It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Part 13



25 Januari 2000.


13:36.


Arthur sudah berpakaian rapi.


Josh yang menjemputnya pun, sudah siap untuk membawa Arthur pergi dari rumah sakit itu.


Walaupun masih butuh sedikit bantuan untuk berpakaian, namun untuk keseluruhan, dokter sudah menyatakan, kalau kondisi kesehatan Arthur sudah cukup layak untuk mendapatkan rawat jalan saja.


Sambil berjalan menuju ke pelataran parkir di rumah sakit, dari raut wajahnya terlihat jelas kalau Josh masih belum puas dengan tingkah Arthur, yang tetap bersikeras dengan kemauannya.


"Aku tetap akan menginap untuk sementara ini!" ujar Josh, menyambung perdebatan mereka sedari tadi.


Josh berencana untuk menginap sementara di apartemen Arthur, namun Arthur tidak setuju, hingga membuat mereka berdua berdebat cukup alot.


Menurut Arthur yang terbiasa tinggal sendirian selama ini, maka akan terasa aneh kalau ada seseorang yang tiba-tiba ikut tinggal bersama dengannya.


Apalagi di apartemen Arthur meskipun memiliki dua kamar, namun hanya tersedia satu tempat tidur, karena kamar yang satunya hanya dijadikan Arthur sebagai ruang kerja.


Dan tempat tidur Arthur itu, walaupun berukuran cukup besar, namun menurut Arthur, akan jadi tidak nyaman jika dipakai untuk dua orang tidur bersama-sama di situ.


Juga rasanya, tidak mungkin jika Arthur menyuruh Josh tidur di sofa, karena Arthur yang selama ini tinggal sendirian dan jarang pulang ke apartemennya, hanya membeli sebuah sofa berukuran kecil yang hampir tidak pernah dia duduki.


Arthur sudah menjelaskan alasannya menolak Josh untuk menginap di tempatnya, namun Josh tetap bersikeras.


"Entah apa yang kamu cemaskan, jika aku ikut tinggal di apartemenmu."


Josh masih saja mengoceh, sambil membukakan pintu mobilnya untuk Arthur.


"Apa kamu khawatir, kalau aku akan memergoki saat kamu sedang merancap?"


Arthur yang baru saja duduk di jok penumpang, tersentak mendengar pertanyaan Josh.


"What the hell? Shut the f*ck up!" Maki Arthur, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Then what?" tanya Josh, sambil menyalakan mesin mobilnya. "Kamu belum bisa memaksakan untuk menggunakan tanganmu. Aku juga tidak setiap saat bersamamu, jadi anggap saja kalau aku hanya singgah menjengukmu saja."


Arthur tahu kalau tidak ada gunanya jika harus terus berdebat dengan Josh.


Satu kata yang dikeluarkan Arthur dari mulutnya, maka akan dibalas Josh dengan kata-kata yang jumlahnya sepuluh kali lebih banyak.


Arthur akhirnya menyerah. "Hanya sampai aku sudah bisa melepas penyangga tangan ini."


"Okay!"


Setibanya mereka di apartemen Arthur, Arthur yang lebih dulu masuk ke dalam gedung dan naik menuju ke kamarnya, tidak memperhatikan apa yang masih di lakukan Josh di dalam mobilnya.


Arthur hanya bisa mengangkat kedua alisnya, dan terpana melihat Josh yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya, sambil membawa satu buah tas.


"Kamu memang sudah mempersiapkannya," celetuk Arthur, sambil terus berjalan masuk dalam ruang apartemennya.


"Hehehe!" Terdengar suara Josh yang tertawa kecil. "Aku juga tidak menyangka, kalau akan ada kesempatan bagiku untuk tinggal di apartemenmu ini."


"Kamu anggap ini hal yang lucu?" tanya Arthur kesal.


"Hahaha! ... Maafkan aku. Tapi, apartemen milikmu ini, jauh lebih bagus daripada apartemen studio tempat tinggalku," ujar Josh setelah tampak tertawa puas.


"Kalau kamu memang menyukai tempat ini, kenapa kamu tidak mengambil salah satu apartemen kosong di gedung ini?" tanya Arthur.


"Apa kamu lupa? Atau kamu memang sengaja untuk membuatku kesal?" Josh balik bertanya.


Sembari menyusun barang-barang bawaannya ke bagian kosong dalam lemari pakaian Arthur, raut wajah Josh tampak lemas.


"Apa maksudmu?" tanya Arthur.


