It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 15



28 Januari 2000.


11:59.


Ketika Arthur berjalan di koridor rumah sakit, suasana di tempat itu terlihat lengang, tanpa ada seorang pun yang bisa Arthur lihat di sana.


Dugaan Arthur, selain pasien yang wajib dikurung, sebagian pasien yang masih bisa diatur, mungkin sudah berkumpul di aula, untuk makan siang bersama.


Arthur yang sudah menghapal semua area di rumah sakit itu, berjalan cepat mengarah langsung ke aula rumah sakit.


Dan benar saja, di aula tampak pasien dan beberapa perawat sedang berkumpul di sana.


Di antara bangku dan meja panjang yang berjejer rapi, Arthur melayangkan pandangannya, mencari Alexa dari antara pasien-pasien rumah sakit jiwa yang duduk berkumpul di situ.


Kelihatannya, Alexa sudah lebih dulu melihat kedatangan Arthur, karena saat mata Arthur beradu pandang dengannya, Alexa tampak sedang tersenyum sambil menatapnya dari kejauhan.


Arthur tersenyum lebar, lalu mengangkat bungkusan makanan di tangannya, untuk memperlihatkannya kepada Alexa.


Arthur kemudian berjalan menghampiri salah satu perawat, untuk meminta izin agar Alexa bisa makan siang bersamanya.


Perawat yang sebagian besar sudah sangat mengenal Arthur, tidak mempersulit keinginan Arthur itu.


Bahkan, perawat yang bicara dengan Arthur, tampak segera berjalan mendekat ke tempat Alexa duduk, lalu bercakap-cakap dengan Alexa di situ.


Tidak berapa lama, Alexa kemudian terlihat berjalan menghampiri Arthur.


"Apa yang kamu bawa?" tanya Alexa.


"Ugh ...! Setahuku, aku tadi meminta burger dan kentang goreng. Tapi, aku tidak tahu apa yang dibeli Josh tadi," jawab Arthur.


"Jadi makanan itu pemberian Josh?" tanya Alexa.


"Iya," jawab Arthur. "Kamu mau makan siang bersamaku?"


"Okay!" kata Alexa santai.


"Ayo kita ke taman! Aku sudah meminta izin tadi," ajak Arthur.


Alexa berjalan pelan bersama Arthur yang berjalan di sampingnya, menuju ke bangku taman, tempat biasanya mereka bertemu.


"Apa kamu baru bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Alexa tiba-tiba.


"Hmm ... Tidak. Aku sudah pulang sejak tiga hari yang lalu."


"Sudah kembali bekerja?"


"Belum."


"Lalu, apa yang kamu lakukan beberapa hari ini?"


"Tidak ada. Baru pagi tadi saja, aku mulai melakukan terapi."


"Tidak ada kesibukan ...Tapi kamu tidak datang mengunjungiku."


Perkataan Alexa menyentak Arthur.


"Kamu mau aku menemuimu?" tanya Arthur.


"Tentu saja. Kenapa tidak?"


Setelah mendengar jawaban Alexa, Arthur merasa sangat bodoh karena terlalu ragu untuk mengunjungi Alexa lebih cepat.


Jika saja tangannya saat ini tidak sedang dipasang penyangga, dan tangan yang satu lagi sedang memegang bungkusan makanan, mungkin Arthur akan memukul kepalanya sendiri.


Ketika mereka sudah duduk di bangku taman, Alexa membuka bungkusan makanan, bahkan membantu membuka burger Arthur, lalu menyerahkannya kepada Arthur.


"Aku bisa membukanya sendiri," ujar Arthur.


"Jadi, kamu tidak suka kalau aku membantumu?" tanya Alexa.


Arthur buru-buru mengambil burger yang disodorkan oleh Alexa. "Bukan begitu maksudku."


"Pffftt ...! Kamu memang lucu!" ujar Alexa, sambil tersenyum lebar.


Alexa lalu membuka bungkusan satu burger untuknya sendiri, kemudian mulai memakannya.


Di bangku taman itu, meskipun di tengah hari, namun tempat itu tidak terkena sinar matahari, karena di dekatnya tumbuh pohon yang cukup besar, dan menaungi tempat duduk itu dengan kerindangannya.


"Apa kamu suka makanan cepat saji?" tanya Alexa.


"Hmm ... Tidak terlalu," jawab Arthur.


"Sama," sahut Alexa. "Tapi sekali-sekali, rasanya tidak masalah, kan?"


Bahkan perkataan Alexa, seolah-olah sedang meniru tanggapan Arthur tentang makanan cepat saji.


Mendengar perkataan Alexa itu, rasanya Arthur ingin mencium wanita itu saat itu juga.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu tidak mau makan?" tanya Alexa.


Ternyata tanpa Arthur sadari, dia sedang menatap Alexa lekat-lekat, hingga berhenti mengunyah potongan makanan yang sudah ada di dalam mulutnya.


