
18 Maret 2000.
Setelah berbincang-bincang cukup lama, tanpa membahas sesuatu hal yang sensitif, tentang kejadian yang mungkin bisa memicu trauma Alexa, waktu yang menipis, membuat Arthur, Sir Miller dan Steven berpamitan kepada Alexa.
Sebelum Arthur memasuki mobilnya, Sir Miller masih mengajak Arthur berbincang-bincang sebentar di parkiran.
"Arthur! Saya tidak tahu bagaimana kamu bisa membuat Alexa kembali menjadi dirinya lagi. Tapi saya berharap, agar kamu tidak menyakitinya," kata Sir Miller.
"Chief! Anda bisa percaya kepada saya. Karena yang sebenarnya, saya mencintai Alexa. Saya hanya menahan diri, karena statusnya yang masih menjadi istri orang lain," sahut Arthur.
"Jadi, tidak mungkin saya menyakitinya," lanjut Arthur.
"Humph! ... Maafkan saya. Saya bukan menyepelekanmu. Tapi, Mark William juga pernah berkata begitu kepada saya. Dengan embel-embel janji kosong," ujar Sir Miller.
"Tapi, bukan hanya itu yang ingin saya bicarakan denganmu. Saya ingin membicarakan tentang Alexa, yang mau bercerita tentang dirinya kepadamu....
... Saya saat ini terburu-buru. Jadi, saya akan menghubungimu nanti, saat urusan saya sudah selesai. Dan kita bisa bicara, tanpa dikejar waktu," lanjut Sir Miller.
"Okay, Chief!" sahut Arthur.
Sir Miller kemudian masuk ke dalam mobilnya, dan dengan Steven yang mengemudi, berlalu pergi dari situ.
***
09:55.
Arthur kembali tepat waktu ke kantor, sehingga tidak sempat membuat Chief mengomel padanya.
Josh tampak sudah bangun, bahkan kelihatannya dia baru saja selesai mandi.
"Dari mana saja kamu? Apa kamu kembali ke apartemenmu?" tanya Josh, sambil menikmati kopi panasnya.
"Tidak. Aku tadi baru saja bertemu Chief Miller dan Steven, saat mengunjungi Alexa di rumah sakit," ujar Arthur.
Arthur duduk di kursi kerjanya, sambil melihat berkas laporan baru yang tergeletak di atas meja kerjanya.
"Chief Miller?" tanya Josh.
"Iya. Mereka mengunjungi Alexa," sahut Arthur.
Arthur lalu teringat akan sesuatu.
"Kamu pernah bilang kalau kamu pernah berbincang-bincang dengan Alexa," kata Arthur. "Apa itu memang benar adanya?"
"..." Josh hanya terdiam dan tidak segera menjawab pertanyaan Arthur.
"Josh ...?" ulang Arthur.
"Iya, aku berbohong. Itu karena aku bingung. Aku tahu kamu menyukainya, dan aku terpikir untuk membantumu....
... Namun di lain sisi, aku juga khawatir kalau-kalau kamu terlibat dalam masalah dengan Willing Grup," jawab Josh.
"Tapi, bagaimana kamu bisa menduga kalau aku berbohong?" lanjut Josh.
"Alexa tidak mau bicara dengan siapa-siapa, selain aku. Atau paling tidak, harus ada aku bersamanya, barulah dia mau berbicara dengan orang lain," jawab Arthur.
"Tadi, Sir Miller dan Steven, tidak dihiraukannya. Namun setelah aku mengajaknya bicara, Alexa akhirnya mau berbincang-bincang dengan mereka berdua," lanjut Arthur.
"... Jadi maksudmu, Alexa hanya bisa menyadari keberadaanmu?" tanya Josh.
"Kurang lebih begitu," jawab Arthur.
Josh lalu kembali terdiam, dan ketika Arthur melirik ke arahnya, Josh tampak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu tidak percaya?" tanya Arthur.
"Bukan begitu. Aku hanya merasa heran saja, kenapa Alexa bisa terpengaruh olehmu?!" ujar Josh.
"Aku juga tidak tahu," sahut Arthur. "Mungkin karena aura-ku?"
Arthur menahan senyum di wajahnya, saat mengatakan hal itu kepada Josh, dan tampaknya Josh sempat melihatnya.
"Aura, katamu? Jangan bercanda! Tapi, mungkin saja dia memang benar-benar menyukaimu. Sayangnya, kalian bertemu di saat yang tidak tepat," ujar Josh.
"Huuffft ...!" Arthur mendengus pelan.
"Oh, iya! ... Josh! Apa kamu pernah mendengar tentang kecelakaan yang dialami oleh Alexa, beberapa bulan yang lalu?" tanya Arthur.
"Umm ... Aku tidak tahu apa-apa. Itu bukan urusan divisi kita. Percuma kamu bertanya padaku," jawab Josh, lalu menyesap kopi dari gelasnya.
"Menurut Chief Miller dan Steven, kecelakaan itu terjadi masih di batas wilayah yurisdiksi kita," ujar Arthur. "Dengan begitu, pasti di distrik ini laporan kecelakaan itu tercatat."
