It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 42



14 Juli 2001.


Kasus tentang hilangnya Alexa sudah ditutup, dengan hasil penyelidikan, bahwa hal itu terjadi murni karena kecelakaan.


Arthur yang sempat melakukan investigasi ulang sendiri, juga tidak bisa membuktikan kalau Alexa sengaja dibunuh.


Kamar tempat Alexa dirawat setelah dia melakukan percobaan bunuh diri, yang letaknya di bagian paling belakang rumah sakit, diperiksa Arthur dengan seksama saat itu.


Namun, memang tidak ada tanda-tanda kalau telah terjadi kekerasan ataupun perlawanan di tempat itu, seolah-olah, Alexa memang berjalan keluar sendiri, tanpa ada paksaan.


Pagar pembatas rumah sakit yang mengarah ke hutan, juga tidak luput dari pemeriksaan Arthur, bahkan Arthur sampai-sampai masuk ke dalam hutan.


Bukan itu saja, Arthur juga sempat mencoba untuk bertanya, pada salah satu dokter kenalannya yang cukup berpengalaman dalam menangani pasien yang melakukan uji coba bunuh diri.


Dan dokter itu memberikan jawaban, bahwa ada kemungkinan kalau saat itu Alexa sedang berhalusinasi, karena dia waktu itu sempat kehilangan banyak darah, saat dia memotong urat nadinya.


Dengan begitu, tidak menutup kemungkinan kalau Alexa pergi ke hutan di belakang rumah sakit, hanya karena dia sedang mengalami disorientasi.


Setelah melakukan proses investigasi sendiri, dan tidak menemukan bukti apapun yang bisa membuatnya melanjutkan penyelidikannya, Arthur akhirnya setuju dengan laporan yang dibuat oleh Josh.


Arthur tidak menyangka, kalau ternyata, investigasi yang dilakukan olehnya, hasilnya sedang diawasi dan ditunggu oleh Chief dan Willing Grup.


Freddy Gobbler menemui Arthur untuk berterima kasih, tidak lama setelah Arthur menghentikan penyelidikannya, dan ikut menanda tangani berkas laporan kasus Alexa itu.


Seolah-olah, hanya kredibilitas Arthur saja yang bisa meyakinkan Willing Grup, kalau hasil penyelidikan itu memang benar adanya.


Karena setelah pertemuan Arthur dan Freddy Gobbler yang adalah Penasihat Willing Grup, saat itu juga kasus menghilangnya Alexa, langsung ditutup.


***


10:33.


Walaupun sudah berbulan-bulan waktu yang berlalu, sejak menghilangnya Alexa, namun Arthur masih merasa kalau Alexa masih hidup.


Sempat beberapa kali, Arthur merasa kalau dia sepintas melihat Alexa di jalanan di tengah kota, namun setiap Arthur ingin memastikannya, bayangan sosok yang mirip dengan Alexa itu sudah menghilang.


Seperti sekarang ini.


Arthur yang sedang menangani kasus pencurian di sebuah kompleks pemukiman padat penduduk, merasa kalau dia baru saja melihat Alexa berjalan masuk ke dalam salah satu gedung apartemen di seberang jalan.


Kalau dia tidak segera disadarkan oleh Josh, Arthur hampir saja berlari menyusul, ke bangunan di mana dia melihat bayangan Alexa tadi.


"Kamu mau ke mana?" tanya Josh setengah berteriak.


"Ugh ...?" Arthur melihat ke arah Josh yang memanggilnya, lalu kembali melihat ke arah gedung apartemen di seberang jalan, namun tidak ada Alexa di sana.


Arthur merasa kalau dia mungkin sudah mulai gila, karena masih terlalu sering memikirkan Alexa, hingga berhalusinasi seolah-olah dia bisa melihat Alexa.


"Aku tidak akan ke mana-mana," jawab Arthur, lalu lanjut menginterogasi saksi di situ.


"Itu! Mobil seperti itu yang mereka pakai!" kata saksi yang sedang di interogasi olah Arthur dan Josh.


"Ada bekas tabrakan di sisi sebelah kiri mobil itu," lanjut orang yang sedang ditanyai itu.


Arthur dan Josh kemudian bersama-sama melihat ke arah yang ditunjuk oleh saksi itu.


Sebuah SUV berwarna hitam, terlihat berhenti, dan parkir di tepi jalan, di depan gedung apartemen yang tadi sempat dikira Arthur, ada Alexa berjalan masuk ke sana.


Karena posisi SUV yang terparkir itu yang menyamping, sehingga sisi mobil yang terlihat hanya bagian kanannya saja.


