It's Not Your Fault

It's Not Your Fault
Alexa : Part 28



15 Januari 1997.


Alexa benar-benar tenggelam dalam kesibukannya bekerja, selama beberapa tahun terakhir, hingga membuatnya hampir melupakan kenangan buruk akan kecelakaan lalu lintas, yang menewaskan Sir dan Madam Ruppert.


Persidangan kasus itu sudah selesai sejak bertahun-tahun yang lalu, walaupun hasil persidangan itu, dianggap Alexa, berat untuk bisa dia terima.


Namun dengan seiring berjalannya waktu, Alexa akhirnya bisa mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.


Apalagi, saat persidangan yang berlangsung cukup lama dan berulang sebelum putusan pengadilan ditetapkan, Alexa sempat beberapa kali bertemu dengan Hanzel Ruppert.


Bersama Hanzel, selain pergi ke tempat di mana Sir dan Madam Ruppert dimakamkan, Alexa juga sempat mendatangi rumah kelurga Ruppert, yang memiliki cukup banyak kenangan bagi Alexa.


Sikap tenang dari Hanzel Ruppert, anak Sir dan Madam Ruppert itu, sanggup untuk mempengaruhi Alexa hingga bisa ikut merasa tenang seperti dirinya.


***


13:38.


Tepat di jam satu siang tadi, Alexa baru tiba di gudang itu, setelah melakukan perjalanan dari bagian Utara kota.


Makan siangnya mungkin belum selesai diproses di dalam lambungnya, Alexa bersantai dengan sebatang rokok di mulutnya, sambil duduk di luar gudang yang berada di bagian Timur kota.


Alexa sedang tidak mau berbincang-bincang dengan siapa-siapa, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktunya untuk bersantai sendirian.


Setahu Alexa, dari percakapan mereka di radio, Damian sekarang berada di bagian Barat kota.


Alexa sebenarnya merasa cukup mengantuk, karena perjalanan pengantaran barang yang maraton dia lakukan, dua hari berturut-turut sampai ke siang hari ini.


Alexa hanya sempat tidur tidak sampai dua jam di setiap harinya, karena terus-terusan mendapatkan pesanan pengantaran baru, yang tampak seolah-olah tidak ada habisnya.


Sebenarnya, baru di pertengahan bulan ini saja, persentase pendapatan Alexa bulan ini sudah di atas rata-rata.


Namun dia tidak mau mengoper pesanan kepada rekan kerjanya yang lain, dan memang sengaja selalu menerima orderan, agar tetap sibuk dengan kegiatannya itu.


Tapi, rasanya saat ini Alexa sudah mencapai ambang batas kemampuannya, dan memang harus beristirahat, karena matanya hampir sudah tidak bisa terbuka saking mengantuknya.


Sebatang rokok yang belum habis dia hisap, dilemparkan Alexa ke tanah, lalu berjalan masuk ke gudang.


"Aku off sampai jam enam!" ujar Alexa kepada pegawai administrasi, sambil berdiri di depan pintu berbahan kaca yang terbuka.


Orang yang bekerja di area kantor di gudang itu, tampak sedang menempelkan gagang telepon di telinganya, dan kelihatannya sedang berbicara di telepon itu.


Namun pegawai administrasi itu masih bisa menyahut perkataan Alexa, "Okay!" sambil mengacungkan jari jempolnya.


Alexa bergegas masuk ke dalam kamar karyawan yang kosong, dan segera meluruskan badannya dengan bertelungkup di atas tempat tidur.


***


Mata Alexa masih sangat berat, namun guncangan di bahunya, mau tidak mau, membuat Alexa mengangkat kepalanya.


Dengan mata menyipit, Alexa memaksa mengintip siapa yang membangunkannya saat itu.


"Maaf. Kamu mungkin masih mengantuk. Tapi ada pesanan pengantaran baru, sedangkan supir yang ada, semuanya sudah keluar melakukan pengantaran....


... Hanya kamu sendiri saja yang masih ada di sini. Mau tidak mau, aku harus memintamu yang menyelesaikan pesanan."


Pegawai administrasi yang mengguncang bahu Alexa, berbicara menjelaskan situasi di dalam gudang, dan Alexa mendengarkannya.


"Okay! Tunggu sebentar!" sahut Alexa, lalu berusaha bangkit, dan duduk di bagian pinggir tempat tidurnya.


"Pengantaran ke mana?" tanya Alexa, sambil memegang kepalanya dengan sebelah tangannya.


"Daerah xx, distrik Barat," jawab pegawai administrasi itu.


17:03.


Alexa melihat jam di arloji di pergelangan tangannya, sebelum dia akhirnya berdiri dan pergi ke kamar mandi.


