokok, tampak tidak perduli dengan rasa penasaran Arthur.
"Aku berharap agar kamu akan berpikir dua kali untuk tetap menyukaiku, karena tidak ada yang bisa kamu harapkan dariku," lanjut Alexa.
***
12:03.
"Ada apa denganmu? Pertemuan mu dengan Alexa tidak berjalan lancar?" tanya Josh, seolah-olah bisa membaca pikiran Arthur hanya dengan melihat raut wajahnya saja.
Di sekitar pukul 11:25 tadi, Josh menghubungi ponsel Arthur, lalu mengajak Arthur untuk makan siang bersama, di sebuah restoran langganan yang menjadi tempat favorit bagi Arthur dan Josh biasanya.
Arthur dengan menumpang taksi, langsung mendatangi restoran itu, setelah berpamitan pada Alexa.
"Alexa masih sangat tertutup," kata Arthur dengan perasaan kecewa.
"..." Josh tampak ingin berkata sesuatu, namun kedatangan seorang pelayan restoran yang menyajikan makanan yang menjadi pesanan mereka, membuat Josh tampak menahan kata-katanya.
"Kamu pintar memecahkan kasus-kasus kriminal yang biasanya kita hadapi. Tapi, aku tidak menyangka kalau kamu sangat bodoh saat berhadapan dengan Alexa," kata Josh.
Josh kemudian menyuapkan sesendok makanan ke dalam mulutnya.
"Kamu jadi orang bodoh saat berurusan tentang cinta," lanjut Josh.
Arthur merasa kalau perkataan Josh itu cukup menyinggung perasaannya. "Apa maksudmu?" tanya Arthur.
Arthur menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Menurutku, Alexa itu wanita yang pintar," ujar Josh. "Cepat atau lambat, dia pasti akan membuatmu benar-benar menjauh darinya."
"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?" tanya Arthur.
Josh memotong daging ikan Trout dari piring di depannya, lalu memberikan sedikit bagian dari ikan itu kepada Arthur. "Sekali-sekali coba makan ini!"
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan!" ujar Arthur kesal.
"Seharusnya aku tidak membicarakan hal ini padamu. Tapi karena aku adalah temanmu, maka aku akan memberikanmu petunjuk....
... Menurutmu, kenapa aku mengantarmu bertemu dengannya waktu itu?" tanya Josh.
"Aku tidak tahu. Out of the blue, tingkahmu memang cukup mengherankan," jawab Arthur.
"Sehari sebelumnya, aku menemui Alexa di rumah sakit sendirian," kata Josh.
Arthur mengerutkan alisnya dalam-dalam, sambil merapatkan gigi-giginya dengan rasa geram.
"Kamu jangan marah! Dengarkan dulu penjelasanku," sambung Josh buru-buru.
"Apa penjelasanmu?" tanya Arthur penasaran.
"Aku melakukannya karena aku ingin lebih mengenal Alexa," jawab Josh.
"Setelah bercakap-cakap dengannya cukup lama, aku jadi mengerti bagaimana Alexa sebenarnya....
...Bahkan, setelah beberapa lama berbicara dengannya, aku juga merasa kalau Alexa memang tidak gila, dia justru adalah wanita yang baik dan pintar....
...Dia hanya merasa bosan dengan situasi dalam hidupnya yang menurutnya tidak bisa membaik, seolah-olah sedang terjebak dengan dewa kesialan selama dia masih bernafas, hingga membuatku merasa iba....
... Namun Alexa membenci orang yang merasa kasihan padanya, ..."
Josh masih berbicara, namun Arthur mendengarkannya, sambil memikirkan semua perkataan Josh itu.
Kalau begitu, dugaan Arthur tidaklah salah kalau Alexa memang tidak gila, hingga Josh juga bisa berpikiran seperti itu.
Dan juga setahu Arthur, Alexa memang tidak suka saat Arthur menampakkan rasa iba kepadanya, dengan demikian Arthur bisa mengambil kesimpulan, kalau Josh memang sedang bicara jujur kepada Arthur.
"... Dia tidak akan membiarkanmu terikat kepadanya, karena dia tahu diri dengan statusnya sekarang ini....
... Asal kamu tahu saja, Alexa tidak ingin kamu terlibat dalam permasalahan hidupnya, karena dia mengkhawatirkan keadaanmu, jika kamu sampai terikut-ikut dalam permasalahannya."
Josh akhirnya berhenti berbicara, lalu tampak menatap Arthur, seolah-olah sedang menunggu tanggapan dari Arthur.
"Lalu kenapa kamu malah mengantarku menemuinya, kalau kalian berdua memang berniat membuatku menjauh darinya?" tanya Arthur.
"Kami tahu, kalau kami hanya sekedar menyuruhmu menjauh darinya, maka kamu tidak akan mau menurutinya....
... Satu-satunya jalan, adalah membuatmu dengan sendirinya merasa bosan pada Alexa," jawab Josh.
"Dia pasti tidak mau memberimu kesempatan untuk mengetahui sesuatu yang menurutmu penting, kan? ...
... Yang membuatmu bertanya-tanya dengan rasa penasaran yang tinggi, aku yakin kalau dia tidak akan memberitahumu," lanjut Josh.
"Lalu kamu kira aku akan mundur begitu saja?" tanya Arthur dengan nada sinis.
Josh menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu memang benar-benar bodoh! Entah kenapa aku masih mau saja membantumu."
"Meskipun kamu bertanya, dia tidak akan menjawabnya. Apa yang kamu harapkan?" lanjut Josh.
"Terserah kamu mau bilang apa. Aku tetap yakin, kalau Alexa nanti bisa berubah pikiran," ujar Arthur. "Aku hanya perlu bersabar."
"Aaarrrghh!" Josh tampak frustrasi. "Ya sudah! Terserah kamu saja! Yang penting aku sudah memberitahumu, kalau Alexa akan tetap menolakmu."
Entah mengapa, Arthur merasa kalau selain dari yang dibicarakan Josh tadi, Josh sebenarnya masih mengetahui sesuatu yang lain, dan dia berusaha menyembunyikannya dari Arthur.
Namun Arthur masih harus memikirkan, bagaimana caranya agar Josh mau mengatakannya.