"Aku akan coba memeriksanya," kata Arthur, lalu menyebrang jalan, untuk menemui orang yang mengemudi SUV itu.


Arthur melihat seorang laki-laki yang baru saja keluar dari dalam mobil, dan tampaknya akan memasuki gedung apartemen.


"Hey, Sir! Tunggu sebentar!" Arthur berteriak menahan laki-laki yang menjadi supir dari mobil itu.


"Iya!" jawab Arthur sambil terus berjalan menghampiri laki-laki itu.


Arthur kemudian memperlihatkan lencananya.


"Detektif Smith. Saya minta waktu anda sebentar!" ujar Arthur. "Siapa nama anda?"


"Damian," sahut laki-laki itu yang ternyata bernama Damian. "Ada masalah apa, Detektif?"


"Umm ... Saya hanya ingin memeriksa kendaraan anda saja sebentar," kata Arthur, lalu berjalan ke sisi bagian kiri mobil SUV itu.


Damian ...? Arthur tersentak, dan kembali menghampiri laki-laki bernama Damian itu.


"Maaf. Tapi, apa anda mengenal Alexa?" tanya Arthur.


"..." Damian tidak menjawab, dan hanya terdiam.


"Alexa pernah bercerita pada saya, kalau dia memiliki teman baik yang bekerja sebagai kurir, bernama Damian. Saya juga mengenal Sienna. Adik dari Damian, teman Alexa itu," lanjut Arthur.


"Iya. Saya rekan kerja Alexa, waktu dia masih bekerja menjadi kurir," sahut Damian.


Arthur tersenyum lebar, lalu mengulurkan sebelah tangannya ke arah Damian.


"Nama saya Arthur Smith. Saya tidak tahu kalau Sienna atau Alexa pernah membicarakan tentang saya kepada anda. Tapi, Alexa sering membicarakan tentang anda kepada saya."


Arthur tidak tahu kenapa dia mau beramah tamah dengan Damian, namun Arthur tetap melakukannya, seolah-olah jika dia melakukan hal itu, maka Alexa pasti akan merasa senang.


Damian yang awalnya tampak segan, lalu menjabat tangan Arthur dengan erat.


"Saya pernah mendengar tentang anda Detektif. Anda yang melakukan investigasi akan kasusnya Alexa, bukan?!" ujar Damian.


"Iya. Tapi, saya benar-benar tidak bisa membantu apa-apa. Saya tahu kalau kalian pasti kecewa, akan kinerjaku," sahut Arthur.


Anehnya, Arthur seolah-olah sempat menangkap senyuman di wajah Damian, namun ketika Arthur menatapnya lekat-lekat, raut wajah Damian kembali terlihat datar.


"Kami tidak menyalahkan anda. Anda pasti sudah bekerja keras," kata Damian. "Apa anda masih bertemu dengan Sienna?"


"Tidak. Aku merasa sangat bersalah. Dan aku masih belum bisa menerima kalau Alexa sudah tiada," kata Arthur.


"Tidak perlu dipikirkan Detektif. Semua yang terjadi, bukanlah kesalahan dari siapa-siapa. Apalagi anda. Anda sudah menemani Alexa dan mencintainya. Itu sungguh berarti bagi kami....


... Tapi, kami tidak bisa berbuat apa-apa, kalau anda masih mengingatnya, dan belum bisa melupakannya."


Damian berbicara dengan sangat tenang, seolah-olah dia sudah tidak terbeban dengan hilangnya Alexa.


Walaupun hal itu terasa cukup janggal bagi Arthur, namun Arthur juga tidak menyalahkan Damian, jika Damian sudah merelakan yang sudah terjadi di masa lalu.


"Kata Detektif tadi, ingin memeriksa mobilku?" tanya Damian, menyadarkan Arthur dari lamunannya.


"Ah! Iya! Ada kasus pencurian—" Arthur kemudian menunjuk ke seberang jalan. "... Mobil pelaku, katanya mirip dengan mobil ini."


"Saya hanya akan memeriksanya sebentar," lanjut Arthur.


"Ooh ...! Okay!" sahut Damian.


Arthur kembali ke sisi mobil bagian kiri, lalu memperhatikannya baik-baik, dan memastikan kalau tidak ada tanda-tanda bekas tabrakan di sana.


"Damian! Kenapa kamu masih di luar?"


Suara itu ... Suara yang dikenali oleh Arthur, dan selama ini senantiasa dirindukannya agar bisa mendengarkannya lagi.


Arthur segera berbalik, dan melihat seseorang yang berdiri di pintu di masuk gedung apartemen yang tadi sempat dibelakangi oleh Arthur.