It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 7



24 Juni 1990.


21:23.


Alexa baru kembali dari luar kota setelah hari Minggu itu, sudah hampir habis.


Rencana awal dari Mistress Ruppert kalau mereka akan kembali di hari Sabtu, ternyata berubah total.


Beberapa kendala yang ditemui Mistress Ruppert dalam pekerjaannya di luar kota, membuat mereka mau tidak mau harus menunda waktu kepulangannya.


Janji Alexa untuk menghabiskan hari liburnya di hari Minggu itu bersama Roy, tampaknya gagal dilakukan Alexa.


"Alexa tidak singgah makan malam dulu?"


Tawaran dari Madam dan Mister Ruppert, ditolak Alexa, demi mengejar sedikit waktu yang tersisa dari hari liburnya.


Dengan kecepatan tinggi, Alexa memacu mobil SUV yang dipinjamkan padanya, menuju ke kediaman keluarga Hoover saat itu.


Sembari duduk di kursi di ruang tamu, Roy tampak lemas dan memasang raut wajah kecewa, ketika Alexa tiba di rumah itu.


"Maafkan aku! Aku sudah berusaha sebisanya agar bisa cepat kembali. Namun tetap saja, kami baru bisa tiba di jam sekarang ini," ujar Alexa penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa," sahut Roy. "Kamu pasti lelah, kan? Mau langsung istirahat?"


"Tidak," jawab Alexa berbohong. Rasa lelah Alexa saat harus berkendara jarak jauh, ditutup-tutupi olehnya.


"Apa kamu mau jalan-jalan sebentar?" tanya Alexa, sambil memperlihatkan kunci mobil di tangannya.


"Bukannya kamu besok pagi-pagi masih harus bekerja lagi?" tanya Roy, tampak mengangkat alisnya.


"Ckckck!" Alexa berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Mau, tidak?"


"Umm ... Okay! Aku beritahu Mommy dulu," ujar Roy, lalu tampak bergegas mendatangi kamar orangtuanya.


Alexa juga menyusul, mengikuti Roy dari belakangnya untuk ikut meminta izin dari orangtua Roy.


"Hati-hati di jalan!"


Begitu kata ayahnya Roy, ketika Roy dan Alexa meminta izin untuk berjalan-jalan di kota, dengan menggunakan mobil yang dibawa oleh Alexa.


Setelah Roy mengunci pintu depan rumahnya, Alexa yang menunggu di dalam mobil, bersiap-siap untuk pergi dengan menyalakan mesin kendaraannya, hingga Roy juga ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di jok penumpang.


"Kamu mau kemana?" tanya Alexa, saat mobil yang dikemudikannya mulai berjalan.


"Bagaimana kalau kita pergi ke taman kota?" kata Roy menawarkan.


"Okay!" sahut Alexa.


Taman kota jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Roy, hingga hanya butuh waktu kurang lebih lima belas menit, mereka sudah bisa tiba di sana.


Dengan memilih sebuah bangku kosong yang menghadap ke sungai, Alexa bersama Roy duduk di situ.


Tempat itu terlihat masih cukup ramai, dengan orang-orang yang ingin menikmati suasana malam kota.


Walaupun begitu, di taman kota itu hampir tidak terdengar suara-suara yang terlalu berisik, hingga mereka berdua masih bisa bercakap-cakap dengan nyaman.


Roy merangkul pundak Alexa yang duduk di sampingnya, sambil memandangi ke arah sungai.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Roy membuka percakapan. "Apa kamu tidak mau berhenti bekerja?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Alexa balik bertanya.


Namun untuk beberapa saat kemudian, Roy tidak berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaan Alexa.


"Menurutku pekerjaan itu cukup baik. Madam dan Mister Ruppert juga memperlakukanku dengan baik. Sama sepertimu dan orang tuamu," kata Alexa.


"Tapi, bekerja seperti itu pasti terlalu melelahkan," sahut Roy yang menurut Alexa, nada suara Roy terdengar seolah-olah sedang mencemaskan Alexa.


"Iya, memang benar kalau pekerjaan itu melelahkan....


...Apalagi kalau harus mengantar Madam atau Mister Ruppert ke banyak tujuan, atau dalam perjalanan jauh seperti tadi, tanpa ada banyak waktu untuk berhenti agar bisa beristirahat....


"Kamu memang pintar memberi alasan," kata Roy gemas.


Roy mengacak rambut Alexa dengan sebelah tangannya yang merangkul pundak Alexa tadi, lalu mengecup pucuk kepala Alexa dengan lembut.


