
27 Mei 1997.
Semenjak beberapa bulan yang lalu, yang menjadi kali pertama bagi Mark William memesan Alexa untuk mengantarnya, orderan Mark William itu terus berlangsung hingga saat ini.
Dalam kurun waktu minimal satu minggu sekali, Mark William pasti melakukan pesanan pengantaran, dan selalu saja dia memesan Alexa secara khusus.
Setiap kali Alexa mengantarkannya, kejadian yang sama seperti pengantaran yang pertama kali, juga senantiasa berulang.
Mark William selalu saja mengajak Alexa untuk berbincang-bincang dengannya di perjalanan.
Namun, sikap Alexa juga tetap tidak berubah.
Sama seperti pengantaran pertama, Alexa selalu saja tidak menghiraukan ocehan Mark William.
Belakangan, Mark William tampak meningkatkan usahanya untuk mendekati Alexa.
Alexa akan diberikan hadiah oleh Mark William, entah berupa barang berharga, ataupun makanan dan minuman ringan, berikut juga buah-buahan.
Hadiah barang berharga dari Mark William, akan ditolak Alexa mentah-mentah, sementara kalau hadiah makanan atau minuman saja, Alexa akan membagikannya kepada semua orang yang ada di gudang.
Perasaan Alexa, sama sekali tidak tergerak, walaupun Mark William bersikap baik, dan memberi perhatiannya kepada Alexa.
Lama-kelamaan, Alexa mulai merasa bosan menerima orderan pengantaran Mark William, akan tetapi rekan kerjanya sesama kurir, meminta Alexa untuk menerima pesanan itu.
Alasan terbesar dari rekan sesama kurir yang meminta Alexa menerima pesanan itu, adalah nilai biaya pengantaran Mark William yang bernilai tinggi.
Sedangkan, di setiap pengantaran pasti menggunakan dua kurir, jadi siapapun kurir yang ada di gudang, bisa ikut mengantar asalkan dipilih oleh Alexa.
Sehingga saat mereka yang bisa ikut melakukan pengantaran, juga akan mendapatkan persentase pendapatan yang tinggi.
***
07:33.
Jam tiga subuh tadi, Alexa baru datang dari wilayah Selatan kota, dan sekarang ini dia sedang berada di gudang di wilayah Barat kota.
Walaupun hanya sempat merasakan beberapa jam baginya untuk meluruskan pinggang dan memejamkan matanya, saat ini Alexa sudah siap untuk menerima pesanan baru.
Alexa masih menikmati sarapannya, ketika terdengar namanya dipanggil dari pengeras suara. "Alexa! Ke kantor sebentar!"
"Benar kan kataku tadi?!" Benny, salah satu kurir yang makan pagi bersama-sama dengan Alexa dan beberapa kurir lain, berujar dengan nada bersemangat.
Saat Alexa baru saja duduk di ruang makan, Benny tadi sudah memberitahu kepada Alexa, kalau ada bocoran dari pegawai administrasi, bahwa Mark William telah melakukan pemesanan baru.
"Aku yang ikut, ya?" lanjut Benny.
Benny, laki-laki yang berusia di sekitar hampir lima puluh tahunan, dengan perutnya yang buncit, memasang wajah memelas, saat meminta kepada Alexa, agar dia bisa mengambil bagian di pesanan Mark William itu.
"Persentaseku masih sangat rendah. Karena rata-rata barang yang aku bawa, hanya di kelas 3," kata Benny lagi, membujuk Alexa. "Sedangkan anakku meminta uang lebih bulan ini, untuk biaya kuliahnya."
Alexa mendengus pelan. "Huuffft ...!"
Padahal, Alexa saat ini sedang dalam suasana hati yang kurang bagus, karena kemarin sempat bertemu pelanggan yang sangat cerewet, walaupun dia hanya mengirim barang *kelas 3.
(*Klasifikasi nilai barang, berikut juga ukuran dari barang itu, mulai dari barang paling berharga di kategori kelas 1, hingga barang biasa di kategori kelas 3)
Pelanggan Alexa itu, bahkan sampai berkali-kali menghubungi gudang di wilayah Barat kota tempat Alexa berada sekarang, hanya untuk memastikan kalau Alexa bekerja sesuai jadwal.
Dengan begitu, pegawai administrasi juga terus menerus menghubungi Alexa lewat sambungan radio, hingga membuat Alexa sebal karena merasa terganggu, saat dia sedang mengemudi.
Jika Alexa menerima pesanan Mark William, maka menurut Alexa, situasi kerjanya akan menjadi hampir sama dengan situasinya malam tadi.
Alexa benar-benar tidak tahan, saat dia sedang fokus menyetir, lalu ada-ada saja orang yang terus menerus mengeluarkan suaranya untuk berbincang-bincang dengan Alexa.