Hanya dengan mencuci muka, Alexa sudah kembali merasa lebih segar, dan siap untuk menyelesaikan pesanannya.


***


"Damian! ... Copy!" ujar Alexa di radio, mencoba menghubungi Damian.


"Damian! ... Copy!" ulang Alexa, karena Damian belum merespon panggilannya.


"Alexa! ... Maaf, aku tadi sedang di luar LV ... Copy!" sahut Damian dari seberang.


"Kamu masih di distrik Barat? ... Copy!"


"Iya, aku sedang tidak ada pesanan. Kenapa? ... Copy!"


"Belikan aku makan malam, aku mungkin tiba di sana sekitar jam dua belas nanti ... Copy!"


"Kamu mau aku belikan apa? ... Copy!"


"Spaghetti! ... Copy!"


"Okay! Hati-hati di jalan!" Damian yang berpesan, menjadi akhir percakapan antara Alexa dan Damian lewat sambungan radio.


***


23:33.


Sesuai alamat pengantaran, Alexa membawa barang pesanan yang berukuran kecil, kurang lebih 20 kali 20 centimeter, masuk ke dalam sebuah klub malam.


Alexa sempat dihalang-halangi oleh petugas keamanan, namun setelah Alexa menunjukkan lembaran kertas berisi data pesanan, dan catatan khusus dari si pengirim barang, Alexa akhirnya diizinkan masuk dan di antar ke sebuah ruangan yang tertutup, di dalam bangunan tempat hiburan malam itu.


Di dalam sana, ada beberapa orang laki-laki yang sedang duduk-duduk sambil menikmati minuman beralkohol, dan ditemani oleh beberapa wanita berpakaian minim dan seksi.


Menilai dari aroma alkohol yang menyengat dari nafasnya, dan gerak-geriknya yang hampir tidak bisa berdiri tegak, tampaknya si penerima pesanan itu sedang dalam kondisi mabuk berat.


Alexa cukup kesal dibuatnya, karena Alexa harus menunggu lama, hanya demi mendapatkan tanda tangannya di kertas orderan yang dibawa oleh Alexa.


Hingga lebih dari sepuluh menit, si penerima barang itu masih belum bisa menanda tangani catatan penerimaan barang itu.


Salah satu dari laki-laki yang ada di situ, kemudian berdiri dan menghampiri Alexa, dan memegang ID card yang menggantung di dada Alexa.


"Alexa? ... Kamu laki-laki atau perempuan?" tanya orang itu, dengan aroma nafasnya yang tidak kalah buruk dari si penerima barang tadi.


Alexa tidak mau menjawab pertanyaan orang itu, dan hanya sibuk memperhatikan si penerima, apa sudah menanda tangani catatannya atau belum.


"Apa kamu tahu siapa aku?" tanya laki-laki itu lagi.


Walaupun laki-laki itu berdiri tepat di depan Alexa, namun Alexa hanya melihat wajah laki-laki itu sekilas, lalu kembali menatap si penerima yang akhirnya bisa menanda tangani catatan penerimaan barang.


Tanpa mau berlama-lama lagi, Alexa segera membungkuk dan mengambil catatan di atas meja, lalu berucap, "Terima kasih!"


Laki-laki yang tadi bertanya kepada Alexa, kemudian dengan kasarnya, memegang erat-erat lengan Alexa yang berbalik, dan berniat untuk pergi dari situ.


Namun, untuk memberi pelajaran pada sikap kurang ajar laki-laki itu, Alexa yang bisa ilmu bela diri, bisa dengan mudahnya membalik situasi, hingga tangan laki-laki itu terpuntir dibuat oleh Alexa.


"Aaarrrghh!" Laki-laki itu meringis kesakitan.


"Hey! Apa-apaan kamu ini? Lepaskan aku! Aku Mark William! Apa kamu tidak mengenalku?"


Ocehan dari laki-laki yang ternyata bernama Mark William itu, tidak ditanggapi oleh Alexa, dan hanya melepaskan tangan laki-laki itu begitu saja, lalu Alexa beranjak pergi dari tempat itu.


Setelah Alexa kembali masuk ke dalam mobilnya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, Alexa mendengus kasar. "Huuffft ...!"


Mark William.


Dia pikir dirinya siapa? Benar-benar laki-laki tidak berguna, dan hanya memanfaatkan hasil kerja keras orang tuanya, Alexa membatin.


Alexa menyalakan sebatang rokok, sebelum akhirnya dia menyalakan mesin mobilnya, dan berlalu dari tempat hiburan malam itu, dan mengarah langsung ke gudang.