... Dengan nominal gaji yang aku terima sekarang, aku hanya bisa menyisihkan uang untuk tunjangan dan sedikit tabungan bagi anakku. Aku tidak sanggup untuk membeli tempat ini," jawab Josh.


Arthur akhirnya teringat akan pernikahan Josh yang gagal, delapan tahun yang lalu.


Pernikahan yang digadang-gadangkan akan bertahan lama, ternyata hanya bertahan dua tahun saja, meskipun Josh dan istrinya sudah memiliki seorang anak laki-laki.


Perceraian yang terjadi dengan alasan yang sangat sepele, yaitu, mantan istri Josh yang masih sangat muda, dan tidak puas dengan Josh yang lebih sering menghabiskan waktunya dengan bekerja.


Tapi, bagi Arthur bukan itu alasan terbesarnya, hingga mantan istri Josh memaksa untuk bercerai.


Mantan istri Josh yang berasal dari kalangan orang berada, kemungkinan besar menyesal dengan situasi ekonomi keluarga, saat dia sudah menikah dengan Josh.


Ketika perceraian Josh itu terjadi, Josh mengalami situasi keuangan terburuk, ibarat pepatah yang berkata 'sudah jatuh masih tertimpa tangga'.


Tabungan Josh selama dia bekerja, dihabiskannya untuk menambah uang mantan istrinya untuk membeli sebuah rumah di tengah kota.


Yang akhirnya setelah bercerai, rumah itu mutlak jatuh ke tangan mantan istrinya, yang memiliki investasi lebih besar di rumah itu, jika dibandingkan dengan uang tambahan yang diberikan oleh Josh, yang dianggap tidak seberapa banyaknya.


Tabungannya lenyap, hak asuh anak pun didapatkan oleh mantan istrinya, hingga Josh harus memulai dari awal, namun sambil membawa beban tanggungan yang berat di punggungnya.


Walaupun demikian, Arthur tidak bisa membantu banyak, dan hanya bisa menjadi pendengar akan keluhan Josh selama satu tahun penuh, setelah Josh bercerai.


"Tapi, bukankah mantan istrimu tidak meminta tunjangan anak darimu?" tanya Arthur yang baru saja ingat tentang hal itu.


"Ckckck ...!" Josh berdecak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu memang tidak mengerti ... Dia memang tidak memintanya, namun aku merasa berkewajiban demi anakku....


... Akan memalukan jika aku nanti bertemu dengan anakku, lalu dia mengetahui kalau aku tidak memberikannya apa-apa," jawab Josh.


"Hmm ... Kalau kamu merasa begitu, itu terserah kamu saja. Asalkan kamu tidak menyesalinya," sahut Arthur.


"Tidak. Aku yakin kalau aku tidak akan menyesal. Karena, anakku adalah prioritas bagiku," ujar Josh terdengar mantap.


"Okay, okay ... Lalu, bagaimana kalau kamu tiba-tiba menemukan wanita pengganti mantanmu itu?" tanya Arthur.


"Hmm ... Aku belum pernah memikirkannya," jawab Josh. "Urusan wanita nanti saja. One night stand saja sudah cukup ... Hahaha!"


Kali ini, Arthur lagi yang menggeleng-gelengkan kepalanya, karena merasa kalau perkataan Josh itu adalah hal yang konyol.


"One night stand? Kamu pikir selamanya kamu sanggup melakukan hubungan seperti itu?" Secara spontan, Arthur melontarkan pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.


"Hmm ... Aku jadi ingat. Bagaimana kamu dengan Alexa?" tanya Josh.


"..." Arthur merasa ragu untuk membicarakan tentang Alexa, hingga membuatnya hanya terdiam.


"Tenang saja. Kamu bisa membicarakannya denganku ... Aku sudah memikirkannya, dan aku rasa bukan kesalahan siapa-siapa, kalau kalian saling tertarik....


... Mana tahu, mungkin perasaan suka kalian juga hanya sementara, dan akan menghilang begitu saja, seiring berjalannya waktu," lanjut Josh.


Arthur menatap Josh lekat-lekat.


"Saling tertarik katamu?" tanya Arthur.


"Iya."


"Humph! ... Alexa menolak terang-terangan perasaanku untuknya. Dia hanya mau kami sebatas orang yang saling mengenal saja."


"Benarkah?" Josh tampak seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arthur. "Tapi, menurut penilaianku, Alexa juga menyukaimu."


"Aku tidak tahu. Aku bingung," ujar Arthur.


"Dia tidak bisa mengunjungiku lagi. Terakhir kali aku bertemu dengannya, hanya saat kamu menemuiku, sebelum kamu dipulangkan dari rumah sakit," lanjut Arthur.