"Pekerjaanmu itu terlalu beresiko, dan itu membuatku merasa cemas. Apalagi seperti beberapa hari ini, saat kamu harus berkendara jarak jauh, lalu tidak mengabariku sama sekali," ujar Roy.


"Hehe ... Maaf. Tapi, aku lupa nomor telepon rumahmu. Makanya aku tidak menghubungi kalian, selama aku di luar kota," sahut Alexa.


"Nanti, jangan lupa menyatat nomor telepon rumah, jadi kamu tidak bisa menjadikan hal itu sebagai alasan, untuk tidak memberi kabar apa-apa," kata Roy.


"Okay, okay! Siap, Sir!" sahut Alexa lalu tertawa kecil.


Roy mempererat rangkulannya di pundak Alexa, hingga Alexa hampir tersandar di dada Roy.


"Kata Daddy, banyak orang jahat yang berpengaruh di kota ini, yang tidak menyukai Mister Ruppert....


...Itu sebabnya, hingga aku dan kedua orang tuaku cukup merasa cemas saat kamu bekerja sebagai supir pribadi mereka....


...Kami khawatir kalau-kalau ada orang-orang yang berniat jahat kepada Mister Ruppert, dan kamu terikut-ikut menjadi korban....


... Tapi, karena Daddy tidak mau membuatmu merasa kecewa, makanya dia mau saja memberikan persetujuan, agar kamu bekerja dengan Mister Ruppert," kata Roy.


Alexa terdiam untuk beberapa saat, sambil memikirkan perkataan Roy barusan.


"Mister Ruppert sudah memberitahuku tentang hal itu," ujar Alexa. "Aku bahkan sempat dua hari berturut-turut diminta Mister Ruppert untuk berlatih menembak, agar bisa belajar membela diri."


"Hey! Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang?" tanya Roy terkejut.


"Aku tidak memberitahu sebelumnya, karena aku tidak mau kalian merasa cemas....


...Namun, karena mendengarkan kata-katamu tadi, aku merasa kalau aku harus memberitahumu, agar kalian tidak perlu terlalu mencemaskan keadaanku....


...Bahkan, aku nanti akan ikut kelas taekwondo di dojang milik kenalan Mister Ruppert. Dengan begitu, aku yakin kalau aku nanti bisa menjaga keselamatanku sendiri....


... Jadi, kamu dan orang tuamu tidak perlu merasa cemas yang berlebihan lagi, okay?!" kata Alexa menjelaskan.


"Alexa ...!" ujar Roy pelan.


"Hal yang mustahil kalau kamu meminta agar kami tidak perlu mencemaskanmu....


... Tapi, aku sama seperti orang tuaku, kami tidak bisa melarangmu untuk melakukan apa yang kamu mau. Dengan begitu, mau tidak mau, aku hanya bisa berpesan agar kamu selalu berhati-hati," lanjut Roy.


"Tentu saja," sahut Alexa. "Aku akan mengingat pesanmu itu."


Ketika Alexa selesai bicara, saat itu juga, perut Alexa terdengar bergemuruh.


"Kamu belum makan malam?" tanya Roy kebingungan.


"Hehe ... Belum," jawab Alexa jujur, sambil tertawa kecil.


"Ckckck! ... Ini yang kamu bilang kalau aku tidak perlu mencemaskanmu? Lambungmu saja, kamu tidak memperhatikannya dengan baik," ujar Roy yang tampak geram.


"Hehehe!" Alexa hanya bisa tertawa kecil, menanggapi kekesalan Roy padanya.


"Kita pulang makan di rumah? Atau kamu mau makan di luar?" tanya Roy.


"Aku tidak tahu," jawab Alexa. "Apa kamu sudah mau pulang sekarang?"


"Kita pulang saja kalau kamu sudah lelah," kata Roy.


"Sini, biar aku yang menyetir!" lanjut Roy, lalu mengulurkan tangannya ke arah Alexa, meminta kunci mobil yang dipegang Alexa.


Alexa yang masih ingin menghabiskan waktu dengan Roy, lalu berkata,


"Aku belum terlalu lelah. Nanti saja kita pulangnya, ya?!"


Roy tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, seolah-olah tidak mempercayai perkataan Alexa.


"Okay! Tapi, kita pergi mencari makan malam untukmu dulu!" ajak Roy, sambil berdiri dan mengajak Alexa ikut berdiri, lalu berjalan bersamanya.