It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 44



23 Agustus 1998.


Demi menghentikan semua kemungkinan buruk yang bisa dilakukan oleh Willing Grup kepada orang-orang terdekatnya, Alexa setuju untuk menikah dengan Mark William.


Dan dua hari setelah Damian dipindahkan ruang perawatannya oleh Mark, Alexa bertemu dengan keluarga William dan Willing Grup untuk melakukan perjanjian, agar mengakhiri semua tuntutan hukum dari kedua belah pihak.


Terang saja saat itu, Mark ingin merayakan pesta pernikahan mereka secara besar-besaran, agar semua orang tahu kalau dia menikahi wanita yang telah menjadi obsesinya.


Sebaliknya, Alexa yang mempertimbangkan kondisi Damian yang masih belum sadarkan diri, tidak mau menggelar acara pesta yang berlebihan.


Tanpa mengutarakan pikirannya yang masih mengkhawatirkan Damian, Alexa hanya meminta pada Mark, agar mereka melakukan pernikahan sederhana yang dihadiri oleh orang-orang terdekat saja.


Dengan alasan, bahwa Alexa tidak ingin kelelahan dengan perutnya yang sudah mendekati waktu persalinan.


Alexa berjanji kepada Mark, kalau dia mau menggelar pesta pernikahannya nanti saat dia sudah melahirkan.


Mark setuju dengan permintaan Alexa, dan diresmikanlah pernikahan mereka itu dengan diadakan di rumah utama keluarga William.


Saat dia berada di rumah utama keluarga William, Alexa jadi tahu kalau keluarga William itu terobsesi dengan kandungannya yang berisikan seorang anak laki-laki.


Hal itu hanya membuat kebencian Alexa kepada William's dan Willing Grup menjadi-jadi, walaupun dia tidak menampakkannya secara langsung.


Alexa bahkan mulai membenci anak di dalam kandungan yang belum dilahirkannya, dan mulai menyesali dirinya sendiri yang tidak mau mengaborsi kandungannya sejak awal.


Karena Alexa menganggap, bahwa anak itulah yang menjadi penyebabnya, hingga Willing Grup berusaha menyingkirkan orang-orang yang menghalang-halangi keinginan mereka, untuk mendapatkan penerus utama William's.


Menurut Alexa, jika saja dia tidak mengandung pewaris utama dari William's, maka pergesekan antara dirinya dan Willing Grup yang mengganggu hidupnya, dan bahkan hampir membuat Damian kehilangan nyawa, mungkin tidak akan terjadi.


Namun, karena semua sudah terlanjur basah, Alexa hanya bisa menyesalinya saja tanpa bisa berbuat banyak.


Dan setelah resmi menikah pada tanggal 7 Agustus, Alexa yang tidak mau tinggal serumah dengan William's yang lain, meminta Mark agar membawanya pindah dari kediaman utama William's.


Lagi-lagi, Mark menyetujui keinginan Alexa untuk tinggal terpisah dari keluarganya.


Salah satu rumah milik keluarga William yang selama ini dibiarkan kosong, menjadi rumah baru bagi Alexa bersama dengan Mark.


Rumah yang ukurannya tidak kalah besar jika dibandingkan dengan rumah utama keluarga William, diisi oleh Mark dengan para pekerja yang cukup banyak jumlahnya, hingga tidak ada yang perlu Alexa kerjakan di rumah itu, selain merawat dirinya sendiri.


***


17:43.


Sejak tengah malam tadi, Alexa sudah mulai mengalami kontraksi, walaupun jeda waktu di setiap kontraksi yang dirasakannya, masih berjarak cukup lama.


Mark yang tidak pernah menjauh dari Alexa semenjak mereka menikah, dan selalu berada di sisinya, terlihat sangat panik saat Alexa meringis kesakitan.


Sehingga mungkin karena kecemasannya itu, sejak pagi-pagi sekali, Mark sudah membawa Alexa ke rumah sakit untuk persiapan persalinannya.


Dan sekarang ini, bukan hanya Mark yang menemani Alexa, hampir seluruh anggota keluarga utama William terlihat berkumpul di rumah sakit.


Di sekitar ruangan VVIP yang dipakai Alexa di rumah sakit tempat bersalin itu, kini terlihat seperti sedang ada acara jumpa artis yang dipenuhi dengan penggemar dan pengawal pribadi.


Namun, kedatangan seluruh anggota keluarga utama William, bukanlah menjadi hal yang menyenangkan bagi Alexa.


Justru keberadaan mereka semua hanya membuat Alexa merasa sangat tertekan, karena Alexa tahu kalau hanya Mark yang mengkhawatirkan keadaannya.


Sedangkan mereka yang lain, hanya memikirkan keadaan bayinya saja.


