
31 Januari 2000.
18:17.
Suasana di dalam Coffee Shop yang sekarang mulai berkurang pengunjungnya, seharusnya menjadi tempat yang nyaman untuk bercakap-cakap.
Tapi, tidak bagi Arthur dan Lucy.
Pembahasan Lucy tentang kejadian yang dialami Alexa, membuat Arthur dan Lucy sama-sama tampak merasa tidak nyaman.
"Selanjutnya, sama seperti yang kamu lihat. Alexa akhirnya menikah dengan Mark William....
...Setelah Alexa melahirkan, anaknya diambil keluarga William, dan dirawat di kediaman utama William's. Sedangkan, Alexa tinggal di kediaman terpisah bersama Mark William."...
Lucy lanjut bercerita, sambil Arthur mendengarkannya dengan seksama.
"Dari penuturan salah satu bodyguard yang menjaga kediaman Mark William dan Alexa, Mark William sering memaksakan kehendaknya kepada Alexa....
...Dugaannya, kemungkinan Mark William memang terobsesi dengan Alexa yang sama sekali tidak tertarik kepadanya....
...Alexa dianggap spesial bagi Mark William, karena sifatnya yang berbeda dari wanita kebanyakan, yang biasanya tergila-gila kepada Mark William karena hartanya....
... Dan mungkin saja karena itu, sehingga saat Alexa berkali-kali meminta untuk bercerai, Mark William tidak mau menceraikannya."
Lucy bercerita sambil memberikan pendapatnya sendiri, atas apa yang dia ketahui dari semua desas-desus yang didengarnya.
Arthur menyesap sedikit kopinya, namun segera meludahkannya kembali, karena temperatur cairan kopinya yang sudah sama dengan suhu ruang.
"Excuse me!" seru Arthur memanggil pelayan Coffee Shop, hingga seorang pelayan tampak mendekat menghampiri Arthur.
"Tolong ganti kopi ini—" Arthur lalu melihat ke arah Lucy.
"... Apa kamu kopi yang baru?" lanjut Arthur, menawarkan kepada Lucy.
"Tidak. Aku rasanya ingin minum scotch sekarang ini," jawab Lucy.
Arthur kembali melihat pelayan yang berdiri di dekat meja mereka. "Satu saja!"
Pelayan Coffee Shop kemudian mengangguk, dan mengangkat cangkir kopi milik Arthur, lalu membawanya pergi dari sana.
"Alexa memang berbeda. Sejak pertama aku bertemu dengannya, aku merasa kalau wanita itu memang lain daripada yang lain," ujar Arthur.
Sembari menunggu kopi pesanannya yang baru, Arthur menyalakan sebatang rokok miliknya, lantas segera menghisap asapnya dalam-dalam.
"Apa tidak ada lagi yang kamu tahu?" Arthur lanjut bertanya.
Lucy mengulurkan tangannya ke atas meja, lalu mengangkat bungkusan rokok milik Arthur. "Can I have one?"
"Iya," jawab Arthur mengizinkan Lucy mengambil sebatang rokok untuk dirinya.
"Hanya itu saja yang aku tahu, ..." Lucy menyalakan rokok yang baru saja diambilnya.
"... Perkiraan orang-orang terdekat, Willing Grup mengendus kalau beberapa pegawai yang bekerja di kediaman Mark William, membocorkan informasi keluarga itu di luar....
... Sehingga dilakukan pergantian pekerja setiap sebulan sekali. Jadi, tidak ada satupun yang mengerti apa yang terjadi, hingga akhirnya Alexa dibawa ke rumah sakit jiwa," lanjut Lucy.
Lucy lalu menghembuskan asap rokoknya ke udara.
"Namun, tetap saja sedikit informasi tentang Alexa yang mencoba bunuh diri, menjadi bahan gosip, dari setiap orang yang bekerja di sana—"
Lucy menghentikan perkataannya, saat pelayan datang mengantarkan secangkir kopi pesanan Arthur.
"... Itu sebabnya, semua bisa beranggapan kalau Alexa telah melakukan percobaan bunuh diri, lebih dari sekali," kata Lucy lagi, setelah pelayan itu berlalu pergi.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Lucy. "Apa itu cukup untuk memuaskan rasa ingin tahumu?"
"Hufftt ...!" Arthur mendengus, menghembuskan nafas kasar, bersamaan dengan asap rokok yang keluar dari paru-parunya.
"Mendengar ceritamu, juga membuatku kebingungan," lanjut Arthur sambil menepuk-nepuk batang rokok di tangannya, untuk menjatuhkan abunya ke dalam asbak.