Alexa lebih suka kalau di dalam mobilnya, hanya terdengar suara orang bernyanyi dari pemutar musik, daripada suara orang-orang yang berbicara seperti ayam yang hendak bertelur.
Apalagi, jika orang itu memaksa dengan bertanya berulang-ulang agar Alexa menanggapinya, maka itu akan sangat menjengkelkan bagi Alexa.
Mark William, tentu saja tidak akan duduk diam seperti barang tak bernyawa, laki-laki itu pasti akan mengoceh di sepanjang perjalanan.
"Huuffft ...!" Alexa menghembuskan nafasnya kasar. "Aku lihat dulu pesanannya. Kan masih belum pasti kalau itu pesanan dari William's?!"
"Okay! Tapi kalau memang benar itu pesanan Mark William, kamu akan membawaku, kan?" tanya Benny tampak ingin memastikan.
"Iya," jawab Alexa, lalu lanjut menghabiskan makan paginya, dengan sedikit menunda-nunda untuk pergi ke area kantor.
***
"Pesanan macam apa ini?" tanya Alexa, dengan nada sinis karena sebal.
Lembaran kertas berisi data pesanan yang baru saja dibacanya, digeletakkannya kembali ke atas meja.
Mark William bukan hanya membuat pesanan pengantaran seperti biasanya, kali ini Mark William mengajukan perjanjian kontrak.
Alexa diminta untuk mengantarnya secara khusus selama 6 hari ke depan.
"Apa kita sekarang sudah menjadi perusahaan rentalan kendaraan dan supir?" lanjut Alexa dengan nada ketus.
Pegawai administrasi tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Saya hanya memberitahumu saja. Kalau kamu memang tidak mau, tidak perlu kamu bersikap kasar. Cukup menolaknya saja, maka aku akan mengkonfirmasinya kepada pihak William's," ujar pegawai administrasi itu.
"Alexa!" Suara Benny yang tiba-tiba berseru dari pintu area kantor, membuat Alexa menoleh ke arahnya.
Benny tampak menyatukan kedua telapak tangannya di depan dadanya, tampak seolah-olah sedang memohon kepada Alexa, agar tidak menolak pesanan Mark William itu.
"Tsk!" Alexa mendecak sebal, lalu kembali mengambil lembaran kertas pesanan, yang sempat dia kembalikan ke atas meja tadi.
Nilai kontrak yang tertera, berjumlah tiga kali lipat dibandingkan dengan biaya pengantaran rata-rata Alexa dalam seminggu bekerja, dengan mengantar barang kelas 1.
Mark William memang menggunakan uangnya untuk membuat sesama kurir tergoda, dan mendesak Alexa agar menerima pesanan darinya.
Namun, justru itu yang membuat Alexa semakin tidak suka kepada laki-laki itu.
"Bagaimana? Kamu akan menerimanya atau tidak?" tanya pegawai administrasi.
Alexa menggulung lembaran kertas, lalu menepuk-nepuk bagian ujungnya ke atas meja.
"Alexa!" Kembali suara Benny terdengar menggema ke dalam area kantor itu.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus kasar. "Iya. Aku akan menerimanya."
"Kalau begitu tanda tangani laporan ini!" kata pegawai administrasi itu, lalu terlihat mengambil lembaran kertas yang lain, dan menyodorkannya kepada Alexa.
"Siapa yang ikut denganmu?" lanjut pegawai administrasi itu.
"Benny!" sahut Alexa, sambil menanda tangani lembaran kertas di depannya.
"Benny! ... Masuk dan tanda tangani berkas laporan ini!" Pegawai administrasi itu lalu berseru memanggil Benny, yang memang sudah siap menunggu di pintu.
Benny bergegas masuk, kemudian terlihat menanda tangani kertas yang sama seperti yang ditanda tangani oleh Alexa.
"Jam sembilan nanti, kalian pergi ke alamat yang tertera di situ!" Pegawai administrasi itu lalu terlihat mengangkat gagang telepon, dan menghubungi seseorang di situ.
Alexa segera beranjak pergi dari area kantor, sambil disusul oleh Benny.
"Alexa! ... Terima kasih!" ucap Benny.
"Apa kamu tahu kalau itu perjanjian kontrak, dan bukan hanya pengantaran biasa. Kenapa kamu tidak memikirkannya dulu, dan buru-buru menanda tanganinya?" ujar Alexa.
"Perjanjian kontrak atau pengantaran biasa, tidak jadi masalah, asalkan bernilai tinggi. Aku benar-benar membutuhkan uang itu," jawab Benny.
"Karena itu, aku benar-benar berterima kasih kepadamu. Aku berhutang bantuan, dan aku berjanji akan membalas kebaikanmu nanti," lanjut Benny.
"Huuffft ...!" Alexa mendengus pelan. "Itu hanya pekerjaan. Tidak perlu terlalu dipikirkan."