
16 Juni 1990.
16:24.
Kegiatan membersihkan kamar kosong yang letaknya berseberangan dengan kamar Roy, hampir selesai dikerjakan Alexa bersama-sama dengan Roy.
Beberapa lembar kaus dan celana panjang jeans lama milik Roy, yang sudah tidak terpakai karena ukurannya yang kekecilan di badan Roy, tampak memenuhi dua baris rak di dalam lemari pakaian lama, yang ada di dalam kamar itu.
Alexa mencoba ukuran dari pakaian-pakaian itu, yang meskipun agak sedikit kebesaran di badannya, namun pakaian-pakaian itu masih layak pakai.
"Roy!" ujar Alexa. "Pakaian yang aku bawa hanya beberapa lembar saja. Apa baju-baju lamamu ini bisa untuk aku saja?" tanya Alexa.
"Tapi, Alexa—" Roy tampak ragu-ragu untuk menyetujui permintaan Alexa.
"... Bukannya aku tidak mau memberimu baju-baju itu. Tapi apa kamu tidak mau, kalau aku membelikanmu baju yang baru? Itu hanya pakaian bekasku," lanjut Roy.
"Tidak apa-apa. Baju-baju ini kondisinya masih bagus. Kamu tidak perlu repot-repot membelikanku baju yang baru," sahut Alexa.
"Alexa ...!" ujar Roy yang tampak seolah-olah kehabisan kata-kata.
Roy tampak menatap Alexa dengan tatapan sedih, namun Alexa tersenyum lebar, lalu memeluknya.
"Nanti, kamu bisa membelikan tambahannya saja. Tapi yang ini, biar untukku saja, ya?!" ujar Alexa.
Roy mengusap-usap bagian belakang kepala Alexa yang memeluknya dengan erat, lalu mengecup pucuk kepala Alexa dengan lembut.
"Terserah kamu saja kalau begitu," ujar Roy, sambil membalas pelukan Alexa.
Alexa mendongakkan kepalanya, lalu berucap, "Terima kasih!"
Roy tersenyum lebar. "Sama-sama," lalu mengecup kening Alexa, pelan.
Dengan merangkul pundak Alexa, Roy kemudian berkata, "Ayo kita siap-siap pergi ke pameran!"
"Okay!" jawab Alexa singkat.
***
17:13.
Hanya dengan berjalan kaki, Alexa bersama Roy bisa tiba di pameran yang digelar sekitar dua blok dari rumah Roy.
Terlihat di sana, wahana bermain yang diletakkan di tengah lapangan terbuka, berbagai macam bentuk dan jenisnya.
Begitu juga stand yang berdagang makanan, dan stand yang menyediakan arena tanding kecil-kecilan, berjejer rapi dengan tampilan yang mencolok untuk menarik perhatian pengunjung.
Pengunjung yang datang, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, tampak memadati tempat itu.
"Kamu mau bermain apa?" tanya Roy. "Atau mungkin ada yang mau kamu makan?"
"Itu ...!" Alexa menunjuk ke arah arena menembak boneka bebek, setelah beberapa saat melihat-lihat ke sana kemari. "... Aku mau bermain itu!"
Setelah membayar harga tiket permainan, Roy menyodorkan kepada Alexa, senjata mainan yang diberikan oleh penjaga stand.
Alexa menggelengkan kepalanya. "Bukan aku yang menembak. Tapi kamu."
"Eh! Kenapa aku yang bermain?" Roy menampakkan raut wajah kebingungan.
"Kamu harus menang!" ujar Alexa, lalu menunjuk boneka bebek berukuran besar, hampir separuh ukuran badan alexa, yang tergantung di pinggir stand. "Aku mau kamu memenangkan itu untukku."
"Pffftt ...! Aku tidak tahu kalau kamu suka boneka," ujar Roy sambil tertawa kecil.
"Tidak. Aku memang tidak suka. Tapi itu bisa jadi bantal yang empuk," sahut Alexa. "Jadi, kamu harus menang!"
"Hahaha!" Roy tertawa lepas. "Okay, okay ... Wish me luck!"
Bak seorang penembak profesional, Roy memegang senjata mainan, dan tampak serius membidik sasaran yang ada di depannya.
"Bam! ... Bam! ... Bam!"
Alexa terbelalak.
Roy ternyata memang lihai menembakkan senjata mainannya, hingga menjatuhkan semua sasaran bidik, dan Roy pun memenangkan permainan itu.
"Ternyata, kamu benar-benar hebat!" ujar Alexa bersemangat, dan hampir meloncat kegirangan.
Sebuah boneka berbentuk bebek besar, berwarna kuning yang masih terbungkus plastik, jadi hadiah yang bagus, didapatkan Alexa sebagai hasil kemenangan dari Roy.
