It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 34



28 Mei 1997.


Walaupun Alexa berkata kalau dia masih sanggup untuk meneruskan perjalanan, dengan dirinya yang tetap mengemudi, namun Mark William tetap meminta mereka untuk berhenti.


Jadi, di sekitar jam sebelas malam tadi, Alexa dan Benny menurunkan Mark dan bodyguard-nya di sebuah hotel, sementara Alexa dan Benny mendatangi gudang terdekat, dan beristirahat di sana.


Mark William sempat bersikeras agar Alexa menginap di hotel saja, namun Alexa tidak mau menerima tawarannya, dan menolaknya tanpa segan.


Perjanjian akhirnya disepakati, kalau Alexa dan Benny akan kembali menjemput Mark William dan bodyguard-nya, di jam tujuh pagi ini.


06:45.


Baik Alexa maupun Benny, sudah siap menunggu di depan hotel tempat Mark dan bodyguard-nya menginap.


Namun, setelah menunggu sampai hampir kurang lebih setengah jam kemudian, barulah Mark dan pengawalnya itu tampak berjalan ke luar dari dalam hotel.


"Maaf kami terlambat. Sarapan kami lambat disajikan," ucap Mark, setelah mobil Alexa mulai melaju, untuk melanjutkan perjalanan mereka.


"Tidak masalah. Kontrak anda tidak merugikan kami, walaupun jam pengantaran anda tertunda," sahut Alexa.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Mark.


"Sudah, Sir!" jawab Alexa singkat.


Mark William kemudian tampak mematikan pendingin udara di dalam mobil, dan menurunkan kaca jendela di sisinya, lalu menyalakan sebatang rokok miliknya.


"Setelah makan sesuatu, rasanya tidak pas kalau tidak segera menyambungnya dengan sebatang rokok." Mark berceletuk.


Alexa kemudian ikut menurunkan kaca jendela di sisinya.


"Pernikahan sepupuku." Lagi-lagi Mark berceletuk.


Alexa menoleh sebentar ke arah Mark.


"Anda bilang apa, Sir?" tanya Alexa.


"Tujuan perjalanan kita ini, adalah untuk menghadiri pernikahan sepupuku," jawab Mark.


Dari ujung mata Alexa, Mark terlihat seolah-olah sedang memperbaiki posisi duduknya.


"Claire masih jauh lebih muda dariku, namun sudah bisa menemukan seseorang yang akan menikah dengannya," kata Mark.


"Menikah dengan anak laki-laki dari seorang jaksa, yang pekerjaannya jauh berbeda dibandingkan dengan pekerjaan ayahnya....


... Entah laki-laki itu memang beruntung bisa menikah dengan dasar saling mencintai, atau hanya memanfaatkan rasa tertarik dari sepupuku itu kepadanya," lanjut Mark.


"Atas dasar alasan apa, hingga anda bisa berasumsi seperti itu?" tanya Alexa dengan nada sinis.


"Walaupun hanya sepupu, namun harta yang dimiliki sepupuku itu, tetap bernilai besar. Apalagi, dia adalah anak satu-satunya dari pamanku," jawab Mark William.


"Maafkan, aku. Aku rasa kamu mungkin bisa salah paham dengan perkataanku. Namun aku akan bicara jujur saja....


...Pada kenyataannya, sebagian besar yang mengetahui bahwa kami adalah bagian dari Willing Grup, maka akan tergiur dengan harta yang kami miliki....


... Itu sebabnya, kami kesulitan membedakan, apakah orang yang dekat dengan kami, memang benar-benar mencintai kami, atau hanya mengharapkan harta kami saja," lanjut Mark menjelaskan.


Walaupun Alexa tidak berkomentar apa-apa, namun di dalam hati, Alexa setuju dengan pendapat Mark tentang cara orang melihat keluarga William.


Karena, Alexa juga sempat berpikir demikian, bahwa banyak wanita yang tergila-gila kepada Mark, bukan karena orangnya, melainkan karena harta yang dimilikinya.


"Pffftt ...!" Tanpa sadar, Alexa tertawa tertahan.


"Maafkan saya, Sir! Saya bukan berniat untuk menertawakan anda. Saya hanya teringat sesuatu yang lucu," ujar Alexa buru-buru.


"Apa itu?" tanya Mark.


"Umm ... Tidak lucu bagi orang seperti anda, karena hanya tentang sesuatu di gudang," jawab Alexa beralasan, untuk menutupi hal yang sebenarnya yang membuatnya tertawa.


"Apa di gudang tempat kalian beristirahat itu, nyaman?" tanya Mark.


Alexa melirik ke arah Mark, yang tampak manggut-manggut seolah-olah mengerti.


