
31 Desember 1992.
19:03.
"Kalian masih akan bersantai di sini?" tanya Steven.
Alexa yang bersandar di pagar balkon, mengangguk pelan, karena dia masih ingin melihat pemandangan kota dari atas situ.
Apalagi, selain mengawasi George, tidak ada yang menarik yang bisa Alexa lakukan di dalam.
"Aku akan ke dalam untuk mengambil minuman dan sedikit camilan," celetuk Steven. "Apa kamu mau aku ambilkan sesuatu?"
"Bir!" kata Igor.
"Cola!" kata Alexa.
Steven tampak melenggang santai, berlalu pergi dari balkon itu. "Okay!"
Tidak berapa lama setelah Steven pergi, Alexa merasa kalau seolah-olah ada yang berjalan mendekat di belakangnya, di balkon itu.
"Igor!"
Suara asing yang memanggil Igor, ikut membuat Alexa spontan berbalik untuk melihat si pemilik suara.
Kelihatannya itu adalah rekan kerja Igor, dan tampaknya dia ingin bicara dengan Igor tanpa mau ada yang mendengarnya.
Seorang laki-laki yang tampak sebaya dengan Igor, berbisik-bisik di telinga Igor, dan Igor tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Alexa! Ada yang harus aku lakukan. Aku pergi dulu, ya?!" ujar Igor.
"Okay!" sahut Alexa, lalu kembali memandangi kota dari pagar balkon, membelakangi Igor yang berjalan pergi dari situ.
Sambil memandangi kota, Alexa kembali menyalakan sebatang rokok miliknya, lalu menikmati asapnya dengan melamun kosong.
Kelihatannya memang tidak ada ketenangan yang bisa berlangsung lama di balkon itu, karena tiba-tiba, Alexa bisa merasakan kalau ada lagi orang yang pergi ke arah balkon, di mana Alexa berdiri itu.
"Apa kamu punya pemantik?" tanya seseorang yang entah kepada siapa dia bertanya.
Alexa melihat ke arah orang itu yang ternyata hanya sendirian, dan tampak menatap Alexa.
"Apa kamu punya pemantik? Pemantik milikku ketinggalan," ulang orang itu.
Setelah memastikan kalau memang hanya mereka berdua saja di balkon itu, ditambah lagi orang itu tampak menatapnya lekat-lekat, Alexa jadi yakin kalau orang itu sedang bertanya kepadanya.
Alexa mengeluarkan pemantik Zippo milik Damian yang dipinjamkan kepadanya, dari dalam saku jasnya, lalu menjulurkan tangannya untuk memberikan benda itu kepada orang yang bertanya tadi.
Orang itu kemudian mendekat, menghampiri Alexa sambil mengulurkan sebelah tangannya.
"Di mana Igor?" suara Steven yang bertanya mengejutkan Alexa.
Alexa berbalik dan melihat Steven yang berjalan sambil membawa dua botol bir dan sekaleng cola.
"Arthur?" ujar Steven.
"Steven," sahut orang yang meminjam pemantik dari Alexa itu.
"Apa kalian saling mengenal?" tanya Steven tampak penasaran.
"Tidak. Aku hanya meminjam pemantik darinya. Apa dia temanmu?" tanya orang itu.
"Iya," jawab Steven.
"Kalau begitu berkenalanlah! Kalian tidak akan saling menggigit, kan?!" lanjut Steven.
Kenalan Steven itu tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil tersenyum, lalu mengulurkan tangan kanannya, seolah-olah mengajak Alexa untuk berjabat tangan dengannya.
Alexa menyambut tangan laki-laki itu, lalu memperkenalkan diri. "Alex."
"Arthur." Laki-laki itu juga menyebutkan namanya, sebelum mereka melepaskan genggaman tangan mereka masing-masing.
"Arthur jadi Detektif polisi termuda di distrik barat kota. Jadi, kamu bisa bayangkan bagaimana pintarnya otaknya itu," ujar Steven, sambil melirik Alexa, dan menaik turunkan kedua alis dengan cepat.
"Jangan mengejekku. Apalah aku ini, dibandingkan dengan senior sepertimu," ujar Arthur.
"Apa kamu baru sampai?" tanya Steven, lalu menyodorkan kaleng cola kepada Alexa, dan menyodorkan sebotol bir kepada Arthur.
"Iya. Sebenarnya, aku sangat lelah, namun Josh menyeretku ke sini," jawab Arthur.
Steven lalu menatap Alexa.
"Distrik Barat dan Distrik Utara adalah bagian kota yang paling tinggi kasus kriminalitasnya," kata Steven seolah-olah sedang menjelaskan kepada Alexa tentang apa yang dia dan Arthur bicarakan.