"Pffftt ...! Kamu seperti anak kecil!" ujar Roy. "Aku sudah memberikan boneka incaranmu, lalu aku dapat apa?"
Alexa mendekat ke arah Roy. "Kamu dapat ini!" Alexa lalu mengecup pipi Roy sekilas.
Roy tampak tersenyum lebar, tampak hampir tertawa.
"Kurang! Masa cuma sebelah saja? Satunya lagi!" Roy memiringkan salah satu sisi wajahnya, yang belum mendapat kecupan dari Alexa.
"Muaach!" Alexa kembali mengecup pipi Roy, sambil membuat suara tiruannya.
"Hahaha!" Roy tertawa lalu memeluk Alexa dengan erat, seolah-olah dia merasa gemas dengan tingkah Alexa itu.
"Mau ke mana lagi?" tanya Roy, tampak melihat-lihat ke sana kemari.
"Mau itu?" Roy menghentikan pandangannya, pada sebuah stand yang menjual permen kapas.
Alexa menggelengkan kepalanya. "Tidak ... Aku tidak suka makanan manis."
"Benarkah?" Roy tampak heran.
Alexa mengangguk.
"Pantas saja! Setiap aku membagi permen milikku denganmu, kamu pasti menolak. Aku dulu mengira, kalau kamu tidak suka jika aku memberikanmu sesuatu," ujar Roy, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Roy menatap Alexa lekat-lekat. "Lain kali, beritahu aku kalau kamu suka atau tidak, jadi aku tidak mengira-ngira sendiri. Okay?!"
"Okaaay!" sahut Alexa asal, sambil membesarkan matanya.
"Pffftt ...! Kamu membuatku merasa gemas," ujar Roy sambil tersenyum lebar.
Roy kembali merangkul pundak Alexa, lalu berjalan pelan, bersama-sama melihat-lihat segala sesuatu yang ada di tempat itu.
"Kalau yang itu, bagaimana?" Roy menunjuk stand yang berjualan hotdog.
"Kamu lapar?" tanya Alexa.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin makan camilan," jawab Roy.
"Tidak perlu mengikuti seleraku. Kamu lebih suka yang manis-manis, kan?" ujar Alexa. "Beli saja apa yang kamu mau. Apalagi, kamu membelinya dengan uangmu sendiri."
"Grrr ..." Roy menggeram. "Ayo kita beli hotdog itu saja!"
Sembari duduk di bangku yang tersedia di dekat stand yang menjual roti berisi sosis itu, Alexa bersama Roy menikmati makanan itu, sambil melihat gerak-gerik pengunjung yang tampaknya semakin ramai saja.
Roy mengambil boneka dari pelukan Alexa, yang agak kerepotan menahannya, karena ukuran boneka itu yang terlalu besar.
"Bagaimana kamu bisa menembak sehebat itu?" tanya Alexa, yang tiba-tiba teringat akan kelihaian yang diperlihatkan Roy tadi.
"Sejak kami pindah ke kota ini, aku jadi sering mengunjungi pameran seperti ini. Sekedar untuk menghilangkan rasa bosan, saat tidak ada yang bisa dilakukan di rumah....
... Permainan menembak jadi pilihan pertama, karena aku tidak memiliki banyak teman yang bisa aku ajak, untuk menemaniku naik wahana permainan lain," jawab Roy.
"Umm ... Kalau begitu, karena aku menemanimu, apa kita bisa naik itu?" tanya Alexa sambil menunjuk wahana kincir ria.
"Tentu saja!" jawab Roy.
"Setelah itu, nanti kita naik yang sana!" lanjut Roy, menunjuk ke arah roller coaster. "Kamu tidak takut, kan?"
"Humph! Takut katamu?" ujar Alexa dengan nada mengejek.
Walaupun Alexa sebenarnya memang merasa agak gugup, hanya dengan membayangkan naik wahana itu saja, karena dia sama sekali belum pernah mencoba permainan itu, namun Alexa bertingkah sok berani di depan Roy.
"Tidak akan aku takut kalau hanya begitu saja," lanjut Alexa, sok-sokan.
"Pffftt ...! Awas saja kalau kamu sampai menangis!" sahut Roy geram.
"Hahaha!" Alexa tertawa lepas. "Sebenarnya, aku memang takut. Tapi aku juga penasaran, mau mencobanya," ujar Alexa jujur.
"Tidak apa-apa," sahut Roy.
"Jangan takut! Kan, ada aku menemanimu?!" Roy menaik turunkan alisnya berkali-kali dengan cepat, seolah-olah sedang menggoda Alexa.
"Pffftt ...! Okay, okay!" kata Alexa, sambil tertawa.