
17 Juni 1990.
Berdasarkan hasil pembicaraan antara Alexa dan ayah dari Roy, saat mereka makan malam bersama malam tadi, Alexa menyetujui tawaran bekerja sebagai supir pribadi bagi salah satu istri dari rekan kerja ayahnya Roy.
Sewaktu Alexa masih bersekolah, di high school grade 11—setara sekolah menengah atas, kelas 2— Alexa sudah mengikuti pelatihan wajib belajar mengemudi—semacam ekstrakurikuler, namun khusus untuk mengemudi kendaraan bermotor beroda empat—yang diadakan di sekolahnya Itu.
Dengan demikian, Alexa sudah memiliki surat izin mengemudi sebelum dia menyelesaikan sekolahnya.
Dengan usianya yang tepat di batas umur minimum bebas mengemudi tanpa membutuhkan pendamping seperti saat ini, Alexa bisa menggunakan lisensi mengemudinya itu.
Alexa bisa mengemudi sendiri baik itu untuk pekerjaan, ataupun hanya untuk sekedar berjalan-jalan.
Ayahnya Roy sebenarnya tampak ragu, sewaktu menceritakan tentang pekerjaan menjadi supir pribadi itu, karena ayah dari Roy, berikut juga ibunya Roy dan Roy sendiri, masih berharap kalau Alexa mau melanjutkan sekolahnya.
Atau paling tidak, seluruh anggota keluarga dari Roy, ingin agar Alexa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, namun Alexa bersikeras agar dia bisa segera bekerja.
Akhirnya setelah bercakap-cakap cukup lama, dan Alexa memberikan alasan sebagai bahan pertimbangan, kalau dia akan melanjutkan sekolahnya nanti saat dia mandiri keuangan, seluruh anggota keluarga Roy tampak menyerah, dan merelakan Alexa untuk memilih jalannya sendiri.
06:30.
Dengan memakai kaus berlapiskan kemeja di bagian luarnya, celana jeans panjang, dan sepatu olahraga, Alexa sudah siap untuk ikut dengan ayahnya Roy, untuk mendatangi rumah rekan kerja ayah Roy yang membutuhkan supir pribadi itu.
"Alexa!"
Tepat saat Alexa keluar dari kamar yang di berikan untuknya beristirahat, Roy juga tampak keluar dari kamarnya yang berhadapan dengan kamar Alexa itu, dan menyapa Alexa.
"Hai!"
Sambil tersenyum lebar, Alexa balas menyapa, lalu mendekat ke arah Roy, dan berpelukan dengannya.
"Apa kamu tidak mau merubah pikiranmu?" tanya Roy.
Dengan memasang raut wajah cemas, Roy mengecup kening Alexa, lalu mempererat pelukannya.
"Tenang saja! Jangan khawatir!" sahut Alexa.
"Bagaimana mungkin, kamu berharap agar aku tidak merasa khawatir?" jawab Roy geram.
"Roy! Please ...! Just, wish me luck!" sahut Alexa. "Aku benar-benar ingin mendapatkan pekerjaan itu."
"Kamu memang keras kepala," kata Roy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi, kamu tetap menyayangiku, kan?" tanya Alexa dengan nada mengejek.
"Tentu saja aku menyayangimu! Apa kamu tidak bisa merasakannya?"
Terasa kalau Roy semakin mempererat pelukannya di badan Alexa, hingga Alexa merasa agak kesulitan bernafas.
Roy seakan tidak mau melepaskan pelukannya dari Alexa, sedangkan Alexa terburu-buru karena ayahnya Roy menunggu di lantai bawah.
"Roooy!" ujar Alexa dengan suara memelas. "Aku nanti tidak sempat sarapan!"
"Okay, okay ...!" sahut Roy, lalu kembali mengecup kening Alexa. "Ayo kita turun!"
Di ruang makan, terlihat di sana kalau ayah dan ibu Roy tampak baru mulai menikmati makan paginya, ketika Alexa dan Roy tiba di situ.
"Umm ... Alexa sudah siap!" celetuk ayahnya Roy. "Sarapan dulu! Setelah itu baru kita pergi!"
"Iya, Sir! Terima kasih!" ucap Alexa.
***
7:30.
Sebuah rumah yang tampak lebih mewah jika dibandingkan dengan rumah keluarga Roy, Alexa dan ayahnya Roy, berjalan masuk ke dalamnya.
"Selamat pagi!" ucap ayahnya Roy.
Seorang pria paruh baya yang memakai pakaian rapi, dengan setelan jas dan berdasi, tampak mirip dengan penampilan ayah Roy, menyambut kedatangan Alexa dan ayahnya Roy di depan pintu.
"Selamat pagi!" sahut orang itu. "Ini yang namanya Alexa?"