"Bagaimana dengan tempat tidur? Apa Alexa tidak bergabung dengan kurir yang lain?" tanya Mark, yang kelihatannya memanfaatkan kesempatannya, karena Alexa yang saat itu mau menanggapi perkataannya.


"Kamar di sana ada beberapa ruang. Di setiap ruangan, memiliki tempat tidur lebih dari satu....


... Karena rekan kerja saya tidak pernah terkumpul semuanya di satu gudang, dalam waktu yang sama, jadi, saya biasanya memakai satu ruangan sendirian," jawab Alexa.


Mark William kemudian terlihat membuka sabuk pengaman, dan berbalik di tempat duduknya, seolah-olah sedang mengambil sesuatu di jok belakang.


"Sir! Tolong duduk yang baik! Tindakan anda itu berbahaya!" ujar Alexa, sambil mengurangi kecepatan mobilnya.


Mark tidak menjawab, dan tetap terlihat sibuk di belakang, berbarengan dengan suara gemerisik kantong kertas.


Alexa melihat dari spion yang menggantung di atas dashboard, kalau Mark tampak mencari sesuatu dari dalam kantong belanjaan, yang diletakkan bodyguard-nya, di jok penumpang bagian belakang tadi.


Mark akhirnya kembali duduk dengan baik, dan menyodorkan sekaleng minuman berkafein kepada Alexa.


"Terimakasih, Sir! Tapi, saya tidak menginginkannya," kata Alexa menolak pemberian Mark.


"Ambil saja! Aku tidak bisa memasang sabuk pengamanku kembali, karena tanganku penuh," ujar Mark memaksa.


Alexa akhirnya mengambil satu kaleng minuman kopi dari tangan Mark, dan meletakkannya di tempat minuman di dekat gigi persneling.


"Anda bisa meletakkannya di situ," ujar Alexa.


"Iya, aku tahu. Aku hanya mau kamu menerima pemberianku, langsung dari tanganku," sahut Mark.


"Apa maksud anda, Sir?" tanya Alexa, sambil mengerutkan alisnya.


"Jangan marah! Aku hanya bercanda, agar kamu tidak terlalu tegang saat bersamaku. Tapi kelihatannya, aku hanya memperburuk keadaan. Maafkan aku," ujar Mark.


Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Anda tidak perlu meminta maaf. Saya tidak marah. Saya hanya khawatir, karena apa yang anda lakukan itu, tidak aman dan membahayakan," sahut Alexa.


"Baik, Madam! Aku tidak akan mengulanginya lagi," sahut Mark dengan suara yang dibuat-buat, seolah-olah dia adalah seorang anak kecil.


"Pffftt ...!" Alexa tertawa tertahan, dan dari ujung matanya, Alexa bisa melihat kalau Mark sekarang ini sedang tersenyum lebar, sambil menatapnya.


***


11:39.


Perjalanan panjang itu akhirnya berhenti, setelah mereka tiba di tujuan, di sebuah gedung hotel mewah di kota xxx.


Di sisa perjalanan tadi, suasana di dalam mobil Alexa sudah menjadi sedikit lebih hangat, karena Alexa dan Mark akhirnya bisa berbincang-bincang dengan lebih santai.


"Alexa! Kamu bisa membawa Benny makan siang bersamaku, di restoran di hotel ini. Tolong jangan menolak! Kita hanya makan, dan aku tidak akan menggigit kalian," ajak Mark.


Kali ini, Alexa tidak terlalu bersikeras lagi untuk menolak ajakan dari Mark, dan dengan patuh mengajak Benny ikut masuk ke dalam hotel, setelah memarkirkan kendaraan mereka.


"Kalian tidak perlu tidur di gudang. Aku akan memesan dua kamar untuk kalian, karena aku sewaktu-waktu bisa bepergian....


... Dan aku tidak mau terlalu lama menunggu, sampai kalian datang," kata Mark, setelah mereka duduk di dalam restoran.


"Baik, Sir! Terserah anda saja!" sahut Alexa dan Benny hampir bersamaan.


***


Setelah mereka semua selesai menghabiskan makan siangnya, Alexa dan Benny mengikuti langkah Mark, bersama pengawalnya.


Sambil menunggu kunci kamar diberikan oleh resepsionis hotel, secara tidak sengaja, Alexa melihat beberapa karangan bunga yang di letakkan di depan sebuah ruangan, di lantai dasar hotel itu.


Di salah satu di antara karangan bunga berukuran besar itu, Alexa bisa membaca tulisan yang memberi ucapan selamat, untuk acara pernikahan yang akan berlangsung di tempat itu.


Seketika itu juga, mata Alexa terbelalak, dengan nafasnya yang terasa sangat sesak, dan seakan-akan kedua kakinya kehilangan kekuatannya untuk berdiri.