"Dengan begitu, pekerjaan kami juga hampir tidak ada habisnya. Tenaga dan pikiran terkuras, beresiko tinggi untuk terluka bahkan bisa sampai kehilangan nyawa, namun gajinya tidak sesuai," lanjut Steven.
Alexa tidak menanggapi perkataan Steven, dan hanya mendengarkannya saja.
Steven lalu terlihat menenggak bir langsung dari mulut botolnya.
"Sudahlah! Malam ini kita bersenang-senang saja, biar besok saja kita mengurus korban yang bergelimpangan di jalanan," ujar Steven.
"Dasar brengsek! Bisa-bisanya hal seperti itu kamu jadikan lelucon!" sahut Arthur yang tampak menahan tawanya, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Arthur! Kenapa kamu malah di luar sini? Chief Miller ingin bertemu denganmu!" Seseorang tiba-tiba berseru hingga hampir setengah berteriak.
"Lihat! Arthur adalah Detektif yang terkenal. Para Chief mendambakannya untuk bekerja di departemen mereka, termasuk Sir Miller," ujar Steven kepada Alexa.
"Hey! Jangan bicara begitu! Kamu hanya membuatku malu!" Arthur menimpali.
"Josh! Ke sini saja dulu! Nanti saja baru bertemu dengan Chief. Apa kamu tidak lelah bicara tentang pekerjaan?" lanjut Arthur memanggil seseorang yang menyampaikan pesan tadi.
Orang itu kemudian menghampiri mereka bertiga di balkon itu, lalu tampak menatap Steven lekat-lekat.
"Steven! Ternyata kamu! Aku tidak mengenalimu tadi," ujar orang itu.
"Josh!" sahut Steven. "Kamu masih mengejar wanita kaya?"
"Iya. Dan kamu masih jadi orang brengsek," kata orang itu yang tampaknya bernama Josh.
"Siapa ini? Aku tidak pernah melihatnya. Apa dia anggota baru?" lanjut Josh sambil melihat ke arah Alexa, dan mengulurkan tangan kanannya kepada Alexa.
"Alex. Supir Sir Miller." Alexa memperkenalkan diri sambil berjabat tangan dengan Josh.
"Ooh ... Sorry! Namaku Josh," ujar Josh.
"Makanya, biasakan untuk tidak menilai seseorang dengan matamu saja!" ujar Arthur menimpali.
"Dia memang bekerja menjadi kurir Chief Miller. Tapi, jangan coba-coba mengganggunya. Dia kesayangan Chief, makanya dia bisa ada di sini," kata Steven.
Gaya Steven berbicara tampak seolah-olah dia sedang menekankan, kalau Alexa adalah seseorang yang dianggap spesial oleh Sir Miller.
"Okay, okay! Aku mengerti ... Maafkan, aku," ujar Josh.
"Tidak masalah. Steven hanya melebih-lebihkan saja," sahut Alexa.
"Apa tidak ada polwan cantik di tempat ini?" tanya Arthur ikut menimpali.
Steven dan Josh tampak tersentak setelah mendengar pertanyaan Arthur.
"Tumben!" ujar Josh heran.
"Iya. Aku menduga kalau tidak ada anggota yang cantik di sini yang bisa kamu rayu, makanya kamu sibuk dengan urusan orang lain," sahut Arthur.
"Ah! Dasar brengsek! Aku masuk duluan!" ujar Josh lalu berbalik, dan beranjak pergi dari situ.
"Pffftt ...! Aku tadi sempat mengira, kalau kamu benar-benar sedang mencari pasangan kencan. Ternyata hanya untuk menyingkirkan Josh dari sini," ujar Steven.
"Sikapnya yang terkadang suka 'menempelkan hidungnya', hanya membuatku kesal," kata Arthur.
"Di mana Igor? Biasanya dia selalu bersamamu," lanjut Arthur.
Steven lalu melihat ke arah Alexa. "Aku baru ingat! Bukannya tadi dia bersamamu di sini?"
"Ada seseorang yang mengajaknya pergi tadi. Tapi, dia tidak bilang pergi ke mana," jawab Alexa.
"Arthur!" Tiba-tiba Josh kembali berseru, sambil berdiri di pintu.
Refleks, semua mata yang ada di balkon itu melihat ke arah Josh.
"Chief Miller menunggumu!" lanjut Josh.
"Aku ke dalam dulu. Josh tidak akan berhenti, selama aku tidak mengikuti kemauannya," ujar Arthur, lalu beranjak pergi dari balkon itu, tanpa menunggu tanggapan dari Alexa dan Steven.
"Josh dan Arthur bekerja sebagai rekan satu tim, sama seperti aku dan Igor," celetuk Steven.