"Aku tidak mau merepotkan Lucy. Setahu aku, pekerjaannya sekarang ini sedang banyak-banyaknya....
... Aku hanya bertanya padamu, karena siapa tahu, kamu pernah mendengar tentang hal itu ... Itu saja!" ujar Arthur.
"Detektif Baker! Detektif Smith!"
Panggilan untuk kembali bertugas, terdengar dari perangkat radio di dalam ruang kerja Arthur dan josh.
"Ayo, kita pergi!" ajak Josh, yang tampak masih bersemangat, mungkin karena istirahatnya tadi yang cukup.
"Kamu menyetir!" ujar Arthur, sambil berdiri dan berjalan menyusul Josh, ke luar dari ruang kerja mereka.
***
Arthur dan Josh bekerja hampir tidak ada henti, menangani beberapa kasus sekaligus, sampai-sampai mereka hanya bisa mengisi perutnya dengan roti isi, untuk makan siang.
Namun, baik Arthur maupun Josh, sama-sama masih bersemangat untuk bekerja.
Hingga matahari tenggelam, Arthur dan Josh tidak sempat kembali ke kantor, dan hanya ke sana kemari menjalankan tugasnya.
"Kriiing! ... Kriiing! ... Kriiing!"
Suara ponsel Arthur menggema di dalam saku jaketnya, saat dia dan Josh baru saja memasuki mobil, untuk berpindah tempat, sesuai dengan arahan dari kantor.
Nomor kontak Sir Miller tertera di tampilan layar ponsel Arthur, dan Arthur buru-buru menyambutnya.
"Halo, Chief!" sapa Arthur.
"Halo, Arthur! Saya ingin bertemu denganmu. Datanglah ke restoran xxx di jalan xxx. Saya sudah meminta izin dari Atasanmu," kata Sir Miller dari seberang.
"Ooh ... Okay, Chief!" sahut Arthur, lalu memutus sambungan telepon itu.
"Josh! Antarkan aku ke restoran di jalan xxx!" kata Arthur.
"Hey! Kita masih ada tugas!" sahut Josh, yang belum berapa lama memacu kecepatan mobilnya di jalanan.
"Chief Miller yang ingin bertemu denganku. Katanya, dia sudah meminta izin kepada Chief kita," kata Arthur.
Josh tampak menoleh sebentar ke arah Arthur, namun tanpa berkomentar apa-apa, Josh kemudian mengubah arah jalannya, menuju ke tempat yang dikatakan Arthur tadi.
Setibanya di sana, Sir Miller dan Steven tampak sudah berada di dalam restoran.
"Aku akan menghubungimu, kalau aku sudah selesai bicara dengan Chief Miller," kata Arthur.
Arthur kemudian berjalan masuk ke dalam restoran berdinding kaca itu, setelah Josh mengangguk setuju.
"Diin! ... Diin!" Josh sempat memberi tanda dengan membunyikan klakson mobilnya, kemudian berlalu pergi dari tempat itu.
"Duduklah!" ujar Sir Miller. "Kamu pasti belum makan malam, kan?"
"Pesan saja apa yang kamu mau," lanjut Sir Miller, setelah Arthur duduk di salah satu kursi.
Sembari menunggu pesanan mereka diantar oleh pelayan, Sir Miller yang tampaknya tidak sabar lagi ingin menginterogasi Arthur, kemudian mulai bertanya.
"Apa saja yang pernah diceritakan oleh Alexa kepadamu?" tanya Sir Miller.
"Apa Chief bisa lebih spesifik, apa yang Chief ingin tahu? Karena cukup banyak, hal yang pernah diceritakan oleh Alexa," sahut Arthur.
"Kata Steven, Alexa mengatakan padamu kalau dia menabrak dinding rumahnya," kata Sir Miller.
"Iya. "Katanya, dia menabrak dinding rumahnya, untuk mencoba bunuh diri," sahut Arthur.
"Tidak. Saya rasa itu tidak benar. Alexa saat itu ingin mengatakan sesuatu kepada saya. Rasanya, mustahil kalau dia ingin bunuh diri....
... Ditambah lagi, kecelakaannya terjadi hampir di wilayah perbatasan," ujar Sir Miller.
"Iya. Steven sudah memberitahu saya tadi," sahut Arthur.
"Jadi menurut saya, kalau dia tidak mengarang cerita kepadamu, bisa saja dia tidak ingat kejadian yang sebenarnya. Lalu ... Tapi—"
Sir Miller tiba-tiba berhenti bicara, dan seolah-olah sedang memikirkan sesuatu.
"Apa menurut Chief, Alexa mungkin diberitahu—dibohongi—oleh orang yang ingin menutup-nutupi kejadian itu? ...
... Atau mungkin, kecelakaannya memang direkayasa?" tanya Arthur, mencoba menebak jalan pikiran Sir Miller.
Dengan alisnya yang mengerut, Sir Miller lalu menatap Arthur lekat-lekat.