Bahkan, Alexa hampir menampar salah satu kakak Mark yang bersikeras agar Alexa segera dilakukan operasi Caesar.


Apalagi, saat Alexa meminta obat untuk mengurangi rasa sakitnya saat kontraksi, keributan segera terjadi di tempat itu.


Semua anggota keluarga William menolak keinginan Alexa, dan melarang dokter untuk memberikan obat yang diminta oleh Alexa, demi menghindari efek samping yang mungkin terjadi, yang bisa mengganggu kondisi kesehatan janin.


Seolah-olah Alexa hanyalah kulit dari biji kacang yang mereka inginkan, perilaku mereka saat itu menampakkan dengan jelas, bahwa mereka menganggap bayinya lebih penting, daripada Alexa yang mengandungnya.


***


18:39.


Rasa sakit karena kontraksi, bercampur dengan rasa sakit hatinya atas tingkah laku keluarga William, membuat Alexa menangis terisak-isak di dalam kamar mandi rumah sakit.


Mark yang tampak berusaha keras menenangkannya, memeluk Alexa dengan erat sambil mengusap-usap punggung Alexa.


"Tolong berhentilah menangis ...! Katakan apa yang kamu mau ...!" kata Mark dengan suara pelan, membujuk Alexa.


"Ini semua gara-gara kamu! Aku mau sakitnya berhenti, sekarang!" sahut Alexa yang menaikan nada suaranya, dan membentak Mark di situ.


"Alexa ...! Maafkan aku ... Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya!" ujar Mark, terdengar frustrasi.


***


Setelah beberapa waktu kemudian, Alexa akhirnya menyerah akan rasa sakitnya, dan setuju untuk dilangsungkan operasi Caesar saat itu juga.


Dengan ditemani Mark di dalam ruang operasi, seorang bayi laki-laki akan di keluarkan secara 'paksa' dari dalam perut Alexa.


Walaupun tidak merasa sakit sedikitpun karena Alexa yang diberikan epidural, namun dia masih memiliki kesadaran penuh, hingga dia masih benar-benar awas akan apa yang sedang terjadi.


Operasi Caesar yang berlangsung cukup lama menurut Alexa, membuatnya sempat memikirkan banyak hal yang mengacaukan perasaannya, hingga Alexa merasa sangat sedih bercampur dengan kemarahan.


Sehingga saat operasi Caesar sedang berlangsung, Alexa hampir tidak bisa berhenti meneteskan air matanya, walaupun dia tidak mengeluarkan suara tangisannya.


Dengan demikian, walaupun Mark mengajaknya bicara tentang segala sesuatu tentang liburan, dan segala macam hal yang akan mereka lakukan, dengan niatnya untuk menyenangkan Alexa, namun tidak ada satupun dari perkataan Mark itu yang bisa menghibur perasaan Alexa.


Saat mendengar suara tangisan bayi, Alexa jadi tahu kalau bayinya sudah berhasil dikeluarkan dari dalam perutnya.


Dengan ujung matanya, Alexa bisa melihat kalau bayinya sedang dibersihkan di atas sebuah meja yang terletak di bagian pinggir ruang operasi, kemudian dibungkus dengan selembar selimut bayi.


Sedangkan beberapa dokter yang menangani operasi Caesar Alexa, terlihat masih berdiri dan belum bergeser dari posisinya, sama persis seperti saat tindakan operasinya berlangsung tadi.


Ketika Mark diizinkan perawat untuk memeluk bayi laki-laki mereka itu, Mark yang tampak bersemangat kemudian memperlihatkannya kepada Alexa.


"Anak kita sangat tampan. Dia mirip sekali denganmu," ujar Mark yang tampak senang.


Memang benar kata Mark, kalau anak mereka itu adalah bayi laki-laki yang tampan dan sehat, namun Alexa tidak mau berlama-lama memandangi anaknya itu, dan hanya melihatnya sepintas saja.


Entah mengapa, rasa keterikatan antara ibu dan anak yang biasanya dirasakan wanita-wanita pada umumnya setelah melahirkan, sama sekali tidak timbul di dalam hati Alexa.


Bukan merasa bahagia karena adanya bayi kecil itu, Alexa justru merasa kalau dia sangat membenci anaknya itu.


"Bawa dia pergi dari hadapanku! Aku tidak mau melihatnya!" kata Alexa, sambil memalingkan wajahnya dari Mark yang menggendong bayinya itu.


Walaupun terlihat kebingungan saat mendengar perkataan Alexa, namun Mark tidak berkomentar apa-apa, dan kemudian menyerahkan kembali bayinya kepada perawat yang ada di dalam ruangan itu, lalu kembali menghampiri Alexa.


"Kalian sangat menginginkannya, bukan?! Kamu bisa memberikan anak itu kepada keluargamu, karena aku tidak menginginkannya," kata Alexa tanpa rasa ragu.