Ayahnya Roy kemudian tampak sibuk bercakap-cakap dengan rekannya itu, untuk beberapa saat lamanya.
"Bla ... Bla ... Bla...!"
"Bla ... Bla ... Bla...."
Walaupun posisi Alexa duduk masih berdekatan dengan kedua pria paruh baya itu, namun Alexa tidak terlalu memperhatikan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Alexa!" ayahnya Roy tiba-tiba menoleh ke arah Alexa. "Kamu akan mengantar Sir Hans Ruppert ke tempat kerja, sebagai uji cobanya."
"Ugh ...! Iya, Sir!" sahut Alexa.
"Kalau begitu, saya pergi lebih dulu ke kantor!" ujar ayahnya Roy kepada Alexa dan rekan kerjanya, lalu tampak terfokus kepada rekannya dan lanjut berkata,
"Aku titipkan anakku ini, ya?! Dia masih belum tahu jalanan di kota ini. Jadi, kamu harus memberinya petunjuk arah."
"Tentu saja!" sahut Mister Ruppert, rekan kerja ayah Roy.
"Terima kasih!" ucap ayah Roy, lalu berjabat tangan dengan Mister Ruppert, kemudian ayah Roy itu tampak menatap Alexa. "Hati-hati di jalan!"
"Iya, Sir! Terima kasih!" ucap Alexa.
Ayah dari Roy itu kemudian berlalu pergi dari rumah itu, meninggalkan Alexa di sana bersama Mister Ruppert yang mungkin akan menjadi bos Alexa, jika Alexa diterima bekerja.
"Tunggu sebentar!" ujar Mister Ruppert, lalu tampak berjalan masuk, jauh ke dalam rumah.
Ketika Mister Ruppert kembali, di tangannya tampak membawa koper kulit yang biasanya dipakai orang-orang untuk dibawa ke tempat kerja.
Tanpa menunggu diperintah, Alexa mengulurkan tangannya ke arah Mister Ruppert. "Biar saya yang membawakannya, Sir!"
Mister Ruppert tampak tersenyum lebar, lalu menyerahkan tas itu kepada Alexa. "Terima kasih!"
"Sama-sama, Sir!" ucap Alexa. "Mobilnya yang mana, Sir?"
"Itu! Sedan yang berwarna hitam!" jawab Mister Ruppert. "Kuncinya ada di penghalang matahari!"
"Baik, Sir!" sahut Alexa.
Alexa melihat beberapa mobil yang terparkir di garasi, lalu berjalan langsung menuju ke arah mobil sedan hitam yang dimaksud oleh Mister Ruppert.
Alexa membukakan pintu di bagian penumpang di belakang jok supir, dan membiarkan Mister Ruppert masuk lebih dulu.
Sebelum Alexa mulai mengemudikan mobil itu, Alexa memanaskan mesinnya sebentar, lalu mulai memundurkan mobil itu keluar dari garasi, hingga akhirnya keluar dari gerbang, dan mencapai jalan raya.
"Maaf, Sir!" ucap Alexa. "Tapi, anda harus memberitahu saya, ke arah mana kita akan pergi."
"Oh, iya! Saya lupa!" ujar Mister Ruppert. "Lurus saja di jalan ini, nanti saya beritahu lagi kalau kita harus berbelok."
Setelah kurang lebih sepuluh menit Alexa berkendara, Mister Ruppert tiba-tiba berkata,
"Istri saya seorang pengusaha. Dia sering pergi ke luar kota. Setiap kali dia bepergian sendirian, saya merasa cemas kalau-kalau dia kelelahan....
Tapi, mempekerjakan orang asing untuk menjadi supir pribadinya cukup beresiko.
... Semua itu karena pekerjaan saya. Pekerjaan saya sebagai seorang jaksa, membuat saya memiliki banyak musuh di kota ini."
"..." Alexa tidak berkata apa-apa, dan hanya mendengarkan perkataan Mister Ruppert, sambil memikirkannya.
"Alexa masih sangat muda, dan tampaknya cukup pintar! Kenapa tidak melanjutkan sekolah saja?" lanjut Mister Ruppert.
"Maaf, Sir! Tapi, saya memang ingin bekerja lebih dulu, agar saya bisa memiliki tabungan, barulah saya nanti melanjutkan sekolah saya," sahut Alexa.
"Terus terang, Sir! Saya sangat berharap kalau anda bisa menerima saya bekerja," lanjut Alexa.
"Umm ... Kelihatannya, Alexa memang bisa mengemudi dengan baik," ujar Mister Ruppert. "Tapi, nanti setelah pulang dari kantor, baru saya beritahukan keputusannya!"
"Baik, Sir! Terima kasih!" ucap Alexa.