Arthur yang tersadar setelah ditegur Alexa, lalu lanjut mengunyah dan menelan makanannya.


"Apa selama aku belum kembali bekerja, aku bisa terus menemuimu di sini?" tanya Arthur hati-hati.


"Membosankan, saat terus menerus sendirian di dalam apartemenku," lanjut Arthur buru-buru memberi alasan.


"Bagaimana kalau aku tidak mau bertemu denganmu?" tanya Alexa.


Arthur terdiam.


"Pffftt ...! Aku hanya bercanda. Tentu saja kamu bisa datang ke sini," kata Alexa sambil tertawa kecil.


"Akan menyenangkan jika ada yang bisa menjadi teman bicara hal yang normal, dan bukan hanya membahas tentang kupu-kupu di dalam air, ataupun tentang bagaimana rasanya saat tinggal bersama alien," lanjut Alexa.


Awalnya, Arthur sempat kebingungan dengan maksud perkataan Alexa, tentang kupu-kupu di air dan tentang alien itu.


Hingga beberapa saat kemudian, barulah Arthur menyadari, kalau Alexa sedang membicarakan tentang pasien rumah sakit jiwa yang lain.


Arthur tertawa kecil, dan seketika itu, Alexa juga tampak tersenyum lebar.


"Lucu?" tanya Alexa.


Arthur mengangguk pelan.


"Bagus! Karena rasanya, aku tidak pernah melihatmu tertawa," ujar Alexa.


Alexa kemudian menggigit sisa bagian terakhir burger yang tertinggal di tangannya, dan tampak mengunyahnya pelan.


"Tapi jangan sering-sering tertawa. Apalagi tertawa sendiri, nanti kamu bisa berakhir di tempat ini," lanjut Alexa, setelah tidak ada lagi tersisa makanan di dalam mulutnya.


"Hahaha ... Don't you tease me!" ujar Arthur sambil tertawa.


Tiba-tiba, dengan cepat Alexa mengulurkan salah satu tangannya ke arah arthur, dan sekilas mengusap ujung bibir Arthur dengan ibu jarinya.


"Sudah aku bilang, agar jangan terlalu banyak tertawa. Saus makanan mengotori wajahmu," ujar Alexa.


Tinggal sekali suapan, maka burger di tangan Arthur akan habis dimakan, namun Arthur seakan lupa caranya menyuap makanan ke mulutnya, karena Alexa yang menyentuhnya tadi.


"Ckckck ... Aku hanya melarangmu agar tidak tertawa sambil makan, bukannya melarangmu untuk makan," ujar Alexa.


Sambil Arthur menyuapkan sisa makanannya ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya pelan, Alexa tampak mengambil sebotol air mineral dan membukanya.


Kemudian ketika Alexa akan menyodorkannya kepada Arthur, gerakan tiba-tiba berhenti.


"Maaf, aku tidak bertanya lebih dulu," ujar Alexa. "Kamu mau minum air mineral, atau cola?"


"Air mineral saja," jawab Arthur, lalu mengambil botol air dari tangan Alexa.


"Apa mungkin kalau selera kita sama? Aku sama sekali tidak suka cola," kata Alexa, sambil membuka satu botol air lagi untuk dirinya sendiri.


"Hmm ... Belanjaan Josh ini kelihatannya terlalu banyak," celetuk Alexa. "Bahkan ada es krim di dalam sini. Kamu mau?"


Arthur tidak terlalu suka makanan manis, namun karena Alexa yang menawarkannya, membuat Arthur mengangguk setuju saja.


Alexa lalu mengeluarkan semangkuk kecil es krim dari dalam bungkusan makanan, lalu membukanya.


"Selain cokelat bar, aku tidak terlalu suka makanan manis. Tapi, karena kamu sudah membawanya, jadi paling tidak, aku harus mencicipinya walau sedikit....


... Apa kamu tidak keberatan kalau aku mengambil sedikit dari mangkuk ini, dan kamu yang menghabiskan sisanya?" ujar Alexa.


"Kita bagi dua saja. Aku juga tidak akan sanggup, kalau harus menghabiskan sendiri es krim itu," kata Arthur.


Sambil menikmati semangkuk es krim berdua, Alexa tampak banyak melamun, seolah-olah ada yang sedang dia pikirkan.


"Ada apa?" tanya Arthur.


"Hmm ... Aku tidak tahu, apakah otakku masih berfungsi normal....


...Setelah beberapa waktu belakangan ini aku mengobrol denganmu, aku merasa kalau aku pernah bertemu denganmu sebelumnya....


... Maksudku, aku merasa kalau kita pernah bertemu, sebelum aku dimasukkan di rumah sakit ini. Tapi, aku belum bisa memastikan, di mana aku pernah melihatmu," jawab Alexa.