"Kenapa?" tanya Lucy.
Lucy terlihat mengerutkan alisnya dalam-dalam, seolah-olah dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Arthur.
"Aku mencari informasi tentang Alexa, untuk membulatkan pikiranku, apakah aku akan tetap mempertahankan rasa suka ku kepadanya, atau aku harus melupakannya."
Arthur kembali menghisap rokok yang masih menyala di tangannya, lalu mendorong rambutnya ke belakang.
"Lalu apa yang membuatmu bingung akan ceritaku?" tanya Lucy. "Apa itu tidak membantu?"
"Umm ... Maafkan aku. Bukan begitu maksudku. Setelah kamu mengatakan semua itu, aku justru merasa kalau aku malah semakin mencintainya, dan tidak mau melepaskannya begitu saja....
...Namun dengan begitu juga, aku jadi semakin tahu kalau dia bisa saja memang terganggu kejiwaannya, karena semua yang pernah dilaluinya....
... Dan aku khawatir, kalau-kalau aku masih bersikeras mendekatinya, lalu hanya membuatnya semakin tertekan, kemudian hanya memperburuk keadaannya," jawab Arthur menjelaskan.
Lucy tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti, akan semua yang dijelaskan oleh Arthur.
"Kalau begitu, apa mungkin kamu akan mundur?" tanya Lucy.
Arthur mengerti kalau Lucy bukan sedang bertanya kepadanya, melainkan sedang menekan Arthur, agar Arthur merasa kalau dia tidak boleh menyerah begitu saja kepada Alexa.
"Astaga, Lucy!" ucap Arthur frustrasi.
"Kenapa? Bukankah seharusnya kamu lebih senang, kalau aku mendukungmu untuk mengejar cintamu?!" ujar Lucy.
"Iya. Tapi, aku tidak bisa buru-buru mengambil keputusan," sahut Arthur, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia tidak sakit, dia hanya lelah. Aku yakin! ...
... Alexa hanya butuh seseorang yang bisa dia percaya, bisa menjadi tempat sandaran baginya, dan mencintainya apa adanya," lanjut Lucy menekankan.
Arthur tidak segera menanggapi perkataan Lucy, melainkan hanya terdiam untuk beberapa saat.
"Mungkin benar yang kamu katakan. Tapi, aku harus memikirkannya baik-baik lebih dulu," sahut Arthur ragu.
"Asal kamu tahu saja. Alexa bahkan sampai bekerjasama dengan Josh, agar aku menjauh darinya," lanjut Arthur.
"Ckckck ... Josh? Dia teman kita yang baik. Tapi, menurutku dia terlalu pengecut. Dia pasti khawatir, kalau-kalau kamu akan merasakan terluka seperti dirinya....
...Namun kekhawatirannya itu berlebihan, bahkan dia sendiri tidak berani untuk berhubungan serius dengan wanita lain....
... Padahal, kita semua tahu, kalau tidak semua jalan hidup orang itu akan sama. Bagaimana kita bisa tahu akan terluka atau tidak, jika kita tidak mencobanya dulu," ujar Lucy.
Menurut Arthur, perkataan Lucy itu memang benar adanya, tapi tetap saja, bagi Arthur, dia tidak boleh terburu-buru, lalu terbutakan dengan rasa cinta, hingga kembali tidak bisa berpikir jernih.
"Apa kamu ada saran, bagaimana aku bisa tetap mendekati Alexa tanpa membuatnya tertekan, dan memaksaku untuk menjauh? ...
... Ditambah lagi, walaupun aku bisa mendapatkan hatinya, lalu bagaimana aku bisa membuatnya terlepas dari ikatan pernikahannya?" tanya Arthur.
"Jangan berhenti menemuinya jika kamu ada kesempatan....
...Dugaanku, Alexa mungkin akan membuat skenario agar kamu kehilangan rasa tertarikmu kepadanya, kalau dia memang berniat mendorongmu untuk menjauh....
...Tapi, kamu tidak boleh menyerah. Kalau ada yang dia ceritakan, atau yang dia lakukan, kamu cukup mendengar dan melihatnya....
...Terserah kamu kalau mau mempertimbangkan setiap apa yang dia bicarakan atau lakukan, apa itu memang dirinya, atau hanya dibuat-buat, asalkan kamu tetap bisa bersabar....
... Lama kelamaan, aku yakin kalau dia juga pasti akan luluh," jawab Lucy.
"Urusan pernikahannya dengan Mark William, kamu pasti akan menemukan jalan, kalau kamu memang mencintainya," lanjut Lucy lagi.